myspace graphic
_
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS.98:5)

Blogger news

~ ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ اطَهُوْرً ~

Rabu, 27 Juli 2011

Bagaimana Menyambut Ramadhan



Puasa (الصيام) secara bahasa berarti : menahan (الإمساك). Menurut istilah, puasa berarti bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan sesuatu yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan makan dan minum untuk tujuan lain selain ibadah, seperti pengobatan atau semacamnya, tidak dapat dinamakan puasa, meskipun istilah puasa biasa dipakai untuk hal-hal semacam itu.
Hukum Puasa

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan atas setiap muslim yang baligh, berakal, mampu melakukannya dan menetap (tidak sedang bepergian).

Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ علَىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
[البقرة :183]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. al-Baqarah: 183)

Rasulullah bersabda :

« بُـنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ :شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ »

“Islam dibangun di atas lima perkara: Ber-saksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan (bersaksi) bahwa nabi Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Bait al-Haram” (Muttafaq alaih)
Keutamaan Bulan Ramadhan dan Puasa di Dalamnya

1. Diturunkannya al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman:
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-pen-jelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)
(QS. al-Baqarah : 185)

2. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar .

Lailatul Qadar adalah suatu malam yang nilainya lebih baik di sisi Allah Ta’ala dari seribu bulan.

Firman Allah Ta’ala :
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. al-Qadar : 1-3)

3. Terkabulnya doa orang yang puasa.
Rasulullah bersabda :

« ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ »
“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang puasa, doa orang yang dizolimi dan doa orang yang berpergian” (Riwayat Baihaqi)

4. Setan-setan diikat, pintu syurga dibuka dan pintu neraka ditutup.
Rasulullah bersabda:

« إِذَا دَخَلَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ »
“Jika datang Ramadhan, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat”
(Muttafaq alaih)

“Jika datang Ramadhan, pintu surga dibuka”
(Muttafaq alaih)

5. Puasa adalah sarana untuk menjaga kesucian diri (‘Iffah).

Terbukti bahwa puasa sangat besar pengaruhnya dalam menjaga anggota badan (dari perbuatan maksiat) dan (menjaga) kekuatan bathin, oleh karena itu Rasulullah bersabda:

« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ؛ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْـــــكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ باِلصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ »

“Wahai para pemuda; siapa di antara kalian yang sudah mampu, maka menikahlah, karena menikah dapat menundukkan pan-dangan dan menjaga kemaluan, siapa yang tidak mampu (menikah), maka hendaklah dia puasa, karena puasa merupakan pelindung” (Muttafaq alaih)
6. Puasa sebagai tameng.

Puasa adalah tameng di mana seorang yang berpuasa berlindung dengannya dari neraka. Rasulullah bersabda :


« الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ »
“Puasa adalah tameng, orang yang sedang puasa berlindung dengannya dari api neraka” (Riwayat Ahmad)

7. Puasa merupakan sebab masuk syurga.

Jika puasa dapat mencegah seseorang dari api neraka, itu berarti dia mendekatkannya kepada syurga.
Dari Umamah radiallahuanhu dia ber-kata: Aku berkata: “Ya Rasulullah tunjukkanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkan aku ke dalam syurga”
Beliau bersabda :

« عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ، لاَ مِثْلَ لَهُ »
“Hendaklah kamu puasa, tidak ada yang sebanding dengannya” (Riwayat an-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad yang shahih)
8. Puasa dan al-Quran dapat memberikan syafaat bagi yang melakukannya.

Rasulullah bersabda :

« الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَـــــــامَةِ، يَقُوْلُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةَ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ »
“Puasa dan Al-Quran menjadi syafaat bagi se-orang hamba pada hari qiamat, puasa akan berkata: “Ya Rabb dia telah mencegahnya ma-kanan dan syahwat, jadikanlah aku syafaat baginya”, sedangkan al-Quran berkata : “Ya Rabb, aku telah mencegahnya tidur pada wak-tu malam, jadikanlah aku syafaat baginya”. Dia berkata : “Keduanya dapat memberi sya-faat“ (Riwayat Ahmad dan Hakim dengan sanad hasan)

9. Ar-Rayyan bagi orang-orang yang puasa.
Rasulullah bersabda :

« إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ: الرَّياَّنُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْـرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ »
“Sesungguhnya di syurga terdapat pintu yang bernama: Ar-Rayyan, mereka yang puasa akan memasukinya pada hari qiamat dan tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam-nya selain mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itupun ditutup dan tidak ada seorangpun yang memasukinya” (Muttafaq alaih)

10. Orang yang berpuasa diberi ganjaran yang tidak terbatas.

Rasulullah bersabda :

« إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ: كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ »

“Sesungguhnya Rabb kalian berfirman: Setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh ke-baikan hingga tujuh ratus kali lipat. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang membalas-nya” (Riwayat Turmuzi)

11. Puasa adalah ibadah Yang hanya tampak oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman (hadits qudsi):


« الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي»

“Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, dia meninggalkan syahwat dan makan hanya karena-Ku” (Riwayat Muslim)

12. Puasa menyebabkan ketaqwaan.

Allah Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. al-Baqarah: 183)

13. Bau mulutnya orang yang puasa lebih harum di sisi Allah dari wangi minyak kesturi.

Rasulullah bersabda:

« لَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ »
“Bau mulut orang yang puasa lebih harum di sisi Allah dari wangi minyak kesturi” (Riwayat Bukhari)

14. Ampunan bagi orang puasa atas dosa-dosanya yang telah lalu.

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan harapan mendapatkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Golongan Manusia Pada Bulan Ramadhan

1. Muslim baligh, berakal dan menetap: Wajib baginya puasa, jika dia mampu melakukannya dan tidak terdapat padanya halangan.

2. Anak kecil yang belum baligh: Tidak diwajibkan baginya puasa, akan tetapi walinya supaya menganjurkannya berpuasa agar terbiasa.

3. Orang yang tidak mampu puasa karena sebab yang tetap, seperti orang tua renta, orang sakit yang sudah tidak diharapkan lagi kesembuhannya. Dia boleh berbuka, dan setiap hari yang puasanya dia tinggalkan, diganti dengan memberi makan seorang miskin.

4. Orang sakit yang diharapkan kesembuhannya: jika berat baginya untuk puasa dia dapat berbuka namun harus menggantinya (qadha) setelah sembuh.

5. Wanita haid dan Nifas: Tidak boleh baginya melakukan puasa namun dia wajib mengganti puasa yang dia tinggalkan (di hari lain).

6. Wanita hamil atau menyusui: Jika berat baginya berpuasa karena hamil atau menyusui atau khawatir akan kondisi anaknya, dia dapat berbuka dan meng-gantinya tatkala keadaannya sudah pulih dan kekhawatirannya telah hilang.

7. Musafir: Dia boleh berpuasa atau berbuka sesuai keinginannya. Akan tetapi jika berat dan lelah maka berbuka lebih utama, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesusahan” (QS. al-Baqarah : 185)

Bagi yang berbuka, dia harus meng-gantinya, baik safarnya bersifat sementara seperti umroh atau bersifat tetap seperti sopir angkutan.

8. Orang yang terpaksa berbuka karena harus menyelamatkan seseorang seperti tenggelam atau terjebak keba-karan: Dia boleh berbuka dan harus menggantinya di kemudian hari.

Bagaimana Menyambut Ramadhan?

1. Mensucikan diri sebelum Ramadhan tiba.

Hal tersebut dilakukan dengan ber-taubat kepada Allah dari segala dosa serta meninggalkan maksiat. Siapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya hendaklah dia berusaha untuk minta ridho keduanya, siapa yang memutus silaturrahmi hendaklah dia menyambungnya, siapa yang biasa mende-ngar lagu-lagu dan musik, dia harus menghentikannya dan menyiapkan dirinya untuk mendengarkan al-Quran, dan siapa yang melakukan riba hendaklah dia menghentikannya dan tidak makan kecuali dari usaha yang halal.
Setiap orang hendaklah mengoreksi lembaran-lembaran kehidupannya sebe-lum Ramadhan tiba.

2. Menyusun agenda kegiatan yang akan dilakukan dengan disiplin selama Ramadhan.

Sebagaimana seorang pedagang cerdik yang menggunakan kesempatan sebaik-baiknya saat perdagangan sedang ramai, maka begitu jugalah seharusnya seorang muslim, dia menyusun agenda kerja yang terpadu dalam rangka beramal shaleh yang dilakukan dengan disiplin selama bulan Ramadhan sehingga dia dapat mengambil keuntungan setiap saat yang terdapat di dalamnya. Hal tersebut juga akan memudah-kannya untuk melakukan penilaian di akhir bulan baik yang datang hanya sekali setahun itu.

3. Berdoa dengan penuh permohonan di dalamnya

Semoga Allah memberinya kemudahan dalam melakukan puasa, beribadah di dalamnya serta melakukan setiap perbuatan yang diridhoi-Nya dan dijauh-kan dari segala sesuatu yang dapat meru-sak puasanya, atau mengurangi pahalanya.

Rasulullah bersabda :

« الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ »
“Doa adalah Ibadah”

4. Saat Melihat Hilal (bulan tsabit, tanggal satu hijriah)
Saat melihat hilal hendaklah seorang muslim mengucapkan:


اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ والإيـمَانِ والسَّلاَمَةِ والإسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ . هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ


“Ya Allah tampakkanlah bulan tanggal satu itu dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, (semoga) hilal ter-sebut (pertanda) petunjuk dan kebaikan”
(Riwayat Turmuzi, beliau berkata haditsnya hasan)

Yang Membatalkan Puasa

1. Jima’ (bersetubuh).

Orang yang bersetubuh pada siang hari bulan Ramadhan, puasanya batal dan dia wajib meng-qadha (menggantinya) dan wajib membayar kaffarat (denda) yang berat yaitu: memerdekakan budak ber-iman, jika tidak mampu (memerdekakan budak) maka dia wajib puasa selama dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka dia harus memberi makan enam puluh orang miskin.

2. Makan dan minum. Apapun bentuk makan dan minumnya.

3. Melakukan suntikan yang mengan-dung zat makanan.

4. Keluarnya darah haidh dan nifas.

5. Mengeluarkan darah dengan sengaja. Adapun keluarnya darah dengan sendiri-nya seperti mimisan tidaklah mem-batalkan.
6. Muntah dengan sengaja.
Jika muntah tanpa sengaja tidaklah membatalkan.

7. Keluar mani dalam keadaan terjaga, baik dengan onani, bercumbu, mencium atau semacamnya. Adapun mengeluarkan mani ketika tidur, tidak membatalkan puasa.

Syarat-Syarat Batalnya Puasa

1. Mengerti. Jika seseorang melakukan perkara yang membatalkan puasa karena ketidaktahuannya maka tidaklah memba-talkan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi yang (ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Ahzab : 5)

2. Sadar. Jika seseorang lupa ketika melakukan perbuatan yang membatalkan, maka puasanya sah dan dia tidak wajib meng-qadha-nya.

3. Kehendak sendiri. Jika seseorang dipaksa (untuk berbuka) maka puasanya sah dan tidak meng-qadha, sebagaimana hadits Rasulullah:


« إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيهِ »
“Sesungguhnya Allah melampaui (meng-ampuni) ummatku yang melakukan kesa-lahan, kelupaan dan yang terpaksa”
(Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dan Imam Nawawi menyatakannya Hasan).

Di antara Hukum-Hukum Puasa

1. Wajib melakukan niat pada malam harinya sebelum terbitnya fajar, jika telah jelas masuk Ramadhan, berdasarkan hadits Rasulullah:

« مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ »

“Siapa yang tidak niat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”

Niat tempatnya dalam hati dan tidak perlu diucapkan.

2. Keutamaan sahur dan mengakhirkan-nya. Rasulullah telah memerintahkan sahur untuk membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab, beliau J bersabda:

« فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصَوْمِ أَهْلِ الْكِتاَبِ أَكَلَةُ السَّحُورِ»
“Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur “
(Riwayat Muslim)

Disunnahkan mengakhirkan sahur hing-ga beberapa saat sebelum fajar. Terdapat riwayat dari Zaid, dia berkata :

“Kami sahur bersama Nabi, lalu beliau bangkit untuk melaksanakan shalat”. Dia (Zaid) ditanya: ”Berapa lama jarak antara azan dan sahur?”, Dia menjawab: “sekedar (membaca) lima puluh ayat” (Muttafaq alaih)
3. Puasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum semata. Lebih dari itu puasa juga berarti (menahan) anggota badan dari setiap perbuatan dosa.
Maka sebagaimana makan dan minum membatalkan puasa, begitu juga perbuatan dosa dapat menghapus pahala dan merusak nilai puasa hingga menjadikan-nya bagaikan orang yang tidak puasa.

4. Disunnahkan bersiwak saat puasa Rasulullah bersabda:

« لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ »
“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak wudhu” (Muttafaq alaih)

Hadits ini tidak mengkhususkan puasa dari yang lainnya, dan ini merupakan dalil bahwa siwak tetap disunnahkan bagi orang yang berwudhu atau setiap hendak shalat, baik dia sedang puasa ataupun tidak, jadi sifatnya umum untuk semua waktu, baik sebelum tergelincirnya mata-hari (waktu Zuhur) ataupun sesudahnya.

5. Berkumur dan tidak berlebih-lebihan dalam memasukkan air ke dalam hidung, Rasulullah bersabda kepada Laqith bin Sabrah:

« وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِماً »
“Bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan puasa”
(Riwayat Turmuzi, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’i dengan sanad yang shahih)

6. Sah puasa orang yang masuk waktu Shubuh dalam keadaan junub (berhadats besar):

“Termasuk yang terjadi pada Rasulullah saat masuk waktu Fajar beliau dalam keadaan junub setelah berhubungan dengan istrinya, kemudian dia mandi setelah Fajar dan meneruskan puasanya“ . (Muttafaq alaih)

7. Mempercepat Ifthor (berbuka puasa). Ifthor hendaknya dilakukan saat matahari terbenam.
Mempercepat ifthor merupakan tinda-kan yang mengikuti sunnah Rasulullah, karena beliau bersabda:

« لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَالَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ »

“Ummatku akan selalu berada dalam sunnah-ku selama dia tidak menunggu bintang-bintang (waktu malam) untuk berbuka”
(Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih)

8. Memberi makan orang yang puasa. Hendaknya setiap orang berupaya untuk memberi makan bagi orang yang berbuka, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar dan kebaikan yang banyak. Rasulullah bersabda :

« مَنْ فَطَّرَ صَائِماً شَيْئاً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئاً »

“Siapa yang memberi makan orang yang puasa maka baginya (pahala puasa) orang itu, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa tersebut”
(Riwayat Ahmad, Tirmizi dan dia menshahihkannya begitu juga Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

9. Adalah dahulu Rasulullah berbuka dengan beberapa ruthob (korma muda) sebelum shalat, jika tidak ada, maka dengan beberapa tamr (korma matang), jika tidak ada, maka dia cukup meminum beberapa teguk air”.
(Riwayat shahih dari Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah )

Jika berbuka beliau membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأجْرُ إنْ شَاءَ الله

Telah hilang dahaga dan urat-urat telah basah dan pahala telah tetap Insya Allah.

Ketika ifthor beliau selalu berdoa, karena bagi orang yang puasa -pada saat itu- doanya mustajabah (terkabul). Rasulullah bersabda :

« ثَلاَثةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم »

“Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak : Orang yang puasa saat dia ifthor (berbuka), Imam (pemimpin) yang adil, dan doa orang yang dizolimi” (Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Perbuatan Yang Tidak Membatalkan Puasa


• Periksa darah dan suntik yang tujuannya tidak untuk memasukkan zat makanan.

• Mencicipi masakan, dengan syarat: tidak sampai masuk ke dalam kerong-kongan, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma:

“Tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu saat dia sedang puasa selama tidak masuk ke dalam kerongkongan”.

• Boleh menggunakan celak mata atau tetes mata atau semacamnya yang dimasukkan ke dalam mata, hal tersebut tidak membatalkan puasa, baik orang tersebut merasakan sesuatu ditenggoro-kannya atau tidak.

• Boleh menuangkan air dingin di atas kepala atau mandi dengannya.

Terdapat riwayat bahwa Rasulullah menuangkan air di atas kepalanya saat dia sedang puasa karena kehausan atau kepanasan. (Riwayat Abu Daud dan Ahmad)
• Boleh menelan ludah, namun jika berupa lendir hendaklah dikeluarkan.
• Boleh menggunakan minyak wangi dan menciumnya.

Yang Seharusnya Dijauhi Bagi Orang Yang Puasa

• Berkata dusta:

Rasulullah bersabda:

« مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ –عَزَّ وَجَلَّ- حَـاجَةٌ فِي أَنْ يَـدَعَ طَعَـامَهُ وَشَرَابَهُ »
“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka tidak ada bagi Allah Ta’ala nilainya dia meninggalkan makanan dan minumannya” (Riwayat Bukhari)

• Perbuatan sia-sia dan perkataan kotor:
Rasulullah bersabda:


« لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّماَ الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ »

“Puasa bukan hanya (menahan) makan dan minum saja, akan tetapi puasa juga (menahan) dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor “
(Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim)

Oleh karena itu terdapat ancaman yang berat bagi orang-orang yang melaku-kan perbuatan tersebut, yaitu mereka akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang Rasulullah katakan dalam haditsnya :

« رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ »

“Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” (Riwayat Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad yang shahih).

pks-arabsaudi.org

Panduan Sholat Taraweh & Witir



Shalat Taraweh

Taraweh (التراويح) dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari tarwiihah (ترويحة), yang artinya beristirahat dan santai sejenak. Kalimat ini pada mulanya bermakna “duduk” secara umum. Kemudian dikenal sebagai “duduk yang dilakukan setelah melakukan shalat empat rakaat di malam bulan Ramadhan”. Karena pada saat itu, mereka yang shalat beristirahat sebentar dari shalatnya, mengingat panjangnya shalat yang mereka lakukan1). Akhirnya istilah tersebut dilekatkan kepada nama shalat itu sendiri secara kiasan2).

Shalat Taraweh Pada Zaman Rasulullah dan Khulafa’urrasyidin

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu-anha, bahwa saat masuk bulan Ramadhan, Rasulullah shalat di masjid (Nabawi), lalu diikuti oleh beberapa orang, kemudian beliau shalat lagi pada hari keduanya, yang mengikutinya semakin banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat para shahabat sudah berkumpul (untuk shalat bersama Rasulullah), namun beliau tak kunjung muncul.

Di pagi harinya Rasulullah bersabda kepada mereka:

» رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ اْلخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ «


“Saya melihat apa yang kalian lakukan (tadi malam). Tidak ada yang mencegah saya keluar (untuk shalat) bersama kalian, hanya saja saya khawatir (shalat taraweh tersebut) diwajibkan kepada kalian” (Muttafaq alaih)

Kesimpulannya, pada awalnya shalat taraweh zaman Rasulullah dilaksanakan secara berjamaah, kemudian setelah itu tidak dilakukan secara berjamaah, karena Rasulullah khawatir jika shalat tersebut dilaksanakan secara berjamaah terus menerus, akan turun ayat yang mewajibkan hal tersebut kepada kaum muslimin, sehingga mereka tidak mampu melakukannya.

Begitulah seterusnya hal tersebut berlanjut; shalat taraweh dilakukan sendiri atau berkelompok-kelompok hingga wafatnya Rasulullah dan seterusnya di masa khalifah Abu Bakar as-Shiddiq. Baru kemudian pada zaman khalifah Umar bin Khottob pelaksanaannya dikembalikan seperti semula yaitu dengan berjamaah.

Abdurrahman bin ‘Abd al-Qory meriwayatkan:

“Saya keluar bersama Umar bin Khottob di (malam) bulan Ramadhan menuju mesjid. Di sana orang-orang terbagi-bagi dalam melakukan shalat; ada yang sholat seorang diri, ada yang shalat mengimami beberapa orang. Menyaksikan hal tersebut Umar berkata:

“Saya berpendapat, akan lebih baik jika mereka dikumpulkan dengan satu imam,”

Maka beliau segera mewujudkan keinginannya dengan memerintahkan Ubai bin Ka’ab untuk menjadi imam bagi orang yang shalat Taraweh…

Kemudian di malam berikutnya saya keluar (menuju mesjid) dan menyaksikan orang-orang yang shalat (taraweh) dipimpin oleh seorang imam. Maka saat itu Umar:

» نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ «

“Inilah sebaik-baik bid’ah” (Riwayat Bukhori)

Maka sejak zaman itu hingga kini, pelaksanaan shalat taraweh dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid dan telah menjadi sunnah yang diterima dan dilaksanakan kaum muslimin di seluruh dunia.

Catatan:
Perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud “bid’ah” dalam perkataan Umar di sini adalah pengertian bid’ah secara bahasa, artinya “sesuatu yang baru”, karena shalat taraweh berjamaah secara terus menerus baru dilakukan pada zaman Umar bin Khottob, di mana sebelumnya hanya dilakukan oleh Rasulullah beberapa kali saja.

Adapun bid’ah dalam pengertian istilah yang maksudnya “Mengada-adakan ibadah yang tidak diajarkan dalam Islam”, tidaklah termasuk apa yang dilakukan oleh Umar bin Khottob ini. Karena sebenarnya perkara tersebut telah dilakukan oleh Rasulullah sehingga tetap memiliki landasan syar’i, dan kekhawatiran diwajibkannya shalat Taraweh atas umat Islam yang menyebabkan Rasulullah menghentikan shalat Taraweh secara berjamaah sudah tidak ada lagi, karena terputusnya wahyu setelah meninggalnya Rasulullah.

Hukum dan Keutamaannya

Shalat taraweh sangat dianjurkan (sunnah mu’akkadah). Pelaksanannya pada malam selama bulan Ramadhan, sesudah shalat ‘Isya.

Shalat Taraweh juga digolongkan sebagai shalat malam (qiyamullail), karena itu keutamaan shalat taraweh dapat dinilai dari keutamaan shalat malam yang banyak disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah.

Di antaranya firman Allah Ta’ala:

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam . Dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)” (QS. adz-Dzariat : 17-18)

Rasulullah bersabda:

» أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ «

“Shalat yang paling utama setelah shalat fardu adalah shalat malam” (Riwayat Muslim)


Maka, jika shalat malam secara umum memiliki keutamaan yang besar, apalagi jika shalat tersebut dilakukan pada bulan Ramadhan; bulan yang paling utama dari bulan-bulan yang ada.

Hal tersebut semakin dikuatkan dengan kenyataan bahwa bulan Ramadhan bukan hanya dikenal sebagai syahrushshiyam (bulan puasa), tetapi juga dikenal sebagai syahrulqiyam (bulan ibadah shalat).

Maka hadits Rasulullah yang menerangkan tentang keutamaan puasa di bulan Ramadhan sepadan dengan keutamaan shalat malam di bulan tersebut.

Rasulullah bersabda:

» مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ «

“Siapa yang puasa (di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”
(Muttafaq alaih)

» مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ «


“Siapa yang beribadah (shalat) (di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq alaih)

Berapa jumlah rakaat shalat Taraweh?

Sering terjadi pertentangan tentang jumlah rakaat shalat taraweh. Tidak jarang hal tersebut berakibat pada perpecahan di tengah masyarakat muslim. Sesuatu yang sangat ironis sekali, mengingat shalat taraweh hukumnya sunnah, sedangkan ukhuwwah dan persatuan di kalangan kaum muslimin tidak diragukan lagi kewajibannya. Namun sayang, demi membela yang sunnah (tanpa diringi pemahaman yang benar), yang wajib justru diabaikan.

Hal tersebut terjadi karena permasalahan ini sering dilihat dari sudut pandang golongan. Dikatakan bahwa yang shalat dua puluh rakaat adalah cara orang NU, sedang yang sebelas rakaat adalah cara orang Muhamadiyah, tanpa meneliti dalil yang ada serta petunjuk pemahaman yang benar dan menyeluruh serta perkataan para ulama tentang hal tersebut.

Padahal para salafusshaleh melihat perkara ini sebagai perkara yang muwassa’ (luas dan luwes). Bukan pada tempatnya menjadikan hal ini sebagai ajang untuk membid’ahkan atau menyatakan sese-orang bukan golongannya.

Karena shalat taraweh juga digolong-kan sebagai shalat malam (qiyamullail), maka hukum yang terkait dengannya juga mengikuti hukum yang berlaku pada shalat malam, termasuk masalah jumlah bilangan rakaatnya.

Jumlah asal dari pelaksanaan shalat malam adalah dua rakaat-dua rakaat secara mutlak, tanpa ada pembatasan jumlah maksimal dari rakaat yang boleh dikerjakan.

Sebagaimana hadits Rasulullah:

» صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى «


“Shalat malam, dua (rakaat) dua (rakaat), jika salah seorang di antara kamu khawatir (datang) waktu shubuh, maka hendaklah dia shalat (witir) satu rakaat, mengganjilkan shalat yang telah dilakukan” (Muttafaq alaih)

Hadits ini Rasulullah sampaikan ketika menjawab pertanyaan seorang badui tentang pelaksanaan shalat malam.

Maka dari jawaban Rasulullah tersebut ada dua hal yang dapat disimpulkan:

  1. Shalat malam hendaklah dilakukan dua rakaat-dua rakaat. Maksudnya adalah setiap dua rakaat melakukan salam.
  2. Shalat malam tidak ada batasan maksimalnya. Karena kalaulah hal tersebut ditentukan, mestinya Rasulullah sampaikan masalahnya, mengingat perta-nyaan orang Badui bersifat umum tentang shalat malam, baik tata caranya maupun jumlah rakaatnya3).

Adapun hadits Aisyah radhiallahuanha yang sering dijadikan landasan sebagai batas maksimal dari pelaksanaan shalat malam terdapat dalam riwayat Bukhori dan Muslim di mana Aisyah radiallahuanha berkata:

» مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ J يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّي أَرْبَعاً فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ، ثُمَّ يصُلِّي أَرْبَعاً فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً ُ«


“Rasulullah tidak menambah (rakaat shalat) di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat, beliau shalat empat rakaat, jangan tanya bagusnya dan panjang-nya, kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, jangan tanya tentang bagusnya dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat” (Muttafaq alaih)

Dalam hadits ini, dengan gamblang Aisyah radhiallahuanha menjelaskan tentang jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah, baik di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan, yaitu: sebelas rakaat.

Namun yang patut diperhatikan adalah: Bahwa hadits Aisyah radhiallahuanha di atas, tidak berarti menunjukkan bahwa shalat malam (shalat taraweh) maksimal sebelas rakaat, sehingga jika lebih dari itu dianggap menyalahi sunnah Rasul. Karena dalam riwayat tersebut, Aisyah sekedar menyampaikan bahwa demikian-lah shalat malam yang Rasulullah lakukan, sehingga para ulama berkesim-pulan bahwa apa yang disampaikan Aisyah radhiallahuanha adalah merupakan kebiasaan Rasulullah dalam bilangan rakaat shalat malam4) dan tidak ada petunjuk bahwa beliau melarang pelaksa-naan shalat malam lebih dari itu.

Yang menguatkan pendapat tersebut adalah adanya riwayat lain yang shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan shalat malam tiga belas rakaat, atau sepuluh rakaat. Bahkan di antara yang meriwayatkannya termasuk Aisyah radhiallahuanha sendiri.

Dari Aisyah radhiallahuanha, dia berkata:

“Adalah Rasulullah shalat pada malam hari sepuluh rakaat, beliau melakukan salam pada setiap kali dua rakaat, kemudian melakukan shalat witir satu rakaat” (Riwayat Abu Daud dan Ahmad)

Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhu, beliau berkata:

“Adalah shalat Rasulullah (berjumlah) tiga belas rakaat; maksudnya adalah (shalat di waktu) malam” (Riwayat Bukhori)

Kesimpulannya, yang utama shalat Taraweh dilakukan sebelas rakaat, berdasarkan hadits Aisyah radhiallahuanha, namun jika ada yang shalat dua puluh rakaat ditambah tiga witir, maka hal tersebut tidaklah mengapa5).

Bagi ma’mum, yang perlu diketahui adalah hendaklah dia melakukan shalat taraweh bersama imam hingga selesai (apakah imam melakukannya sebelas atau dua puluh rakaat), berdasarkan hadits:

» إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ «


“Seseorang, jika dia shalat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya (pahala) qiyamullail” (Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Disamping hal tersebut lebih dekat kepada kesatuan hati dan persatuan di kalangan masyarakat muslim.

Beberapa Hukum Terkait Dengan Pelaksanaan Shalat Taraweh

1. Hendaknya shalat Taraweh dilaku-kan dengan tenang dan khusyu’. Memperhatikan thuma’ninah, syarat dan rukunnya serta tidak tergesa-gesa.

Semakin lama shalatnya, maka semakin baik nilainya. Karena sesungguhnya nilai shalat ini terletak pada lamanya dia dilakukan. Karena itu pada zaman Rasulullah mereka beristirahat di pertengahannya untuk menghilangkan letih. Namun penting juga dalam hal ini memperhatikan kondisi orang yang tua renta atau mereka yang lemah.

2. Betapapun besarnya kedudukan shalat Taraweh, tetap saja shalat Fardhu lebih utama kedudukannya. Karena itu, sebesar apapun perhatian seseorang untuk shalat Taraweh, tidak boleh mengalahkan perhatian dia dalam melaksanakan shalat Fardhu.

3. Tidak ada surat-surat khusus yang dibaca setelah membaca surat al-Fatihah. Bahkan para ulama menganjurkan agar imam membaca seluruh al-Quran sejak awal hingga akhir Ramadhan, agar ma’mum mendengarkan semua isi al-Quran. Namun tidak mengapa jika dia membaca semampunya.

4. Terkait point di atas, dibolehkan bagi imam jika dia tidak hafal al-Quran, untuk memegang mushaf saat shalat. Namun bagi ma’mum selayaknya hal tersebut tidak dilakukan6).

5. Tidak ada dalil yang menunjukkan zikir atau sholawat khusus yang dilakukan di sela-sela shalat Taraweh atau sesudah-nya yang dibaca bersama-sama.

Cukuplah masing-masing jamaah ber-zikir seorang diri, atau membaca al-Quran atau membaca shalawat, atau berdoa tanpa batasan-batasan tertentu. Atau, jika tidak membaca sesuatupun, tidak mengapa.

6. Jika seseorang datang ke mesjid, sedangkan pelaksanaan shalat Taraweh telah dimulai dan dia belum melaksanakan shalat ‘Isya. Maka dia harus melakukan shalat ‘Isya terlebih dahulu sebelum shalat Taraweh.

Adapun pelaksanaannya, dia dapat bergabung dengan jama’ah shalat Taraweh dengan niat shalat Isya, kemudian jika imam melakukan salam, dia melanjutkan sisa raka’atnya7).

7. Jika seseorang terhalang melakukan shalat Taraweh secara berjamaah, maka hal tersebut tidak menghalanginya untuk shalat taraweh seorang diri di tempatnya.

Shalat Witir

Witir (الوتر) berarti ganjil. Maka shalat ini dinamakan Witir karena jumlah rakaatnya bersifat ganjil.

Shalat Witir bukan shalat yang khusus dilaksanakan pada bulan Ramadhan saja, tetapi dia adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan (Sunnah Mu’akkadah) untuk dilakukan seorang muslim setiap malam.

» الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ «


“Witir merupakan tuntutan terhadap setiap muslim, siapa yang ingin melakukan witir sebanyak tiga rakaat, maka lakukanlah, dan siapa yang ingin melaksanakan witir satu rakaat, maka lakukanlah”
(Riwayat Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Waktu Pelaksanaannya

Waktunya dilakukan setelah shalat ‘Isya hingga masuk waktu Subuh.

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menambahkan untuk kalian sebuah shalat, yaitu Witir, hendaklah kalian melakukannya di antara sehabis shalat Isya hingga shalat Fajar” (Riwayat Ahmad)

Shalat Witir hendaknya dijadikan sebagai penutup shalat kita di malam hari, berdasarkan sabda Rasulullah:

» إِجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً «

“Akhirilah shalat kalian di waktu malam dengan Witir” (Muttafaq alaih)

Namun jika seseorang tidak yakin dapat bangun malam sebelum Subuh, maka sebaiknya dia melakukan Witir sebelum tidur, adapun jika dia yakin dapat bangun malam sebelum Subuh, maka sebaiknya dia shalat Witir di akhir malam dan menutup shalat malamnya dengan Witir.

Namun jika dia sudah melakukan Witir sebelum tidur, kemudian dia dapat bangun lagi sebelum Subuh, dia tetap boleh melakukan shalat malam, sedangkan Witirnya cukup dengan yang sudah dilakukan sebelum tidur, tidak boleh baginya melakukan shalat Witir lagi, karena Rasululah bersabda:

» لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ «

“Tidak ada dua Witir dalam satu malam”
(Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Jumlah Rakaatnya

Jumlah rakaatnya minimal satu rakaat, selebihnya dapat dilakukan tiga rakaat hingga tiga belas rakaat, yang penting bilangannya ganjil.

Jika melakukan shalat witir tiga rakaat, maka caranya ada dua;
-Pertama: Melakukannya tiga rakaat langsung lalu duduk tahiyat pada rakaat terakhir.
-Kedua: Melakukannya dua rakaat terlebih dahulu, lalu tahiyat pada rakaat kedua kemudian salam, kemudian melakukan shalat satu rakaat lagi, kemudian tahiyat lalu salam.

Adapun melakukan shalat witir tiga raka’at seperti shalat maghrib (dengan tahiyat awal dan akhir) tidak ada contohnya dari Nabi, bahkan ada larangan untuk menyamakan shalat Witir dengan shalat Maghrib8).

Sunnah-Sunnahnya

- Disunnahkan setelah membaca surat al-Fatihah- pada rakaat pertama membaca surat al-A’la, sedangkan pada rakaat kedua, membaca surat al-Kafirun dan pada rakaat ketiga membaca surat al-Ikhlas.

- Setelah shalat witir disunnahkan membaca bacaan berikut sebanyak tiga kali:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ


“Maha Suci (Allah) Raja Yang Maha Suci, Tuhan malaikat dan ruh (Jibril)”

- Disunnahkan melakukan qunut pada rakaat terakhir dalam shalat Witir, baik sebelum ruku’ ataupun sesudah ruku’, namun yang lebih utama dilakukan sesudah ruku’.

Catatan:

  1. Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, oleh Syeikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan, hal 167.
  2. Lihat al-Mu’jamul al-Wasith, 1/380, al-Mulakhash al-Fiqhi, 1/167
  3. Duruus Ramadhaniah, Waqafaat Li as-Sho’imin, Salman bin Fahd al-Audah
  4. Lihat Syarh Shahih Muslim, oleh Imam An-Nawawi, 6/ 262. Lihat juga Fatawa Lajnah Da’imah (Kumpulan Fatwa yang dikeluarkan oleh komisi fatwa Kerajaan Saudi Arabia), 7/195
  5. Lihat al-Mughni, oleh Ibnu Qudamah, 2/604, Fatawa Lajnah Da’imah, 7/198
  6. Majmu’ Fatawa, Syaikh Ibn Baz, 11/339-340
  7. Lihat Majmu’ Fatawa, Syeikh Ibn Baz, 12/181
  8. Lihat Shalat al-Mu’min, DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qohthoni, hal. 326
pks-arabsaudi.org

Selasa, 26 Juli 2011

Beginilah Dimensi Sholat



Oleh Abi Muhammad Ismail Halim

As-Shalah adalah nama lain untuk surah pembuka dalam al-Qur'an al-Karim. Al-Fatihah adalah bagian integral dari shalat, tidak ada shalat tanpa Al-Fatihah. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barang siapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an di dalamnya, maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." (HR Muslim). Al-Fatihah dikenal pula sebagai 'tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang' (sab'al matsani) di dalam shalat, baik wajib maupun sunah. (QS al-Hijr [15]: 87).

Di dalam sebuah hadis Qudsi, secara eksplisit Allah SWT mengidentikkan al-Fatihah dengan as-Shalah. Nabi SAW bersabda, "Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.

Apabila hamba membaca: "Alhamdulillahi rabbil 'alamin" (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku memuji Aku." Apabila ia membaca"Arrahmanirrahim" (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku menyanjung Aku."

Apabila ia membaca: "Maliki yaumiddin" (Yang Memiliki hari Pembalasan), maka Allah berfirman: "Hamba-Ku memuliakan Aku", dan sekali waktu Dia berfirman: "Hamba-Ku menyerah kepada-Ku". Apabila ia membaca: "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), Allah berfirman: "Ini antara Aku dan hambaKu, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya."

Apabila ia membaca: "Ihdinashshirathal mustaqim. Shirathal ladzina an'amta alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wa ladhdhallin" (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk atas mereka bukan [jalan] orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan [jalan] orang-orang yang sesat). Maka, Allah berfirman: "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." (HR Muslim). Di dalam shalat terjadi dialog yang sangat indah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalamnya juga terangkum penghormatan, penghargaan, pengakuan, dan cinta sejati (hamd), harap (raja'), dan cemas (khauf). Selain dimensi vertikal, di dalam shalat terbangun pula sendi-sendi dari sebuah masyarakat madani (civil society).

Shalat berjamaah merefleksikan interaksi horizontal yang tertib dan teratur. Shaf-shaf shalat berjamaah memancarkan keindahan dari sebuah keteraturan dan ketertiban yang terbangun di atas dasar ketaatan, persaudaraan, dan kesetaraan. Selain interaksi fisik, terjalin pula ikatan hati di antara para jamaah baik secara lokal maupun global melalui doa-doa kolektif dan salam yang ditebarkan sebagai penutupnya. Shalat berjamaah mengajarkan pula prinsip-prinsip kepemimpinan. Pemimpin atau imam shalat, dipilih berdasarkan kompetensi dan integritasnya. Jika imam salah, makmum berkewajiban mengingatkan, bahkan pemimpin yang tidak lagi memenuhi persyaratan. Wallahu a'lam.

Republika.co.id

Senin, 25 Juli 2011

Pengaruh Kebaikan & Amal Sholeh Orang Tua



Wahai bapak dan ibu, ketika kita dapati anak kita tidak sesuai dengan harapan, maka terlebih dahulu hendaknya kita melihat diri kita. Barangkali pada diri kita masih ada kesalahan atau dosa-dosa yang masih sering kita lakukan. Karena sesungguhnya amalan-amalan yang dilakukan orangtua akan memberi pengaruh terhadap keshalihan anak.

Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir, mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir niscaya akan menirunya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.

Demikian juga seorang anak yang diutus orang tuanya untuk memberi sedekah kepada orang-orang miskin dirumah-rumah berbeda dengan seorang anak yang disuruh orang tuanya membeli rokok dan barang-barang memabukkan. Seorang anak melihat ayahnya berpuasa senin kamis dan melaksanakan shalat jumat dan jama’ah tidak sama dengan anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di kafe, diskotik, dan bioskop.

Kita bisa membedakan antara seorang anak yang sering mendengar adzan dengan seorang anak yang sering mendengar ayahnya bernyanyi. Anak-anak itu pasti akan meniru apa yang sering mereka dengar.

Bila seorang ayah selalu berbuat baik kepada orang tuanya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, selalu berusaha tahu kabar mereka, menenangkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, memperbanyak berdoa, “rabbighfirli wa li wali dayya..”, berziarah ke kuburan mereka bila telah meninggal, dan bersedekah untuk mereka, serta tetap menyambung hubungan dengan teman-teman mereka dan member hadiah dengan orang-orang yang biasa diberi hadiah oleh mereka dahulu. Maka anak yang melihat akhlak ayahnya seperti ini dengan seizin Allah akan menontohnya dan juga akan memohonkan ampunan untuk orangtuanya.

Seorang anak yang diajari shalat tidak sama dengan anak yang dibiasakan nonton film, musik, dan sepak bola.

Seorang anak yang melihat ayahnya shalat di malam hari, menangis karena takut kepada Allah, membaca Al Qur’an, pasti akan berfikir, “Mengapa ayah menangis, mengapa ayah shalat, untuk apa ayah tidur meninggalkan ranjangnya yang enak lalu berwudhu dengan air dingin di tengah malam seperti ini? Untuk apakah ayah sedikit tidur dan berdoa dengan penuh pengharapan dan diliputi kecemasan?”

Semua pertanyaan ini akan berputar dibenaknya dan akan selalu hadir dalam pikirannya. Selanjutnya dia akan mencontoh apa yang dilakukan ayahnya.

Demikian juga dengan seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dari laki-laki yang bukan mahramnya, menutup aurat di hadapan mereka, berhias dengan akhlak malu, ketenangan, dan menjaga kesucian diri. Dia akan mempelajari dari ibunya akhlak tersebut.

Beda dengan seorang anak perempuan yang selalu melihat ibunya bersolek di depan para lelaki bukan mahram, bersalaman, berikhtilat, duduk bersama mereka, tertawa, tersenyum, bahkan berdansa dengan lelaki bukan mahram. Dia akan mempelajari semua itu dari ibunya.

Karena itu takutlah kepada Allah wahai Ayah Ibu, dalam membina anak-anak kalian! Jadilah Anda berdua teladan yang baik, berhiaslah dengan akhlak yang baik, tabiat yang mulia, dan sebelum itu semua berpegang teguh dengan agama ini dan cintailah Allah dan rasul-Nya.

Penjagaan Allah Terhadap Keturunan Orang Tua yang Shalih

Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orangtua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.

Pengaruh-pengaruh tersebut diatas datang dengan berbagai bentuk. Diantaranya berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek akan diterimanya.

Jika orang tua shalih dan gemar melaksanakan amalan baik maka akan mendapatkan ganjaran dan pahala yang dapat dirasakan anak. Ganjaran tersebut dapat berupa penjagaan, rizki yang luas, dan pembelaan dari murka Allah. Adapun amal jelek orang tua, akan berdampak jelek terhadap anak. Dampak tersebut dapat berupa musibah, penyakit, dan kesulitan-kesulitan lain.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak amal shaleh karena pengaruhnya akan terlihat pada anak. Bukti pengaruh ini dapat dilihat dari kisah nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah berfirman memberitakan perkataan nabi Khidhir,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (٨٢)

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)

Dalam menafsirkan firman Allah, “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih” Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, berkat ketaatannya dan syafaatnya kepada mereka maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orangtuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan as sunnah.”

Allah telah memerintahkan kepada kedua orangtua yang khawatir terhadap masa depan anak–anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya. Sehingga dengan amalan-amalan itu, Allah akan menjaga anak cucunya. Allah berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٩)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisa: 9)

Karena itu bertakwalah dan beramal shalihlah agar doa untuk kebaikan anak Anda diterima!

Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan membaguskan shalatku agar engkau mendapat kebaikan.” Sebagian ulama salaf menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan beroda kepada Allah untuk kebaikanmu.

Kedua orangtua bila membaca Al-Qur’an, surat Al Baqarah dan surat-surat Al Mu’awwidzat (Al-Ikhlash, Al Falaq, An Naas), maka para malaikat akan turun mendengarnya dan setan-setan akan lari. Tidak diragukan bahwa turunnya malaikat membawa ketenangan dan rahmat. Dan jelas ini member pengaruh baik terhadap anak dan keselamatan mereka.

Tetapi bila Al-Qur’an ditinggalkan, dan orangtua lalai dari dzikir, ketika itu setan-setan akan turun dan memerangi rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur’an, penuh dengan musik, alat-alat musik, dan gambar-gambar haram. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh jelek terhadap anak-anak dan mendorong mereka berbuat maksiat dan kerusakan.

Sehingga dari itu semua, cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Serta kita harus senantiasa berbuat baik kepada orangtua kita serta menjauhi sikap durhaka kepadanya, agar anak-anak kita nantinya menjadi anak yang berbakti, selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua dimasa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.

Selanjutnya, hal yang tidak boleh kita lupakan adalah senantiasa berdoa, mengharap pertolongan kepada Allah dalam mendidik anak-anak kita, janganlah kita sombong terhadap kemampuan yang kita miliki. Karena hidayah itu berada ditangan Allah dan Allahlah yang membolak balikkan hati hamba-hambaNya.

***
artikel muslimah.or.id
penulis: Ummu Muhammad Anik Rahmawati

Jalan Untuk Mendapatkan Keberkahan Rezeki : ZAKAT



Zakat, baik zakat wajib atau sunnah (shadaqah) adalah salah satu amalan yang menjadi penyebab turunnya keberkahan. Allah Ta'ala berfirman,

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (Qs. al-Baqarah: 276). Pada ayat lain, Allah berfirman,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan bagi orang yang Ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (Qs. al-Baqarah: 261). Pada ayat lain Allah berfirman,

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimispun (memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." (Qs. al-Baqarah: 265).

Pada ayat lain, Allah berfirman,

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

"Dan sesuatu riba yang engkau berikan agar bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai Wajah Allah (keridhaan-Nya), maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan." (Qs. ar-Rum: 39).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (متفق عليه

"Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berucap (berdoa), 'Ya Allah, berilah orang yang berinfak pengganti', sedangkan yang lain berdoa, 'Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran.'” (HR. Muttafaqun 'alaih).

Pada hadits lain beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ (رواه مسلم

"Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan memaafkan melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang ber-tawadhu'/ merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim).

Para ulama menjelaskan maksud hadits ini dengan menyebutkan dua penafsiran:

Maksudnya, Allah akan memberkahi hartanya dan menjaganya dari kerusakan, sehingga kekurangan yang terjadi dapat tertutupi dengan turunnya keberkahan. Hal ini dapat dirasakan langsung dan juga dapat dilihat contohnya di masyarakat.

Walaupun secara hitungan harta berkurang, akan tetapi pahala yang berlipat ganda dapat menutupi kekurangan tersebut, bahkan melebihinya (lihat Syarah Muslim oleh an-Nawawi, 8/399 dan Faidhul Qadir, 5/642).

Makna kedua ini selaras dengan hadits berikut,

يقول ابن آدَمَ: مَالِي مَالِي قال: وَهَلْ لك يا بن آدَمَ من مَالِكَ إلاَّ ما أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أو لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أو تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ. رواه مسلم)

"Anak keturunan Adam (senantiasa) berkata, 'Hartaku, hartaku!' Apakah engkau wahai anak Adam mendapatkan bagian dari hartamu selain yang engkau makan sehingga engkau habiskan, atau engkau pakai sehingga engkau rusakkan atau yang engkau sedekahkan sehingga engkau sisakan (untuk kehidupan akhirat)." (HR. Muslim).

Walaupun demikian, kedua penafsiran di atas sama-sama benar adanya, dan tidak saling bertentengan.

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A
Artikel www.PengusahaMuslim.com

Sabtu, 23 Juli 2011

Syuro Sebagai Kekuatan Sebuah Organisasi



Amal Jamai’e dalam amal da’wi menuntut kita kepada :

  1. Kefahaman terhadap hukum syar’ie yang benar.
  2. Kematangan berfikir.
  3. Kedewasaan dalam bersikap.

Semua perkara di atas akan mampu menghasilkan polisi yang tepat, efektif, berkat dan diridhai oleh Allah swt.

Perkara tersebut dapat dilihat dari proses pengambilan suatu polisi dan komitmen serta ketepatan dalam melaksanakan keputusan yang dihasilkan dari syura.

Syeikh Musthafa Masyhur memberikan ta’rif amal jama’ie sebagai berikut :

“Gerakan bersama untuk mencapai tujuan organisasi berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan”.

Berdasarkan ta’rif di atas, kita dapat memahami bahwa amal jamai’e adalah :

  1. Merupakan gerakan bersama, di mana setiap anggota melaksanakan fungsi penstrukturannya dengan orientasi pencapaian tujuan.
  2. Amal yang dilakukan oleh seluruh anggota dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
  3. Amal yang dilakukan berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan sesuai dengan mekanisma yang berlaku.

Ta’rif di atas juga mensyaratkan bahwa amal jama’ie hanya dapat dilakukan oleh organisasi / jama’ah yang mempunyai :

  1. Tujuan (ghayah) / visi dan misi yang jelas.
  2. Manhaj / metodologi gerakan yang kukuh.
  3. Unsur kepimpinan (qiyadah) yang berwibawa.
  4. Ketaatan anggota terhadap pimpinan.
  5. Pola organisasi (tandzim) yang rapi.

Kepimpinan (qiyadah) dalam sebuah jamaah merupakan unsur terpenting yang akan menggerakkan organisasi.

Fungsi strategik kepimpinan (qiyadah) di antaranya ialah :

  1. Fungsi koordinatif (mengatur).
  2. Fungsi imperatif (memaksa).
  3. Fungsi pembuat keputusan (terutama dalam situasi darurat).

Kepimpinan (qiyadah) dipilih untuk ditaati.

KEPENTINGAN SYURA DALAM ORGANISASI

Syura merupakan salah satu instrumen pengambilan keputusan yang paling penting dalam sesebuah organisasi.

Jika mekanisma pengambilan keputusan sentiasa berjalan dengan baik, maka organisasi tersebut akan mempunyai kesepaduan dan pertahanan yang tinggi terhadap segala kegoncangan yang biasanya akan menamatkan riwayat banyak organisasi.

Syura juga adalah satu cara yang disyariatkan oleh Allah swt untuk membuat keputusan di

semua peringkat, sama ada peringkat keluarga, negara dan serantau

Para ahli tafsir, fuqaha’ dan hukama’ telah banyak menekankan kepentingan syura dalam karya karya mereka kerana kewujudannya menunjukkan fenomena yang sahih dan dalil ketamadunan sesebuah masyarakat. Sebaliknya tanpa syura, ia merupakan tanda tersebarnya kezaliman.

Khalifah Umar Al Khattab berkata :

“Tidak ada kebaikan pada urusan yang diputuskan tanpa syura”.

MAKSUD SYURA

Syura bermaksud :

Berbincang, berbahas dan meneliti pandangan-pandangan dalam semua urusan terutama yang melibatkan kepentingan umat. Pandangan-pandangan itu diteliti dan ditapis oleh para pemikir, pakar, ulama’ dan ahli-ahli mesyuarat bagi mendapatkan keputusan yang paling sahih dan betul.

Islam telah memberikan syura satu kedudukan yang besar dan tinggi di mana Al-Qur’an sendiri mempunyai satu surah yang dinamakan ‘Asy Syura’.

Beriltizam dengan syura dianggap sebagai salah satu ciri keperibadian muslim dan mukmin sejati.

SYURA MERUPAKAN SALAH SATU TIANG SISTEM ISLAM

Allah swt mensejajarkan syura dengan solat dan zakat, iaitu syura hukumnya wajib sepertimana solat dan zakat, bahkan ianya sebagai tiang utama sistem masyarakat Islam yang apabila tidak diamalkan bererti kita telah melakukan dosa besar dan meruntuhkan tatacara masyarakat Islam.

Allah swt berfirman :

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan solat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Asy Syura : 38)

Sunnah Rasulullah saw dalam perlaksanaan syura telah memperincikannya. Walaupun pada hakikatnya baginda tidak perlu kepada syura kerana mendapat wahyu, namun ianya merupakan sebagai bimbingan dan tunjuk ajar kepada umatnya bagaimana melaksanakan syura.

Rasulullah saw bersabda :

“Sekiranya pemimpin kamu ialah mereka yang baik, orang-orang kaya di kalangan kamu pula pemurah dan urusan di antara kamu berbentuk syura maka permukaan bumi ini lebih baik dari perutnya. Jika pemimpin kamu ialah mereka yang jahat, orang-orang kaya di kalangan kamu pula mereka yang kedekut dan urusan kamu terletak pada wanita-wanita kamu, maka perut bumi lebih baik bagi kamu dari permukaannya”.

SYURA SEBAGAI BUDAYA MASYARAKAT ISLAM

Dalam ayat di atas, Allah swt berfirman : “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”…)

Nas ini menegaskan bahwa syura dalam masyarakat Islam bukan hanya bersifat teori, apalagi hanya sekadar wacana.

Namun ia sudah semestinya sudah menjadi budaya yang melekat di dalam kehidupan bermasyarakat.

Kalimat, (“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”…) lebih tinggi tingkatannya dari perkataan yang menunjukkan perintah, misalnya seperti :

“Bersyuralah kamu,” “Laksanakanlah syura olehmu,”, “Kamu wajib bermusyawarah,”dan kata-kata seumpamanya.

Kalimat, (“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”…) mempunyai konotasi bahwa mereka sudah membiasakan syura dalam kehidupan sehari-hari mereka dan sudah menjadi sistem kehidupan.

Sebaliknya kalimat, “Bersyuralah kamu,” adalah kata perintah yang menuntut tindakbalas dari yang menerima perintah di mana mungkin ia akan melaksanakannya atau mungkin juga tidak, dan ketika ianya dilaksanakannyapun, belum tentu ianya berterusan. Boleh jadi ia hanya dilaksanakan sekali kemudian terputus dan tidak dilakukannya lagi selepas itu.

PROSES PERJALANAN SYURA

Asas penentuan sikap dan pengambilan keputusan adalah andaian maslahah yang terdapat dalam sesuatu perkara itu.

Oleh kerana sifatnya berbentuk andaian, maka sudah pasti ianya relatif dan oleh yang demikian, sangatlah mudah untuk mengalami perubahan-perubahan sehingga sebuah keputusan syura sentiasa mengandungi risiko.

Sepanjang yang dilakukan oleh syura adalah mendefinasikan mashlahah umum atau andaian mudharat, maka ianya sentiasa terdedah kepada risiko kesalahan atau setidak-tidaknya “tempoh kebenarannya” sangat pendek.

Fungsi syura ini akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila memenuhi beberapa syarat :

  1. Tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang diambil itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
  2. Tingkatan kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai perlu dimiliki oleh setiap peserta syura.
  3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbezaan pendapat yang menjamin kepelbagaian pendapat yang berlaku dalam syura akan mampu dikelolakan dengan baik.

Syura mempunyai fungsi psikologi dan fungsi instrumental.

Fungsi psikologi akan terlaksana dengan menjamin adanya kemerdekaan dan kebebasan yang penuh bagi peserta syura untuk meluahkan fikiran-fikirannya secara wajar dan apa adanya, namun tentu sahaja setiap orang mempunyai cara yang berbeza-beza dalam meluahkan perasaan yang ada dalam dirinya.

Jika ruang luahan pemikiran dan perasaan tidak dapat dipenuhi dengan baik, maka akan berlaku konflik yang kontraproduktif dalam syura.

SYURA RASULULLAH SAW

Rasulullah saw sering bersyura dengan para sahabat. Baginda berbincang :

  1. Dalam urusan yang kecil atau besar.
  2. Semasa aman atau peperangan.
  3. Tidak kira dengan lelaki atau wanita.
  4. Serta menerima pendapat mereka secara individu atau beramai-ramai.

Rasulullah saw pernah berbincang dengan muslimin dalam peperangan Badar dan menerima pandangan Al-Habab bin Al-Munzir yang mencadangkan penukaran tempat pertempuran.

Begitu juga dalam peperangan Uhud, Baginda saw telah berbincang dan menerima pandangan sahabat-sahabatnya.

Walaupun mereka telah kalah dalam peperangan tersebut, Al-Quran telah menegaskan prinsip syura yang diamalkan.

“Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kekalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah keampunan bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan soal-soal keduniaan)”. (QS Ali Imran : 159)

Oleh itu, walaupun muslimin kalah dalam peperangan tetapi prinsip syura dapat ditegakkan, maka ia seribu kali ganda lebih baik dari pentadbiran kuku besi yang membawa kepada penindasan dan perhambaan.

SAHABAT BERSYURA

Selepas Baginda saw, para sahabat telah menjejaki langkah baginda dalam bersyura.

Abu Bakar as-Siddiq telah berbincang dengan Umar dan sahabat dalam perkara yang tidak ada nas Al-Quran atau As-Sunnah. Begitu juga yang diamalkan oleh Umar, Uthman, Ali dan para panglima tentera yang membuka wilayah-wilayah baru.

Ketika peperangan dengan Parsi, ketua tentera Parsi telah memanggil ketua tentera muslimin untuk berunding. Setelah ketua tentera Parsi itu mengemukakan pandangan serta tuntutannya, ketua tentera muslimin meminta izin untuk ditangguh perundingan bagi membolehkannya berbincang dengan muslimin.

Maka berkata ketua tentera Parsi : “Kami tidak melantik (sebagai ketua) orang yang suka berbincang”.

Ketua tentera muslimin pun menjawab : “Sebab itulah kami selalu mengalahkan kamu,

kami tidak melantik orang yang tidak berbincang”.

Abu Bakar ra telah berbincang dengan para sahabat sebelum melancarkan perang terhadap orang-orang yang murtad selepas kewafatan Rasulullah saw.

Umar ra pula berbincang dalam urusan tanah yang jatuh ke tangan Islam di wilayah-wilayah yang baru dibuka.

Ali ra pula mensyaratkan keputusan ahli syura untuk dia menerima jawatan khilafah.

FAEDAH SYURA

Ramai di kalangan para ulama’ yang memperkatakan fentang faedah syura, di antaranya ialah Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam kitabnya “Sistem Politik Dalam Islam”.

Beliau telah membawa kata-kata-para salaf yang banyak tentang syura, antaranya ialah kata-kata Ali ra :

“Syura mempunyai tujuh kebaikan :

1. Mendapatkan keputusan yang betul.

2. Mendapatkan pandangan.

3. Menjauhi kesilapan.

4. Menghindari celaan.

5. Menyelamatkan daripada penyesalan.

6. Mempertautkan hati-hati.

7. Menuruti jejak langkah Rasul saw dan para salaf.

Al-Ahnaf bin Qais pernah ditanya : “Bagaimana kamu mengurangkan kesilapan dalam urusan kamu?”

Dia menjawab : “Berbincang dengan mereka yang berpengalaman”.

HUKUM SYURA

Ramai ulama’ yang memberi pandangan dalam hukum syura. Al-Imam Fakhru Razi mentarjih dalam tafsirnya hukumnya ‘wajib’ kerana perkataan syura disebut (dalam al-Quran) dalam uslub arahan atau perintah. Begitu juga pendapat Al- Qurthubi.

Tetapi para ulama berselisih pendapat adakah ia ‘mulzim’ atau sekadar ‘mu’lim’.

‘Syura mulzim’ bererti pemimpin terikat dengan keputusan syura.

Manakala dalam Syura mu’lim’ pula, pemimpin berbincang dengan ahli-ahli mesyuarat atau sesiapa yang layak, tetapi di akhir perbincangan pemimpin tersebut tidak terikat dengan pandangan-pandangan mereka dan ia boleh mengambil pandangan yang dikiranya baik selama mana tidak bertentangan dengan nas dan garis panduan yang telah sedia ada di dalam mengambil keputusan.

Jika kita ikuti perbincangan para ulama’, fuqaha’, mujtahidin dan pemikir tentang syura, kita akan dapati mereka akhirnya berpendapat bahawa syura adalah ‘mulzim’ selepas keputusan dibuat oleh majlis syura yang berkenaan, berdasarkan hujah Al-Quran dan As Sunnah.

“Dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan soal-soal keduniaan) itu. Kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermesyuarat untuk membuat sesuatu) maka bertawakallah kepada Allah”. (QS Ali Imran : 159)

Dalam sunnah pula kita dapati Rasulullah saw banyak melakukan syura samaada dengan kaum lelaki, wanita, muda atau tua dalam pelbagai cara.

Rasulullah saw pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar :

”Jika kamu berdua bersepakat tentang satu perkara, aku tidak akan menyanggahnya”.

Ini jelas sebagai dalil penerimaan konsep majoriti dalam membuat keputusan. Itu adalah pendirian seorang Nabi yang diutuskan dengan wahyu, sudah tentu pendirian sebegitu lebih dituntut ke atas pemimpin parti, kerajaan dan syarikat yang bukan Nabi dan bukan Rasul.

Kebiasaannya mesyuarat akan berkurangan ketika waktu-waktu peperangan kerana suasana yang tidak mengizinkan, tetapi Rasulullah saw tetap melakukan syura ketika perang demi memantapkan syura sebagai prinsip masyarakat Islam.

Baginda bermesyuarat dengan sahabat dalam peperangan Badar, Uhud, Khandaq dan menerima pandangan mereka. Tidak dijumpai dalam mana-mana buku sirah yang meriwayatkan Rasulullah saw menyalahkan para sahabat jika keputusan mereka tidak mendatangkan hasil. Ini semua agar tidak menekan perasaan mereka ketika bersyura kerana mereka memberikan pandangan yang ikhlas dan yakin.

PANDANGAN FUQAHA’ SEMASA

Apabila kita membaca dan mengkaji pandangan ulama’ dan fuqaha’ ketika ini kebanyakan daripada mereka menyatakan bahawa syura adalah ‘mulzim’.

Walaupun Imam Hasan Al-Banna pada awal permulaan dakwahnya berpegang kepada syura yang‘mu’lim’, tetapi pada akhir hayatnya beliau telah menegaskan prinsip syura ‘mulzim’.

Berhubung perkara ini satu lajnah yangdiketuai oleh Al-Imam sendiri telah merangka satu draf’undang-undang jamaah. Antara yang menganggotai lajnah tersebut ialah Abdul Hakim Abidin, Tahir al-Khasyab dan Soleh al-Esymawi. Undang-undang itu telah diterima pakai pada 1948 iaitu setahun sebelum Imam Hasan Al Banna syahid.

Antara yang disebut dalam undang-undang itu ialah memakai ‘suara majoriti’. Jika bilangan ialah seri, maka pendapat ketua adalah dipakai. Ini ialah satu prosedur yang biasa dipakai dalam institusi-institusi seluruh dunia.

Berdasarkan pengamatan, Imam Hasan Al-Banna menggunakan konsep syura ‘mu’lim’ pada ketika pengikutnya masih mentah dari sudut kesedaran dan kefahaman. Apabila mereka sudah matang maka syura ‘mulzim’ menjadi undang-undang tetap dalam tanzim yang diamalkannya.

Abul A’la Al-Maududi juga mempunyai pandangan yang sama dengan Imam Hasan Al-Banna. Dalam bukunya “Sistem kehidupan Islam” beliau berpandangan bahawa syura adalah ‘mu’lim’. Tetapi pengalaman memimpin tanzim yang diasaskannya menyebabkan al-Maududi mengubah pendapatnya kepada syura ‘mulzim’ seperti yang ditegaskannya dalam buku “Kerajaan Islam”.

Dalam buku tersebut al-Maududi menegaskan jika syura tidak ‘mulzim’ maka syura itu akan kehilangan erti dan nilainya.

Dalam satu sesi wawancara dengan Dr Ma’arof Ad-Dawalibi, pensyarah Usul Fiqh Universiti Damsyik, beliau menegaskan pandangannya bahawa syura adalah ‘mulzim’ dan menyatakan perkara ini sudah sampai ke tahap ijma’.

Manakala Ustaz Sa’id Hawa pula yang berpendapat sedemikian juga menegaskan :

“Perkara ini ialah topik yang telah dibincangkan dengan panjang lebar dan tidak boleh dipandang ringan atau didiamkan kerana ia amat penting bagi hayat umat dan masa depannya”.

Dr. Abdul Karim Zaidan mempunyai pandangan yang sama dalam bukunya “Individu dan

Daulah”, di samping menambah konsep majoriti.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali pula dalam satu wawancara dalam majalah Al-Ummah yang diterbitkan di Qatar berbicara mengenai bai’ah dan syura secara terus terang sambil menolak pandangan syura yang tidak ‘mulzim’ dengan nada yang agak keras :

“Saya menolak mereka yang berkata :

Pemerintah dalam Islam boleh bertindak tanpa persetujuan majlis syura. Ini adalah kata-kata yang tidak patut diucapkan. Sedangkan Rasulullah saw yang ma’sum itu tidak pernah berbuat demikian, maka bagaimana orang lain boleh?

Kata-kata bahawa syura tidak ‘mulzim’ merupakan kata-kata yang batil, saya tidak tahu daripada mana datangnya. Kemungkinan fikrah ini timbul dari fuqaha’ pemerintah dalam suasana tertentu untuk mengharuskan penindasan politik.

Apa yang kita lihat dalam seerah Baginda ialah Rasulullah saw sentiasa beriltizam dengan syura.

Syura ialah prinsip Islam sebelum wujud daulah lagi. Dikatakan kepada mereka (para sahabat) masyarakat kamu ini belum bertukar menjadi daulah, tapi mesti urusannya ditegakkan di atas

asas syura.”dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka”.

Itu pada zaman Makkah. Apabila masyarakat Islam berpindah ke Madinah, dikatakan

kepada Rasulullah saw : ”Dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan

(peperangan dan soal-soal keduniaan) itu”.

Ujian pertama syura ialah dalam peperangan Khandaq ketika Baginda hampir-hampir mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah jahiliyah di Madinah. Apabila dibincangkan dengan ketua Aus dan Khazraj, mereka menolak pandangan itu. Rasulullah saw menerima pandangan mereka”.

Antara para ulama’ yang berpendapat syura adalah ‘mulzim’ ialah Dr. Mustafa As Sibai’e rahimahullah. Selama memegang jawatan Muraqib Aam Ikhwan di Syria, beliau telah beriltizam dengan pendapat syura ‘mulzim’.

Selain beliau ialah Syeikh Mahmud Syaltut, Dr. Yusuf al-Qardhawi, As-Syahid Syed Qutb, As-Syahid Abdul Qadir Audah, Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dan Iain-lain. Mereka semuanya beriltizam dengan syura yang ‘mulzim’.

SYURA MENYELESAIKAN KHILAF

Prinsip syura bukan setakat untuk golongan tertentu sahaja, bahkan faedah syura seharusnya dapat dinikmati oleh semua muslimin.

Barisan pemimpin yang ‘mukhlis’ ialah mereka yang sentiasa menjaga kesatuan dan permuafakatan dalam saf. Di samping ia sentiasa berhati-hati terhadap perselisihan pendapat yang boleh membawa kepada perpecahan seterusnya kelemahan.

Kesemuanya itu tidak akan dapat dilaksanakan jika :

  1. Tiada kejernihan hati.
  2. Tidak menafikan kemahuan nafsu.
  3. Tiada ketaatan sempurna kepada Allah, Rasul dan pemimpin dalam perkara yang bukan

maksiat.

Antara tindakan yang dapat menjamin keutuhan jamaah ialah :

Merujuk kepada syura dengan syarat anggota-anggotanya terdiri daripada kalangan yang berpengetahuan dan layak.

  1. Tunduk kepada pandangan jamaah selepas mengambil kira semua pandangan dan perbincangan tidak akan meninggalkan kesan negatif.

Syura hanya boleh dilakukan dalam perkara yang diputuskan melalui ijtihad, bukan dalam perkara yang telah diputuskan oleh nas atau wahyu.

Rasulullah saw bersabda :

“Aku hanya menghukum antara kamu dalam perkara yang tidak diturunkan wahyu”.

Diriwayatkan daripada Ali bin Abi Talib, “Aku berkata: Wahai Rasulullah! Berlaku suatu peristiwa pada kami yang tiada hukumnya dalam Al-Quran dan As-Sunnah”

Lalu Rasulullah saw berkata :

“Kumpulkan mereka yang ‘arif atau ‘abid di kalangan mukminin, maka bincangkan peristiwa itu antara kamu dan janganlah putuskan hukumnya dengan pandangan seorang individu sahaja”

Barisan pimpinan hendaklah berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkan :

  1. Pandangan yang paling tepat.
  2. Pandangan yang paling kurang mudaratnya.
  3. Pandangan yang paling tinggi maslahahnya.

Biasa dikatakan :

“Orang yang berakal ialah yang dapat membezakan antara yang baik dan jahat, manakala orang yang bijak ialah yang dapat memilih kemudaratan yang paling ringan, jika ada pilihan.”

Oleh yang demikian, persekitaran yang jernih dan suci adalah apabila para ulama’ dan cerdik pandai dapat mengeluarkan buah fikiran dan berbincang yang menatijahkan bercambahnya gaya amal dan sudut pandangan yang pelbagai.

Fenomena itu menghasilkan :

  1. Kekuatan fikiran.
  2. Sikap menghormati pandangan.
  3. Mencari kebenaran dan menerimanya.

Inilah jalan yang diasaskan oleh Baginda saw dalam urusannya dengan para sahabat. Walaupun Rasulullah saw bersifat ma’sum dan disokong oleh wahyu, Baginda tidak mengenepikan para sahabat demi menegakkan prinsip syura dan melayan naluri manusia.

Natijah sikap Baginda ini ialah banyak keputusan yang dibuat dalam pelbagai kes menggambarkan ruh berjamaah.

Tidak ada di sana mana-mana idea atau pandangan orang perseorangan yang boleh mencapai tahap suci dan tidak boleh tidak mesti dipatuhi .

Imam Malik sendiri pernah berkata :

“Aku hanyalah seorang manusia, kadang-kadang silap, kadang-kadang betul. Maka telitilah pandanganku, setiap yang menepati Al-Quran dan As Sunnah ambillah, manakala yang menyanggahinya tinggalkanlah”.

SYURA DAN NASIHAT

Syura akan menjadi lebih sempurna dengan nasihat. Nasihat boleh samada daripada individu atau orang ramai.

Nasihat boleh juga diberi atau diminta semasa syura atau selepasnya iaitu semasa perlaksanaan syura. Ini berlaku dalam peperangan Badar ketika Al-Habab bin Al-Munzir bertanya kepada Rasulullah saw tentang penempatan tentera Badar, adakah ianya wahyu arahan Allah Taala atau ia datang dari ijtihad Rasulullah saw sebagai strategi menghadapi musuh.

Rasulullah saw menjawab bahawa tempat itu hasil ijtihad dan strategi baginda semata-mata.

Apabila mendengar jawapan itu, Al-Habab pun memberikan pandangan dan nasihat agar tempat dan kubu muslimin di alihkan ke tempat lain yung lebih strategik kerana boleh menghalang tentera musuh dari sumber air. Rasulullah saw menerima nasihat Al-Habab dan melaksanakannya.

Antara peristiwa lain yang berkaitan nasihat ialah dalam peperangan Khandak di mana tentera

muslimin telah menggali parit yang besar berdasarkan nasihat Salman Al-Farisi.

Dalam perjanjian Hudaibiah pula Rasulullah saw menerima dan melaksanakan nasihat isterinya Ummu Salamah ra agar Baginda memulakan penyembelihan dam.

SANDARAN SYURA

Sandaran syura ialah Al-Quran dan As-Sunnah. Kedua-dua sandaran dan sumber rujukan itu membezakan syura daripada institusi seumpamanya seperti demokrasi.

Usaha membina kembali kehidupan Islam yang mithali menuntut wujudnya persefahaman dan penyelarasan antara kaum muslimin. Persefahaman itu hanya dapat dipupuk melalui peranan positif yang dimainkan oleh syura dalam semua bidang.

Perkara ini sudah cukup untuk mengelakkan pertelingkahan dan perpecahan yang boleh membantutkan usaha pembinaan semula.

Syura adalah ‘mulzim’ ke atas ahli syura secara umum dan ke atas pimpinan secara khusus. Untuk layak menjadi ahli syura, seseorang itu hendaklah sekurang-kurangnya melepasi tahap minima ahli ijtihad walaupun ia tidak bermaksud perlu memenuhi syarat-syarat ijtihad fiqh yang disebut dalam buku fiqh, bahkan bagi setiap bidang ada syaratnya yang tersendiri.

Sesiapa yang berijtihad dan tidak mempunyai pengetahuan yang mencukupi dalam bidang yang dijtihadkan, maka ia menghukum sesuatu tanpa ilmu dan bukti. Kes ini samalah dengan apa yang disebut dalam sebuah hadith.

“Hakim ada tiga kategori : Dua masuk neraka, satu masuk syurga. Seorang hakim menjatuhkan hukuman berdasarkan pengetahuannya yang sebenar, maka ia masuk syurga. Hakim yang menjatuhkan hukuman tanpa mengetahui apa-apa, maka ia masuk neraka. Hakim yang mengetahui kebenaran tetapi zalim dalam hukumannya (tidak berhukum berdasarkan pengetahuannya itu), maka ia masuk neraka.” (HR At Tabrani dan Al-Hakim)

Jelas dalam hadith tersebut, mereka yang manjatuhkan hukuman tanpa ilmu akan masuk ke dalam neraka, sama seperti yang menjatuhkan hukuman yang batil walaupun ia tahu kedudukan sebenar.

Sepatutnya jika seseorang itu tidak mengetahui, maka lebih baik ia mengundurkan diri atau meminta bantuan dari mereka yang arif. Bahkan jika keputusannya betul sekalipun, ia tidak dikira kerana keputusan itu samalah seperti ungkapan serkap jarang.

Jika keputusan telah dibuat menerusi syura, maka tiada siapa yang boleh melanggarinya kerana syura adalah ‘mulzim’ di sisi kita sepertimana yang dihuraikan sebelum ini.

Adapun mereka yang tidak menganuti fahaman dan manhaj kita maka kita katakan padanya seperti kata-kata Imam Hasan Al-Banna :

“Kita bantu-membantu dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaafkan dalam perkara yang kita perselisihkan”.

Berdasarkan semua faktor-faktor yang disebutkan tadi, syura di sisi Imam Hasan Al-Banna adalah‘mulzim’ dan ia mestilah diikuti oleh para pengikut dan pendokong fikrah ini kerana syura yang‘mulzim’ adalah merupakan unsur tetap dalam jamaah ini.

Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada kami untuk kami sentiasa melaksanakan syura dalam setiap urusan kami kerana kami memahami bahwa dalam syura itu adanya keberkatan dariMu yang akan menjamin ketepatan dan keberkesanan keputusan yang diambil. Tenangkan hati kami dalam beriltizam dengan keputusan syura kerana ia merupakan jalan dan wasilah yang akan menunjukkan kepada jalan yang lurus.

Ameen Ya Rabbal Alameen

www.dakwah.info

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons