myspace graphic
_
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS.98:5)

Blogger news

~ ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ اطَهُوْرً ~

Senin, 23 Mei 2011

Logika Pesawat & Bekerja Untuk Indonesia


Barangkali bagi kita yang sangat familiar dunia penerbangan, sesekali pernah mengalami peristiwa ini –turbolance – yaitu situasi dimana pesawat memasuki daerah hampa udara, sehingga pesawat kehilangan daya mengambang lantas mendadak terjun bebas, dan sesungguhnya situasi ini merupakan sunnah qauniyah dalam dunia penerbangan.
Yang menarik untuk disimak bukanlah mengenai turbolance ini, melainkan  situasi didalam cabin, reaksi para penumpang  dan kru pesawat. Bagi mereka yang familiar dengan penerbangan tentu reaksinya berbeda dengan mereka yang baru mengenal penerbangan, mereka yang familiar akan tetap tenang sembari berdoa dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan dengan kenyakinan bahwa situasi ini tidak akan lama dan akhirnya pesawat, cepat atau lambat akan sampai juga pada bandara tujuan, tetapi bagi mereka yang tidak familiar tentu berbeda reaksinya, ada yang panik, ketakutan, marah kepada pilot karena menganggap pilat tidak becus, ada yang menginginkan pesawat balik belakang karena takut dengan realitas  dan bermacam reaksi lainya.  
Tetapi yang lebih menarik adalah reaksi dari para kru pesawat, betapapun bermacam reaksi passenger mereka tetap menjalankan pesawat lurus kedepan menuju titik ordinat yang dituju, betapaun banyaknya cacian, umpatan, bahkan keinginan – keinginan untuk membalikkan arah tujuan. Ini karena keyakinan mereka atas dasar pengalaman, pengetahuan serta kemampuan mereka.
Demikianlah analaogi akan perjalanan dakwah ini, yang belakangan sedang mengalami sedikit – turbolance- dengan banyaknya fitnah – fitnah yang menghampiri. Tetapi pemahaman yang harus terbangun dalam diri setiap kader dakwah bahwa sesungguhnya hal ini merupakan sunnatuddakwah, sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan Albanna ” bahwa sesungguhnya dakwah ini bukanlah jalan yang mudah, sesunggunya jalan ini adalah jalan yang sukar yang penuh dengan duri dan rintangan, dan waktu tempuhnya yang sangat panjang ”, sehingga kitapun mampu memberikan sikap terbaik kita pada situasi ini.

Pertama
Beristgfar (evaluasi) kepada Alloh, bisa jadi dalam amal kita selama ini ada orientasi – orientasi selain kepada Alloh, sehingga dengan ini Alloh ingatkan kita untuk senantiasa menjaga niat kita semata – mata hanya Lillahi ta’allahu. 

Kedua
Tetap tenang (berdoa), memasrahkan segalanya kepada Alloh, karena pada hakikatnya segala sesuatu milik Alloh.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar Rad :28)
Situasi apapun, aman atau bahaya, nyaman atau resah, hidup atau mati semuanya berada dalam kekuasaan Alloh, sehingga mampu menciptakan situasi yang kondusif.

Ketiga
Tetap fokus pada tujuan (terus bekerja).
Qiyadah telah menetapkan - titik ordinat - bagi kita yaitu 3 besar, maka tak ada pilihan bagi kita selain untuk terus bekerja, bekerja dan bekerja. Tak boleh ada kata untuk berbalik arah hanya karena adanya fitnah-fitnah. Ibarat situasi penerbangan diatas, bagaimanapun dahsyatnya turbolance yang menghadang pesawat akan tetap menuju ordinat landing-nya.

Keempat
Tetap menjaga ketsiqohan (kepercayaan) kepada qiyadah

Wallahu A’lam Bishowwab


Dikutip dari Taujih Ust.H. Hadi Mulyadi, M.Si – Ketua DPP Wilayah Dakwah Kalimantan pada acara pembukaan Mukerwil DPW PKS Kalimantan Timur.




Sabtu, 21 Mei 2011

Tentara Israel Tembaki Demonstran Gaza


KNRP - Pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah demonstran Palestina di Jalur Gaza yang dikepung. Mereka melukai beberapa demonstran anti-pendudukan.
Ratusan warga Palestina dan aktivis pro-Palestina melakukan pawai anti-Israel di dekat pagar perbatasan ketika penembakan brutal pasukan Israel itu terjadi.
Sedikitnya tiga demonstran terluka oleh tembakan itu dan banyak lainnya menderita gangguan pernafasan akibat gas air mata, demikian menurut seorang koresponden Press TV, Jumat (20/5).
Pawai itu sendiri dinamakan "Maret Kemarahan dan Kembali ke Palestina"sebagai bagian dari peringatan Nakba Day (Hari Malapetaka), yaitu menandai ulang tahun ke-63 pendudukan Israel atas Palestina.
Sebuah kelompok Facebook bernama " Intifadah Ketiga Palestina" sebelumnya meminta warga Palestina dan para aktivis di semua negara di sekitar tanah Palestina yang diduduki untuk bergabung dengan pawai protes setelah Shalat Jumat tersebut. Kelompk itu juga meminta kepala Otoritas Palestina Mahmoud Abbas untuk bergabung.
Pada hari Minggu lalu, ribuan warga Palestina berkumpul di Tepi Barat yang diduduki dan di Jalur Gaza serta di perbatasan Israel dengan Lebanon dan Suriah untuk menandai Hari Nakba.
Sedikitnya 10 orang tewas dan lebih dari 110 lainnya luka-luka setelah tentara Israel menembaki ribuan pengungsi Palestina yang menggelar pawai simbolik demi tanah air mereka di sisi perbatasan Lebanon.
Di Dataran Tinggi Golan Suriah, setidaknya 12 pengunjuk rasa tewas dan 30 lainnya luka-luka akibat timah panas militer Israel. Pasukan Israel juga menembak banyak orang Palestina sampai tewas dan terluka di Tepi Barat dan Gaza.
Pada tahun 1948, pasukan Israel menjadikansekitar 700.000 orang Palestina sebagai pengungsi dan memaksa mereka untuk mengungsi ke negara-negara tetangga yang berbeda. Israel juga menghapus hampir 500 desa Palestina dan kota-kota dari peta.(milyas/presstv)
 
 

Misteri Itu Sedikit Demi Sedikit Mulai Terkuak

 
Kasus suap yang menimpa mantan gubernur BI Miranda S Goeltom, yang menyeret beberapa politikus dari partai-partai besar. Kasus tersebut terus bergulir sampai sekarang dan melibatkan partai yang selama ini dikenal bersih dari hal-hal berbau korupsi tersebut yaitu PKS (Partai Keadilan Sejahtera), kenapa pasalnya? apa ada kader PKS yang menerima? check perjalanan tersebut yang dibagikan untuk meloloskan mantan deputi senior BI tersebut menjadi Gubernur BI. Jawabannya ternyata Tidak.
Tapi mengapa partai tersebut dikait-kaitkan? pasalnya Isteri salah seorang aleg PKS (Adang Darajatun) mempunyai peranan sebagai penghubung antara Miranda dan para anggota dewan yang menerima cek tersebut.
Dilihat dari kasat mata orang awampun, melihat kasus tersebut adalah kasus perseorangan bukan melibatkan institusi partai, tapi kenapa seolah-olah PKS sebagai institusi bermain dibelakangnya, kemungkinan karena kasus ini tidak ujung selesai atau terang benderang membuat masyarakat menjadi tidak sabar dan mengeluarkan teori tersendiri tanpa ada fakta yang mendasari cuma prasangka atau asumsi belaka. Apalagi sampai sekarang KPK belum mampu menghadirkan saksi kunci yang diduga sebagai perantara kasus suap tersebut yaitu Nunun Nurbaeti.
Kalau dilihat secara mudah, tanpa mau menggunakan daya nalar yang panjang, apalagi ditambah blow up media yang menggaris bawahi Nunun sebagai “istri” kader PKS, bukan sebagai pribadi sendiri. Logika tersebut 100% benar.
Apalagi ditambah “kicauan” dari “dalam” tubuh PKS sendiri yang seolah-olah semakin menguatkan “tesis” tersebut.

Dari Potongan berita tersebut menjadikan kita haqqul yakin, kalau PKS sengaja melindungi Nunun-sebagai balas budi kepada Adang Darajatun yang banyak berkontribusi pada partai.-yang terduga melakukan suap.
Meskipun penjelasan dari PKS yang mengatakan tidak akan melindungi seorang yang terlibat masalah hukum.
Tetapi tetap saja penjelasan tersebut tidak mampu menghindarkan masyarakat menghina, mencela, menghujat dan sampai ada yang menuntut membubarkan partai yang dulunya sangat getol berda’wah sekarang getol melindungi kegiatan tercela…. dan menganggap Partai da’wah ini sekarang tidak ada bedanya dengan partai-partai yang lain, yang haus kekuasaan, harta dan lain sebagainya.
Kalaupun masyarakat menganggap demikian itu juga tidak bisa disalahkan seratus persen, memang tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat berbeda-beda dan motif dibalik pemikirannya tersebut, dan mudah-mudahan orang-orang semacam itu tidak duduk dalam pembuat kebijakan atau terlibat dibidang hukum, tentu produknya atau hasil dari pemikirannya tidak akan bisa dipertanggungjawabkan.
Seharusnya bila logikanya demikian, ada penyuap ada yang disuap trus ada perantara tentunya perantara ini yang dicari hubungannya dengan penyuap atau yang disuap, bukan dicari “hubungan” ditempat tidur saja. Tentu tidak ada sangkut pautnya.
Misteri itu sedikit demi Sedikit mulai terkuak
Saya tiap pagi biasanya setelah sarapan nasi, terus sarapan koran kebetulan kantor sebelah toko saya, berlangganan Jawa Pos.
Saya melihat judul artikel (Jawa Pos edisi cetak 19 Mei 2011) yang menarik mata ini untuk melihatnya disitu tertulis “Nunun Anggota Tim Sukses Mega-Hasyim” dengan tagline “Tjahjo Kumolo Terpojok dalam Sidang Kasus Cek Perjalanan” dari judul tersebut akan bisa dilihat “hubungan” antara “penghubung” kasus suap tersebut, mengapa banyak kader PDIP terseret kasus tersebut.
Tidak puas dengan maroji’ dari Jawa Pos kemudian browsing di Internet terdapat judul-judul yang sedikit banyak sama. Dengan sidang tersebut jelaslah bahwa kedekatan hubungan Nunun Nuerbaeti kepada institusi PDIP -karena Nunun adalah kader PDIP- bukan dengan PKS. Semoga kasus ini segera terungkap siapa dibalik ini semua agar masyarakat dapat melihat dengan jelas, siapa yang terlibat didalamnya…., Apa masih menganggap PKS sama saja dengan partai yang lain?…. (bukan dari kader mata gelap/ISM)…..

Kamis, 19 Mei 2011

( Tidak selalu ) Salah Demokrasi



Oleh : akmal.multiply.com
Seseorang membagi-bagikan sebuah komik ringkas menarik dengan penuh semangat. Katanya, komik tersebut akan menjelaskan dengan sangat sederhana mengapa demokrasi telah merusak kehidupan kita dan niscaya akan membawa kita pada kehancuran. Sebuah kata-kata yang sangat kuat yang tidak mungkin bersumber selain dari keyakinan penuh. Tapi marilah kita simak ceritanya.
Alkisah, ada suatu percabangan rel kereta api. Cabang yang pertama adalah yang sudah lama tak digunakan lagi, sehingga tak ada kereta yang melewati jalur itu. Cabang kedua adalah jalur yang kini sering digunakan. Sudah barang tentu, jalur pertama adalah tempat yang aman bagi siapa pun, sedangkan jalur kedua harus dijaga baik-baik agar tidak ada jatuh korban.
Di dekat percabangan itu, ada dua kelompok anak yang sedang bermain dengan asyiknya. Kelompok pertama, yang hanya terdiri dari dua orang anak, bermain di jalur pertama, karena mereka memang tahu bahwa jalur tersebut aman untuk siapa pun. Kelompok kedua yang terdiri dari enam orang anak justru asyik bermain di jalur kedua. Dua anak di jalur pertama sudah memperingatkan kepada keenam temannya bahwa jalur itu berbahaya, tapi tidak mereka malah mengabaikan peringatan itu.
Tibalah waktunya kereta datang melintas. Anak-anak itu tidak menyadari kedatangan kereta, demikian juga sang masinis baru mengetahui keberadaan anak-anak itu setelah jaraknya terlalu dekat untuk melakukan pengereman. Karena terkejut, insting sang masinis langsung mengambil alih kerja tubuhnya. Ia ‘banting stir’ sehingga kereta berbelok ke jalur yang biasanya tak dipakai.
Akhir cerita tidak pernah dibahas dalam komik tersebut, mungkin karena terlalu menyedihkan. Bisa dibayangkan, kedua anak yang seharusnya aman bermain di jalur yang tak pernah lagi dilalui kereta kemudian menjadi korban mengenaskan karena insting sang masinis yang memindahkan kereta ke jalur yang lebih sepi demi mengurangi jumlah korban yang mungkin jatuh. Namun meski akhir cerita tak pernah tuntas diuraikan, ibrah pun ditarik: demokrasi, yang senantiasa mementingkan mayoritas, telah mengakibatkan jatuhnya korban tak bersalah.
Hanya karena anak-anak yang bermain di jalur kedua lebih banyak, sang masinis memilih untuk menggilas tanpa ampun dua anak di jalur pertama. Padahal, yang benar adalah yang di jalur pertama itu, karena mereka bermain di jalur yang tak terpakai lagi. Adapun keenam temannya itulah yang bersalah, karena bermain-main di jalur yang masih digunakan. Kisahnya semakin ironis jika kita ingat bahwa kedua anak di jalur pertama sebelumnya telah memperingatkan teman-temannya di jalur kedua tentang bahaya bermain di sana, namun pada akhirnya justru merekalah yang (mungkin) menjadi korban. Dengan analogi tersebut, ditariklah kesimpulan bahwa mementingkan pendapat mayoritas seringkali tidak membawa keselamatan, karena yang banyak belum tentu benar. Dalam iklim demokrasi, yang minoritas selalu ditindas, meskipun dalam banyak hal justru yang minoritas itulah yang benar. Beginilah akibatnya jika pengambilan keputusan tidak didahului dengan pembedaan antara yang benar dan yang salah, yang haq dan yang bathil, yang berdalil dan yang ngira-ngira, yang fakta dan yang mengarang bebas, dan seterusnya. Dalam demokrasi, mayoritas harus menang. Sebodoh apa pun mayoritas itu.
Baiklah, kita kesampingkan dahulu perdebatan apakah memang seorang masinis bisa membelokkan keretanya begitu saja tanpa bantuan pergeseran bagian apa pun dari rel tersebut. Anggaplah hal itu memang dimungkinkan.
Tinggalkanlah demokrasi yang memang dibenci setengah mati itu, dan mari bertanya sejenak pada alternatif yang hendak diajukan sebagai lawan dari demokrasi itu. Sebutlah ia syari’at Islam. Anggaplah Anda menjadi sang masinis, dan asumsikanlah bahwa Anda bisa membelokkannya di percabangan jalur tersebut. Bagaimanakah Anda harus menyikapi masalah di depan mata Anda, dari kaca mata syari’at Islam?
Dari sekian banyak orang yang menerima pertanyaan seperti ini, ternyata jawabannya hanya dua: diam seribu bahasa, atau memilih untuk banting stir, sebagaimana masinis dalam komik tersebut. Mereka yang memilih untuk banting stir pun ternyata menggunakan alasan yang sama persis seperti dalam cerita, yaitu karena ingin menghindari korban yang lebih banyak. Ada pula yang menambahkan suatu pertimbangan, yaitu bahwa jika kereta dibelokkan ke jalur pertama, diharapkan kedua anak di jalur itu sempat melompat ke sisi-sisi rel agar selamat. Adapun di jalur kedua, karena jumlah anaknya lebih banyak, maka lebih sulit bagi mereka untuk menghindar. Bayangkan saja enam orang anak lompat bersamaan tanpa diatur mesti loncat ke arah mana. Jalur pertama memberikan kemungkinan yang lebih baik daripada jalur kedua, baik dari ‘kaca mata demokrasi’ atau ‘kacamata syari’at’. Di sisi lain, ada yang malah melontarkan celaan kepada sang pembuat cerita, karena menurutnya cerita itu sama sekali tidak simpatik. Dengan mengambil contoh anak-anak, apakah sang penulis cerita hendak mengatakan bahwa enam orang anak yang bermain di jalur yang masih aktif tersebut pantas untuk mati terbunuh? Kalau kita tarik pada kasus-kasus lain, boleh pula kita mempertanyakan, pantaskah kita mengatakan bahwa anak-anak yang kabur dari rumah itu pantas dibiarkan hidup menggelandang, karena salah mereka sendiri? Pantaskah kita mengatakan bahwa anak-anak yang terlibat tawuran itu pantasnya mati saja, karena salah mereka sendiri? Adapun dari pihak yang hanya diam seribu bahasa tadi, maka diamnya itu adalah jawabannya.
Kita tidak perlu memperpanjang perdebatan tentang demokrasi ini, namun perlu memperhatikan sebuah gejala yang merebak di antara sebagian saudara kita, yaitu sikap ‘mudah menyalahkan demokrasi’. Setiap masalah muncul, yang bersalah selalu demokrasi. Jika ada yang tak beres di negara ini, yang salah adalah demokrasi. Jika pegawai kelurahan lambat, itu karena demokrasi. Jika urusan memperpanjang KTP jadi ribet, itu salah demokrasi. Jika kemiskinan merebak, itu salah demokrasi. Jika ada yang korupsi, itu karena demokrasi. Jika syari’at Islam ditolak melulu, itu salah demokrasi. Jika sampah dibuang tidak pada tempatnya, jangan-jangan juga karena demokrasi.
Seperti analogi kereta tadi, banyak yang menolak demokrasi namun gagal mengajukan alternatif yang lebih baik darinya. Parahnya lagi, kegagalan dirinya hendak ditutupi atau dilimpahkan kepada demokrasi. Ini adalah gejala yang sangat memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa tradisi ilmiah umat Islam telah begitu terpuruknya sehingga yang dicari hanya pelarian dan kambing hitam.
Dalam hal ini, perlu kita mendengarkan argumen yang diajukan oleh ust. Adian Husaini. Menurut beliau, tanpa perlu membenarkan seluruh konsep demokrasi yang dianut oleh masyarakat Barat, pada kenyataannya tidak semua keterpurukan umat Islam terjadi karena demokrasi. Justru keterpurukan itu diawali pada masa-masa di mana belum ada demokrasi di negeri-negeri Islam. Jika kita ingin menganalisis keterpurukan kita pada masa kini, maka kita seharusnya juga menelitinya secara makro sebelum menarik kesimpulan besar bahwa sumber permasalahannya adalah demokrasi.
Dalam iklim demokrasi saat ini, umat Islam nyaris tidak dilarang untuk melakukan apa pun. Mau mendirikan bank syariah diperbolehkan, jual-beli dinar dan dirham pun silakan. Mau bikin TK Islam, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam, pesantren, madrasah, atau perguruan tinggi Islam pun tidak dilarang. Pakai jilbab tidak dilarang (walaupun ada saja oknum-oknum dan instansi-instansi ‘nakal’ yang melarangnya), pakai sorban dan jubah pun tidak dilarang. Mau shalat tidak sulit, karena di mana-mana ada Masjid dan Mushola. Mau tilawah di rumah, di masjid, di kereta pun tak masalah. Mau membuat majalah, surat kabar, stasiun radio, stasiun televisi, lembaga amil zakat, ormas, parpol, tidak ada yang melarang.
Dengan kesempatan yang terbuka lebar seperti itu, apa masalah yang kita hadapi dalam dakwah? Ternyata masalahnya ada dalam diri kita sendiri. Kita boleh membuat rumah sakit Islam, tapi salah siapa kalau rumah sakit Islam kalah lengkap peralatannya dan kalah bagus pelayanannya dibanding rumah sakit Kristen? Kita bisa mendirikan sekolah-sekolah Islam, tapi salah siapa kalau sekolah-sekolah itu kalah bersaing dengan sekolah-sekolah negeri? Kita boleh membuat majalah dan surat kabar, tapi bagaimana kalau oplahnya jauh di bawah media-media massa sekuler? Umat Islam sudah punya stasiun-stasiun radio dan boleh mengusahakan stasiun televisi, tapi siapa yang salah kalau pengelolaannya kurang profesional? Orang boleh mengutuk sejuta topan badai karena film bermuatan pluralisme terus-menerus bermunculan, padahal umat Islam punya kesempatan seluas-luasnya untuk membuat film bermuatan Islam.
Janganlah memelihara mentalitas orang kalah yang hanya bisa menyalahkan keadaan tanpa pernah menaklukkan keadaan. Masih banyak yang perlu dibenahi di tubuh umat Islam, tanpa harus buru-buru menyalahkan sistem. Bolehlah berkhayal bahwa pemerintahan sekuler akan ambruk tanpa sebab yang jelas, kemudian hak memerintah diberikan kepada umat Islam, dengan para da’i sebagai kekuatan utamanya. Apakah umat Islam – khususnya para da’i – sudah mengerti cara mengelola sistem perbankan di seluruh negeri, atau membangun kurikulum yang sesuai untuk sekolah-sekolah di seluruh pelosok Indonesia, atau membuat sebuah sistem jaminan sosial untuk seluruh anak negeri, atau mendistribusikan pelayanan kesehatan secara merata, dan setumpuk permasalahan lainnya? Apakah kita sudah mampu menjawab tantangan-tantangan ‘mikro’ tersebut?

Rabu, 18 Mei 2011

Kultwit Jalan #Ilmu oleh @salimafillah


1. Jalan #Ilmu ialah langkah alih bentuk kekayaan; dari materi ke kualitas diri. Seperti Thalut, dipilih Allah sebab kapasitas fisik & ilmu.
2. Imam Ath Thabari ketika menafsir kata “Rabbani” di QS 3: 79 dalam Jami’ul Bayan ‘an Ayil Quran menyebut 5 kriteria, penempuh jalan #Ilmu.
3. Ke5nya: ‘Alim, Faqih, Bashirun bis Siyasah, Bashirun bit Tadbir, Al Qaim bi Syu’unir Ra’iyah li yushlihu Umura Dinihim wa Dunyahum. #Ilmu
4. Penempuh jalan #Ilmu adalah dia yang ‘Alim; sedang & terus berpengetahuan dengan pembelajaran tak kenal henti; mendalamkan & meluaskan.
5. Sang ‘Alim tak mendikotomi #Ilmu jadi duniawi-agamawi; semuanya ilmu Allah selama dikaji dengan asmaNya & diguna bagi kemaslahatan insan.
6. Kemunduran abad IV hijriah, telaah Al Ghazali, di antaranya tersebab saling ejeknya para ahli #Ilmu nan terdikotomi duniawi & agamawi.
7. Saat itu, mereka yang belajar #Ilmu fiqh merendahkan pembelajar matematika, astronomi, kedokteran, perdagangan, kimia, tata negara,dll.
8. Sebutan “Budak Dunia” dilekatkan. Sebaliknya, para ahli fiqh dihujat “Munafiq”: menjual #Ilmu agama tuk kepentingan dunia; harta & kuasa.
9. Ahli Fiqh, kata Al Ghazali, harus hargai #Ilmu lain; sebab urusan ibadah pun tak bisa lepas dari aneka pengetahuan di luar fiqh tersebut.
10. Bagi orang berpenyakit pencernaan misalnya, dokterlah yang akan jadi Mufti; apakah dia berpuasa Ramadhan atau tidak. Itu #Ilmu agamawi.
11. Demikian jua #Ilmu tekstil; ia sangat agamawi sebab terkait dengan sah-batalnya ibadah dalam tertutupnya aurat; jenis kain hingga model.
12. Pun #Ilmu politik, -Al Ghazali menyebut keengganan muslim berpolitik menyebabkan beberapa PM non muslim-, ia mulia asal akhlaq dijaga.
13. Jadilah ‘Alim; ketahui banyak tentang banyak hal, atau minimal spesialis berwawasan luas yang suka berbagi #Ilmu hingga jadi titik temu.
14. Sebab terobosan besar biasanya tak datang dari pendalaman rinci spesialisasi, melainkan titik temu berbagai #Ilmu yang terbuka & maju.
15. Sejalan dengan jadi ‘Alim, jadilah jua seorang Faqih. Jangan hanya menjadi perbendaharaan #Ilmu, fahami juga interaksi ilmu-realita.
16. Dalam umpama Asy Syafi’i, seorang ber #Ilmu tak cukup jadi Ahli Hadits, dia haruslah jua seorang Ahli Fiqh. Analoginya: Apoteker-Dokter
17. Ahli hadits & apoteker memahami #Ilmu segala bahan & racikan. Tapi otoritas beri ramuan & dosis pada ‘pasien’ ada di Ahli Fiqh & dokter.
18. Sebab ahli fiqh & dokter tak hanya berpegang #Ilmu bahan & racikan, melainkan juga mempertimbangkan kondisi fisik, organ, & metabolisme.
19. Maka mari menjadi Faqih; bagai Rahib khusyu’ di laboratorium & atmosfer #Ilmu, bagai singa tangkas & cermat menghadapi persoalan nyata.
20. Sifat Rabbani ke-3, urai Ath Thabari; Bashirun bis Siyasah, melek politik. Fahami agar tak terbudak, gunakan ia luaskan #Ilmu keshalihan
21. Sebab politik menyentuh sisi terluas kehidupan komunal, insan ber #Ilmu jangan sampai rabun sampai tak sadar disalahguna oleh kejahatan.
22. Sebab kuasa kejahatan dunia politik yang berhasil memperbudak ahli #Ilmu akan menebar kerusakan yang sulit ditanggulangi. Mari waspada.
23. Sisi lain, penempuh jalan #Ilmu harus punya Political Awareness demi tercapainya tahap demi tahap tujuan kuasa keshalihan nan melayani.
24. Syaikh Munir Al Ghadhban dalam Manhaj Haraki mencatat bahwa semua langkah dakwah Nabi juga bisa dipandang sebagai langkah politik. #Ilmu
25. Lihat secontoh; Hijrah ke Habasyah. Mengapa yang berhijrah justru Ja’far, Utsman, & para bangsawan; bukan Bilal dkk nan tertindas? #Ilmu
26. Sebab ada tujuan politik kebajikan. Pertama, mengguncang kuasa tribalistik Quraisy; Makkah merenung saat warga terhormatnya pergi. #Ilmu
27. Ke-2; mengeksiskan muhajirin. Andai yang pergi para budak, Duta Besar Quraisy akan mudah mendeportasi mereka dengan alasan ‘lari’. #Ilmu
28. Ke-3, menyiarkan kehadiran Islam pada dunia. Habasyah, subordinat Romawi nan istimewa, isu di sana menyebar ke seluruh kekaisaran. #Ilmu
29. Ke-4, Najasyi Habasyah dikenal adil & uskup-uskupnya berpengaruh. Interaksi muhajirin dengan mereka adalah pembelajaran berharga. #Ilmu
30. Demikianlah, ujar Al Ghadban, tiap langkah dakwah Nabi menunjukkan mendalamnya Political Awareness beliau; analisa maupun tindakan #Ilmu
31. Sifat Rabbani ke-4, catat Ath Thabari; Bashirun bit Tadbir; melek manajemen. Para ahli #Ilmu hendaknya memahami pengelolaan resources.
32. Bukan cuma soal perencanaan, penataan, pelaksanaan, & kendali; melainkan bagaimana mengelola hati dari sosok-sosok penuh potensi. #Ilmu
33. Lihat misalnya pemberdayaan SDM: “Yang terbaik dari kalian di masa jahiliah akan jadi nan terbaik dalam Islamnya, jika memahami.” #Ilmu
34. Mengutip Al Ghadban, kita bisa telaah diangkatnya ‘Amr ibn Al Ash sebagai panglima bawahi Abu Bakr & Umar begitu dia masuk Islam. #Ilmu
pesan sponsor:
Maafkan Shalih(in+at), KulTwit Jalan #Ilmu ini iramanya lambat, & kita lanjut besok insyaaLlah ya;) Selamat beristirahat diantar renungan ;)
35. Saking gembira & bangga dengan sambutan Nabi serta pengangkatannya sebagai panglima, ‘Amr bertanya, “Siapa yang paling kau cinta?” #Ilmu
36. Maksud hati menyangka dirinya, tapi Sang Nabi menjawab dalam senyum, “‘Aisyah”. “Maksudku yang laki-laki!”, desak ‘Amr. “Ayahnya!” #Ilmu
37. ‘Amr: Lalu siapa lagi? Nabi: Ayah Hafshah. ‘Amr: Sesudah itu? Nabi: Suami Ummu Kultsum. ‘Amr: Selanjutnya? Nabi: Suami Fathimah. #Ilmu
38. “Lalu kuhentikan tanya”, aku ‘Amr, “Sebab khawatir namaku disebut paling akhir.” Pemuliaannya dahsyat, tapi Nabi jujur dalam cinta #Ilmu
39. Maka berangkatlah ‘Amr bersama pasukannya, Ash Shiddiq & Al Faruq mengiring. Petang menjelang, mereka berkemah di cekungan gurun. #Ilmu
40. Saat beberapa memasak & hangatkan badan, mendadak ‘Amr memerintahkan untuk mematikan api. ‘Umar marah & bangkit, “Apa maksudmu?” #Ilmu
41. Abu Bakr menenangkan ‘Umar yang keberatan & nyaris tengkar dengan sang panglima. “Taatilah Ulil Amri nan diangkat Nabi saudaraku!” #Ilmu
42. Setelah itu, ‘Amr memerintahkan untuk tak bicara & tak bergerak. Lalu terdengarlah derap ratusan kuda & teriakan perang membahana. #Ilmu
43. Sadarlah semua bahwa mereka dipimpin panglima yang lihai membaca tanda alam & kehadiran musuh; ‘Amr ibn Al ‘Ash. ‘Umar minta maaf. #Ilmu
44. Esok pagi, mereka sampai di tempat yang diarahkan Nabi. ‘Amr menyuruh pasukan berhenti & minta izin untuk masuk kota seorang diri. #Ilmu
45. “Jika sampai Dhuhr tiba aku belum kembali”, ujar ‘Amr, “Serbu masuk di bawah pimpinan Abu Bakr!”, pesannya. ‘Umar memprotes lagi. #Ilmu
46. “Semua juga berhak atas jihad, bukan hanya kau sendiri! Semua harus ditanggung bersama!”, kecam ‘Umar. Abu Bakr menenangkan lagi. #Ilmu
47. Belum berakhir waktu Dhuha, ‘Amr sudah kembali pada pasukannya disertai pemimpin kaum itu. Semua warga kini berislam tanpa syarat. #Ilmu
48. Semua kini tahu, Nabi pilihkan mereka panglima yang lisannya lebih tajam dari seribu pedang; ‘Amr ibn Al ‘Ash. ‘Umar memeluknya.#Ilmu
49. Nabi hargai potensi besar macam ‘Amr -juga Khalid- diiringi penginsyafan bahwa mereka harus berjuang lebih keras tuk cinta Ilahi. #Ilmu
50. Para pionir Islam ada di hati & cintanya. Tokoh hebat yang bergabung belakangan merasakan penghargaan, kesempatan bakti, & nasehat #Ilmu
51. Ketika ‘Abdurrahman ibn ‘Auf menentang kebrutalan Khalid lalu Khalid mengkasarinya, Nabi menegur Khalid dengan kalimat dahsyat. #Ilmu
52. Jangan pernah kau cela sahabatku hai Khalid. Demi Allah, andai kau infak emas segunung Uhud, takkan bisa samai segenggam kurmanya! #Ilmu
53. Apa Khalid bukan sahabat? Ya sahabat. Tapi 8 bln nan penuh kemenangan itu jadi mungil disandingkan 20 th luka & duka ‘Abdurrahman. #Ilmu
54. Uhud; kata itu menusuk nurani Khalid. Di sana ‘Abdurahman jadikan tubuhnya perisai lindungi Nabi saat Khalid berusaha bunuh beliau #Ilmu
55. Infaq; segenggam kurma ‘Abdurrahman tak tertandingi emas sepenuh gunung. Tapi memangnya pernah ‘Abdurrahman infaq cuma segenggam? #Ilmu
56. Sekali ajakan Nabi, ‘Abdurrahman bisa mengeluarkan 40.000 dinar (x @ Rp. 1,67 Jt), kadang jua 1000 unta beserta seluruh muatannya. #Ilmu
57. Bagaimana mungkin Khalid -apa lagi kita- bisa mengejarnya? Sejak saat itu, Khalid yang semula ganas & angkuh jadi lebih terkendali #Ilmu
58. Kisah tentang ‘Amr & Khalid adalah cerita melek manajemen tercontoh dari Sang Nabi untuk kita teladani sebagai penempuh jalan#Ilmu.
59. Kembali ke Ath Thabari, sifat ke-5 penempuh jalan #IlmuRabbani ialah Al Qaim bisy Syu’unir Ra’iyah liyushlihu Umura Dinihim wa Dunyahum
60. Artinya; terlibat aktif tegakkan urusan-urusan kerakyatan tuk memperbaiki perkara agama maupun dunia mereka. Ahli #Ilmuharus berjuang.
61. Asas utama langgengnya nilai & tatanan -baik kebaikan maupun kejahatan- adalah kebermanfaatan nan dirasakan kaum luas. (QS 13: 17) #Ilmu
62. Sebab kejahatan sering tersamarkan oleh keberhasilan yang diraihnya, ahli #Ilmu harus tak sekedar sukses, melainkan jua bermanfaat luas.
63. Keterlibatan ahli #Ilmu dalam pengentasan kemiskinan & distribusi sumberdaya jadi jaminan kesehatan & pendidikan; memuliakan keduanya.
64. Ahli #Ilmu semacam itu pasti menjadi inspirasi; GURU: di-GUgu (ditaati) & di-tiRU (diteladani). Ilmu jadikan amal shalihnya tumpah ruah.
65. Seperti Nabi; tak hanya membaca ayat & mensuci jiwa. Dia kenalkan Allah lewat kerja kebajikan; bebaskan budak, santuni fakir-yatim #Ilmu
66. Pun dalam tindasan, itu terus dilakukan; hingga kelak ketika menggenggam kuasa dengan jemari cinta, tak lagi gagap jamakkan karya. #Ilmu
67. Jalan #Ilmu yang berat ini dengan kelima kualitas nan dituntutkan via Tafsir Ath Thabari, harus dimulai dengan 6 modal ala Asy Syafi’i.
68. Ke-6 modal manusia pembelajar yang dinisbat pada Asy Syafi’i itu; Dzaka’, Hirsh, Ijtihad, Dirham, Shahibul Ustadz, & Thuuluz Zaman #Ilmu
69. Modal ke-1 pembelajar di Jalan #Ilmu adalah dzaka’: cerdas. Bukan sembarang cerdas, tapi kecerdasan yang dekat dengan zaka’. (kesucian)
70. Daya hafal, ketajaman telaah, & ketepatan simpulan berkait dengan kebersihan jasad dari barang haram & kesucian batin dari dosa. #Ilmu
71. Sebait terkenal dari Asy Syafi’i: Kuadukan pada Waki’ buruknya hafalan #Ilmu-ku, maka dinasehatinya aku tuk tinggalkan maksiat kelabu..
72. …Sesungguhnya #Ilmu Allah adalah gemerlap cahaya. Dan cahaya Allah takkan diberikan pada pendosa pendurhaka. -> (Waki’ adalah gurunya)

Serial Kajian Kitab Imam Mawardi (2) : Taujih Siyasi Untuk Para Raja dan Pemimpin

Karya: Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi (w. 450 H)
Oleh: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc
Bidang Pembinaan Kader DPP-PKS

Petuah_03
اِعْلَمْ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَطْبُوْعٌ عَلَى أَخْلَاقٍ قَلَّ مَا حُمِدَ جَمِيعُهَا أَوْ ذُمَّ سَائِرُهَا، وَإِنَّمَا الْغَالِبُ أَنَّ بَعْضَهَا مَحْمُودٌ وَبَعْضُهَا مَذْمُوْمٌ.
Ketahuilah bahwasanya manusia memiliki watak untuk berakhlaq yang jarang sekali dipuji seluruhnya atau dicela kesemuanya, umumnya, sebagian terpuji dan sebagian tercela.
قَالَ الشَّاعِر :
Seorang penyair (Ar-Raghib Al-Ishfahani) berkata:
(وَمَا هَذِه الْأَخْلَاقُ إِلَّا طَبَائِعُ … فَمِنْهُنَّ مَحْمُودٌ وَمِنْهَا مُذَمَّمُ)
Akhlaq ini tiada lain adalah kumpulan watak
Sebagiannya terpuji dan sebagiannya lagi tercela

وَلَيْسَ يُمْكِنُ صَلَاحُ مَذْمُوْمِهَا بِالتَّسْلِيمِ إِلَى الطَّبِيْعَةِ وَالتَّفْوِيْضِ إِلَى النَّحِيْزَةِ، إِلَّا أَنْ يَرْتَاضَ لَهَا رِيَاضَةَ تَأْدِيْبٍ وَتَدْرِيْجٍ، فَيَسْتَقِيْمُ لَهُ الْجَمِيْعُ، بَعْضُهَا خُلُقٌ مَطْبُوْعٌ، وَبَعْضُهَا تَخَلُّقٌ مَسْمُوْعٌ، لِأَنَّ الْخُلُقَ طَبْعٌ وَتَكَلُّفٌ
Untuk perbaikan akhlaq yang tercela tidak dapat diserahkan kepada watak dan pasrah kepada bawaan. Namun, perbaikannya dapat dilakukan dengan pelatihan dan pembiasaan melalui pengajaran dan sedikit demi sedikit, sehingga seluruh akhlaq tadi bisa menjadi baik, baik akhlaq yang bawaan, maupun akhlaq hasil bentukan, sebab akhlaq itu bawaan dan pemaksaan.
قَالَ الشَّاعِرُ :
Seorang penyair berkata:
(يَا أَيَُّهَا الْمُتَحَلِّيْ غَيْرَ شِيْمَتِهِ … وَمَنْ سَجِيَّتُهُ الْإِكْثَارُ وَالْمَلَقُ)
(عَلَيْكَ بِالْقَصْدِ فِيْمَا أَنْتَ فَاعِلُهُ … إِِنَّ التَّخَلُّقَ يَأْتِيْ دُوْنَهُ الْخُلُقُ)
Wahai seorang yang memiliki akhlaq yang tidak semestinya…
Dan yang tabiatnya memperbanyak kesalahan dan menjilat
Bersikap tengahlah dalam apa yang kamu lakukan …
Sebab dari upaya pembentukan akhlaq itulah terbentuk suatu akhlaq

وَشَرِيْفُ الْأَفْعَالِ لَا يتَصَرَّفُ فِيْهِ إِلَّا شَرِِيْفُ الْأَخْلَاقِ، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ طَبْعُا أَوْ تَطَبُّعًا، وَقَدْ نَبَّهَ اللهُ تَعَالَى عَلَى ذَلِكَ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِِيْمِ بِقَوْلِهِ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَإنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ} [القلم : ] لِأَنَّ النُّبُوَّةَ لَمَّا كَانَتْ أَشْرَفَ مَنَازِِلِ الْخَلْقِ نَدَبَ إِلَيْهَا مِنْ أَكْمَلِ فَضَائِل الْأَخْلَاقِ
Dan perbuatan-perbuatan mulia tidak ada yang melakukannya kecuali seseorang yang mulia akhlaqnya, baik karena itu sudah menjadi wataknya maupun karena hasil bentukan.
Dan Allah SWT telah mengingatkan tentang hal ini dalam kitab-Nya yang mulia melalui firman-Nya kepada nabi-Nya: “Dan sesungguhnya engkau – wahai Muhammad SAW – benar-benar berada dalam akhlaq yang agung”. Sebab, dikarenakan kedudukan kenabian merupakan kedudukan manusia tertinggi, maka Allah SWT mendorongnya untuk memiliki akhlaq yang paling sempurna kemuliaannya
ULASAN:
Ada beberapa hal yang dapat saya garis bawahi dari petuah Imam Mawardi ini, yaitu:
1. Akhlaq manusia pada umumnya, dan pemimpin, termasuk di dalamnya adalah para politisi, pada khususnya, belumlah memiliki akhlaq yang seluruhnya terpuji, masih banyak akhlaq dan perilakunya yang tidak terpuji. Hal ini tidak mengapa, yang terpenting adalah, kemauannya untuk berubah dari berakhlaq tidak terpuji menuju akhlaq terpuji.
Artinya, seorang pemimpin, termasuk di dalamnya adalah politisi, mestilah tetap dan terus menerus melanjutkan tarbiyah dirinya, baik melalui orang lain (murabbi) atau pun melalui tarbiyah dzatiyyah, tarbiyah secara mandiri.
2. Perubahan akhlaq seorang pemimpin (tarbiyah), termasuk di dalamnya para politisi, dilakukan dengan pendekatan:
a. Riyadhah, yaitu pelatihan terus menerus, yang terkadang terasa berat dan melelahkan, untuk terus menerus menempa dan memperbaiki dirinya.
b. Ta’dib, yaitu upaya-upaya untuk meluruskan hal-hal atau sifat-sifat yang belum lurus pada dirinya, agar menjadi lurus, meskipun untuk hal ini, ia peru melakukan bentuk-bentuk ‘iqab atau hukuman terhadap diri sendiri, agar diri yang cenderung bengkok ini menjadi beradab dan lurus.
c. Tadrij, semua upaya perbaikan dan tarbiyah diri sendiri itu hendaklah dilakukan secara gradual atau berangsur-angsur, jangan dipaksakan berubah dalam sekejap.
3. Ada beberapa kosa kata yang oleh Imam Mawardi diberi tekanan khusus dalam petuah ini, yaitu:
a. Takhalluq, maksudnya adalah bahwa pembentukan akhlaq memang diperlukan latihan, dan perlu diulang-ulang, sehingga akhlaq yang diinginkannya tersebut terbentuk atau jadi.
b. Takalluf, maksudnya adalah pembentukan akhlaq terbentuk bila perlu dipaksa-paksakan.
c. Tathabbu’, begitu juga dengan pembentukan watak, diperlukan waktu, tempo dan latihan berulang-ulang.
4. Yang diharapkan muncul dari seorang pemimpin, termasuk politisi adalah perbuatan-perbuatan mulia (syarif al-af’al). namun, perbuatan-perbuatan mulia ini tidak muncul kecuali dari mereka-mereka yang memiliki akhlaq mulia (syarif al-akhlaq).
Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin, termasuk di dalamnya politisi, selalu berusaha memperbaiki akhlaqnya agar akhlaq yang dimilikinya semakin mulia.

Menata Ruhiyah Demi Dakwah


Oleh : Ustad Salman, MA

Umar bin Khattab pernah meneteskan air matanya ketika melihat keadaan seorang ibu yang pada malam itu (ketika Khalifah Umar sedang mengadakan inspeksi malam hendak melihat kondisi sebenarnya masyarakat yang dipimpinnya) pura-pura memasak untuk menenangkan anak-anaknya yang terus menangis menahan lapar. Padahal dalam kuali tersebut hanyalah berisi batu. Menyaksikan hal demikian, sang khalifah langsung menuju gudang (sejenis bulog) mengambil sekarung gandum. Masya Allah, dengan tangan dan pundaknya sendiri, beliau membawa sekarung gandum tersebut untuk diberikan kepada sang ibu tadi.

Makna ruhiyah
Dalam kamus dikemukakan, bahwa ruhiyah berasal dari kata ruh yang mendapatkan ya’ nisbah menjadi ruhi, yang memiliki arti ruhani (spiritual) yang merupakan lawan dari kata maadi atau materi. Kata ruhiyah sering kali diidentikkan dengan nuansa hati yang penuh terisi dengan nilai-nilai keimanan, sehingga merasakan adanya ketentraman dan kesejukan jiwa yang memotivasi untuk beramal dalam mencari ridho Allah. Sehingga pengaruh dari adanya ruhiyah dalam diri seseorang teraplikasi pada peningkatan aktivitas ibadah dan da’wah, dalam berbagai bentuknya

Barangkali kita pernah mendapati ada kader dakwah yang cukup handal dalam pengetahuan dan wawasan keislamannya namun minus dalam aspek ruhiyah. Pengetahuan dan wawasan keislamannya hanya mampu memberinya petunjuk tentang sebuah pemecahan persoalan dan kebenaran tetapi ia tidak mampu menghayati persoalan dan kebenaran tersebut. Seorang yang minus aspek ruhiyah seperti itu akan tampak kuat dalam pengembangan penalaran dan intelektualitas, namun “kering” dalam penjiwaan nuansa-nuansa sentuhan religius.  Ia hanya memiliki kekayaan warna pemikiran, namun miskin dalam emosionalitas keagamaan yang mampu memberi warna dalam pribadinya. Ketajaman analisis berpikir yang dimilikinya tidak diikuti dengan kecemerlangan hubungannya dengan Allah Swt dan ketinggiannya dalam akhlak.


Urgensi tarbiyah ruhiyah
Ruhiyah (ma’nawiyah) adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah Swt di surat Asy-Syams : 7-10 “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat merugi orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” . Dan dalam surat Al Hadid ayat 16: “Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab di dalamnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ”. Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal shaleh dan dia juga memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai problematika kehidupan.

Indikasi ruhiyah yang kuat
Indikasi bahwa seseorang memiliki aspek ruhiyah yang kuat, diantaranya:
1.Adanya sikap ketergantungan yang sangat tinggi terhadap Allah Swt. Ia menjadikan Allah Swt sebagai satu-satunya tujuan dalam segala hal yang dibarengi dengan kegigihan dan kesungguhannya dalam mengerjakan sebuah aktivitas.
2.Ia berupaya keras untuk selalu mengisi kehidupannya dengan kebajikan dan perbuatan yang bermanfaat. Ia juga berupaya meninggalkan keburukan dan hal-hal yang tidak berguna.
3.Ia gemar menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Perangainya sangat terjaga dan merupakan cerminan dari akhlak karimah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
4.Seseorang yang mampu memberi makna terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hubungan dirinya dengan Tuhannya dan segala kekuasaan yang dimiliki-Nya.
5.Ia akan merasakan keberadaan Tuhan dalam berbagai peristiwa yang terjadi dan fakta-fakta yang disaksikannya.

Urgensi ruhiyah
Betapa penting aspek ruhiyah bagi seorang kader dakwah. Ia mampu menjaga dari rasa frustasi dan putus asa ketika seseorang mengalami kekecewaan dan kegagalan,  menjaga dari kegembiraan yang berlebihan dan rasa takabur apabila mengalami keberhasilan, kebahagiaan dan kemenangan,  membentengi diri dari rasa malas berkelanjutan dalam beraktivitas dakwah dan  memberikan semangat keberanian dengan mengharap perlindungan dan pertolongan kepada Allah Swt.

Ia akan mengobati hati seorang kader dakwah dari “sakitnya” dan menuntunnya dari gelap gulita kepada terang-benderang,  memberikan kesabaran dan keteguhan untuk tetap istiqomah dalam berda’wah,  memberikan optimisme dan harapan terhadap masa depan dakwah,   membangkitkan semangat berkorban yang tinggi yang diiringi dengan keyakinan kuat bahwa Allah Swt akan memberikan balasan yang lebih baik lagi.

Ia akan menggerakkan seorang kader dakwah untuk menyerap segala pertolongan dan kekuatan dari Allah Swt melalui segenap perilaku dan keutamaan ibadah-ibadahnya,   mengundang datangnya petunjuk dan bimbingan dari Allah Swt  melalui kesungguhan memohon penjelasan dalam melangkah di jalan da’wah,  membangkitkan simpati dari obyek dakwah bahkan dari musuh dakwah karena keutamaan perangai dan perilakunya dan  mendatangkan segala bantuan dan kelebihan bagi seorang kader dakwah dalam menjalani dunia dakwahnya.

Apabila organisasi gerakan dakwah terdiri dari individu-individu yang kuat dalam aspek ruhiyahnya dan dijadikannya aspek ruhiyah itu sebagai salah satu hal yang diperhatikan, maka oraginsasi ini akan memiliki kelebihan dan keunggulan dalam menjalani gerakan dakwahnya. Tidak sedikit pertolongan dan bantuan Allah Swt  akan diberikan kepada organisasi tersebut dalam mencapai keberhasilan dan kemenangannya. Inilah peran penting aspek ruhiyah bagi sebuah organisasi gerakan dakwah dan para aktifis dakwah.

Tarbiyah ruhiyah
Agar terbentuk aspek ruhiyah yang kuat pada seorang kader dakwah, maka diperlukan pembinaan ruhiyah (tarbiyah ruhiyah) secara berkesinambungan. Karena itu organisasi gerakan dakwah harus memiliki program pembinaan ruhiyah bagi para kadernya. Pembinaan ruhiyah ini dapat dilakukan melalui penyampaian materi-materi yang mengantarkan kepada pemahaman tentang Allah Swt beserta segala sifat dan kekuasaan-Nya, penjelasan tentang kehidupan akhirat, janji-janji dan ancaman Allah kepada manusia dan sebagainya.
Pemberian pemahaman harus diiringi dengan pembiasaan praktek-praktek ibadah (mulai dari yang fardhu sampai dengan ibadah-ibadah sunnah yang utama), membiasakan untuk introspeksi diri (muhasabah), pengenalan kekuasaan Allah Swt  pada alam semesta secara langsung dan lainnya yang bersifat praktis. Juga jangan dilupakan tentang penanaman akhlak karimah dengan segala keutamaannya.

Jika ingin mencapai kelebihan dan keberhasilan, pembinaan ruhiyah tidak boleh diabaikan oleh gerakan dakwah. Sekalipun pembinaan ruhiyah bukanlah satu-satunya pembinaan yang harus dilakukan, namun pengabaian terhadap pembinaan ruhiyah akan berakibat kepada tidak utuhnya sebuah gerakan dakwah. Agar diperoleh pribadi-pribadi muslim paripurna sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt dan Rasul-Nya, maka pembinaan ruhiyah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan secara berkesinambungan.

Namun perlu diingat bahwa untuk mencapai aspek ruhiyah yang kuat pada seseorang bukanlah pekerjaan yang mudah dan waktu yang singkat. Gerakan dakwah harus bersungguh-sungguh, penuh kesabaran yang berkelanjutan dalam melakukan pembinaan ruhiyah terhadap kader-kadernya. Jerih payah ini suatu saat nanti akan menampakkan hasil.


Ruhiyah qabla dakwah
Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang dilakukannya. Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas kejayaan hidup seseorang, begitu juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang menyatakan, “Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”. Ungkapan ini merupakan “iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.

Dalam kontek dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus sentiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimum, boleh jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga ruhiyahnya yang sedang ”kering”.
Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”. (Al-Hajj: 77-78)
Menurut susunannya, ayat di atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala kepentingan; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan menerapkan dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah agar kita meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan, lebih-lebih lagi urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).

Tentang pentingnya ruhiyah dalam dakwah dapat difahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok:
1.kelompok yang pertama dari awal surah hingga ayat 19 yang berisi arahan kewajiban shalat malam, tilawah, zikir, tabattul, sabar dan tawakkal.
2.kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamullail menjadi sunnah mu’akkadah yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20.
Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamullail layaknya shalat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelum segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan shalat malam yang merupakan inti dari aktifitas memperkuat ruhiyah. Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.

Pada tataran aplikasinya, kestabilan ruhiyah harus diuji dengan dua ujian sekaligus yaitu ujian nikmat dan ujian cobaan atau musibah. Karena boleh jadi seseorang mampu mempertahankan ruhiyahnya dalam keadaan susah dan banyak mengalami ujian dan cobaan, namun saat dalam keadaan lapang dan senang, mudah saja ia lengah dan lupa dengan tugas utamanya. Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khwatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khwatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga binasa karenanya”. (H.R Bukhari dan Muslim). Maka seorang mukmin yang kualitas ruhiyahnya baik adalah yang mampu mempertahankannya dalam dua keadaan sekaligus. Demikianlah yang pernah Rasulullah Saw isyaratkan dalam sabdanya, “Sungguh mempesona keadaan orang beriman itu, jika ia mendapat anugerah nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya. Namun jika ia ditimpa musibah ia bersabar dan itu juga baik baginya. Sikap sedemikian ini tidak akan muncul kecuali dari seorang mukmin”. (H.R Bukhari)

Dalam konteks ini, contoh yang sempurna adalah Muhammad saw. Beliau mampu memelihara kestabilan ruhiyahnya dalam keadaan apapun, dalam keadaan suka dan duka, senang dan sukar, ringan dan berat. Justru, semakin besar nikmat yang diterima seseorang, semestinya semakin bertambah rasa syukurnya. Semakin besar rasa syukurnya, maka akan semakin tinggi kekuatan dakwahnya. Begitu seterusnya sehingga wajar jika Rasulullah tampil sebagai abdan syakuran. Karena memang demikian jaminan Allah Swt, “Barang siapa yang bersyukur, maka pada hakikatnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya” (Luqman: 12). Orang yang bersyukur akan memperoleh hasil syukurnya yaitu kenikmatan ruhiyah yang ditandai dengan hidup menjadi lebih bahagia, tenteram dan sejahtera. Karena bersyukur hakikatnya adalah untuk dirinya sendiri.

Dan ternyata kejayaan dakwah Rasulullah Saw yang diteruskan oleh para sahabatnya sangat ditentukan –selain dari pertolongan Allah- dengan kekuatan ruhiyahnya. Selain dari qiyamullail yang menjadi amalan rutin sepanjang masa, cahaya Al-Qur’an juga sentiasa menyinari hatinya. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar-ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”. (Asy-Syu’ara’: 192-194). Demikian persiapan Muhammad sebelum menjadi rasul yang akan memberi peringatan yang merupakan tugas yang berat dan mengandung risiko adalah dengan dibekali Al-Qur’an yang akan sentiasa mengarahkan hatinya.

Dalam hal ini, Yusuf Al-Qardawi pernah menyatakan dengan tegas rahasia kekuatan Al-Qur’an, “Al-Qur’an adalah kekuatan Rabbani yang akan menghidupkan hati dan fikiran”. Al-Qur’an akan sentiasa memancarkan kekuatan Allah yang akan kembali menghidupkan hati dan fikiran yang sedang dirundung duka dan kemaksiatan. Kekuatan nabi Muhammad sendiri ada pada kekuatan hatinya yang senantiasa dibantu dengan cahaya Al-Qur’an. Dan demikian seharusnya, kekuatan dakwah seseorang ditentukan oleh kekuatan ruhiyahnya, bukan dengan lainnya.

Pada masa yang sama, agar ruhiyah tetap stabil terpelihara, maka harus dijaga dengan banyak beramal, meskipun hanya sedikit. Karena amal yang terbaik menurut Rasulullah Saw adalah amal yang berkesinambungan, “Sebaik-baik amal adalah yang berkesinambungan meskipun sedikit demi sedikit”. (H.R Tirmidzi). Dalam konteks ini, inkonsistensi ruhiyah pernah ditegur oleh Rasulullah Saw, “Janganlah kamu seperti si fulan; dahulu ia rajin qiyamul lail, kemudian ia tinggalkan”.

Penguatan aspek ruhiyah sebelum yang lainnya pada hakikatnya merupakan bentuk kewaspadaan seorang mukmin di hadapan musuh besarnya yaitu syaitan yang seringkali bekerja sama dengan manusia untuk melancarkan serangannya dan merealisasikan misinya. Tepat ungkapan Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: “Syaitan akan sentiasa mengintai dan mencari titik lemah manusia”. Dengan licik dan komit, syaitan sentiasa mengincar kelemahan manusia tanpa henti, karena ia tahu bahwa setiap manusia memiliki kelemahan dan oleh karenanya manusia diperintahkan untuk berlindung hanya kepada Allah dengan memperkuat aspek ruhiyahnya.

Jadi aspek ruhiyah selalu menjadi potensi andalan para pemimpin dakwah yang telah menoreh tinta emas dalam sejarah dakwah ini. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dalam kualitas  ruhiyah dan amalnya. “Ruhbanun bil Lail wa Fursanun bin Nahar”. Bisa jadi kelemahan dan kelesuan dakwah memang berpangkal dari kelemahan dan kelesuan ruhiyah. Saatnya para da’i menyadari kepentingan ruhiyah sebelum amal dakwah dengan memberi perhatian yang besar tentang aspek ini dalam pembinaan. Demikianlah memang dakwah mengajar kita melalui generasi terbaiknya.

Kiat membina ruhiyah
Ada beberapa kiat dalam rangka melatih kekuatan ruhiyah dalam diri kita.
Pertama, tajarrud ‘anid dunya. Mulai saat ini, pandangan hidup kita terhadap materi keduniaan harus diubah secara total. Bahwa materi keduniaan (harta benda dan kedudukan/jabatan) hanyalah alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan akhir. Sehingga kita tidak menghalalkan segala cara untuk memenuhi setiap keinginan.
Kedua, senantiasa menjaga diri agar tetap berada di jalan kebenaran yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya serta waspada terhadap godaan-godaan menggiurkan yang dapat memalingkan dari jalan-Nya.
Ketiga, memerangi syetan dengan segala tipu dayanya. Imam Al-Ghazali menempatkan syetan sebagai musuh utama manusia dalam beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Syetan akan selalu menggoda manusia dengan berbagai tipu dayanya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar senantiasa berlindung dari godaan syetan yang terkutuk.
Keempat, membiasakan diri bangun di tengah malam mengerjakan shalat malam dan berpuasa pada siang harinya.
Kelima, meningkatkan muhasabah, muraqabah, mu’aqabah dan mujahadah dalam rangka meningkatkan ketaqwaan.
Keenam, sering bergaul dengan masyarakat –terutama masyarakat bawah– sehingga dengan sendirinya dapat merasakan penderitaan mereka. Dan berusaha dengan sekuat tenaga turut meringankan beban yang mereka alami. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

pksaceh.net

Senin, 16 Mei 2011

Satu Jus Satu Hari...


Oleh Salman Syarifudin, MA

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash, ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Bacalah Al-Qur’an dan khatamkan dalam sebulan.”

Aku berkata, ”Aku masih kuat untuk lebih cepat.”

Beliau bersabda, ”Bacalah dan khatamkan dalam sepuluh hari.”

Aku berkata lagi, “Tetapi aku masih kuat untuk membaca lebih cepat.”

Beliau bersabda, “Bacalah dan khatamkan dalam tujuh hari dan jangan lebih cepat dari itu.”

Pada riwayat lain (dari hadits riwayat Abu Daud) disebutkan ketika Abdullah bin Amru berkata, “Sesungguhnya aku bisa lebih kuat dari itu” maka Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah olehmu pada tiga hari”…

Dialog antara Abdullah bin Amru bin ‘ash dengan Rasulullah Saw diatas bisa kita ambil beberapa pelajaran tarbawi, diantaranya:

1. Rasulullah Saw mengajarkan Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk khatam Al-Qur’an 1 bulan sekali. Jika ingin lebih cepat, tidak kurang dari 3 hari.

2. Adanya suasana berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala yang melimpah ruah melalui ibadah tilawah Al-Qur’an.

3. Abdullah bin Amru bin Ash memilih ‘azimah bukan rukhshah.

4. Dialog diatas menunjukkan antusias sahabat dalam interaksi dengan Al-Qur’an.

5. Lingkungan Qur’ani memotivasi seseorang untuk berkompetisi dalam ibadah.

Membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan dan terus menerus merupakan bukti keimanan terhadap Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al-Kitab, mereka membacanya dengan sebaik-baik bacaan. Merekalah orang-orang yang beriman kepadanya. Maka barangsiapa yang berpaling maka merekalah orang yang merugi.( Q.S.2.121)

Ikhwah fillah. Mari kita renungkan ungkapan Imam Syahid Hasan al-Banna tentang kewajiban seorang “al-akh”:

Usahakan agar anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz/hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari.

Al-Qur’an bekal utama tarbiyah

Keislaman kita hendaknya mampu membentuk komitmen dalam tilawah, lebih dari sekedar membaca, melainkan memahami, mentadabburi, menghafal, mendakwahkan dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Menjaga intensitas ta’abbud kepada Allah sehingga menjadi sebuah proses pembekalan yang berkesinambungan. Bagaimana jika proses perbekalan (tazwid) ini tertinggal selama sepekan, dua pekan, atau bahkan lebih?

Tarbiyah adalah proses perjalanan madal hayah (sepanjang hayat dikandung badan). Membina diri dengan Al-Qur-an dan berbekal dengannya adalah suatu keniscayaan, karena sumber kebenaran itu ada pada Al-Qur-an. Apalagi jika kita berkomitmen untuk menegakkan islam di bumi Allah ini, maka hendaknya kita menjadi batu-bata yang kokoh dalam bangunan islam dengan tilawah Al-Qur’an.

Jika tarbiyah qur`aniyah kita telah matang, kita pasti akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi surat Al-Baqarah berbeda dengan Ali-Imran. Begitu pula dengan surat-surat yang lainnya. Boleh jadi ketika seseorang sedang membaca surat An-Nisa, ia merindukan surat Al-Ma`idah. Itulah suasana tarbiyah yang belum kita rasakan dan harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Sungguh, Al Qur-an adalah sarana tarbiyah terbaik bagi diri dan kehidupan kita, sarana membina diri, karena di dalamnya ketika lembar demi lembar kita buka dan kita baca sekaligus kita maknai, maka kita akan merasakan suatu keunikan tersendiri dari Al Qur-an.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah.

Mengapa 1 juz perhari

a. Menyikapi apa yang disabdakan Rasulullah saw, “Bacalah Al Qur-an dalam satu bulan!”

b. Tilawah satu juz perhari merupakan mentalitas `ubudiyah, disiplin, dan akan menambah tsaqofah

c. Jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Al-Baqarah. Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan Al-Qur’an, berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari Al-Qur’an.

Faktor-faktor tidak mampu khatam Al-Qur’an

1. Mengalokasikan waktu untuk baca koran, akses internet, nonton tv tetapi untuk tilawah Al-Qur’an hanya waktu yang tersisa.

2. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca Al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada Al-Qur’an.

3. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca Al-Qur’an.

4. Tidak memiliki waktu wajib bersama Al-Qur’an dan tidak terbiasa membaca Al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah Al-Qur’an.

5. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah Al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.

6. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah Al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”

7. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan Al-Qur’an. Padahal menghidupkan majelis-majelis Al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah Saw agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kiat mujahadah dalam tilawah satu juz

1. Berusahalah melancarkan tilawah jika anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan akses internet.

2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca.

3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan. Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.

4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki Al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.

5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah.

Kesibukan dan alokasi waktu membaca

Diantara kendala utama yang sering dijadikan alasan tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur’an adalah alasan sibuk. Beberapa kegagalan utama biasanya karena tidak adanya kedisiplinan dalam membaca. Bagimanapun juga, alokasi waktu untuk membaca Al-Qur’an harus direncanakan dalam keseharian kita. Beberapa cara agar kita dapat disiplin dalam mengalokasikan waktu:

1. Melatih diri dengan bertahap untuk misalnya dapat tilawah satu juz dalam satu hari. Caranya, misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan setengah juz, baik pada waktu pagi ataupun petang hari. Jika sudah dapat memenuhi target, diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali membaca.

2. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an yang tidak dapat diganggu gugat  (kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat penting). Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya setiap hari. Waktu yang terbaik adalah pada malam hari dan ba’da subuh.

3. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita. Lebih baik lagi jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil, yang meringankan lisan kita untuk melantunkannya. Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan ketika membacanya.

4. Memberikan iqab (hukuman) secara pribadi, jika tidak dapat memenuhi target membaca Al-Qur’an. Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal surat tertentu, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kondisi pribadi kita.

5. Memberikan motivasi dalam lingkungan keluarga jika ada salah seorang anggota keluarganya yang mengkhatamkan Al-Qur’an, dengan bertasyakuran atau dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al-Qur’an, jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya,petunjuk dan rahmat bagi kami.

Ya Allah, ingatkanlah apa yg kami lupa dari padanya, berikanlah kami ilmu apa yg belum kami ketahui mengenainya, anugerahkanlah kepada kami untuk membacanya di tengah malam dan penghujung siang, jadikanlah ia sebagai hujjah bagi kami wahai Tuhan sekalian alam. Aamiin..

pks-arabsaudi.org

Minggu, 15 Mei 2011

Puasa Itu Memang Untuk Orang Yang Beriman

 “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa“. (Al-Baqarah: 183)
Ramadhan adalah ” الشهر كله “, bulan segala kebaikan: bulan ampunan, bulan tarbiyah (pembinaan), bulan dzikir dan doa, bulan Al-Qur’an, bulan kesabaran, bulan dakwah dan jihad. Masih banyak lagi makna-makna lain bulan Ramadhan yang memberikan tambahan kebaikan dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan dunia dan akhirat kaum beriman.
Seluruh kebaikan dan keutamaan itu, dalam bahasa Rasulullah, diistilahkan dengan ‘syahrun mubarak‘. Ini seperti yang tersebut dalam sebuah haditsnya, “Akan datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan mubarak. Allah mewajibkan di dalamnya berpuasa. Pada bulan itu dibukakan untuk kalian pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, setan-setan dibelenggu, serta pada salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Barangsiapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikan di bulan itu, maka ia telah terhalang selamanya.” (Ahmad dan Nasa’i)
Mubarak dalam konteks Ramadhan artinya ‘ziyadatul khairat‘, bertambahnya pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi para pemburu kebaikan dan semakin sempitnya ruang dan peluang dosa dan kemaksiatan di sepanjang bulan tersebut. Sungguh satu kesempatan yang tiada duanya dalam setahun perjalanan kehidupan manusia.
Ayat di atas yang mengawali pembicaraan tentang puasa Ramadhan jika dicermati secara redaksional mengisyaratkan beberapa hal, di antaranya:  
pertama, hanya ayat puasa yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’. Sungguh bukti kedekatan dan sentuhan Allah terhadap hambaNya yang beriman dengan mewajibkan mereka berpuasa, tentu tidak lain adalah untuk meningkatkan derajat mereka menuju pribadi yang bertakwa ‘La’allakum tattaqun‘.
Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’, “Jika kalian mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘hai orang-orang yang beriman‘, maka perhatikanlah dengan seksama; karena setelah seruan itu tidak lain adalah sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang.” Keduanya, perintah dan larangan, diperuntukkan untuk kebaikan orang-orang yang beriman. Memang hanya orang yang beriman yang mampu berpuasa dengan baik dan benar.
Kedua, bentuk perintah puasa dalam ayat di atas merupakan bentuk perintah tidak langsung dengan redaksi yang pasif: ‘telah diwajibkan atas kalian berpuasa‘. Berbeda dengan perintah ibadah yang lainnya yang menggunakan perintah langsung, misalnya shalat dan zakat: ‘Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat‘. Demikian juga haji: ‘Dan sempurnakanlah haji dan umrah kalian karena Allah‘. Redaksi sedemikian ini memang untuk menguji sensitifitas orang-orang yang beriman bahwa bentuk perintah apapun dan dengan redaksi bagaimanapun pada prinsipnya merupakan sebuah perintah yang harus dijalankan dengan penuh rasa ‘iman‘ tanpa ada bantahan sedikitpun, kecuali pada tataran teknis aplikasinya.
Ketiga, motivasi utama dalam menjalankan perintah beribadah dari Allah sesungguhnya adalah atas dasar iman -lihat yang kalimat ‘Hai orang-orang yang beriman‘– bukan karena besar dan banyaknya pahala yang disediakan. Sebab, pahala itu rahasia dan hak prerogatif Allah yang tentunya sesuai dengan tingkat kesukaran dan kepayahan ibadah tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Pahala itu ditentukan oleh tingkat kesukaran dan kepayahan seseorang menjalankan ibadah tersebut.”
Dalam konteks ini, hadits yang seharusnya memotivasi orang yang beriman dalam berpuasa yang paling tinggi adalah karena balasan ampunan ‘maghfirah‘ yang disediakan oleh Allah swt. Bukan balasan yang sifatnya rinci seperti yang terjadi pada hadits-hadits lemah atau palsu seputar puasa, karena tidak ada yang lebih tinggi dari ampunan Allah baik dalam konteks shiyam (puasa) maupun qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda tentang shiyam, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (Muttafaqun Alaih). Dengan redaksi yang sama, Rasulullah bersabda juga tentang qiyam di bulan Ramadhan, “Barangsiapa yang shalat malam (qiyam) di bulan Ramadhan karena iman dan semata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun Alaih). Demikian juga doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah di bulan puasa adalah “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” Ampunan Allahlah yang menjadi kunci dan syarat utama seseorang dimasukkan ke dalam surga.
Yang juga menarik untuk ditadabburi adalah ibadah puasa merupakan ibadah kolektif para umat terdahulu sebelum Islam; ‘sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian‘. Hal ini menunjukkan bahwa secara historis, puasa merupakan sarana peningkatan kualitas iman seseorang di hadapan Allah yang telah berlangsung sekian lama dalam seluruh ajaran agama samawi-Nya. Puasalah yang telah mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan sisi kebaikan umat terdahulu yang kemudian dikekalkan syariat ini bagi umat akhir zaman. Prof. Mutawalli Sya’rawi menyimpulkan bahwa syariat puasa telah lama menjadi ‘rukun ta’abbudi‘ pondasi penghambaan kepada Allah dan merupakan instrumen utama dalam pembinaan umat terdahulu. Dalam bahasa Rasulullah saw. seperti termaktub dalam haditsnya, “Puasa adalah benteng. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa pada hari tersebut, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahat. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan (dengan sadar): ‘Aku sedang berpuasa’.” (Bukhari Muslim)
Ungkapan ‘agar kalian menjadi orang yang bertakwa‘ pada petikan terakhir ayat pertama dari ayat puasa merupakan harapan sekaligus jaminan Allah bagi ‘orang-orang yang beriman‘ dalam seluruh aspek dan dimensinya secara totalitas. Sebab, mereka akan beralih meningkat menuju level berikutnya, yaitu pribadi yang muttaqin yang tiada balasan lain bagi mereka melainkan surga Allah tanpa ‘syarat‘ karena mereka telah berhasil melalui ujian-ujian perintah dan larangan ketika mereka berada pada level mukmin. Allah swt. berfirman tentang orang-orang yang bertakwa, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam surga dan kenikmatan.” (Ath-Thur: 17). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di taman-taman surga dan di mata air-mata air.” (Adz-Dzariyat: 15). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air.” (Ad-Dukhan: 51-52)
Itulah hakikat kewajiban puasa yang tersebut pada ayat pertama dari ayatush shiyam: perintah puasa adalah ditujukan untuk orang yang beriman. Berpuasa hanya akan mampu dijalankan dengan baik dan benar oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Motivasi menjalankan amaliah Ramadhan juga karena iman. Orang-orang beriman yang sukses akan diangkat oleh Allah menuju derajat yang paling tinggi di hadapan-Nya, yaitu muttaqin. Semoga kita termasuk yang akan mendapatkan predikat muttaqin setelah sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban.

Dr.Attabiq Lutfi, MA

Dakwatuna

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons