Perdalam Samudra Keikhlasanmu
Realitas lapangan dakwah mengajarkan hal penting kepada kita, bahwa daya tahan di dalam mengarungi perjuangan sangat ditentukan oleh sebesar apa penjagaan keikhlasan.
Luaskan Cakrawala Kefahamanmu
Tak ada keberhasilan dakwah, jika tidak diawali ilmu dan kepahaman. Tidak akan ada keteguhan di jalan dakwah, jika tidak memiliki cakrawala pengetahuan yang memadai.
Blogger news
Tampilkan postingan dengan label Taujihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujihat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Desember 2011
Tujuh Tanda Keikhlasan
1.Syeikh Abdullah Khotib dalam kitab Nadzhorot fii Risalah Takliim mnyebutkan beberapa #TandaIkhlas, mari kita renungi dan ambil inspirasi
2. Pertama adalah Takut Popularitas, krna takut akan beramal untuk menjaga popularitas itu. Ini menjebak bg mereka yg tak siap #TandaIKhlas
3. Ibnu Mas’ud ketika keluar rumah selalu dikuntit oleh orang2 yg mengelu2kannya. Ibnu Mas’ud khawatir dengan popularitasnya #TandaIkhlas
4. Akhirnya ia berkata : Seandainya kalian tahu apa yg aku perbuat saat pintu tertutup, niscaya tak ada lagi yg mau mengikutiku #TandaIkhlas
5. Hal itu dilakukan Ibnu Mas’ud krn khawatir terjebak dg popularitas, ia meminta para fans-nya tak berlebihan mengidolakannya #TandaIkhlas
6. Takut popularitas bukan berarti populer itu haram. Bukankah nabi, sahabat dan tabiin adalah orang-orang yang populer juga ? #TandaIkhlas
7. Imam Ghozali memotivasi : ” Popularitas itu fitnah (bencana) bagi orang-orang yang lemah, tapi tidak bagi orang-orang kuat” #TandaIkhlas
8. #TandaIkhlas yg kedua, adalah mempunyai amal andalan tersembunyi dan lebih menyukainya daripada amal yg heboh dan diketahui banyak orang
9. Bukan berarti tdk hadiri majelis atau forum brsm orang2, tapi dia mempunyai amal2 andalan tersembunyi antara dia & Robb-nya #TandaIkhlas
10. Sabda Rasul : Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang atqiya (bertakwa) dan akhfiya (tersembunyi) dalam ibadahnya #TandaIkhlas
11. Kisah pahlawan bertopeng “shohibu naqb” dlm peperangan yg dipimpin Musallamah bin Abdul Malik, tak ada yg tahu siapa dia #TandaIkhlas
12. Bagi kita,ibadah saat ramai atau sepi kualitasnya tak jauh beda. Jgn saat jd imam baca Al-Ghosiyah, saat sendiri Al-Kautsar #TandaIkhlas
13. #TandaIkhlas yg ketiga : Sama saja bagi dia pujian atau cercaan orang, karena ia beramal hanya mengharap Ridho Allah semata #TandaIkhlas
14. Bagi sebagian orang pujian membuat bangga & ujub, cercaan membuat lemah & undur diri, bagi yg ikhlas sama saja tak ada beda #TandaIkhlas
15. Kalau ada yg mencela saat yakin kita melakukan hal yang benar, lalu kita merasa kecewa & terpuruk, evaluasi keikhlasan diri @TandaIkhlas
16. #TandaIkhlas yang keempat adalah : Senantiasa merasa kurang optimal dalam amal, hal ini disebabkan karena ia ‘melupakan’ amalan2nya
17. Ibnu Umar sahabat hebat yg berlimpah ilmu dan amal menyatakan : seandainya 2 rekaat sholatku ini diterima cukuplah sudah #TandaIkhlas
18. #TandaIkhlas melupakan amal kebaikan bukan mengingat dan mencatatnya dlm pikiran kita, serahkan pada malaikat untuk menunaikan tugasnya
19. Benarlah pepatah Arab yg menyatakan : Perbuatlah kebaikan lalu lempar-lempar jauh ke lautan, alias lupakanlah #TandaIkhlas
20. Mereka yg ikhlas merasa kurang dalam beramal, bukan merasa puas dengan amalan yg ada, dan tenang menikmati royalti pahala #TandaIkhlas
21. #TandaIkhlas yg ke5 : sama saja bginya jadi imam atau makmum, ketua atau anggota, panglima atau prajurit, ia tetap memberikan yg terbaik
22. Mereka yg ikhlas fokus pd amaliyah, bukan prestise sebuah jabatan. Ia meyakini catatan malaikat berdasarkan prestasi amal #TandaIkhlas
23. Baik saat mengisi kajian atau ‘sekedar’ menjemput ustadz pengisinya, dua2nya dirasakan sama2 peluang pahala yg luar biasa #TandaIkhlas
24. Menjadi ketua panitia kegiatan atau ‘sekedar’ seksi perlengkapan, dijalani dg baik dan serius, meyakini pahala karena kerja #TandaIkhlas
25. #TandaIkhlas yang ke-6 : Optimis, mereka yg ikhlas selalu berorientasi ke depan, tak lelah oleh hambatan cobaan yg datang berlalu lalang
26. Mengapa mereka selalu optimis ? Karena mrk lebih fokus ke proses, bukan hasil yang merupakan wilayah ketentuan Allah semata #TandaIkhlas
27. Yang Ikhlas menjadikan segala aral melintang sebagai pemicu dan pelecut untuk beramal lebih baik dan giat lagi, #TandaIkhlas
28. #TandaIkhlas yang terakhir, soal hati : Gembira saat ada rekanbaru yang lebih baik darinya, karena akan bersinergi membantunya beramal
29. Seperti Imam masjid di kampung, yg gembira melihat ada anak muda fasih membaca Quran, lalu mengangkatnya jadi imam sholat #TandaIkhlas
Kamis, 17 November 2011
Kemenangan Dakwah Tidak Diukur dari Hasil
Oleh: Abu Maryam
” الأجر يقع بمجرد الدعوة ولا يتوقف على الاستجابة “
“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerimaannya”
Kaidah ini meluruskan pemahaman yang sering disalahartikan oleh banyak orang, bahwa pahala haruslah berbanding lurus dengan hasil yang didapat secara zahir, sehingga penilaiannya dapat dihitung secara matematis seperti umumnya pekerjaan duniawi. Apabila cara pandang seperti ini yang dijadikan acuan, maka para nabi bisa dikatagorikan gagal dalam mengembankan amanah dakwah, karena dakwah mereka hanya menghasilkan pengikut yang jumlahnya sedikit.
Kita bisa mengambil contoh kisah Nuh As. yang mendakwahi kaumnya siang dan malam hingga memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya. Allah Swt. berfirman dalam Al Quran: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”(QS. Al Ankabut: 14)
Inti dari ayat ini sebagaimana yang termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nabi Nuh As. mendakwahi kaumnya untuk beriman kepada Allah Swt. selama seribu kurang lima puluh tahun (950 tahun) lamanya, dan dalam kurun waktu itu, nabi Nuh As. hanya mendapatkan sedikit sekali pengikut, dan itu termaktub di dalam Al Quran:
“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Huud: 40)
Perhatikan akhir dari ayat di atas secara seksama, bagaimana Allah menjelaskan, “dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit” (QS. Huud: 40), kalau kemudian takaran kesuksesan dakwah diukur dari kuantitas hasil, maka pastilah Nabi Nuh telah gagal mengemban misinya, namun pada hakekatnya tidaklah demikian, karena para Nabi dan Rasul merupakan hamba pilihan yang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Swt.
Jumlah pengikut yang sedikit juga didapat oleh para nabi lainnya. Ketika pada hari kiamat nanti, para Nabi dan Rasul dikumpulkan dan mereka datang dengan umatnya masing-masing, dari mereka ada yang membawa satu, dua, tiga, bahkan ada yang sama sekali tidak membawa pengikut seorangpun.
Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis. Imam Tirmidzi mentakhrij dari jalur Ibnu Abbas Semoga Allah meridhoi keduanya seraya berkata : “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi yang bersama mereka pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikutpun.”
Oleh karena itulah Allah Swt. kemudian mengarahkan kepada Rasulullah Saw. agar setelah berdakwah secara optimal, janganlah sekali-kali menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah Swt. sendiri telah berfirman: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (QS.Asyu’araa’ :48)
Dan dalam ayat lainnya, “Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An nahl :35)
Dan dalam ayat: “Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An nur: 54)
Adapun terkait dengan hal hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah untuk memberikannya.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56)
Oleh karenanya, barang siapa yang memahami kaidah ini secara baik, maka ia akan berdakwah tanpa beban, tidak merasa kecewa ataupun stress hanya dikarenakan dakwah yang siang malam ia lakukan berakhir dengan penolakan dan jumlah pengikut yang sedikit.
Allah Swt. melalui firman-firman-Nya kerap menghibur Rasulullah Saw. dalam hal ini, karena tidaklah Allah memberi sebuah tanggungjawab, melainkan sesuai dengan kadar kemampuan yang telah Allah berikan kepada beliau. Allah Swt. berfirman:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al Baqarah: 272)
“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Faathir: 8)
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl : 127)
Ayat-ayat di atas menjadi hiburan tersendiri bagi Rasulullah Saw., menghilangkan kesedihannya selama ini, dikarenakan kesungguhan beliau dalam berdakwah untuk menuntun kaumnya beriman kepada Allah ditanggapi dengan sikap “buta dan tuli.”
Para da’i pada hakekatnya adalah mereka yang memiliki hati-hati yang lembut, penuh cinta, perasa sehingga itu semua menjadi tenaga bagi mereka dalam menunaikan dakwah. Ia merasa sedih ketika melihat hamba Allah yang lebih memilih berada dalam kesesatannya, mengabaikan ajakan kebaikan yang selama ini ia serukan. Kesedihan seperti ini pulalah yang dirasakan oleh Rasulullah Saw. ketika melihat kaumnya, maka Allah Swt. kemudian berfirman:
“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).” (QS. Al Kahfi: 6)
Dengan kata lain, ayat ini menanyakan kepada nabi Muhammad Saw., apakah dengan kehancuran kaum yang tidak mau diajak beriman itu, telah membuatnya menjadi putus asa dan merasa kasihan karena pengingkaran mereka terhadap Al Quran?
Imam Qatadah, sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Tafsir Ibn Katsir menjelaskan ayat ini:“Seolah-olah engkau ingin bunuh diri sebagai ekspresi kemarahan dan kesedihan terhadap perilaku mereka.” Sedangkan Mujahid mengatakan, sebuah kegelisahan, dan artinya tak jauh beda yakni jangan bersedih atas mereka, namun teruslah sampaikan risalah Allah ini, barang siapa yang mendapatkan hidayah maka itu untuk dirinya, dan barang siapa yang sesat sesungguhnya ia telah menyesatkan dirinya sendiri.
Dengan demikian, sesungguhnya Allah pun telah mencabut dosa bagi para da'i apabila orang yang mereka dakwahi tidak mendapat petunjuk dan merespon dakwah yang mereka lakukan, tentunya setelah mereka berusaha dengan penuh optimal, hal itu dikarenakan Allah tidak akan memberikan beban kepada seorang hamba melainkan sesuai dengan batas kemampuan yang telah Ia berikan.
Kaidah ini juga menjadi obat bagi mereka yang tergesa-gesa memetik hasil dari dakwah yang selama ini mereka kerjakan. Yaitu mereka yang menunggu hasil yang nampak secara kasat mata duniawi, dan kemudian menjadikannya syarat dan takaran pilihan, antara melanjutkan perjuangan di jalan dakwah ini atau tidak. Cara pandang seperti ini sebenarnya cara pandang yang salah, sehingga bertolak belakang dengan kaidah dakwah yang diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Al Quran telah menekankan, bahwa tidak ada kemestian seiringnya antara dakwah yang dijalankan dengan respon yang di dapat (Istijabah). Seorang dai, bisa saja telah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan dalam berdakwah, namun sang mad'u tetap pula dengan sikap kerasnya, menolak segala bentuk ajakan kebaikan kepada dirinya. Namun demikian, pada fase seperti inilah sebenarnya akhir dari segalanya itu ditentukan. Tahapan-tahapannya dijelaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.”(QS. Yusuf: 110)
Fase pertama adalah pada masa dakwah itu dirasa tidak mempunyai harapan lagi untuk mengarahkan mereka kepada keimanan, sehingga mereka merasa telah didustai, maka berakhirlah fase dakwah yang kemudian ditutup dengan pertolongan dari Allah Swt. Ibnu Katsir dalam tafsirnya kemudian menjelaskan, bahwa pertolongan dari Allah akan diturunkan kepada para Rasul-Nya ketika mereka berada dalam kondisi genting dan dalam masa pengharapan akan hadirnya kemenangan, dan itu terjadi di masa yang sangat kritis. Sebagaimana diterangkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah : 214)
Wallahu a’lam bishowab
Al-Intima.com
Jumat, 11 November 2011
It's All bout The Money
Anis Matta, Lc
PKS di masa yang akan datang tidak bisa mengendalikan kehidupan ini
semuanya kalau hanya berkuasa di Negara tetapi tidak menguasai pasar. Tidak mungkin. Sekarang ini kita akan menemukan secara individu, banyak individu yang lebih kaya dari Negara. Oleh karena itugabungan dari beberapa individu justru dapat dengan mudah mengintervensi Negara dan memiskinkan Negara. Kalau kita hanya masuk ke dewan, padahal dewan itu hanyalah bagian kecil dalam panggung Negara, masih ada eksekutif masih ada yudikatif. Kita hanya punya sedikit di dewan itu, dan di dewan itu masih sedikit pula. Kita lihat daerah kekuasaan kita, dakwah ini ke depan hanya bisa menekan, menguasai, mengendalikan situasi kalau kita punya orang yang terdistribusi secara merata, memimpin Negara, memimpin civil society, dan memimpin pasar. Baru kita akan digjaya sebagai sebuah gerakan dakwah.
semuanya kalau hanya berkuasa di Negara tetapi tidak menguasai pasar. Tidak mungkin. Sekarang ini kita akan menemukan secara individu, banyak individu yang lebih kaya dari Negara. Oleh karena itugabungan dari beberapa individu justru dapat dengan mudah mengintervensi Negara dan memiskinkan Negara. Kalau kita hanya masuk ke dewan, padahal dewan itu hanyalah bagian kecil dalam panggung Negara, masih ada eksekutif masih ada yudikatif. Kita hanya punya sedikit di dewan itu, dan di dewan itu masih sedikit pula. Kita lihat daerah kekuasaan kita, dakwah ini ke depan hanya bisa menekan, menguasai, mengendalikan situasi kalau kita punya orang yang terdistribusi secara merata, memimpin Negara, memimpin civil society, dan memimpin pasar. Baru kita akan digjaya sebagai sebuah gerakan dakwah.
Ketiga, bagaimana kita memulai membangun kehidupan financial kita. Pertama, perbaiki ide kita tentang uang. Ide itu adalah wilayah kemungkinan, “space of possibility”. Semua yang menjadi mungkin dalam ide kita pasti akan menjadi mungkin dalam realita. Ide itu adalah tempat penciptaan pertama sedangkan realitas itu adalah tempat penciptaan kedua. Jadi tidak ada realitas yang terjadi dalam kehidupan ini tanpa sebelumnya tercipta pertama kali dalam ide-ide kita. Sebelum pesawat terbang itu di ciptakan yang pertama kali dahulu adalah ide bagaimana manusia dapat terbang seperti burung.
Jadi begitu sesuatu jadi mungkin dalam ide kita, ia bisa menjadi mungkin dalam kenyataan.
Sekarang perbaikilah ide-ide kita tentang uang. Belajarlah utuk mempunyai mimpi besar tentang uang. Belajarlah untuk membuat daftar rencana, Insya Allah ketika saya meninggal nanti saya mewariskan sekian banyak uang. Buatlah step ide ini luas. Karena kalau space of possibility kita ini luas maka space of reality kita jadi luas. Kalau kita lihat mobil, belajarlah mempunyai selera yang bagus.
Supaya ide- ide ini tumbuh dengan baik kita perlu dari sekarang membaca sebuah buku tentang uang. Bacalah buku diantaranya The Millionaire Mind, ada dua buku yang ditulis oleh penulis yang sama karena ini adalah risetnya. Selanjutnya The Millionare Dead. Ini adalah penelitian yang dilakukan terhadap cara berpikir orang- orang kaya
yang ada di Amerika.
yang ada di Amerika.
Kemudian buku One Minute Millionaire (Bagaimana menjadi Milliuner dalam 1 menit) dan ini juga punya website, kita bisa masuk websitenya, mereka punya psikotest kalau kita ingin mengetahui apakah kita punya talenta jadi orang kaya atau tidak. Alamat websitenyawww.oneminutemillionaire.com.
Buku yang ketiga adalah semua buku Robert T. Kiyosaki. Yang ke-4 ini buku lama tapi termasuk buku- buku awal yang dibaca orang tentang uang yaitu buku yang ditulis oleh Napoleon Hill, Think and Grow Rich, Berfikir dan menjadi Kaya. Buku terakhir ini adalah buku yang sangat lama karena diterbitkan pada tahun 80-an dan ditulis tahun 70-an, tapi menurut saya, saya rasa masih relevan untuk dibaca. Ini buku- buku dasar semuanya bagi pemula. Dan saya rasa penting juga untuk mendapatkan landasan syar’i yang bagus tentang hal ini apabila kita baca juga buku yang ditulis oleh syeikh Yusuf Qordlowi tentang nilai- nilai moral dalam ekonomi Islam.
Perbaiki dahulu ide kita tentang uang, perbaiki tsaqafah tentang uang dan mulailah mempunyai mimpi besar untuk menjadi orang kaya, supaya kita Insya Allah naik derajatnya dari amil zakat menjadi muzakki. Supaya kita datang kepada orang jangan lagi bawa proposal, itu yang benar. Sering-seringlah ke tempat-tempat mewah, jalan-jalan saja untuk memperbaiki selera.
Saya punya 1 halaqah yang terdiri dari anak- anak LIPIA. Mereka datangnya dari kampung, dari pesantren semuanya. Saya tahu mereka membawa background, di backmind-nya itu ada psikologi orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya Tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya Allah kita mau pulang ke kampung mengajar ma’had, mengajar bahasa Arab. Suatu hari saya ajak mereka, hari ini tidak liqa’, tetapi saya tunggu kalian di Hotel Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh mereka berdiri di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang pakai ransel, diperiksa lama oleh security, karena penampilannya sebagai orang miskin dicurigai membawa bom.
Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau antum datang pakai jas dan dasi tidak ada yang periksa antum di situ, karena yang datang pakai ransel tampang kumuh. Kemudian mereka bertanya dimana antum ustadz, saya bilang antum tunggu saja disitu. Saya dekat mereka tapi mereka tidak bisa melihat, saya hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan. Kira- kira 2 jam mereka saya suruh di situ, mondar-mandir di lobby. Minggu depan saya Tanya apa yang antum lihat disana. Orang lalu lalang, jawab mereka. Saya Tanya, pertama, apakah ada satu orang yang lalu lalang yang antum lihat yang mukanya jelek, dia bilang tidak ada. Semuanya ganteng semuanya cantik-cantik. Jadi ada korelasi antara wajah dan kekayaan. Makin kaya seseorang makin baik wajahnya. Kedua, ada tidak yang memakai pakaian yang tidak rapi kecuali antum. Dia bilang tidak ada, semuanya rapi. Jadi dengan latihan seperti ini pikirannya sedikit mulai terbuka. Karena ia membawa bibit dalam pikirannya untuk menjadi orang miskin. Sekarang Alhamdulillah, mereka bertiga sekarang ini sedang kuliah di UI ambil S2 Ekonomi Islam.
Ikhwah sekalian
Jadi kita perbaiki insting kita. Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi hadirkan buku-buku itu ke dalam rumah dan mulai dari sekarang anak-anak kita juga mulai di ajari tentang uang. Ikutilah kursus-kursus tentang entrepreneurship supaya kita dapat memperbaiki dulu citra kita tentang uang. Kedua, menyiapkan diri untuk menjadi kaya. Orang- orang kaya yang bijak itu mempunyai nasehat yang bagus,
mereka mengatakan “sebelum anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita adalah pesimis.
mereka mengatakan “sebelum anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita adalah pesimis.
Saya punya seorang teman sekarang jadi kaya, dia datang ke Jakarta hanya sebagai pelatih karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan oleh istrinya bahwa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis sholat subuh dia pergi lari untuk olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah. Dia juga tidak tahu mau kemana yang penting keluar rumah. Istrinya tidak tahu kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti di jalan baru ditentukan siapa yang dia temui hari ini. Langkah pertama perbaiki dahulu sirkulasi darah kita, olahraga dulu, supaya wajah segar, makan yang banyak. Banyaklah makan yang enak, daging. Sering- seringlah makan yang enak. Menurut Utsman bin Affan makanan paling enak itu adalah kambing muda. Setiap hari mereka makan kambing muda. Makan yang enak, olah raga yang bagus supaya wajah kita berseri.
Syeikh Muhammad Al-Ghozali dalam kitab Jaddid Hayataka mengatakan kenapa orang-orang Barat itu pipinya merah, karena sirkulasi darahnya bagus, gizinya bagus. Sedangkan kita orang- orang Timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat, makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah-
cerah. Ibnu Taimiyah mengatakan ada hubungan antara madzhab dan batin kita, pakaian apa yang kita pakai itu mempengaruhi kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua. Ada anak umur 25 tahun pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya seperti apa. Tampillah sebagai anak muda. Cukur rambut yang bagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi,
supaya kita kelihatan ada optimisme. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata kita kuat, perlu sedikit latihan menatap
supaya kita kelihatan ada optimisme. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata kita kuat, perlu sedikit latihan menatap
Misalnya di pagi hari atau sore hari menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya. Kalau bisa antum bertahan 1 menit itu bagus. Latihan saja sendiri. Di dalam kamar ambil lilin, matikan lampu, antum tatap lilin dan matanya tidak berkedip dan tidak berarir. Nanti kalau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi
kalau olahraga teratur, sirkulasi udara bagus, pikiran jadi segar, tsaqafah kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah-cerah. Makanya Rasulullah itu senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap-gelap atau warna yang tidak menunjukkan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua.
kalau olahraga teratur, sirkulasi udara bagus, pikiran jadi segar, tsaqafah kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah-cerah. Makanya Rasulullah itu senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap-gelap atau warna yang tidak menunjukkan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua.
Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang-orang shaleh kita pakai baju taqwa, itu pakaian orang Cina. Pakailah baju yang segar agar dapat menunjukkan bahwa kita ada semangat. Walaupun anda sudah berumur pun tetap pakai pakaian yang muda, jangan berpenampilan tua. Artinya kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Jadi tidak perlu menua-nuakan diridengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua, bijak. Tampillah sebagai anak muda yang gesit dan optimis. Ketiga, bergaullah dengan orang- orang kaya, perbanyak teman-teman antum dari kalangan tersebut. Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahwa bab rezeki lihatlah kepada yang dibawah dan jangan lihat yang ada di atas. Antum tidak sedang tamak ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka.
Dahulu saya suka ceramah di kalangan orang- orang kaya. Waktu saya ceramah di rumahnya Abu Rizal Bakrie yang saat itu sedang berduit-duitnya, saya duduk dalam 1 karpet, ketika krismon pada waktu itu, sekretarisnya bilang pada waktu itu, tahu tidak berapa harga karpet ini. Saya bilang saya tidak tahu, saya pikir sajadah biasa. Dia bilang
karpet itu harganya 100 ribu Dollar. Karpet kecil harganya 1,6 M. Waktu saya selesai ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini amplop kembalikan kepada dia. Bilang sama beliau saya cuma ingin berkawan dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata- kata saya. Saya mau
bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali. Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak, saya ingin jadi teman.
karpet itu harganya 100 ribu Dollar. Karpet kecil harganya 1,6 M. Waktu saya selesai ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini amplop kembalikan kepada dia. Bilang sama beliau saya cuma ingin berkawan dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata- kata saya. Saya mau
bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali. Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak, saya ingin jadi teman.
Alhamdulillah dari situ saya banyak teman dari kelompok orang- orang kaya, dan kalau datang,
kita belajar. Saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana
caranya, bertanya kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu dido’akan panggil saya, bisa. Tapi kan saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid.
kita belajar. Saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana
caranya, bertanya kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu dido’akan panggil saya, bisa. Tapi kan saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid.
Jangan karena kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek. Saya bergaul dengan orang-orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar bagaimana caranya bikin duit, bagaimana caranya bikin perusahaan sama-sama dan saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada
hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang
kaya seperti itu.
hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang
kaya seperti itu.
Awal lahirnya reformasi, setelah kalah dalam pemilu 1999, kita Poros Tengah kumpul di rumahnya Fuad Bawazir. Semua orang diam, ada Amin Rais, Yusril, semuanya diam karena malu. Karenanya kita semua kalah, tadinya sombong semua. Pak Amin Rais mengatakan sebelum Pemilu “Nanti Golkar kita lipat-lipat, kita tekuk-tekuk, kita kuburkan di masa lalu”. Tidak tahunya Golkar masih di nomor 2. Partainya Pak
Amin rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah. Jadi berkumpullah orang- orang kalah ini semua dalam 2 hari. Waktu itu Pak Amin sedang dikejar-kejar terus oleh Dubes Amerika untuk membuat pernyataan bahwa pemenang pemilu legislatif yang paling layak jadi Presiden, tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier. Saya bilang Pak Fuad, saya ini bukan orang politik, saya ini ustadz. Yang saya pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya adalah i’tikaf, kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi dulu wartawan, mungkin dosa-dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang bener juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf di Indonesia tetap saja diketahui wartawan. Kalau begitu kita umrah. Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3 orang. 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita cuma dihargai begini, terima apa adanya
dahulu. Tapi waktu itu dengan lugu datang menghadap Pak Fuad. Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket first class. Dia bilang pokoknya 2 kali lipat harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 Dollar harga first class itu sekitar 2000 Dollar. Kenapa kita tidak sama- sama saja di kelas ekonomi, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini kan masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa dia bilang ya akhi, nanti ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.
Amin rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah. Jadi berkumpullah orang- orang kalah ini semua dalam 2 hari. Waktu itu Pak Amin sedang dikejar-kejar terus oleh Dubes Amerika untuk membuat pernyataan bahwa pemenang pemilu legislatif yang paling layak jadi Presiden, tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier. Saya bilang Pak Fuad, saya ini bukan orang politik, saya ini ustadz. Yang saya pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya adalah i’tikaf, kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi dulu wartawan, mungkin dosa-dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang bener juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf di Indonesia tetap saja diketahui wartawan. Kalau begitu kita umrah. Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3 orang. 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita cuma dihargai begini, terima apa adanya
dahulu. Tapi waktu itu dengan lugu datang menghadap Pak Fuad. Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket first class. Dia bilang pokoknya 2 kali lipat harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 Dollar harga first class itu sekitar 2000 Dollar. Kenapa kita tidak sama- sama saja di kelas ekonomi, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini kan masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa dia bilang ya akhi, nanti ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.
Kita tidak tahu apa nilai yang berkembang pada orang kaya, kenyamanan itu adalah nilai pada mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka kecil bagi mereka. Uang 1 Milyar 2 Milyar itu uang jajan. Kalau kita, belum tentu punya tabungan sampai mati seperti itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa pada orang kaya itu berbeda. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh mereka adalah ini. Dengan begitu kita menjiplak sedikit emosinya. Karena dalam pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia parfum. Kalau dia parfum dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan panas. Orang jahat itu api, kalau antum
dekat-dekat akan menyebarkan panas. Orang baik itu parfum, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita tertutupi oleh parfum tersebut. Jadi ikut-ikut karena kita perbaiki selera. Jadi kalau antum punya waktu kosong jalan-jalanlah ke mall, lihat-lihat orang kaya tidak usah belanja, lihat-lihat saja dulu, memperbaiki selera.
dekat-dekat akan menyebarkan panas. Orang baik itu parfum, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita tertutupi oleh parfum tersebut. Jadi ikut-ikut karena kita perbaiki selera. Jadi kalau antum punya waktu kosong jalan-jalanlah ke mall, lihat-lihat orang kaya tidak usah belanja, lihat-lihat saja dulu, memperbaiki selera.
Datanglah ke showroom mobil, datang ke pameran mobil. Lihat-lihat, pegang-pegang. Rajinlah berdo’a. Bergaullah dengan orang kaya. Selain itu, rajinlah berinfaq walaupun kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap menganggap uang itu kecil dan supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita. Misalnya kita punya 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar dari ini. Jadi
angka itu terus bertambah di kepala kita, walaupun dalam kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekedar dapat pahala tetapi efek tarbawi-nya bagi kita akan bertambah terus.
angka itu terus bertambah di kepala kita, walaupun dalam kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekedar dapat pahala tetapi efek tarbawi-nya bagi kita akan bertambah terus.
Kita belum pernah merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus seperti itu kita latih sampai menjaga jarak. Kita membuat sirkulasi jadi bagus. Kelima adalah mulailah melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam hal perdagangan. Saya juga ingin menasehati ikhwah-ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan mengandalkan matapencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul untuk periode selanjutnya. Belum tentu juga juga jama’ah menunjuk kita lagi sebagai anggota dewan, padahal gaya hidup sudah berubah. Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu hanya sirkulasi. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji karena pekerjaan seperti ini, kita harus hati-hati itu bahaya. Jadi pendapatan paling bagus itu tetap dari bisnis. Oleh karena itu, mulai sekarang itu belajarlah terjun ke dunia bisnis.
Jatuh bangun waktu bisnis tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung jadi kaya. Yang antum perlu terus berbisnis. Begitu juga dengan para ustadz, teruslah bisnis. Begitu juga dengan seluruh pengurus DPW-DPD dan seterusnya. Teruslah berbisnis. Lakukan bisnis sendiri sekecil-kecilnya. Tidak boleh tidak. Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mau kaya sumbernya adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari pedagang dan hanya 1 pintu untuk yang bekerja dengan keterampilan tangannya, yaitu professional. Misalnya akuntan itukan professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya uangnya terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan itu hanya 5 tahun. Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya ketemu dengan ikhwah dari dewan, hati-hati jangan sampai mengandalkan mata pencaharian dari situ.
Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita harus cari sumber lain. Waktu kita terjun ke bisnis, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya partner bisnis. Dia mulai bisnis umur 16 tahun, semua jenis pekerjaan sudah dia lakukan.
Pada suatu waktu dia mempunyai 38 perusahaan tapi dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang menghasilkan uang. Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah pandang terhadap orang kaya. Kita pikir tangan dingin semua yang disentuh jadi uang. Ternyata tidak juga. Jadi hal-hal seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan berfikir dengan berdagang antum akan cepat kaya, yang menentukan antum cepat berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang- orang sukses, nanti kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses masih gagal juga. Teruslah berdagang, teruslah bergaul, teruslah seperti itu karena setiap orang tidak tahu kapan saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.
TAMAT
Posted in:
Taujihat
Kamis, 08 September 2011
Kader dan Kemenangan Dakwah 2014
Tujuan Kita Ingin Memenangkan Pemilu 2014 adalahkarena merupakan bagian dari tahqiqul 'ubudiyah,cara kita merealisasikan ibadah kepada Allah SWT. Dan bagian yang paling penting dari tahqiqul 'ubudiyahitu adalah tahqiqul muradillah, merealisasikan kehendak-kehendak Allah SWT dimuka bumi ini. Dan kehendak-kehendak Allah itu -ikhwah sekalian- secara eksplisit dinyatakan dalam apa yang disebut oleh ulama-ulama sebagai maqashidu syari'ah, tujuan-tujuan dasar syari'at itu diturunkan. Mulai dari menjaga nyawa, menjaga harta, menjaga kehormatan, menjaga akal. Semua itu merupakan maqashidus syari'ah yang dengan menegakkannya, maka kita melakukan suatu hal yang merupakan tujuan hidup kita yaitu tahqiqul 'ubudiyah. Dan dengan menegakkan maqashidu syari'ah itu -ikhwah sekalian- mudah-mudahan kita telah merealisasikan derivasi selanjutnya dari ma'na 'ubudiyah yaituisti'marul ardh (memakmurkan bumi). Risalah ini menjadi jauh lebih penting bagi kita semuanya, terutama karena pemilu 2014 akan berlangsung di saat negeri kita -sekali lagi- mengalami krisis besar yang mungkin bisa lebih besar dari krisis pada tahun 1997.
Oleh karena itu kemenangan kita pada tahun 2014 -ikhwah sekaliah- bukan hanya merupakan faridhah syar'iyah, bukan hanya merupakan kewajiban syari'ah, tapi juga merupakan dharurah wathaniyah, merupakan suatu keharusan dan keniscayaan nasional. Karena kemenangan kita pada tahun 2014 yang akan datang adalah suatu rangkaian proses penyelamatan bagi bangsa Indonesia.
Ikhwah sekalian, tiga belas tahun sudah kita mendobrak sistem otoriter. Dan memulai sebuah kehidupan baru dalam suatu bingkai sistem demokrasi. Tapi sampai saat ini sebagaimana demokrasi pada masa Sukarno gagal menciptakan kesejahteraan. Dan kesejahteraan pada masa orde baru harus dibayar dengan menghilangkan demokrasi. Tiga belas tahun masa reformasi ini adalah tahun-tahun kegelisahan, tahun-tahun pencarian, tahun-tahun dimana kita semua menyatakan pemberontakan. Tetapi tidak benar-benar tahu kemana seharusnya kita melangkah. Tahun-tahun dimana kita menyatakan ada enam visi reformasi mahasiswa, tetapi pada waktu yang sama tiga belas tahun kemudian kita menyaksikan bahwa visi itu sampai saat ini belum juga terealisasi. Tapi kita semua -ikhwah sekalian- bertanggung jawab secara moral. Karena kitalah yang mendobrak sistem itu. Kita yang menghancurkan dan menjatuhkan sistem itu. Lalu kemudian menggantinya dengan sistem yang baru. Tidak ada yang salah dengan sistem ini, yang salah adalah karena yang terjadi adalah bahwa syarat-syarat kebangkitan sebuah bangsa, sebagaimana yang kita pelajari dalam doktrin-doktrin dakwah kita belum sepenuhnya terpenuhi. Syarat pertama dalam kebangkitan suatu umat dalam doktrin dakwah kita adalah al-yaqizhatur ruhiyah (kebangkitan spiritual). Syarat yang kedua adalah al-wa'yul fikri (kesadaran pemikiran), adanya agenda, adanya manhaj yang jelas dalam bekerja. Dan syarat yang ketiga adalah al-qiyadatul qawiyah(kepemimpinan yang kuat).
Tiga belas tahun reformasi ini adalah tiga belas tahun kegelisahan. Karena kita semua berhasil membangkitkan masyarakat Indonesia untuk menyatakan kekecewaannya kepada sebuah rezim dan mengakhiri rezim itu dan kemudian berusaha bersama memulai suatu hidup baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Ikhwah sekalian,
Ada keinginan yang kuat pada seluruh masyarakat. Tetapi seperti orang yang baru saja bangun, kita belum berwudlu. Kita baru bangun dan baru meninggalkan tempat tidur, baru membuka mata dan baru berjalan terseok-seok. Bahkan menghadapi kenaikan harga BBM dunia pun, kita tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi ikhwah sekalian, kebangkitan telah kita mulai pada jalurnya yang benar. Oleh karena kegelisahan itu adalah awal dari kebangkitan itu, dan kegelisahan itu tampak besar adalah wajah dari al-yaqizhatur ruhiyah(kebangkitan spiritual). Kita sudah mempunyai agenda; ada apa yang kita sebut dengan visi reformasi. Tahun ini juga kita mengeluarkan platform perjuangan kita untuk menegakkan masyarakat madani. Tetapi syarat untuk kebangkitan yang total belum sepenuhnya terpenuhi, karena masih ada syarat yang ketiga yaitu munculnya al-qiyadatul qawiyah (kepemimpinan yang kuat). Mudah-mudahan tahun 2014 itu adalah saat dimana kita menyempurnakan syarat ketiga dari kebangkitan kita semuanya di Indonesia, Insya Allah.
Ikhwah sekalian,
Seratus tahun yang lalu ceritanya persis sama seperti cerita kita malam ini. Juga adalah cerita kegelisahan. Budi Utomo, Syarikat Islam dan ormas-ormas Islam, ormas-ormas nasional yang lainnya pada waktu itu semuanya adalah ungkapan-ungkapan kegelisahan. Ada kesadaran yang begitu kuat di dalam jiwa mereka bahwasanya mereka adalah satu bangsa yang utuh. Mereka tahu namanya dan juga mereka tahu rasanya, tetapi mereka belum terlalu fasih membahasakannya. Pada tahun 1928 Sumpah Pemuda mengejawantahkan semangat itu kembali dalam sumpah yang singkat tetapi jelas menyatakan identitas bangsa kita. Dan dari situlah dimulai sebuah revolusi. Ujung dari revolusi itu adalah kemerdekaan kita pada tahun 1945. Tapi jika setelah kita merdeka dan kemudian kita berumur 66 tahun sebagai sebuah bangsa merdeka, tiba-tiba saja kita dikagetkan oleh sebuah fakta, kenapa bangsa ini pada usianya yang ke-66 tampak begitu tua dan lelah. Karena ikhwah sekalian, cita-cita mereka seratus tahun yang lalu sudah tercapai. Cita-cita mereka adalah mendirikan sebuah Negara, bangsa yang merdeka dan berdaulat dan itu sudah tercapai. Dan Imam Ghazali mengatakan “segala sesuatu yang sampai pada puncaknya, harus memulai kekurangannya”.
Oleh karena itu, ikhwah sekalian, pentinglah kita menyadari suatu fakta, suatu hakikat besar di dalam sejarah bahwasanya jika cita-cita kita di dalam hidup itu kecil dan kemudian kita sudah mencapai cita-cita itu pada umumnya kita tidak lagi mempunyai sumber energy untuk bergerak. Bangsa ini setelah merdeka kehilangan sumber energy untuk bergerak, karena cita-citanya memang sudah tercapai kalau cita-cita kita hanya sekedar memerdekakan Indonesia, mengusir penjajah Belanda, Portugis atau Jepang dari bumi pertiwi Indonesia ini. Cita-cita itu adalah cita-cita yang terlalu sederhana. Itulah sebabnya Al-qur’an sejak awal menitipkan satu cita-cita besar tanpa batas kepada Nabi Muhammad SAW:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)
“dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba : 28)
Maka kebangkitan Indonesia di masa yang akan datang itu –ikhwah sekalian-, membutuhkan suatu sumber energy besar yang tidak terbatas. Dan sumber energy besar yang tidak terbatas itu adalah pada cita-cita kita semuanya. Dan cita-cita yang kita warisi dari sejarah Indonesia ini menurut saya tidak lagi memadai untuk membangkitkan bangsa ini sekarang. Kita memerlukan suatu narasi baru, satu ide baru, satu cita-cita baru yang melampaui wilayah Republik ini untuk merangkul seluruh wilayah umat manusia dimuka bumi ini. Itu sebabnya ikhwah sekalian, cita-cita kita semuanya jika kita perbesar untuk merangkul seluruh umat manusia, maka kita akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW tentang agama ini :
لاَ يَبْلُغَنَّ هذا الدِّينَ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ والنَّهَارُ
Agama ini akan sampai ke seluruh muka bumi ini, akan menjangkau seluruh umat manusia sepanjang siang dan malam menjangkau mereka.
Negeri kita ini membutuhkan sebuah cita-cita baru sebagai sumber energi mereka. Dan cita-cita itu adalah haruslah merupakan cita-cita kemanusiaan. Itu sebabnya, ikhwah sekalian, kebangkitan Indonesia sekarang ini membutuhkan sebuah ruh baru. Dan ruh baru itu adalah Partai Keadilan Sejahtera.
Ruh baru inilah yang hilang dari republik kita ini. Dan karena itulah kita berjalan tertatih-tatih. Ruh baru inilah yang diperlukan oleh negeri kita sekarang, oleh seluruh masyarakat kita sekarang. Ruh baru inilah yang dibutuhkan mereka untuk mengalirkan energi baru kepada mereka. Energi untuk bergerak kembali seperti sebagai sebuah bangsa besar. Tetapi kita tidak bisa mengalirkan energi ini kecuali kalau kita memenuhi syarat kebangkitan ketiga yaitu mengakselerasi dan mempercepat munculnya al-qiyadah al-qawiyah (kepemimpinan yang kuat) di republik kita ini.
Ikhwah sekalian, saya mengatakan kepada ikhwah-ikhwah kita di Kaltim. Tahukah antum semuanya mengapa kita perlu memenangkan Pilkada di Kaltim? Karena sepertiga pendapatan negara kita berasal dari propinsi ini dengan penduduk hanya sekitar tiga jutaan dan pemilih 2,2 Juta. Wilayah ini adalah salah satu zona ekonomi besar tetapi mungkin kecil secara skala politik. Tetapi dengan memenangkan wilayah ini, antum melakukan suatu hal yang sangat fundamental dalam tujuan maqashidus syari’ah yaitu hifzhul maal (menjaga harta negara kita).
Kemudian saya mendapatkan informasi begitu banyak, dan saya kira antum tahu semuanya. Betapa kayanya negeri itu. Tetapi saya berjalan dari Balik papan ke Samarinda bolak balik, siang dan di malam hari di atas jalan-jalan yang semuanya sudah rusak dan sama sekali tidak nyaman untuk kita lalui. Lalu saya teringat kepada salah satu kalimat Umar bin Khatthab : “Jika ada seekor keledai yang jatuh di jalan-jalan Irak, maka saya akan ditanya oleh Allah SWT di hari akhirat. Mengapa kamu tidak memperbaiki jalan yang ada di Irak itu?”
Jadi Ikhwah sekalian, negeri kita ini adalah negeri ironi. Dan kebangkitan spiritual yang sudah kita miliki itu sejak tahun 80-an ketika kita memulai dakwah, tahun 90-an ketika kita mengembangkan dakwah kita dan membangun basis sosial tidaklah memadai kecuali kemudian kita memperbesar kerangka kita kembali dan merebut semua bagian hati bangsa Indonesia untuk kemudian mengambil kepercayaan besar mereka. Dan berada di garda depan menyelamatkan kehidupan bangsa yang besar ini.
Saya menyatakan tentang tiga cita-cita kita, yang kita kuantifikasi dalam angka-angka. Ada yang apa kita sebut dengan cita-cita politik yang angkanya adalah 20% atau menjadi 3 besar Ada yang kita sebut dengan cita-cita dakwah, apabila gabungan suara partai-partai Islam ini sudah melampaui 50%. Dan ada yang kita sebut dengan cita-cita peradaban, apabila kita berhasil menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia Islam dan front linersaudara tertua Islam yang berada di baris depan berhadap-hadapan dengan peradaban lainnya. Dan kemudian secara perlahan-lahan menjadi kiblat peradaban kemanusiaan baru.
Itulah sebabnya ikhwah sekalian, walaupun berada dibawah penjajahan Inggris. Dalam keadaan yang sangat sulit, kita belajar dari satu fakta sejarah dari Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika beliau mengatakan tentang tujuh tujuah dakwah kita, dimana yang terakhir adalah ustadziyatul ‘alam. Bisakah antum membayangkan bahwa buruh-buruh, para petani, para nelayan, orang-orang papa dan nestapa di Mesir yang miskin, yang dihadapi oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna, yang tua dan renta. Diperkenalkan kepada mereka ma’na Islam pertama kali dan tujuan besar peradaban mereka ketika mereka masih hidup dibawah penjajahan. Lalu kepada mereka disampaikan doktrin bahwa pada suatu waktu kalian semuanya mempunyai satu tugas suci menjadi soko guru peradaban dunia. Bisakah kita membayangkan, apakah yang ada dalam pikiran Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika itu? Dan apa yang ada di benak para petani, para buruh dan nelayan?
Dan sekarang ini tampak seperti eutopia, ketika PKS merencanakan menjadi bagian dari 3 Besar Pemenang Pemilu, dan tiba-tiba mempunyai mimpi besar menjadi pemimpin peradaban manusia. Ini bukan eutopia! Karena ikhwah sekalian kita ini (di PKS ini) mempunyai suatu tradisi kesadaran. Kita menyadari apa yang disebut oleh Rasulullah SAW: Rahimallahu man ‘arafa qadra nafsih. Allah merahmati kepada orang-orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya. Karena itu pada tahun 1997 kita membuat Rinja (Rencana Induk Jama’ah). Dan kita baru bercita-cita mendirikan partai pada tahun 2010. Tetapi Allah mempercepat target itu dan menjadikannya satu tahun kemudian dimana kita mendirikan partai pada tahun 1998. Sekarang dalam hitungan-hitungan normal, kita baru berfikir untuk melangkah menuju kepemimpinan nasional pada tahun 2014. Tetapi tampaknya Allah SWT mengirimkan tanda-tanda alam, tanda-tanda peradaban dan tanda-tanda kemanusiaan, juga tanda-tanda sejarah. Bahwa waktu yang kita rencanakan itu tampaknya akan dipercepat oleh Allah SWT.
Itulah yang bisa kita tafsirkan secara ijabiyah (positif) dalam perspektif dakwah kita ketika Allah memberikan kemenangan di Jawa Barat, di Sumatera Utara
Jadi ibarat gelombang –ikhwah sekalian- gelombang ini sedang datang. Ada pasang dalam sejarah kita saat ini. Dan oleh karena itu walaupun dengan segala kerendahan hati, kita mungkin tidak terlalu siap. Tetapi yang sangat kita khawatirkan adalah terulangnya seperti apa yang dikatakan oleh beberapa ikhwah di Jawa Barat. “Memang kami kalah dalam semua survey, tapi kami sangat khawatir dimenangkan oleh Allah SWT”. Kita juga khawatir –ikhwah sekalian- jangan-jangan kita hanya berniat masuk 3 besar, mendapatkan 20%. Tapi tiba-tiba Allah SWT mengubah peta politik kita ini dan menjadikannya lebih dari pada apa yang kita harapkan. Dan karena itu ikhwah sekalian, mental kita haruslah kita siapkan. Sebagaimana pada tahun 1997, ketika tiba-tiba mata kita terbelalak, bahwa pada tahun 1998 kita harus tiba-tiba mendirikan partai politik. Tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan. Tetapi Allah SWT memberikan kepada kita syarat yang sering saya ulangi, niat yang baik dan kemauan belajar itu cukup untuk memimpin.
Jadi ikhwah sekalian, kita harus menghilangkan dan kita harus mulai menswitch, memindahkan, mentransformasi mental kita. Bahwa sementara kita mempunyai target-target yang sekarang kita tetapkan. Tampaknya Allah SWT mengirimkan tanda-tanda yang lain dan karena itu mental kitapun harus kita persiapkan. Dan supaya mental kita itu harus kita siapkan, perlulah kita merubah beberapa paradigma di dalam pikiran kita.Yang selalu saya ulang-ulang dan sering saya sebut sebagai polisi tidur. Yang menghambat lajunya kita bergerak. Karena ikhwah sekalian kita ini (PKS ini) ibarat mobil, engine (kekuatannya) itu adalah 5000 cc, sopirnya jelas, penumpangnya jelas, tujuannya jelas, rutenya juga jelas, dilengkapi dengan GPS, semua sudah pasang seatbelt. Kita sedang akan masuk ke highway (jalan tol). Tetapi jika kendaraan besar ini, yang CC-nya besar ini disertai dengan jalanan yang mulus ini tidak berpadu maka akan ada masalah. Kita tidak akan sepenuhnya efektif. Dan karena itu perlu kita hilangkan polisi tidur ini.
----
Polisi tidur yang pertama ini adalah ‘uqdatul khaufi minan nashr (sindrom ketakutan untuk menang). Ada banyak ikhwah kita semuanya yang merasakan sindrom ketakutan ini. Takut untuk menang. Mereka takut menang karena merasa bahwasanya kemampuan kita belum memadai untuk memimpin republik ini. Itu ada benarnya, kalau kita benar-benar ingin rendah hati dan jujur di depan Allah SWT. Tetapi ikhwah sekalian, Allah itu tidak menurunkan ilmu sekaligus. Allah menurunkan ilmu bertahap-tahap.
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا (٨٥)
“….. dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (al-isra : 85).
Dan sebagian dari cara Allah SWT menurunkan ilmu adalah melalui benturan-benturan, melalui pengalaman-pengalaman, melalui kesalahan-kesalahan dan melalui amal. Dan karena itu Allah mengatakan kepada kita tentang cara Allah mengajar :
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
Bertakwalah kamu kepada Allah, nanti Allah yang akan mengajarkan kamu ilmu-ilmu. (al-baqoroh : 282)
Kita semua –ikhwah sekalian- tidak pernah tahu bagaimana mengelola dewan. Karena memang kita tidak punya pengalaman. Tapi hanya beberapa saat ketika kita masuk ke dewan, kita tahu bagaimana cara mengelolanya. Pimpinan partai ini –ikhwah sekalian- pada periode yang lalu, tidak satupun di antara mereka yang profesor-doktor dalam bidang ilmu politik. Tidak ada satupun di antara mereka yang profesor-doktor dalam bidang hukum tata negara, profesor-doktor dalam ilmu pemerintahan. Ada doktor dalam bidang akidah spesialis dalam aliran-aliran sesat, ada doctor dalam perbandingan madzhab. Tapi ketika beliau menjadi ketua MPR, bisa juga beliau menjalankan amanah itu dengan baik. Dan ketika doktor menjadi dubes, bisa juga beliau menjalan amanah itu lebih baik dari para pendahulunya.
Jadi ikhwah sekalian, Allah mengajarkan kita ilmu itu sedikit demi sedikit. Bisa antum bayangkan bumi yang bulat ini pada mulanya hanya dihuni oleh dua orang yang namanya Adam dan Hawa. Beratus-ratus kemudian, tiba-tiba penduduknya menjadi enam milyard. Pada mulanya hanya dua orang. Bisakah antum membayangkan? Jangankan bumi yang luas ini, antum ada di Cibubur saja kalau cuma dua orang , bisa antum bayangkan ngerinya menghadapi malam. Tapi coba lihat cara Allah mengelola kehidupan. Yang pertama kali dilakukan Allah kepada Adam begitu turun ke bumi ini adalah pembelajaran.
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (al-baqorah : 31)
Semua benda, semua perbuatan, semua pikiran diberi nama dan satu persatu dipelajari. Ketika pertama kali adam dan hawa melakukan hubungan seksual, Hawa bertanya kepada Adam; Ya Adam, Ma hadzaa? (apa namanya ini). Kata Adam : hadzaa jima’ (ini namanya jima’). Kata Hawa : zidnii minhu (tambah lagi). Berkat pengajaran itulah kita hadir sekarang di sini.
Jadi ikhwah sekalian, yang kita perlukan dalam memimpin itu adalah niat baik dan kemauan belajar. Itu sebabnya saya selalu mengulang-ulangi kalimat ini. Bagaimana caranya kita menjadi pembelajar yang cepat. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu.
Jadi ada gejolak yang terjadi di luar tetapi kita disini tidak pernah memikirkan antisipasinya. Padahal dulu Imam Abu Hanifah sudah pernah mengatakan, “Orang yang berilmu itu adalah orang yang menyiapkan jawaban sebelum dia diberi pertanyaan”. Jadi saya mengatakan bahwasanya protes besar pada pemerintah saat ini adalah badai yang dituai oleh pemerintah karena kemalasannya berfikir secara antisipatif menyediakan jawaban-jawaban, sikap-sikap, alternative-alternatif, kebijakan-kebijakan baru jika mereka menghadapi tantangan fluktuasi harga minyak dunia ini.
Dan sekarang ikhwah sekalian, Insya Allah salah satu bagian dari agenda kita yang terpenting nanti adalah begitu Partai Keadilan Sejahtera memimpin negeri ini, kita akan memunculkan apa yang kita sebut dengan New Economic Policy (kebijakan ekonomi baru). Saya bertemu dengan beberapa doktor ekonomi. Saya bilang, saya tidak terlalu ahli dalam ekonomi. Tetapi yang bisa saya pahami adalah hal-hal berikut ini. Ilmu ini adalah ilmu empiris. Dan yang namanya teori itu adalah kebenaran yang terulang-ulang. Yang kemudian dirumuskan, diformulasikan. Dia tidak ada sebelum pengalaman itu ada.
Teori itu adalah suatu rumusan atau suatu pengalaman. Dan apa yang kita pelajari dalam ilmu ekonomi makro dalam teori-teori makro ekonomi itu, pada mulanya adalah pengalaman rosevelt di Amerika. Ketika dia memimpin Amerika dalam sejarah, waktu Amerika menghadapi depresi ekonomi besar. Dan lucunya ikhwah sekalian, Rosevelt ini adalah satu-satunya presiden Amerika yang memimpin Amerika selama empat periode dan melanggar konstitusi Amerika. Dan orang ini lumpuh. Karena itu kalau beliau akan memberikan motivasi selalu menggunakan radio. Supaya tidak banyak orang yang tahu kalau dia itu lumpuh. Dia memang punya penasehat ekonomi yang namanya Kens. Tapi kemudian yang lebih penting adalah bahwa dia mempunyai suatu pengalaman yang kemudian dicatat dan diformulasi menjadi sebuah ilmu. Lalu orang perlahan-lahan mulai belajar bahwa ada sesuatu yang kita sebut dengan ekonomi makro.
Jadi kita kembalilah kepada persoalan ekonomi dasar ini. Ini adalah masalah yang sederhana, jangan dibikin rumit oleh para ilmuwan. Saya bilang kepada seorang ahli ekonomi yang sering muncul di TV, kalau teori itu adalah satu formulasi terhadap satu kebenaran yang terulang dalam praktek. Kan akhirnya teori itu sama seperti obat. Ada masa berlakunya. Apakah ibu yakin bahwa teori-teori ini, sekarang ini belum expired? Masih bisa kita pakai?.
Jadi ikhwah sekalian, janganlah kita semuanya dibuat ragu oleh teori yang diperumit untuk masalah yang sebenarnya tidak terlalu rumit kalau kita benar-benar mau bekerja untuk rakyat kita semuanya. Dari dulu juga kita belajar dalam Sirah Nabawiyah, bahwa Bilal Bin Rabbah seorang budak. Pada suatu waktu pernah menjadi Gubernur di Syam dan kita tidak pernah menemukan suatu catatan dalam Sirah. Sejak kapan Bilal belajar di Lemhanas misalnya. Apalagi kuliah di Harvard. Yang kita temukan dalam fakta sejarah kita di Indonesia sekarang ini adalah bahwasanya negeri kita ini bangkrut di tangan para doktor-doktor itu semuanya. Bukan karena doktor negeri kita bangkrut, tapi saya ingin mengatakan bahwa itu sering kali tidak ada hubungannya.
Lebih dari itu persoalan masalah kompentensi tehnik itu yang kita perlukan. Yang lebih kita perlukan ikhwah sekalian adalah cara mengelola orang. Cara mengelola potensi-potensi terbaik bangsa ini. Dan Alhamdulillah kita di PKS ini mempunyai pengalaman yang sangat kaya dalam mengelola orang. Dan itu semuanya merupakan suatu modal yang cukup, jika kita memang benar-benar mendapatkan amanah memimpin bangsa ini. Jadi ikhwah sekalian kita tidak perlu ragu. Mengelola negara itu pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan mengelola SDIT. Dua-duanya adalah organisasi, sifat-sifat dasar pada organisasi itu sama pada kedua-duanya. SDIT punya bendahara, negara juga punya bendahara. Dulu sahabat Rasulullah ketika masuk ke Persi setelah menang dalam perang Qadisiyah, ada sahabat yang mendapat perak, dia tidak tahu kalau itu perak. Lalu dia makan, karena dia pikir bahwa itu garam. Tapi walaupun demikian mereka menjadi pemimpin peradaban. Apalagi antum semua adalah orang-orang yang terdidik. Tidak benar-benar mulai dari nol sama sekali. Karena itu, ikhwah sekalian. Sindrom ketakutan untuk menang ini yang disebabkan karena kita tidak percaya diri kepada kemampuan kita, itu perlu kita hilangkan pertama kali.
Yang kedua ikhwah sekalian yang membuat sindrom ini muncul adalah karena ada pemahaman yang berkembangan di kalangan kita semuanya dan menurut saya ini adalah pemahaman yang perlu kita luruskan. Kita perlu hati-hati pemahaman yang selalu memisahkan antara tarbiyah dengan politik. Kita perlu hati-hati menerjang kekuasaan karena itu adalah fitnah. Ikhwah sekalian, kekuasaan jelas adalah fitnah. Harta juga adalah fitnah, wanita juga adalah fitnah. Bukan hanya tiga ini, anak-anak juga adalah fitnah. Istri-istri kita juga semuanya adalah fitnah.
Wahai orang-orang yang beriman, ada diantara isteri-isteri dan anak-anak kamu yang merupakan musuh bagi kamu, maka hati-hatilah kepada mereka. (at-taghabun : 14)
Kalau antum pulang, jangan membawa satu potong ayat ini. Insya Allah antum akan berubah pandangan kepada isteri antum semuanya. Juga berubah cara antum memandang anak-anak.
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَ أَوْلاَدُكُمْ فِتْنَة
Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah. (at-taghabun ; 15)
Tapi coba kita lihat Rasulullah Saw. Ketika menyuruh kita menikah :
يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج
wahai pemuda barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah.
Yang belum menikah niatkan segera untuk menikah. Sebelum pemilu 2014. Karena Rasulullah Saw mengatakan :
سراركم عزابكم وسرار ماتاكم عزابكم
Yang paling buruk diantara kalian adalah yang bujangan dan seburuk-seburuk orang yang mati adalah yang mati dalam keadaan bujang.
Begitu kita menikah Rasulullah mengatakan : tanaakahu takaatsaruu, menikah dan perbanyaklah anak-anak kalian.
Khalid bin Walid ketika anak-anaknya semuanya meninggal karena diserang tha'un semua anaknya 42 meninggal sekaligus. Yang paling terakhir meninggal di kalangan sahabat rasulullah adalah Anas bin Malik, anaknya lebih dari 100 dan umurnya pun lebih dari 100 tahun. Dulu waktu Rasulullah hidup rasio umat Islam dengan penduduk bumi adalah 1 : 1000. Seribu lima ratus kemudian rasio penduduk muslim dengan muslim adalah 1:5.
Apa rahasia dari pertumbuhan demografi yang dahsyat ini? Bahkan beberapa bulan yang lalu vatikan secara resmi mengumumkan bahwa jika agama-agama Kristen itu tidak dianggap satu (maksudnya sekte-sektenya dipecah; katolik, protestan) maka agama terbesar didunia ini adalah Islam, terhitung sejak tahun ini. Jumlah penduduk Islam di seluruh dunia adalah 20%. dan umat katolik turun menjadi 17%. Memang kalau digabungkan semuanya umat Kristiani ini menjadi 33%. Saya ingin menjelaskan kepada antum rahasia dari pertumbuhan demografi ini. Sebagian dari rahasia pertumbuhan demografi itu adalah : tanaakahu takaatsaru fa innii mukatsiron bikumul umamaa yaumal qiyamah. Wanita itu adalah indah. Tapi al-qur'an mengatakan pada waktu yang sama: Fankihuu maa thaabaalakum minann nisa matsnaa wa tsulaatsa
Begitu juga dengan harta, begitu juga dengan kekuasaan. Jadi ikhwah sekalian kalau iqomatuddiin(menegakkan agama) itu adalah faridhah syar'iyyah.
وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Wa maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa waajib.
Dimana bagian dari proses iqomatud diin itu adalah iqomatud dunya – iqomatud daulah. Maka iqomatud daulah itu menjadi wajib bagi kita semuanya. Dan kalau itu semuanya merupakan suatu kewajiban -ikhwah sekalian- maka tentu ada rahasia yang perlu kita ketahui di sini. Rahasianya adalah karena ini adalah perintah. Tetapi di dalam perintah ini terkandung jebakan yang banyak. Jebakan itu adalah fitnah. Oleh karena itu yang bisa memikul beban perintah ini adalah orang-orang kuat. Maka ketika Abu dzar al-ghifari datang kepada Rasulullah SAW : يا رسول الله وليني Yaa Rasulallah walliinii (jadikan aku gubernur ya rasulullah). Rasululah mengatakan :
يا أبا ذر إنك ضعيف إنها أمانة وإنما يوم القيامة لندامة
Yaa Abaa dzar innaka dha'iif, innahaa amanah wa innamaa yaumal qiyaamah lanadaamah. Wahai Abu dzar sesungguhnya engkau lemah dan sesungguhnya ini adalah amanah dan tentunya ini di hari kiamat menjadi sumber penyesalan. Jadi kita semua ikhwah sekalian sedang memikul amanah yang sangat berat. Dan itu sebabnya Ibnu Taimiyah dalam as-siyaasah asy-syar'iyyah mengungkapkan
أفضل الأعمال الصالحة الأخذ بالولاية
afdhalul al-a'maala shalihah al-akhdzu bil wilayah
(amal shaleh yang paling afdhal adalah merebut kekuasaan).
Jadi antum sekarang -ikhwah sekalian- ada diambang pekerjaan amal shaleh yang paling afdhal itu. Sekarang coba antum lihat konflik apakah yang terjadi dikalangan sahabat begitu Rasulullah Saw wafat. Yaitu Bani Tsaqifah. Dan salah seorang pembesar Anshar itu, bahkan meninggal tidak sempat membai’at Abu Bakar. Tetapi ini semuanya memberikan kita kesadaran, bahwa ketika Ibnu Taimiyah mengatakan bahwasanya afdhalul al-a'maala shalihah al-akhdzu bil wilayah (amal shaleh yang paling baik adalah merebut kekuasaan). Dia juga tahu bahwasanya di dalam perintah ini terkandung banyak jebakan dan hanya orang kuat yang benar-benar bisa lolos di sini. Memiliki anak yang banyak –ikhwah sekalian- itu beban. Yang hanya bisa dipikul oleh orang-orang kuat. Begitu juga yang lain-lainnya.
Ikhwah sekalian, oleh karena itu pengingatan Qur’an ini tentang adanya unsur fitnah dan jebakan di dalamnya ini; di dalam kekuasaan, di dalam harta, di dalam wanita dan lain-lainnya semuanya itu peringatan. Ini sama sekali tidak mengandung unsur larangan, melainkan disertai dengan perintah. Tetapi peringatan ini penting untuk diberikan kepada kita semuanya. Supaya kita tidak mengubah apa yang sebenarnya yang merupakan sarana ini menjadi tujuan. Itu adalah intinya.
Maka, negara itu adalah alat yang kita perlukan. Harta itu juga alat bukan tujuan. Kita memerlukan hal itu sebagai sumber daya. Karena kita semua mengetahui suatu kaidah: Innallaha layaza’u bi shulthoni ma laa yaza’uhu bil qur’an. Sesungguhnya Allah bisa memberlakukan kehendaknya dengan kekuasaan, sesuatu yang tidak diberlakukannya dengan hanya al-qur’an. Inilah polisi tidur pertama yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semua.
Polisi tidur yang kedua yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semuanya adalah ‘uqdatul khaufi minal ‘aduw (sindrom ketakutan kepada lawan). Karena kita berpikir partai-partai besar itu masih terlalu besar untuk kita lampaui. Tetapi ikhwah sekalian, perlahan-lahan saya kira sindrom ini mulai hilang dari kepala kita semuanya. Kita sudah mempunyai pengalaman dikeroyok 20 partai di Jakarta. Dan kita telah menunjukkan eksistensi kita bahwa kita mampu bertahan. Bahkan ikhwah sekalian setelah Pilkada Jakarta ini, banyak sekali orang yang datang kepada kita di PKS ini untuk meminta dukungan PKS. Bukan terutama untuk menang dalam Pilkada, tetapi terutama untuk merasakan romantika perjuangan seperti itu. Jadi mereka merasakan bagaimana caranya partai ini bisa bertahan. Partai-partai lain mengatakan ini PKS tahu bahwa mereka akan kalah dalam pilkada, tapi mereka tetap menyuruh kadernya untuk maju karena mereka sedang menguji daya tahan kader-kadernya sendiri.
Ikhwah sekalian, apalagi ada lingkungan media, lingkungan hawa politik dan juga hawa sosial, ada semacam tuntutan baru dari kalangan masyarakat ini. Karena telah bosan menyaksikan kegagalan para pemimpin transisi ini. Begitu kita menang di Jawa Barat, begitu kita menang di Sumatera Utara, mengapa tiba-tiba muncul isunya adalah pemimpin muda? Karena itu benar-benar adalah suara hati nurani masyarakat. Oleh karena itu ikhwah sekalian, panggilan hati nurani masyarakat inilah yang harus kita jawab sekarang. Dan menurut saya sepuluh tahun pembelajaran dan sepuluh tahun performance politik dalam tahun-tahun yang sulit ini, cukuplah bagi kita untuk mengambil kesimpulan bahwa PKS lahir di tengah krisis, tumbuh di tengah krisis dan Insya Allah akan keluar sebagai pemimpin di tengah krisis.
Sindrom yang ketiga yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semuanya adalah kita sering kali berfikirjanganlah kita terlalu terburu-buru memimpin negara. Nanti kejadian FIS di Al-jazair akan terjadi. Bagaimana nanti kalau kita gagal? Bagaimana nanti kalau kita diboikot oleh kekuasaan asing adidaya di dunia ini? Kita juga semua tahu bahwa untuk memimpin republik ini diperlukan empat hal. Dalam platform politik: yang pertama adalah bahwa kita diterima oleh kekuatan-kekuatan adidaya khususnya Amerika dan Eropa. Yang kedua kita diterima oleh kekuatan regional seperti China, Australia, dan Asia. Yang ketiga kita diterima oleh kekuatan-kekuatan politik lain di negeri kita sendiri. Dan yang keempat kalau kita punya solusi ekonomi.
Tapi ikhwah sekalian, kemarin di Kalsel ada Bedah buku platform. Saya ditanya oleh salah seorang pegawai Bank Indonesia yang menjadi panelis dan mengkritik buku platform kita ini. Saya mengatakan kepada mereka bahwa kita dari sekarang ingin mengatakan kepada dunia. Bahwa mereka sama sekali tidak punya alasan menolak kehadiran Partai Keadilan Sejahtera. Itu sebabnya sejak tahun 2005 kita sudah memasukkan ini dalam poin keempat dalam visi PKS 2004-2009. Meningkatkan penerimaan internasional terhadap PKS. Dan Insya Allah ikhwah sekalian, alhamdulillah semua draft-draft ini sudah kita siapkan. Kita akan menunjukkan juga kepada dunia bahwasanya kita mampu bekerja sama dengan semua kekuatan-kekuatan dunia saat ini. Kita kemarin sudah kedatangan Partai Buruh dari Australia dan meminta untuk segera kita menandatangani MOU kita dengan mereka setelah kita datang ke sana pada tahun lalu. Dan Insya Allah ini akan kita lakukan pada tahap ketiga dari tahapan kerja TPPN. Kita juga sudah mendapatkan draft surat dan kita sudah jawab draft surat dari Partai Komunis Cina untuk menandatangani MOU dan kerjasama bersama. Kita sudah menyampaikan kepada mereka bahwa rombongan PKS, karena kita diundang tahun ini ke sana, akan datang ke Beijing Insya Allah pada bulan Oktober tahun ini. Kita juga sudah mempunyai rencana kunjungan Insya Allah ke Turki. Semua akan kita tunjukkan bahwa sengaja kita ambil sample ini; Australia, Cina dan Turki. Semuanya bisa bersatu dan bekerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera.
Dan dengan begini ikhwah sekalian, kita belajar dari salah satu siasat Rasulullah Saw sebelum fathu makkah. Sebelum fathu makkah itu pada tahun ke-7 terjadi perang Mu’tah. Perang Mu’tah itu ikhwah sekalian, adalah perang yang terjadi antara tiga ribu pasukan kaum muslimin melawan dua ratus ribu pasukan romawi. Itulah pertempuran pertama jazirah arab dengan romawi. Empat orang komandan lapangan disitu syahid semuanya; Ja’far bin Abi thalib, Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah dan seterusnya. Kemudian tongkat komando diambil alih oleh Khalid bin Walid. Khalid bin walid berusaha menarik mundur pasukan ini. Begitu beliau kembali ke madinah, Khalid bin Walid dilempari batu oleh anak-anak madinah karena dianggap lari dari perang. Tapi Rasulullah disaat itu justeru memberi gelar kepada Khalid bin Walid, Syaifullah al-mashub (pedang Allah yang terhunus). Dan satu tahun kemudian terjadilah fathu makkah itu. Itu adalah diplomasi, bahwa pada tahun ke tujuh itu jika kaum muslimin sudah berhasil melawan Romawi. Sebenarnya Rasulullah ingin menyampaikan pesan kepada Quraisy: lawan kami sekarang ini bukan lagi Quraisy tapi Romawi. Dan secara perlahan-lahan ikhwah sekalian, kita mencoba membangun partai kita ini sebagai satu institusi politik yang mempunyai kualifikasi dan standard global, Insya Allah. Dan karena antum memiliki semua kelayakan untuk memimpin negara kita di kemudian hari.
Ikhwah sekalian, sindrom-sindrom inilah yang harus kita hilangkan semua dari kepala kita semuanya. Dan jika sindrom ini kita hilangkan, mengertilah kita mengapa kita pula perlu menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran kita semuanya untuk menang dalam pemilu 2014 nanti. Sekaligus pula kita perlu mengerti alasan yang mengharuskan kita menang. Bukan sekedar sebuah kebanggaan sejarah. Tetapi ini adalah suatu gerakan penyelamatan bangsa dan negara kita semuanya. Mudah-mudahan di tangan kita semuanya, di tangan-tangan yang setiap hari berwudlu ini. Di tangan-tangan yang setiap hari berwudlu dan mensucikan diri ini dan di depan / dihadapan wajah-wajah yang setiap hari bersujud ini. Insya Allah, Allah SWT membuka wajah Indonesia menjadi pusat peradaban dunia.
Sumber : beritaihima.com

Admin












