myspace graphic
_
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS.98:5)

Blogger news

~ ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ اطَهُوْرً ~

Kamis, 10 November 2011

Pemuda, Qurban dan Kepahlawanan



Bulan November tahun ini cukup menggelitik nurani kebangsaan kita. Kebetulan Hari Raya Kurban yang jatuh 6 November yang lalu terasa spesial karena diapit dengan dua momen nasional negeri ini, Sumpah Pemuda 28 Oktober dan Hari Pahlawan 10 November yang kita peringati hari ini.
Dan, bila ditarik lebih jauh lagi, ribuan tahun silam, tentang histori ibadah kurban, kita pasti juga bicara tentang sesosok pemuda dan kepahlawanannya, yaitu Nabi Ibrahim AS. Ada tiga pelajaran penting yang patut kita renungi dalam fragmen waktu tersebut, yaitu tentang pemuda, pengorbanan, dan kepahlawanan.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 jelas jadi panggung sejarah pemuda di negeri pertiwi ini dalam mendobrak kebuntuan kita saat menghadapi penjajah. Begitu pula proklamasi 17 Agustus 1945 dan terlebih lagi perlawanan heroik arek Suroboyo pada 10 November 1945, yang kini kita rayakan sebagai Hari Pahlawan.
Keteladanan Ibrahim
Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, pemuda dan kepahlawanan senantiasa berjalan berbarengan, saling mendukung, saling melengkapi. Bahkan, menyatu laiknya senyawa baru, seperti profil pemuda Ibrahim dan jiwa kepahlawanannya yang begitu kental.
Ibrahim muda terkenal sebagai sosok vokal dan pemberani. Betapa tidak, sendirian ia saat itu mendobrak kebodohan umat yang menyembah berhala dan diperbudak oleh tiran bernama Namrud. Ibrahim muda dengan lantang berkata kepada ayahnya yang bernama Azar, seorang pematung kerajaan Namrud, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya, aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS al-An’am [6] : 74).
Singkat cerita, Ibrahim muda harus menerima hukuman akibat keberaniannya menyampaikan kebenaran dan risalah kenabiannya dengan menghancurkan berhala-berhala berupa dibakar hidup-hidup di depan umum. Akan tetapi, dengan kuasa Allah SWT, api itu tidak sanggup membakar hangus Ibrahim. Ia pun selamat.
Sekian tahun berlalu kemudian. Di kala itu, Nabi Ibrahim AS kembali diuji keimanannya dengan adanya perintah Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih anak yang telah sekian lama dinantinya, yaitu Isma’il AS , putra kesayangan dari Ibunda Hajar.
Dengan gundah gulana, Ibrahim menyampaikan perihal mimpinya kepada sang anak. “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi diperintahkan Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dan, Isma’il menjawab, “Wahai Ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” (QS As-Shaffaat [37]: 102).
Dan, dengan semangat pengorbanan kepada Allah SWT, Ibrahim pun menunaikan perintah dengan menyembelih putra kesayangannya, Isma’il. Dengan kuasa-Nya, Allah SWT mengganti ibadah Qurban Ibrahim dengan seekor domba besar. Isma’il pun tidak jadi disembelih karena sang Maha Kuasa sudah mendapatkan ketaqwaan Ibrahim atas perintah-Nya berupa pengorbanan.
Dua fragmen kehidupan Ibrahim AS itu sungguh menggambarkan betapa sosok jiwa pemuda dan kepahlawanan memiliki akar yang sama: pengorbanan. Sosok pemuda dengan jiwa mudanya, identik dengan sosok pemberani yang selalu siap berkorban apa saja untuk sesuatu yang diperjuangkannya. Sedangkan kepahlawanan selalu mensyaratkan pengorbanan sebagai bahan bakarnya.
Dalam panggung sejarah manusia pun sudah tergambar, betapa pemuda dan kepahlawanan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Betapa banyak pemuda yang berhasil mewujudkan pengorbanannya kepada bangsa dan umat dan ia pun layak bergelar pahlawan, termasuk di Indonesia.
Kita menganugrahi para pejuang kemerdekaan yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya dengan sebutan pahlawan kemerdekaan dan tokoh-tokoh yang berjasa besar dalam pembentukan negara-bangsa dengan sebutan pahlawan nasional. Kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada orang banyak.
Seorang pahlawan tidak hidup hanya untuk diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya. Ia selalu dikenal sebagai orang yang mengabdikan hidupnya itu dengan membuat karya-karya besar bagi kemaslahatan dan kesejahteraan manusia. Termasuk salah satunya mereka yang secara ikhlas melaksanakan ibadah kurban, penuh dengan ketulusan dan keikhlasan, mempersembahkan karya terbaik tanpa pamrih sedikit pun. Oleh karena itu, pengorbanan adalah kata kunci dari kepahlawanan.
Panglima Besar Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh penting yang pernah dimiliki negeri ini. Beliau pejuang dan pemimpin teladan bangsa. Pribadinya teguh pada prinsip, visioner, dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan dirinya. Dalam kondisi sakit, Jenderal Soedirman tetap mengatur strategi perang dan memimpin semua kesatuan pejuang untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan yang akhirnya membuahkan kemerdekaan.
Tentunya, semangat pengorbanan ini tidaklah berdiri sendiri dalam mewujudkan kepahlawanan. Pengorbanan paling tidak diikuti oleh keberanian dan kesabaran. Cobalah menelusuri sejarah orang-orang besar, maka akan kita jumpai mereka banyak hadir di tengah-tengah krisis dan situasi-situasi sulit. Mereka ditakdirkan memikul beban-beban berat, menjalankan peran-peran sulit yang sedikit sekali orang pada waktu itu yang berani mengambilnya. Di situlah mereka tampil ke panggung sejarah dengan keberanian yang luar biasa dan pengorbanan yang luar biasa pula.
Selain itu, juga diimbangi dengan kapasitas diri yang memadai. Diperlukan napas panjang perjuangan berupa kesabaran. Kesabaranlah yang membuat seorang pahlawan mampu menyelesaikan tugasnya. Berjuang pantang menyerah, bersabar dalam menahan beban dan siksaan, serta tetap teguh ketika godaan duniawi yang mengiming-imingi untuk merusak rencana suci bangsa ini. Kita juga jumpai kesabaran ini mendominasi kisah kepahlawanan.
Kekuatan moral
Jika energi spiritual itu telah melekat dan mendarah daging dalam kehidupan kita, maka kita yang hidup di era kemerdekaan ini mampu melawan seluruh sikap negatif, seperti kerusakan moral akibat terpaan badai materialisme, kecintaan berlebihan pada materi, dan mengabaikan nilai-nilai moral. Sekarang juga kita memerlukan kekuatan moral untuk menyembuhkan bangsa dari patologi (penyakit) sosial.
Sekarang ini kita membutuhkan energi spiritual untuk memperbaiki nasib bangsa yang masih terpuruk, terbelakang, dan terjerat belenggu krisis. Kita sangat membutuhkan orang-orang reformis yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan hingga dapat menyejahterahkan warga bangsa.
Sudah bukan saatnya kini kita sesama warga bangsa untuk sama-sama terlena, terjebak dalam perpecahan antarsesama warga bangsa. Saatnya kini kita harus mampu mengokohkan semangat persatuan dan kebersamaan dalam menggali potensi besar yang dimiliki bangsa ini. Dan, inilah spirit yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan negeri ini.
Cita-cita luhur yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 harus dijadikan pijakan kita bersama, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Semoga dengan semangat, tekad sumpah pemuda dan keikhlasan para warga bangsa yang telah melaksanakan ibadah kurban menjadi bahan bakar utama untuk tetap menjaga spirit dan nilai-nilai kepahlawanan negeri yang kita cintai ini, amin. Selamat Hari Pahlawan, negeriku….

H. Nur Mahmudi Ismail
Walikota Depok
Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/24

Money Politic Demi "Kemenangan Dakwah"




Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Ustadz Farid Nu'man Hasan, semoga Allaah Ta'ala senantiasa menjaga Ustadz sekeluarga.
Kemarin ana baru saja ikut Mukhayam Kepanduan, dalam salah satu sesi acara tersebut ada seorang Ustadz Pemateri yang mengatakan -kurang lebih seperti ini, soalnya ana agak lupa: "Perang itu adalah tipu daya" Beliau melanjutkan "..Jadi kalau kita menganggap Pemilu sebagai perang, jangan jujur-jujur amat" lalu dipaparkan tentang sirah Nabi SAW pernah mengotori sumur musuh dan disisakan satu sumur yg bersih sbg taktik perang, juga dalam dalam perang boleh membunuh musuh.
Terus terang sampai titik ini, ana agak terganggu, maksudnya apa?
Lalu beliau menjabarkan.Jadi kalau Pemilu kita anggap sebagai perang maka tdk mengapa melakukan Money Politic agar rakyat memilih kita. Pihak lain saja melakukan Money Politik, lalu kenapa kita tidak melakukan hal yang sama? sedangkan tujuan dakwah kita jelas, agar bisa melakukan perbaikan dan menegakkan Islam ketika berhasil menjabat sedangkan mereka ketika sudah menjabat malah melakukan korupsi misalnya supaya balik modal. Untuk mendukung ucapannya beliau menganalogikan dengan adanya ajaran Islam yang memberikan Ghanimah kepada Muallaf agar hatinya teguh pada Islam.

Beliau juga sempat merinci kasus per kasus ketika Money Politik itu diperbolehkan, yaitu kenyataan bahwa masyarakat didaerah saya tinggal sekarang memang 'kurang berpendidikan' dan 'matre' walaupun tidak semuanya/mayoritas tapi ada yg seperti itu. Pada saat Pilgub beberapa waktu yang lalu di TPS itu ada orang yang mondar-mandir (tdk segera bergegas mencoblos) dengan harapan ada pasangan yg memberinya uang. Ada juga keluarga yg tidak mencoblos karena tidak ada yang memberinya uang pedahal dikeluarga itu ada 6 suara. Maka pada kondisi seperti itu kita tdk mengapa memberi uang supaya memilih kita!
Selanjutnya beliau sempat berkata bahwa tdk semua money politic itu haram. Contohnya, ketika ada si Fulan yang telah lulus ujian CPNS tapi namanya akan dicoret sebagai CPNS kalau tdk memberikan uang, maka hal ini boleh karena tdk ada hak orang yg kita rebut dengan cara kotor, kita hanya memperjuangkan hak kita. Tentu kasusnya berbeda kalau kita tidak lulus CPNS lalu membayar supaya jadi CPNS.
Beliau mengakhiri dengan kebersediaanya beliau kalau ingin diskusi atau bertabayun terhadap uraiannya, namun ana belum sempat tabayun ke beliau. Sementara itu yang ana tangkap, walaupun mungkin ada informasi dan pemahaman yg tidak utuh. Ana mohon penjelasannya Ustadz. Jazakumullaah Khairan Katsiran. (Abu Hafuza)


Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
                Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

                Kepada Abu Hafuza yang dirahmati Allah Ta’ala .... Semoga antum tetap istiqamah, berdiri bersama orang-orang yang benar, baik pagi dan sorenya, atau malam dan siangnya, walau semakin sedikit orang-orang yang berani menampakkan kebenaran.
                Kemudian ..., semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita semua, khususnya kepada “Sang Ustadz”   acara mukhayam kepanduan yang antum ikuti. Agar yang haq adalah haq lalu kita selalu bersamanya,  dan yang batil adalah batil dan kita selalu menjadi oposisinya.
                 Saya akan memberikan komentar sejauh dari  apa yang antum tanyakan dan tulis saja, ada pun di luar itu, saya tidak mengomentarinya. Dan, saya mohon maaf atas hal itu. 

Jika tidak ada lagi rasa malu lakukanlah apa pun semaumu
Ini komentar saya yang pertama. Hendaknya para da’i,  ustadz, dan murabbi menjadi teladan yang baik. Jangan menyebarkan syubhat di tengah umat dengan ucapannya dan juga tingkah lakunya. Jadilah orang yang wara’ pada semua keadaan, termasuk ketika perang sekali pun menghadapi musuh. Tetapi, bagi orang yang rasa malunya menipis memang biasanya terjadi degradasi kepekaan terhadap dosa, maka silahkan  katakan dan lakukan apa saja yang dikehendakinya.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 إِنَّ مِمَّا أَدرَكَ النَاسُ مِن كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئتَ
 
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amru Al Anshari Al Badri Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali manusia ketahui adalah; jika engkau tidak malu maka lakukan apa saja sesuai kehendakmu.” (HR.  Al Bukhari   No. 3484, 6120, juga dalam Adabul Mufrad No. 597, 1316, Ibnu Hibban  No. 607, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 7734, 7736, juga As Sunan Al Kubra No. 20576, Ahmad   No. 17131, 17139, 22399, 23302, Ibnu Al Ju’di dalam Musnadnya No. 819, Al Qudha’i dalamMusnad Asy Syihab No. 1153, 1154, 1156, Abu Daud Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 621, 655, Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 1327, 1328, 1329, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 20149, Ibnu ‘Asakir dalam Al Mu’jam No. 582, 1197)


“ .... lalu mereka berfatwa, mereka sesat dan menyesatkan.”
                Tidak sedikit orang berbicara agama, tetapi kurang hati-hati, lalu dia tergelincir menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Apalagi orang tersebut tidak mau menanyakan kepada para ulama, minimal berdekatan dengan kitab-kitab para ulama, atau dia berdiskusi dengan yang lainnya agar memiliki gambaran yang jelas dan tidak terburu-buru dalam berfatwa. Namun, ketika hawa nafsu telah menjadi panglima, kepentingan politik di atas segalanya, menang kalah pertarungan politik menjadi targetnya,  yang haram bisa dibuat abu-abu, sementara jalan halal yang terang benderang tidak ditempuhnya, maka lahirlah pernyataan-pernyataan yang membingungkan bahkan cenderung menyesatkan manusia, setelah dirinya sendiri telah bingung dan  tersesat!

 Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

                Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari para hamba, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak lagi tersisa seorang ulama, akhirnya manusia menjadikan tokoh-tokoh bodoh sebagai rujukan, lalu mereka ditanya  kemudian berfatwa dengan tanpa ilmu, lalu mereka sesat dan menyesatkan. (HR. Bukhari No. 100)

Qiyas ma’al fariq

                Qiyas pertama. Sang pemateri, mengqiyaskan banyak hak untuk menguatkan argumentasi dan pandangannya. Seperti menggunakan hadits Shahih Bukhari“Samma An Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Al Harba Khad’ah – Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamakan perang  dengan tipu daya”, untuk membolehkan money politik (baca: suap), dia menganggap money politik adalah trik dan tipu daya halal untuk kemenangan pemilu. Sembari berdalih karena NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengotori sumur musuh yang bersih, dan menyisakan satu yang bersih, dan juga karena dalam perang dibolehkan membunuh musuh.

                Pendapat ini memiliki beberapa cacat.

                Pertama.  Perang dalam pilkada, pilgub, pilpres, dan pemilu secara umum di negeri muslim seperti di Indonesia, bukanlah peperangan melawan orang kafir, dan sama sekali berbeda dengan makna Al Harb dalam hadits tersebut. Partai-partai yang berkompetisi di negeri ini mayoritas adalah muslim secara pribadinya, bahkan bisa jadi secara personally mereka lebih shalih dibanding sebagian aktifis Islam. Maka, menyamakan trik dan tipu daya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika perang melawan orang kafir, dengan trik berupa money politik  untuk melawan partai-partai lain dalam pemilu pada saat ini, yang mereka umumnya juga muslim, adalah qiyas ma’al fariq (analagi yang kontradiktif), bahkan zalim. Sebab, seakan telah menyamakan sesama muslim sebagaimana orang kafir, hanya karena mereka berbeda pilihan politiknya. Dari sisi ini saja sudah cukup menjelaskan bahwa Sang Ustadz telah ceroboh dalam “fatwa”nya.  

                Kedua. Kalau pun Sang Ustadz tidak bermaksud mengqiyaskan, Beliau hanya memberikan contoh sekaligus dalilnya, ini juga pendalilan yang lemah bahkan tidak pantas. Tidak pantas hadits Al Harbu Khad’ah – perang adalah tipu daya, dijadikan dalil untuk money politic (risywah/suap) dan membeli suara, untuk mengelabui sesama muslim. Tidak pantas pula kasus pengotoran sumur musuh, untuk dalil menghalalkan money politic. Terlebih lagi bolehnya membunuh musuh (kafir) ketika perang, dijadikan dalil untuk halalnya money politic juga.  Dengan kata lain tidak ada wajh istidlal (sisi pendalilan) yang cocok di sisi mana pun yang mendukung pernyataannya.

                Jika yang dimaksud “tipu daya dalam perang” adalah membuat ranjau yang tertutup pohon, membuat perangkap untuk menangkap musuh, seorang prajurit berkata “tidak” atau tidak mau bicara ketika diinterogasi musuh padahal dia tahu jawabannya, prajurit menggunakan seragam yang dapat menyamar, maka inilah tipu daya dalam peperangan.  Dibenarkan syariat, akal, dan tradisi peperangan di mana pun. Ada pun money politic, tanyakan kepada hati nuranimu, niscaya nurani yang masih dihuni cahaya fitrah, akan menolaknya. 

                Membunuh dalam peperangan adalah konsekuensi orang berperang, dan itu adalah hal yang niscaya. Begitulah perang, hal-hal yang terlarang dalam keadaan normal seperti membunuh, menjebak manusia (musuh), menyembunyikan fakta, dan semisalnya, menjadi hal yang dibolehkan. Sedangkan money politic (menyuap) dalam pemilu, pilkada, dan semisalnya, bukanlah konsekuensi orang berpolitik, kecuali bagi para pengidap machiavelist.  Tidak ada satu pun ulama yang mengatakan menyuap haram, kecuali ketika pemilu, maka dia jadi halal. Apalagi pesaing dalam pemilu adalah sama-sama muslim, yang lebih pas disebut berlomba dalam kebaikan, bukan peperangan. Betapa pun pesaing tersebut menggunakan cara-cara kasar, dan memposisikan aktifis Islam sebagai musuh. 

                Qiyas keduaSang pemateri juga membolehkan money politic karena menyamakan hal itu dengan orang-orang mualaf yang diberikan ghanimah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini juga qiyas yang sangat jauh, dan keberanian yang luar biasa karena dia telah menyamakan kedudukan dan fungsi harta ghanimah yang mulia, dengan money politic yang haram. Wallahul Musta’an!

                Mualaf yang mendapatkan ghanimah dan juga zakat, adalah manshush (berdasarkan nash), agar mereka teguh kepada Islam, dan tidak kembali kepada kekafiran. Sedangkan memberikan money politic, agar mereka teguh terhadap apa? Dan agar mereka tidak kembali kepada apa?  

Jika dikatakan agar teguh terhadap Islam,  justru Islam melarang suap. Jika dikatakan agar mereka tidak kembali kepada kekafiran, maka lawan-lawan politik kita ternyata sesama muslim, saudara kita sendiri, bukan musuh, dan bukan orang kafir.

Money politic karena musuh juga melakukannya

                Di Mesir, aktifis gerakan Islam diperkirakan akan meraih kemenangan besar jika pemilu diadakan dengan jujur dan adil. Karena kekalahan mereka sebelum-sebelumnya adalah lebih disebabkan   kecurangan dari musuh-musuhnya. Begitu pula di Tunisia.  

                Kemenangan seperti ini yang seharusnya terjadi di negeri ini, yakni karena keadilan dan tidak ikut-ikutan berbuat curang, dan bersabarlah untuk  memenangkannya. Bukankah jatuhnya citra partai da’wah  disebabkan kendurnya mereka terhadap indibath syar’i-nya? Bukankah kemulusan wajah gerakan Islam ternoda lantaran mereka sudah berperilaku sama dengan musuh-musuhnya sendiri?

                Jika pesaing melakukan money politic, maka laporkan itu, dan tetaplah istiqamah dengan cara yang benar dan bersih. Jangan kehabisan akal dan strategi untuk mencari cara yang halal.  Agar rahmat dan berkah Allah Ta’ala senantiasa bersama kita. Kalau pun kita kalah, tetapi kekalahan yang tetap mulia dan berwibawa, justru itulah kemenangan hakiki sebab kita mampu melawan hawa nafsu untuk berperilaku yang tidak benar. Jangan terburu-buru untuk menang, akhirnya menghalalkan segala cara, padahal ayat dan hadits selalu kita baca; bahwa Allah Ta’ala bersama orang-orang yang sabar!

Risywah itu Dosa Besar 

                Apakah risywah itu? Disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith:

ما يعطى لقضاء مصلحة أو ما يعطى لإحقاق باطل أو إبطال حق

                Sesuatu yang diberikan agar tujuannya terpenuhi, atau sesuatu yang diberikan untuk membenarkan yang batil, atau membatilkan yang haq. (Al Mu’jam Al Wasith, 1/348. Dar Ad Da’wah)

                Money politic adalah risywah, tidak syak lagi, dan merupakan cara batil untuk mencapai tujuan walau tujuannya adalah haq. Money politic adalah upaya memenangkan yang kalah dengan cara batil, atau mengalahkan yang menang dengan cara batil pula.

                Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الراشي و المرتشي

                Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap. (HR. At Tirmidzi No. 1337, katanya: hasan shahih.  Abu Daud No. 3580, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7066, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Imam Adz Dzahabi berkata dalam At Talkhish:”Shahih”)

                Dalam hadits Tsauban, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga melaknat perantara suap. (Ar Ra-isy). (HR. Ahmad No. 22399, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih lighairih.” Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 22399)

Niat dan tujuan yang baik tidaklah merubah sarana yang haram menjadi halal, kecuali memiliki dalil
Kaidahnya:
الغاية لا تبرر الوسيلة إلا بدليل

Tujuan (yang baik) tidaklah membuat baik sarana (yang haram) kecuali dengan adanya dalil. (Syaikh Walid bin Rasyid  bin Abdul Aziz bin Su’aidan, Tadzkir Al Fuhul bitarjihat Masail Al Ushul, Hal. 3. Lihat juga Talqih Al Ifham Al ‘Aliyah, 3/23)

Tujuan dan niat yang mulia tidak boleh dijalankan dengan sarana yang haram, dan sarana haram itu tetap haram walau dipakai untuk niat dan tujuan yang baik, yakni memenangkan da’wah dalam kompetisi politik.

Dalilnya:

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ                                                       
      
          Dan janganlah kamu mencampurkan antara haq dan batil, dan kamu menyembunyikan yang hak itu padahal kamu tahu. (QS. Al Baqarah (2): 42)                                                                       
                Ada pun yang ditunjukkan oleh nash boleh dilakukan adalah berbohong dalam berperang, mendamaikan saudara yang bertengkar, berbohongnya suami istri untuk menghargai dan menjaga perasaan mereka, dan beberapa contoh yang lain.  

                Oleh karenanya, memperjuangkan agama yang mulia, tidak boleh dengan cara-cara yang tidak mulia walau cara itu dianggap efektif. Selain tidak berkah, itu juga mengotori citra dakwah dan Islam. Sadarkah Sang ustadz ini?

Bukan Termasuk Risywah

                Ada pemberian uang yang tidak termasuk suap sebagaimana yang dijelaskan para ulama. Imam Ibnul Atsir dalamNihayah-nya berkata:

فأما ما يعطى توصلا إلى أخذ حق أو دفع ظلم فغير داخل فيه  روى أن بن مسعود أخذ بأرض الحبشة في شيء فأعطى دينارين حتى خلى سبيله وروى عن جماعة من أئمة التابعين قالوا لا بأس أن يصانع الرجل عن نفسه وماله إذا خاف الظلم
       Ada pun pemberian demi untuk mengambil hak atau mencegah kezaliman bukanlah termasuk suap. Diriwayatkan bahwa ketika di Habasyah,  Ibnu Mas’ud pernah  memberikan dua dinar sampai jalan yang ditempuhnya menjadi sepi (tidak ada gangguan). Diriwayatkan dari Jama’ah para imam tabi’in, mereka mengatakan: tidak apa-apa seseorang memberikan hartanya jika dia takut kezaliman. (Sebagaimana dikutip Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 4/471)

                Lihat juga beberapa kitab lainnya. (Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 10/88, Imam Abul Hasan As Sindi, Hasyiah  ‘Ala Ibni Majah, 5/16, dll)

Benar Tapi Salah

                Sang Pemateri telah benar ketika mengatakan bolehnya memberikan sejumlah uang, bagi CPNS yang telah lulus dengan prosedur yang benar, tetapi namanya akan dicoret jika dia tidak memberikan uang itu. Dia melakukan itu untuk memperjuangkan haknya yang telah dirampas oleh orang zalim yang ada di instansi tersebut. Ini benar.

 Begitu pula yang semisal ini, seperti jika seseorang yang memberikan sejumlah uang kepada orang yang telah menculik anaknya, dia melakukan itu untuk mengambil haknya yang telah dirampas  yaitu anak. Ini tidak dikatakan risywah(suap). Tidak berdosa bagi yang memberi, tapi berdosa bagi yang menerima. 

Begitu pula yang semisal ini, seseorang sudah lulus ujian untuk mendapatkan SIM, baik ujian teori atau praktek, tetapi dia digagalkan berkali-kali karena tidak memberikan sejumlah uang, maka dia boleh memberikan sejumlah uang kepada oknum polisi tersebut yang telah merampas haknya. Ini bukan karena ingin menyuap, tetapi memperjuangkan haknya yang telah dirampas oleh oknum polisi tertsebut. Hal ini berbeda dengan seseorang yang sejak awal sudah memberikan uang kepada oknum polisi, untuk memperlancar urusannya, padahal dia sama sekali  belum layak untuk mendapatkan SIM karena ketidak mampuannya.

Semisal pula dengan ini, seseorang pedagang kaki lima yang berdagang di sebuah tempat strategis, dan siapa pun berhak berdagang di sana, tetapi ada sekelompok preman yang meminta uang keamanan yang ilegal (baca: pungli), yang jika tidak diberikan maka pedagang ini akan diusir dari tempat tersebut. Maka, dia boleh memberikan uang tersebut bukan karena ingin menyuap, tetapi memperjuangkan haknya. Ini juga sesuai dengan kaidah Al Irtikab Akhafu Dharurain, melaksanakan mudharat yang paling ringan di antara dua mudharat. Memberikan sejumlah uang kepada mereka adalah mudharat, tetapi tidak bisa berdagang di  tempat yang strategis juga mudharat, bahkan mudharatnya lebih besar. Maka, tidak apa-apa dia memilih mudharat yang lebih kecil untuk menghindar mudharat yang lebih besar.

Semisal dengan ini pula, seorang saudagar yang dirampok dagangannya oleh perampok jalanan, saudagar ini akhirnya memberikan sejumlah uang untuk menundukkan hati perampok itu, agar tidak mengambil keseluruhannya. Jika saudagar ini  tidak memberikan, atau malah melawan, justru perampok itu akan mengambil keseluruhannya bahkan membunuhnya. Maka, kondisi ini boleh baginya untuk memberikan kepada perampok itu sejumlah uang, untuk menghindar mudharat yang lebih besar.

Dan, contoh-contoh lain semisal ini. Semua ini hakikatnya bukan suap karena mereka telah dianiaya, dirampas haknya, dan uang yang mereka berikan adalah untuk menebus hak-hak mereka yang dirampas itu. (lihat lagi pembahasanBukan Termasuk Risywah)

Maka, letak kekeliruan Sang Pemateri adalah kasus CPNS tadi dijadikan dasar, atau dianggap sama dengan money politic untuk memenangkan pilkada, pilgub, pilpres, atau pemilu. Ini kekeliruan fatal bahkan sangat ngawur. Sebab, dalam pemilu siapakah yang dirampas haknya? Dan siapakah perampas itu sehingga kita harus memberikan uang kepadanya agar hak kita kembali?

Money politic dalam pemilu terjadi biasanya sebelum pencoblosan/pencontrengan -baik dibayar cash atau dijanjikan dulu adalah sama saja-, dengan kata lain siapa pemenang dan yang kalah belum ketahuan, lalu uang itu diberikan agar mereka memilih kita agar kita menang. Inilah suap, inilah risywah. Berbeda dengan CPNS yang telah lulus ujian, berbeda dengan orang yang sudah lulus ujian SIM, berbeda dengan orang tua yang merebut kembali anaknya,  berbeda dengan pedagang kaki lima yang memang berhak berjualan, ... karena mereka sedang memperjuangkan hak yang telah dirampas orang zalim. Bisakah Sang Pemateri, Sang ustadz ini, membedakan dua keadaan ini? 

Sang Ustadz ini juga memberikan  contoh kasus sekeluarga yang memiliki 6 suara yang tidak memilih karena belum ada yang memberikan uang kepada mereka. Maka, mereka boleh saja diberikan uang untuk memenangkan kita. Justru inilah suap, dan tidak ada sama sekali kesamaan dengan kasus-kasus yang saya contohkan di atas. Apa yang sedang dirampas dari Anda sehingga Anda harus merebutnya kembali dengan memberikan uang kepada mereka? Dan, inilah cara-cara kotor yang dilakukan oleh musuh-musuh da’wah, lalu kenapa jadi kita yang melakukannya, kenapa justru aktifis Islam direkomendasikan untuk melakukannya?  Ini adalah “fatwa”  ngawur yang tidak seharusnya keluar  dari Sang Ustadz, bahkan tidak seharusnya keluar dari seorang muslim yang baik. 

Berbaik Sangka

Kami mencoba berbaik sangka, dan memang seharusnya demikian sikap kita terhadap sesama muslim. Bahwa mudah-mudahan pernyataan Sang ustadz ini keluar karena dia dalam keadaan belum tahu, lupa, kurang teliti, dan udzur lainnya yang membuatnya tidak dianggap sengaja berbuat salah. Sebab, sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih, Allah Ta’ala memaafkan dan tidak menganggap kesalahan orang yang lupa, kesalahan tidak sengaja, terpaksa, anak-anak, orang gila, dan orang tertidur.
Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita semua agar tetap bersama Al Haq dan Ahlul Haq.

Wa Shalawatullah wa Salamuhu ‘Ala Nabiyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi  Ajmain 

Wallahu A’lam

Ust. Farid Nu'man Hasan
Anggota Dewan Syariah Pusat

Kamis, 13 Oktober 2011

Qurban, Pembangunan Karakter Pribadi & Masyarakat



Mempersembahkan suatu persembahan kepada Tuhan sebagai bentuk ritual peribadatan adalah keyakinan yang telah dikenal manusia sejak dahulu bahkan telah dilaksanakan sejak generasi pertama manusia penghuni bumi ini. Dalam Kisah Habil & Qabil yang merupakan keturunan Nabi Adam AS dan diabadikan Al Quran menjelaskan hal itu (QS 5 : 27). Bahkan hal itu dijadikan syariat agama oleh Allah SWT kepada beberapa kaum, diantara kaum Nabi Idris AS, kaum Nabi Nuh AS, kaum Nabi Musa AS, bahkan kepada yahudi & Nasrani hingga kaum Nabi Muhammad SAW. Tetapi kisah tentang berqurban yang sangat inspiratif adalah pelaksanaan qurban oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Adalah Nabi Ibrahim AS yang begitu lama merindukan kelahiran seorang anak yang diharapkannya dapat menjadi penerusnya, tetapi ketika apa yang diharapkannya itu dikabulkan Allah hingga di usia cukup dewasa untuk menjadi pendukung akan tugas – tugas kenabian beliau,  dan ditengah kerinduannya untuk bercengkrama setelah sekian lama tidak membersamai karena tugas- tugas kenabian, Allah turunkan sebuah perintah kepadanya sebagai sebuah ujian akan ketaatan  melalui mimpi – mimpi yang terus terulang.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. 37 : 102)
Meskipun kemudian Allah mengganti dengan seekor sembelihan yang lain.
Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (QS. 37 : 107)
Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah berupa pemotongan hewan, namun mengarahkannya sehingga selaras dengan nilai- nilai tauhid dan bebas dari unsur penyekutuan terhadap Allah, serta selaras dengan nilai kemanusiaan. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya. Dalam hadist riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam, suatu hari Rasulullah ditanyai "untuk aapa sembelihan ini?" belian menjawab: "Ini sunnah (tradisi) ayah kalian nabi Ibrahim a.s." lalu sahabat bertanya:"Apa manfaatnya bagi kami?" belau menjawab:"Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan" sahabat bertanya: "Apakah kulitnya?" beliau menjawab: "Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan".
Dimensi Ibadah Qurban.
1.         Dimensi Ketuhanan (habl-min-Allah)
Hal ini terkait erat dengan makna literal “Qurban” yang berarti dekat atau mendekatkan diri, yang bermaksud bahwa seorang hamba sejatinya harus senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah lewat apa yang dimilikinya bahkan yang paling dicintai
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS 3 : 92)
Lebih dalam ibadah ini juga mentarbiyah manusia untuk senantiasa melandaskan ibadahnya pada keimanan dan keikhlasan semata-mata Allah yang menjadi orientasi, kisah Habil & Qabil menjelaskan hal itu
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS 5 : 27)

2.         Dimensi Kemanusiaan (habl-min-annas)
Ibadah qurban sesungguhnya memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran esensial, bahwa untuk menegakkan bangunan sosial dibutuhkan pengorbanan dalam arti yang seluas-luasnya dari masing – masing individu elemen masyarakat, disamping juga membentuk solidaritas hingga hal ini mampu memarginalkan anasir – anasir negatif, seperti sifat hedonis, egois, oportunis dsb, yang menjadi virus dari kekokohan bangunan sosial.

Akan tetapi menjadi pemahaman yang keliru jika dipahami bahwa ibadah qurban ini semata-mata kebutuhan bagi orang – orang fakir miskin saja. Jika dikembalikan pada dimensi ketuhanan dan makna literal qurban itu sendiri, maka mendekatkan diri kepada Allah merupakan kebutuhan siapapun, baik ia kaya ataupun miskin dan keuntungannya pun akan kembali kepada ahli qurban.
Dengan demikian, ibadah qurban merupakan alat ukur akan seberapa besar ketaatan, kesetiaan, pengorbanan dan pengabdian kita terhadap nilai-nilai ketuhanan dan terhadap nilai-nilai sosial. Maka ibadah qurban haruslah berdampak secara maknawi terhadap pribadi dan berdampak positif terhadap bangunan sosial.
Wallahualam...

Kamis, 08 September 2011

Kader dan Kemenangan Dakwah 2014



Tujuan Kita Ingin Memenangkan Pemilu 2014 adalahkarena merupakan bagian dari tahqiqul 'ubudiyah,cara kita merealisasikan ibadah kepada Allah SWT. Dan bagian yang paling penting dari tahqiqul 'ubudiyahitu adalah tahqiqul muradillah, merealisasikan kehendak-kehendak Allah SWT dimuka bumi ini.  Dan kehendak-kehendak Allah itu -ikhwah sekalian- secara eksplisit dinyatakan dalam apa yang disebut oleh ulama-ulama sebagai maqashidu syari'ah, tujuan-tujuan dasar syari'at itu diturunkan. Mulai dari menjaga nyawa, menjaga harta, menjaga kehormatan, menjaga akal.  Semua  itu merupakan maqashidus syari'ah yang dengan menegakkannya, maka kita melakukan suatu hal yang merupakan tujuan hidup kita yaitu tahqiqul 'ubudiyah. Dan dengan menegakkan maqashidu syari'ah itu  -ikhwah sekalian- mudah-mudahan kita telah merealisasikan derivasi selanjutnya dari ma'na 'ubudiyah yaituisti'marul ardh (memakmurkan bumi). Risalah ini menjadi jauh lebih penting bagi kita semuanya, terutama karena pemilu 2014 akan berlangsung di saat negeri kita -sekali lagi- mengalami krisis besar yang mungkin bisa lebih besar dari krisis pada tahun 1997.

Oleh karena itu kemenangan kita pada tahun 2014 -ikhwah sekaliah-  bukan hanya merupakan faridhah syar'iyah, bukan hanya merupakan kewajiban syari'ah, tapi juga merupakan dharurah wathaniyah, merupakan suatu  keharusan dan keniscayaan nasional. Karena kemenangan kita pada tahun 2014 yang akan datang adalah suatu rangkaian proses penyelamatan bagi bangsa Indonesia.
Ikhwah sekalian, tiga belas tahun sudah kita mendobrak sistem otoriter. Dan memulai sebuah kehidupan baru dalam suatu bingkai sistem demokrasi. Tapi sampai saat ini sebagaimana demokrasi pada masa Sukarno gagal menciptakan kesejahteraan. Dan kesejahteraan pada masa orde baru harus dibayar dengan menghilangkan demokrasi. Tiga belas tahun masa reformasi ini adalah tahun-tahun kegelisahan, tahun-tahun pencarian, tahun-tahun dimana kita semua menyatakan pemberontakan. Tetapi tidak benar-benar tahu kemana seharusnya kita melangkah. Tahun-tahun dimana kita menyatakan ada enam visi reformasi mahasiswa, tetapi pada waktu yang sama tiga belas tahun kemudian kita menyaksikan bahwa visi itu sampai saat ini belum juga terealisasi. Tapi kita semua -ikhwah sekalian- bertanggung jawab secara moral. Karena kitalah yang mendobrak sistem itu. Kita yang menghancurkan dan menjatuhkan sistem itu. Lalu kemudian menggantinya dengan sistem yang baru. Tidak ada yang salah dengan sistem ini, yang salah adalah karena yang terjadi adalah bahwa syarat-syarat kebangkitan sebuah bangsa, sebagaimana yang kita pelajari dalam doktrin-doktrin dakwah kita belum sepenuhnya terpenuhi.  Syarat pertama dalam kebangkitan suatu umat dalam doktrin dakwah kita adalah al-yaqizhatur ruhiyah (kebangkitan spiritual). Syarat yang kedua adalah al-wa'yul fikri (kesadaran pemikiran), adanya agenda, adanya manhaj yang jelas dalam bekerja. Dan syarat yang ketiga adalah al-qiyadatul qawiyah(kepemimpinan yang kuat).

Tiga belas tahun reformasi ini adalah tiga belas tahun kegelisahan. Karena kita semua berhasil membangkitkan masyarakat Indonesia untuk menyatakan kekecewaannya kepada sebuah rezim dan mengakhiri rezim itu dan kemudian berusaha bersama memulai suatu hidup baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Ikhwah sekalian,
Ada keinginan yang kuat pada seluruh masyarakat. Tetapi seperti orang yang baru saja bangun, kita belum berwudlu. Kita baru bangun dan baru meninggalkan tempat tidur, baru membuka mata dan baru berjalan terseok-seok. Bahkan menghadapi kenaikan harga BBM dunia pun, kita tidak tahu bagaimana  caranya. Tetapi ikhwah sekalian, kebangkitan telah kita mulai pada jalurnya yang benar. Oleh karena kegelisahan itu adalah awal dari kebangkitan itu, dan kegelisahan itu tampak besar adalah wajah dari al-yaqizhatur ruhiyah(kebangkitan spiritual). Kita sudah mempunyai agenda; ada apa yang kita sebut dengan visi reformasi. Tahun ini juga kita mengeluarkan platform perjuangan kita untuk menegakkan masyarakat madani. Tetapi syarat untuk kebangkitan yang total belum sepenuhnya terpenuhi, karena masih ada syarat yang ketiga yaitu munculnya al-qiyadatul qawiyah (kepemimpinan yang kuat). Mudah-mudahan tahun 2014 itu adalah saat dimana kita menyempurnakan syarat ketiga dari kebangkitan kita semuanya di Indonesia, Insya Allah.
Ikhwah sekalian,
Seratus tahun yang lalu ceritanya persis sama seperti cerita kita malam ini. Juga adalah cerita kegelisahan. Budi Utomo, Syarikat Islam dan ormas-ormas Islam, ormas-ormas nasional yang lainnya pada waktu itu semuanya adalah ungkapan-ungkapan kegelisahan. Ada kesadaran yang begitu kuat di dalam jiwa mereka bahwasanya mereka adalah satu bangsa yang utuh. Mereka tahu namanya dan juga mereka tahu rasanya, tetapi mereka belum terlalu fasih membahasakannya. Pada tahun 1928 Sumpah Pemuda mengejawantahkan semangat itu kembali dalam sumpah yang singkat tetapi jelas menyatakan identitas bangsa kita. Dan dari situlah dimulai sebuah revolusi. Ujung dari revolusi itu adalah kemerdekaan kita pada tahun 1945. Tapi jika setelah kita merdeka dan kemudian kita berumur 66 tahun sebagai sebuah bangsa merdeka, tiba-tiba saja kita dikagetkan oleh sebuah fakta, kenapa bangsa ini pada usianya yang ke-66 tampak begitu tua dan lelah.  Karena ikhwah sekalian, cita-cita mereka seratus tahun yang lalu sudah tercapai. Cita-cita mereka adalah mendirikan sebuah Negara, bangsa yang merdeka dan berdaulat dan itu sudah tercapai. Dan Imam Ghazali mengatakan “segala sesuatu yang sampai pada puncaknya, harus memulai kekurangannya”.
Oleh karena itu, ikhwah sekalian, pentinglah kita menyadari suatu fakta, suatu hakikat besar di dalam sejarah bahwasanya jika cita-cita kita di dalam hidup itu kecil dan kemudian kita sudah mencapai cita-cita itu pada umumnya kita tidak lagi mempunyai sumber energy untuk bergerak. Bangsa ini setelah merdeka kehilangan sumber energy untuk bergerak, karena cita-citanya memang sudah tercapai kalau cita-cita kita hanya sekedar memerdekakan Indonesia, mengusir penjajah Belanda, Portugis atau Jepang dari bumi pertiwi Indonesia ini. Cita-cita itu adalah cita-cita yang terlalu sederhana. Itulah sebabnya Al-qur’an sejak awal menitipkan satu cita-cita besar tanpa batas kepada Nabi Muhammad SAW:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)
“dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba : 28) 


Maka kebangkitan Indonesia di masa yang akan datang itu –ikhwah sekalian-, membutuhkan suatu sumber energy besar yang tidak terbatas. Dan sumber energy besar yang tidak terbatas itu adalah pada cita-cita kita semuanya. Dan cita-cita yang kita warisi dari sejarah Indonesia ini menurut saya tidak lagi memadai untuk membangkitkan bangsa ini sekarang.  Kita memerlukan suatu narasi baru, satu ide baru, satu cita-cita baru yang melampaui wilayah Republik ini untuk merangkul seluruh wilayah umat manusia dimuka bumi ini. Itu sebabnya ikhwah sekalian, cita-cita kita semuanya jika kita perbesar untuk merangkul seluruh umat manusia, maka kita akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW tentang agama ini  :

لاَ يَبْلُغَنَّ هذا الدِّينَ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ والنَّهَارُ
Agama ini akan sampai ke seluruh muka bumi ini, akan menjangkau seluruh umat manusia sepanjang siang dan malam menjangkau mereka.

Negeri kita ini membutuhkan sebuah cita-cita baru sebagai sumber energi mereka. Dan cita-cita itu adalah haruslah merupakan cita-cita kemanusiaan. Itu sebabnya, ikhwah sekalian, kebangkitan Indonesia sekarang ini membutuhkan sebuah ruh baru. Dan ruh baru itu adalah Partai Keadilan Sejahtera.

Ruh baru inilah yang hilang dari republik kita ini. Dan karena itulah kita berjalan tertatih-tatih. Ruh baru inilah yang diperlukan oleh negeri kita sekarang, oleh seluruh masyarakat kita sekarang. Ruh baru inilah  yang dibutuhkan mereka untuk mengalirkan energi baru kepada mereka. Energi untuk bergerak kembali seperti sebagai sebuah bangsa besar. Tetapi kita tidak bisa mengalirkan energi ini kecuali kalau kita memenuhi syarat kebangkitan ketiga yaitu mengakselerasi dan mempercepat munculnya al-qiyadah al-qawiyah (kepemimpinan yang kuat) di republik kita ini.

Ikhwah sekalian, saya mengatakan kepada ikhwah-ikhwah kita di Kaltim. Tahukah antum semuanya mengapa kita perlu memenangkan Pilkada di Kaltim? Karena sepertiga pendapatan negara kita berasal dari propinsi ini dengan penduduk hanya sekitar tiga jutaan dan pemilih 2,2 Juta. Wilayah ini adalah salah satu zona ekonomi besar tetapi mungkin kecil secara skala politik. Tetapi dengan memenangkan wilayah ini, antum melakukan suatu hal yang sangat fundamental dalam tujuan maqashidus syari’ah yaitu hifzhul maal (menjaga harta negara kita).
Kemudian saya mendapatkan informasi begitu banyak, dan saya kira antum tahu semuanya. Betapa kayanya negeri itu. Tetapi saya berjalan dari Balik papan ke Samarinda bolak balik, siang dan di malam hari di atas jalan-jalan yang semuanya sudah rusak dan sama sekali tidak nyaman untuk kita lalui. Lalu saya teringat kepada salah satu kalimat Umar bin Khatthab : “Jika ada seekor keledai yang jatuh di jalan-jalan Irak, maka saya akan ditanya oleh Allah SWT di hari akhirat. Mengapa kamu tidak memperbaiki jalan yang ada di Irak itu?”

Jadi Ikhwah sekalian, negeri kita ini adalah negeri ironi. Dan kebangkitan spiritual yang sudah kita miliki itu sejak tahun 80-an ketika kita memulai dakwah, tahun 90-an ketika kita mengembangkan dakwah kita dan membangun basis sosial tidaklah memadai kecuali kemudian kita memperbesar kerangka kita kembali  dan merebut semua bagian hati bangsa Indonesia untuk kemudian mengambil kepercayaan besar mereka. Dan berada di garda depan menyelamatkan kehidupan bangsa yang besar ini.


Saya menyatakan tentang tiga cita-cita kita, yang kita kuantifikasi dalam angka-angka. Ada yang apa kita sebut dengan cita-cita politik yang angkanya adalah 20% atau menjadi 3 besar Ada yang kita sebut dengan cita-cita dakwah, apabila gabungan suara partai-partai Islam ini sudah melampaui 50%. Dan ada yang kita sebut dengan cita-cita peradaban, apabila kita berhasil menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia Islam dan front linersaudara tertua Islam yang berada di baris depan berhadap-hadapan dengan peradaban lainnya. Dan kemudian secara perlahan-lahan menjadi kiblat peradaban kemanusiaan baru. 
 Itulah sebabnya ikhwah sekalian, walaupun berada dibawah penjajahan Inggris. Dalam keadaan yang sangat sulit, kita belajar dari satu fakta sejarah dari Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika beliau mengatakan tentang tujuh tujuah dakwah kita, dimana yang terakhir adalah ustadziyatul ‘alam. Bisakah antum membayangkan bahwa buruh-buruh, para petani, para nelayan, orang-orang papa dan nestapa di Mesir yang miskin, yang dihadapi oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna, yang tua dan renta. Diperkenalkan kepada mereka ma’na Islam pertama kali dan tujuan besar peradaban mereka ketika mereka masih hidup dibawah penjajahan. Lalu kepada mereka disampaikan doktrin bahwa pada suatu waktu kalian semuanya mempunyai satu tugas suci menjadi soko guru peradaban dunia. Bisakah kita membayangkan, apakah yang ada dalam pikiran Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika itu? Dan apa yang ada di benak para petani, para buruh dan nelayan?
Dan sekarang ini tampak seperti eutopia, ketika PKS merencanakan menjadi bagian dari 3 Besar Pemenang Pemilu, dan tiba-tiba mempunyai mimpi besar menjadi pemimpin peradaban manusia. Ini bukan eutopia! Karena ikhwah sekalian kita ini (di PKS ini) mempunyai suatu tradisi kesadaran. Kita menyadari apa yang disebut oleh Rasulullah SAW: Rahimallahu man ‘arafa qadra nafsih.  Allah merahmati kepada orang-orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya. Karena itu pada tahun 1997 kita membuat Rinja (Rencana Induk Jama’ah). Dan kita baru bercita-cita mendirikan partai pada tahun 2010. Tetapi Allah mempercepat target itu dan menjadikannya satu tahun kemudian dimana kita mendirikan partai pada tahun 1998. Sekarang dalam hitungan-hitungan normal, kita baru berfikir untuk melangkah menuju  kepemimpinan nasional pada tahun 2014. Tetapi tampaknya Allah SWT mengirimkan tanda-tanda  alam, tanda-tanda peradaban  dan tanda-tanda kemanusiaan, juga tanda-tanda sejarah. Bahwa waktu  yang kita rencanakan itu tampaknya akan dipercepat oleh Allah SWT.

Itulah yang bisa kita tafsirkan secara ijabiyah (positif) dalam perspektif dakwah kita ketika Allah memberikan kemenangan di Jawa Barat, di Sumatera Utara
Jadi ibarat gelombang –ikhwah sekalian- gelombang ini sedang datang. Ada pasang dalam sejarah kita saat ini. Dan oleh karena itu walaupun dengan segala kerendahan hati, kita mungkin tidak terlalu siap. Tetapi yang sangat kita khawatirkan adalah terulangnya seperti apa yang dikatakan oleh beberapa ikhwah di Jawa Barat. “Memang kami kalah dalam semua survey, tapi kami sangat khawatir dimenangkan oleh Allah SWT”. Kita juga khawatir –ikhwah sekalian- jangan-jangan kita hanya berniat masuk 3 besar, mendapatkan 20%. Tapi tiba-tiba Allah SWT mengubah peta politik kita ini dan menjadikannya lebih dari pada apa  yang kita harapkan.  Dan karena itu ikhwah sekalian, mental kita haruslah kita siapkan. Sebagaimana pada tahun 1997, ketika tiba-tiba mata kita terbelalak, bahwa pada tahun 1998 kita harus tiba-tiba mendirikan partai politik. Tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan. Tetapi Allah SWT memberikan kepada kita syarat yang sering saya ulangi, niat yang baik dan kemauan belajar itu cukup untuk memimpin.

Jadi ikhwah sekalian, kita harus menghilangkan dan kita harus mulai menswitch, memindahkan, mentransformasi mental kita. Bahwa sementara kita mempunyai target-target yang sekarang kita tetapkan. Tampaknya Allah SWT mengirimkan tanda-tanda yang lain dan karena itu mental kitapun harus kita persiapkan. Dan supaya mental kita itu harus kita siapkan, perlulah kita merubah beberapa paradigma di dalam pikiran kita.Yang selalu saya ulang-ulang dan sering saya sebut sebagai polisi tidur. Yang menghambat lajunya kita bergerak. Karena ikhwah sekalian kita ini (PKS ini) ibarat mobil, engine (kekuatannya) itu adalah 5000 cc, sopirnya jelas, penumpangnya jelas, tujuannya jelas, rutenya juga jelas, dilengkapi dengan GPS, semua sudah pasang seatbelt. Kita sedang akan masuk ke highway (jalan tol). Tetapi jika kendaraan besar ini, yang CC-nya besar ini disertai dengan jalanan yang mulus ini tidak berpadu maka akan ada masalah. Kita tidak akan sepenuhnya efektif. Dan karena itu perlu kita hilangkan polisi tidur ini.
----
Polisi tidur yang pertama ini adalah ‘uqdatul khaufi minan nashr (sindrom ketakutan untuk menang).  Ada banyak ikhwah kita semuanya yang merasakan sindrom ketakutan ini. Takut untuk menang. Mereka takut menang karena merasa bahwasanya kemampuan kita belum memadai untuk memimpin republik ini.  Itu ada benarnya, kalau kita benar-benar ingin rendah hati dan jujur di depan Allah SWT. Tetapi ikhwah sekalian, Allah itu tidak menurunkan ilmu sekaligus. Allah menurunkan ilmu bertahap-tahap.

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا (٨٥) 
“….. dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (al-isra : 85). 

Dan sebagian dari cara Allah SWT menurunkan ilmu adalah melalui benturan-benturan, melalui pengalaman-pengalaman, melalui kesalahan-kesalahan dan melalui amal. Dan karena itu Allah mengatakan kepada kita tentang cara Allah mengajar :

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
Bertakwalah kamu kepada Allah, nanti Allah yang akan mengajarkan kamu ilmu-ilmu. (al-baqoroh : 282)

Kita semua –ikhwah sekalian- tidak pernah tahu bagaimana mengelola dewan. Karena memang kita tidak punya pengalaman. Tapi hanya beberapa saat ketika kita masuk ke dewan, kita tahu bagaimana cara mengelolanya. Pimpinan partai ini –ikhwah sekalian- pada periode yang lalu, tidak satupun di antara mereka yang profesor-doktor dalam bidang ilmu politik. Tidak ada satupun di antara mereka yang profesor-doktor dalam bidang hukum tata negara, profesor-doktor dalam ilmu pemerintahan.  Ada doktor dalam bidang akidah spesialis dalam aliran-aliran sesat, ada doctor dalam perbandingan madzhab. Tapi ketika beliau menjadi ketua MPR, bisa juga beliau menjalankan amanah itu dengan baik. Dan ketika doktor menjadi dubes, bisa juga beliau menjalan amanah itu lebih baik dari para pendahulunya. 

Jadi ikhwah sekalian, Allah mengajarkan kita ilmu itu sedikit demi sedikit. Bisa antum bayangkan bumi yang bulat ini pada mulanya hanya dihuni oleh dua orang yang namanya Adam dan Hawa.  Beratus-ratus kemudian, tiba-tiba penduduknya menjadi enam milyard. Pada mulanya hanya dua orang. Bisakah antum membayangkan? Jangankan bumi yang luas ini, antum ada di Cibubur saja kalau cuma dua orang , bisa antum bayangkan ngerinya menghadapi malam. Tapi coba lihat cara Allah mengelola kehidupan.  Yang pertama kali dilakukan Allah kepada Adam begitu turun ke bumi ini adalah pembelajaran.

dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (al-baqorah : 31)

Semua benda, semua perbuatan, semua pikiran diberi nama dan satu persatu dipelajari. Ketika pertama kali adam dan hawa melakukan hubungan seksual, Hawa bertanya kepada Adam;  Ya Adam, Ma hadzaa? (apa namanya ini). Kata Adam : hadzaa jima’ (ini namanya jima’). Kata Hawa : zidnii minhu (tambah lagi).  Berkat pengajaran itulah kita hadir sekarang di sini.

Jadi ikhwah sekalian, yang kita perlukan dalam memimpin itu adalah niat baik  dan kemauan belajar. Itu sebabnya saya selalu mengulang-ulangi kalimat ini. Bagaimana caranya kita menjadi pembelajar yang cepat. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu.  
Jadi ada gejolak yang terjadi di luar tetapi kita disini tidak pernah memikirkan antisipasinya. Padahal dulu Imam Abu Hanifah sudah pernah mengatakan, “Orang yang berilmu itu adalah orang yang menyiapkan jawaban sebelum dia diberi pertanyaan”. Jadi saya mengatakan bahwasanya protes besar pada pemerintah saat ini adalah badai yang dituai oleh pemerintah karena kemalasannya berfikir secara antisipatif menyediakan jawaban-jawaban, sikap-sikap, alternative-alternatif, kebijakan-kebijakan baru jika mereka menghadapi tantangan fluktuasi harga minyak dunia ini.

Dan sekarang ikhwah sekalian, Insya Allah salah satu bagian dari agenda kita yang terpenting nanti adalah begitu Partai Keadilan Sejahtera memimpin negeri ini, kita akan memunculkan apa yang kita sebut dengan New Economic Policy (kebijakan ekonomi baru).  Saya bertemu dengan beberapa doktor ekonomi. Saya bilang, saya tidak terlalu ahli dalam ekonomi. Tetapi yang bisa saya pahami adalah hal-hal berikut ini. Ilmu ini adalah ilmu empiris. Dan yang namanya teori itu adalah kebenaran yang terulang-ulang. Yang kemudian dirumuskan, diformulasikan. Dia tidak ada sebelum pengalaman itu ada.
Teori itu adalah suatu rumusan atau suatu pengalaman. Dan apa yang kita pelajari dalam ilmu ekonomi makro dalam teori-teori makro ekonomi itu, pada mulanya adalah pengalaman rosevelt di Amerika. Ketika dia memimpin Amerika dalam sejarah, waktu Amerika menghadapi depresi ekonomi besar. Dan lucunya ikhwah sekalian, Rosevelt ini adalah satu-satunya presiden Amerika yang memimpin Amerika selama empat periode dan melanggar konstitusi Amerika. Dan orang ini lumpuh. Karena itu kalau beliau akan memberikan motivasi selalu menggunakan radio. Supaya tidak banyak orang yang tahu kalau dia itu lumpuh. Dia memang punya penasehat ekonomi yang namanya Kens. Tapi kemudian yang lebih penting adalah bahwa dia mempunyai suatu pengalaman yang kemudian dicatat  dan diformulasi menjadi sebuah ilmu. Lalu orang perlahan-lahan mulai belajar bahwa ada sesuatu yang kita sebut dengan ekonomi makro.

Jadi kita kembalilah kepada persoalan ekonomi dasar ini. Ini adalah masalah yang sederhana, jangan dibikin rumit oleh para ilmuwan. Saya bilang kepada seorang ahli ekonomi yang sering muncul di TV, kalau teori itu adalah satu formulasi terhadap satu kebenaran yang terulang dalam praktek. Kan akhirnya teori itu sama seperti obat. Ada masa berlakunya. Apakah ibu yakin bahwa teori-teori ini, sekarang ini belum expired? Masih bisa kita pakai?.
Jadi ikhwah sekalian, janganlah kita semuanya dibuat ragu oleh teori yang diperumit untuk masalah yang sebenarnya tidak terlalu rumit kalau kita benar-benar mau bekerja untuk rakyat kita semuanya. Dari dulu juga kita belajar dalam Sirah Nabawiyah, bahwa Bilal Bin Rabbah seorang budak. Pada suatu waktu pernah menjadi Gubernur di Syam dan kita tidak pernah menemukan suatu catatan dalam Sirah. Sejak kapan Bilal belajar di Lemhanas misalnya. Apalagi kuliah di Harvard. Yang kita temukan dalam fakta sejarah kita di Indonesia sekarang ini adalah bahwasanya negeri kita ini bangkrut di tangan para doktor-doktor itu semuanya. Bukan karena doktor negeri kita bangkrut, tapi saya ingin mengatakan bahwa itu sering kali tidak ada hubungannya. 

Lebih dari itu persoalan masalah kompentensi tehnik itu yang kita perlukan. Yang lebih kita perlukan ikhwah sekalian adalah cara mengelola orang. Cara mengelola potensi-potensi terbaik bangsa ini. Dan Alhamdulillah kita di PKS ini mempunyai pengalaman yang sangat kaya dalam mengelola orang. Dan itu semuanya merupakan suatu modal yang cukup, jika kita memang benar-benar mendapatkan amanah memimpin bangsa ini.  Jadi ikhwah sekalian kita tidak perlu ragu.  Mengelola negara itu pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan mengelola SDIT. Dua-duanya adalah organisasi, sifat-sifat dasar pada organisasi  itu sama pada kedua-duanya.  SDIT punya bendahara, negara juga punya bendahara.  Dulu sahabat Rasulullah ketika masuk ke Persi setelah menang dalam perang Qadisiyah, ada sahabat yang mendapat perak, dia tidak tahu kalau itu perak. Lalu dia makan, karena dia pikir bahwa itu garam. Tapi walaupun demikian mereka menjadi pemimpin peradaban. Apalagi antum semua adalah orang-orang yang terdidik. Tidak benar-benar mulai dari nol sama sekali. Karena itu, ikhwah sekalian. Sindrom ketakutan untuk menang ini yang disebabkan karena kita tidak percaya diri kepada kemampuan kita, itu perlu kita hilangkan pertama kali.

Yang kedua ikhwah sekalian yang membuat sindrom ini muncul adalah karena ada pemahaman yang berkembangan di kalangan kita semuanya dan menurut saya ini adalah pemahaman yang perlu kita luruskan. Kita perlu hati-hati pemahaman yang selalu memisahkan antara tarbiyah dengan politik. Kita perlu hati-hati menerjang kekuasaan karena itu adalah fitnah.  Ikhwah sekalian, kekuasaan jelas adalah fitnah. Harta juga adalah fitnah, wanita juga adalah fitnah. Bukan hanya tiga ini, anak-anak juga adalah fitnah. Istri-istri kita juga semuanya adalah fitnah.

Wahai orang-orang yang beriman, ada diantara isteri-isteri dan anak-anak kamu yang merupakan musuh bagi kamu, maka hati-hatilah kepada mereka.  (at-taghabun : 14)

Kalau antum pulang, jangan membawa satu potong ayat ini. Insya Allah antum akan berubah pandangan kepada isteri antum semuanya. Juga berubah cara antum memandang anak-anak.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَ أَوْلاَدُكُمْ فِتْنَة
Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah. (at-taghabun ; 15) 

Tapi coba kita lihat Rasulullah Saw. Ketika menyuruh kita menikah :
يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج
wahai pemuda barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah. 
Yang belum menikah niatkan segera untuk menikah. Sebelum pemilu 2014. Karena  Rasulullah Saw mengatakan :
سراركم عزابكم وسرار ماتاكم عزابكم
Yang paling buruk diantara kalian adalah yang bujangan dan seburuk-seburuk orang yang mati adalah yang mati dalam keadaan bujang.  

Begitu kita menikah Rasulullah mengatakan : tanaakahu takaatsaruu, menikah dan perbanyaklah anak-anak kalian.

Khalid bin Walid ketika anak-anaknya semuanya meninggal karena diserang tha'un  semua anaknya 42 meninggal sekaligus. Yang paling terakhir meninggal di kalangan sahabat rasulullah adalah Anas bin Malik, anaknya lebih dari 100 dan umurnya pun lebih dari 100 tahun.  Dulu waktu Rasulullah hidup rasio umat Islam dengan penduduk bumi adalah 1 : 1000.  Seribu lima ratus kemudian rasio penduduk muslim dengan muslim adalah 1:5.
 Apa rahasia dari pertumbuhan demografi yang dahsyat ini? Bahkan beberapa bulan yang lalu  vatikan secara resmi mengumumkan bahwa jika agama-agama Kristen itu tidak dianggap satu (maksudnya sekte-sektenya dipecah; katolik, protestan) maka agama terbesar didunia ini adalah Islam, terhitung sejak tahun ini. Jumlah penduduk Islam di seluruh dunia adalah 20%. dan umat katolik turun menjadi 17%. Memang kalau digabungkan semuanya umat Kristiani ini menjadi 33%.  Saya ingin menjelaskan kepada antum rahasia dari pertumbuhan demografi ini. Sebagian dari rahasia pertumbuhan demografi itu adalah : tanaakahu takaatsaru fa innii mukatsiron bikumul umamaa yaumal qiyamah. Wanita itu adalah indah. Tapi al-qur'an mengatakan pada waktu yang sama: Fankihuu maa thaabaalakum minann nisa matsnaa wa tsulaatsa

Begitu juga dengan harta, begitu juga dengan kekuasaan. Jadi ikhwah sekalian kalau iqomatuddiin(menegakkan agama) itu adalah faridhah syar'iyyah.  

وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Wa maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa waajib.

Dimana bagian dari proses iqomatud diin itu adalah iqomatud dunya – iqomatud daulah. Maka iqomatud daulah itu menjadi wajib bagi kita semuanya.  Dan kalau itu semuanya merupakan suatu kewajiban -ikhwah sekalian- maka tentu ada rahasia yang perlu kita ketahui di sini.  Rahasianya adalah karena ini adalah perintah. Tetapi di dalam perintah ini terkandung jebakan yang banyak. Jebakan itu adalah fitnah. Oleh karena itu yang bisa memikul beban perintah ini adalah orang-orang kuat. Maka ketika Abu dzar al-ghifari datang kepada Rasulullah SAW :  يا رسول الله وليني Yaa Rasulallah walliinii (jadikan aku gubernur ya rasulullah).  Rasululah mengatakan :
يا أبا ذر إنك ضعيف إنها أمانة وإنما يوم القيامة لندامة
Yaa Abaa dzar innaka dha'iif, innahaa amanah wa innamaa yaumal qiyaamah lanadaamah.  Wahai Abu dzar sesungguhnya engkau lemah dan sesungguhnya ini adalah amanah dan tentunya ini di hari kiamat menjadi sumber penyesalan. Jadi kita semua ikhwah sekalian sedang memikul amanah yang sangat berat. Dan itu sebabnya Ibnu Taimiyah dalam as-siyaasah asy-syar'iyyah mengungkapkan

أفضل الأعمال الصالحة الأخذ بالولاية
afdhalul al-a'maala shalihah al-akhdzu bil wilayah
(amal shaleh yang paling afdhal adalah merebut kekuasaan).

Jadi antum sekarang -ikhwah sekalian- ada diambang pekerjaan amal shaleh yang paling afdhal itu. Sekarang coba antum lihat konflik apakah yang terjadi dikalangan sahabat begitu Rasulullah Saw wafat. Yaitu Bani Tsaqifah. Dan salah seorang pembesar Anshar itu, bahkan meninggal tidak sempat membai’at Abu Bakar. Tetapi ini semuanya memberikan kita kesadaran, bahwa ketika Ibnu Taimiyah mengatakan bahwasanya afdhalul al-a'maala shalihah al-akhdzu bil wilayah (amal shaleh yang paling baik adalah merebut kekuasaan). Dia juga tahu bahwasanya di dalam perintah ini terkandung banyak jebakan dan hanya orang kuat yang benar-benar bisa lolos di sini.  Memiliki anak yang banyak –ikhwah sekalian- itu beban. Yang hanya bisa dipikul oleh orang-orang kuat. Begitu juga yang lain-lainnya. 

Ikhwah sekalian, oleh karena itu pengingatan Qur’an ini tentang adanya unsur fitnah dan jebakan di dalamnya ini; di dalam kekuasaan, di dalam harta, di dalam wanita dan lain-lainnya semuanya itu peringatan. Ini sama sekali tidak mengandung unsur larangan, melainkan disertai dengan perintah. Tetapi peringatan ini penting untuk diberikan kepada kita semuanya. Supaya kita tidak mengubah apa yang sebenarnya yang merupakan sarana ini menjadi tujuan. Itu adalah intinya.

Maka, negara itu adalah alat yang kita perlukan. Harta itu juga alat bukan tujuan. Kita memerlukan hal itu sebagai sumber daya. Karena kita semua mengetahui suatu kaidah: Innallaha layaza’u bi shulthoni ma laa yaza’uhu bil qur’an.  Sesungguhnya Allah bisa memberlakukan kehendaknya dengan kekuasaan, sesuatu yang tidak diberlakukannya dengan hanya al-qur’an.  Inilah polisi tidur pertama yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semua.

Polisi tidur yang kedua yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semuanya adalah ‘uqdatul khaufi minal ‘aduw (sindrom ketakutan kepada lawan).  Karena kita berpikir partai-partai besar itu  masih terlalu besar untuk kita lampaui. Tetapi ikhwah sekalian, perlahan-lahan saya kira sindrom ini mulai hilang dari kepala kita semuanya.  Kita sudah mempunyai pengalaman dikeroyok 20 partai di Jakarta. Dan kita telah menunjukkan eksistensi kita bahwa kita mampu bertahan. Bahkan ikhwah sekalian setelah Pilkada Jakarta ini, banyak sekali orang yang datang kepada kita di PKS ini untuk meminta dukungan PKS. Bukan terutama untuk menang dalam Pilkada, tetapi terutama untuk merasakan romantika perjuangan seperti itu. Jadi mereka merasakan bagaimana caranya partai ini bisa bertahan. Partai-partai lain mengatakan ini PKS tahu bahwa mereka akan kalah dalam pilkada, tapi mereka tetap menyuruh kadernya untuk maju karena mereka sedang menguji daya tahan kader-kadernya sendiri. 


Ikhwah sekalian, apalagi ada lingkungan media, lingkungan hawa politik dan  juga hawa sosial, ada semacam tuntutan baru dari kalangan masyarakat ini. Karena telah bosan menyaksikan kegagalan para pemimpin transisi ini. Begitu kita menang di Jawa Barat, begitu kita menang di Sumatera Utara, mengapa tiba-tiba muncul isunya adalah pemimpin muda? Karena itu benar-benar adalah suara hati nurani masyarakat. Oleh karena itu ikhwah sekalian, panggilan hati nurani masyarakat inilah yang harus kita jawab sekarang. Dan menurut saya sepuluh tahun pembelajaran dan sepuluh tahun performance politik dalam tahun-tahun yang sulit ini, cukuplah bagi kita untuk mengambil kesimpulan bahwa PKS  lahir di tengah krisis, tumbuh di tengah krisis dan Insya Allah akan keluar sebagai pemimpin di tengah krisis.

Sindrom yang ketiga yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semuanya adalah kita sering kali berfikirjanganlah kita  terlalu terburu-buru memimpin negara. Nanti kejadian FIS di Al-jazair akan terjadi. Bagaimana nanti kalau kita gagal? Bagaimana nanti kalau kita diboikot oleh kekuasaan asing adidaya di dunia ini? Kita juga semua tahu bahwa untuk memimpin republik ini diperlukan empat hal. Dalam platform politik: yang pertama adalah bahwa kita diterima oleh kekuatan-kekuatan adidaya khususnya Amerika dan Eropa. Yang kedua kita diterima oleh kekuatan regional seperti China, Australia, dan Asia. Yang ketiga kita diterima oleh kekuatan-kekuatan politik lain di negeri kita sendiri. Dan yang keempat kalau kita punya solusi ekonomi. 

Tapi ikhwah sekalian, kemarin di Kalsel ada Bedah buku platform. Saya ditanya oleh salah seorang pegawai Bank Indonesia yang menjadi panelis dan mengkritik buku platform kita ini. Saya mengatakan kepada mereka bahwa kita dari sekarang ingin mengatakan kepada dunia. Bahwa mereka sama sekali tidak punya alasan menolak kehadiran Partai Keadilan Sejahtera. Itu sebabnya sejak tahun 2005 kita sudah memasukkan ini dalam poin keempat dalam visi PKS 2004-2009. Meningkatkan penerimaan internasional terhadap PKS. Dan Insya Allah ikhwah sekalian, alhamdulillah semua draft-draft ini sudah kita siapkan. Kita akan menunjukkan juga kepada dunia bahwasanya kita mampu bekerja sama dengan semua kekuatan-kekuatan dunia saat ini. Kita kemarin sudah kedatangan Partai Buruh dari Australia dan meminta untuk segera kita menandatangani MOU kita dengan mereka setelah kita datang ke sana pada tahun lalu. Dan Insya Allah ini akan kita lakukan pada tahap ketiga dari tahapan kerja TPPN. Kita juga sudah mendapatkan draft surat dan kita sudah jawab draft surat dari Partai Komunis Cina untuk menandatangani MOU dan kerjasama bersama. Kita sudah menyampaikan kepada mereka bahwa rombongan PKS, karena kita diundang tahun ini ke sana, akan datang ke Beijing Insya Allah pada bulan Oktober tahun ini.  Kita juga sudah mempunyai rencana kunjungan Insya Allah ke Turki. Semua akan kita tunjukkan bahwa sengaja kita ambil sample ini; Australia, Cina dan Turki. Semuanya bisa bersatu dan bekerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera.

Dan dengan begini ikhwah sekalian, kita belajar dari salah satu siasat Rasulullah Saw sebelum fathu makkah. Sebelum fathu makkah itu pada tahun ke-7 terjadi perang Mu’tah. Perang Mu’tah itu ikhwah sekalian, adalah perang yang terjadi antara tiga ribu pasukan kaum muslimin melawan dua ratus ribu pasukan romawi. Itulah pertempuran pertama jazirah arab dengan romawi. Empat orang komandan lapangan disitu syahid semuanya; Ja’far bin Abi thalib, Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah dan seterusnya. Kemudian tongkat komando diambil alih oleh Khalid bin Walid. Khalid bin walid berusaha menarik mundur pasukan ini. Begitu beliau kembali ke madinah, Khalid bin Walid dilempari batu oleh anak-anak madinah karena dianggap lari dari perang. Tapi Rasulullah disaat itu justeru memberi gelar kepada Khalid bin Walid, Syaifullah al-mashub (pedang Allah yang terhunus). Dan satu tahun kemudian terjadilah fathu makkah itu.  Itu adalah diplomasi, bahwa pada tahun ke tujuh itu jika kaum muslimin sudah berhasil melawan Romawi. Sebenarnya Rasulullah ingin menyampaikan pesan kepada Quraisy: lawan kami sekarang ini bukan lagi Quraisy tapi Romawi.  Dan secara perlahan-lahan ikhwah sekalian, kita mencoba membangun partai kita ini sebagai satu institusi politik yang mempunyai kualifikasi dan standard global, Insya Allah.  Dan karena antum memiliki semua kelayakan untuk memimpin negara kita di kemudian hari.

Ikhwah sekalian, sindrom-sindrom inilah yang harus kita hilangkan semua dari kepala kita semuanya. Dan jika sindrom ini kita hilangkan, mengertilah kita mengapa kita pula perlu menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran kita semuanya untuk menang dalam pemilu 2014 nanti.  Sekaligus pula kita perlu mengerti alasan yang mengharuskan kita menang. Bukan sekedar sebuah kebanggaan sejarah. Tetapi ini adalah suatu gerakan penyelamatan bangsa dan negara kita semuanya. Mudah-mudahan di tangan kita semuanya, di tangan-tangan yang setiap hari berwudlu ini. Di tangan-tangan yang setiap hari berwudlu dan mensucikan diri ini dan di depan / dihadapan wajah-wajah yang setiap hari bersujud ini. Insya Allah, Allah SWT membuka wajah Indonesia menjadi pusat peradaban dunia.

Sumber : beritaihima.com

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons