myspace graphic
_
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS.98:5)

Blogger news

~ ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ اطَهُوْرً ~

Rabu, 17 Agustus 2011

Kemerdekaan RI: Anugerah Allah Melalui Jihad Pahlawan dan Pejuang Islam



Oleh: Wildan Hasan
Peminat Pemikiran Islam, tinggal di Lemah Abang Cikarang

“Kalaulah suatu penduduk Negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya kami akan membuka kan berkah buat mereka dari langit dan dari bumi…” (Al-A’raf 96)

66 tahun yang lalu Indonesia memerdekakan diri pada hari Jum’at, hari paling mulia dalam Islam, bertepatan pada bulan Ramadhan, bulan paling mulia dalam Islam. Tak diragukan lagi, sangat jelas artinya bahwa kemerdekaan adalah anugerah dari Allah SWT. Demikianlah, maka disebut dalam muqaddimah UUD 1945 bahwa atas berkat rahmat Allah telah sampailah Indonesia kepada gerbang kemerdekaan.

Dua bulan kemudian setelah Agustus, setiap tanggal 10 November rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. 10 November sebuah tanggal yang monumental buah perjuangan arek-arek Suroboyo di bawah pimpinan pejuang besar kemerdekaan, Bung Tomo.

Namun naas, karena sejarah milik penguasa. Nasib Bung Tomo tiada ubahnya bak pesakitan dan pengkhianat bangsa. Ia di penjara oleh rezim yang berkuasa. Namun bagaimana pun juga, akhir sejarah, Allahlah yang menentukan. Bung Karno terkena tulah dari ucapannya yang terkenal "Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya." Ia terjungkal dari kekuasaan dengan cara yang mengenaskan dan jadi pesakitan yang sebenarnya, karena ulahnya yang tidak mampu menghargai jasa para pejuang. Hal yang sama terjadi kepada penggantinya, Soeharto.

Bung Tomo yang setiap pidatonya dalam membakar semangat jihad rakyat Indonesia melawan penjajah kafir selalu diawali dan diakhiri dengan Takbir, Jum'at 7 November 2008 akhirnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional bersama Dr Mohammad Natsir dan KH Abdul Halim. Ketiga Mujahid pejuang kemerdekaan ini –seandainya masih hidup– mungkin akan bergumam "ah, malu aku. Hanya seperti inikah kemampuan pelanjutku dalam menghargai perjuangan yang berdarah-darah itu?" Bukan berarti mereka mengharapkan penghargaan. Terlintas di pikiran pun tentunya tidak.

Dr. Mohammad Natsir adalah seorang ulama besar yang diakui dunia, dai, pendidik dan politisi ulung yang mempersatukan negara-negara boneka buatan kolonial Belanda dengan mosi yang terkenal, Mosi Integral Natsir, menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Mosi yang disebut-sebut sebagai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang kedua setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Akhirnya Pak Natsir, demikian biasa disapa, dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia . Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet yang berbeda masa Soekarno. Di mana menurut pengakuan Bung Hatta, Bung Karno tidak pernah mau menandatangani surat-surat pemerintah jika tidak disusun dan dibaca dulu oleh Pak Natsir.

Sedangkan KH Abdul Halim adalah ulama karismatik asal Majalengka Jawa Barat –penulis sendiri lahir dan besar di kota yang sama, merasakan karisma beliau yang begitu kuat pada masyarakat setempat– melahirkan banyak para pejuang kemerdekaan dengan metode pendidikannya yang khas.

Lalu apa pentingnya gelar Pahlawan Nasional bagi Bung Tomo, Pak Natsir dan KH Abdul Halim? Buat mereka bertiga tentu sangat tidak penting. Karena mereka adalah pahlawan sejati, yang berjuang ikhlas hanya berharap pahala dari Allah SWT (pahala-wan). Karena faktor keikhlasan itulah setelah kemerdekaan diraih; para kyai, ulama dan santri itu kembali melanjutkan amal mereka di sawah, ladang, pesantren dan lain-lain. Sementara pemerintahan akhirnya diisi oleh mereka yang tidak ikut berjuang atau ikut berjuang tapi tidak cinta Islam.

Para pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan aqidah dan memperjuangkan agama Allah di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak akidah, umat Islam bangkit melawan. Jelas benar bahwa pejuang kemerdekaan seluruhnya adalah kaum muslimin tidak yang lain. Hanya umat Islamlah yang memerdekakan negeri ini dari penjajahan. Karena buat kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Mereka sangat menyadari bahwa akan tetap hidup di sisi Allah sekalipun syahid di medan perang. Allah SWT berfirman,

“Laa tahsabanna ladziina qutiluu fii sabiilillahi amwaatan bal ahyaaun ‘inda Robbihim yurzaquun…” (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki…)

Maka tidak lain dan tidak bukan, Islamlah yang memerdekakan Negeri ini, karena seluruh pejuang kemerdekaan beragama Islam. Menurut penelitian Guru Besar Ilmu Sejarah UNPAD, Dr Ahmad Mansur Suryanegara, tokoh pejuang kemerdekaan asal wilayah timur Nusantara, Thomas Mattulesy ternyata seorang muslim yang bernama Muhammad atau Ahmad Lesy. Kenapa demikian, karena wilayah timur Indonesia dari dulu sampai saat ini komposisi muslim dan non-muslim seimbang bahkan pada awalnya hanya ada Islam. Tidak benar jika dikatakan bahwa wilayah timur mayoritas non muslim. Bahkan Islamlah yang pertama kali menapakkan kaki di wilayah tersebut.

Dalam buku Neiuw Guinea karangan WC Klein tertulis fakta bahwa Islam masuk Papua pada 1569. Barulah pada 5 Februari 1855, dua misionaris Kristen mendarat di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua. Ternyata menurut buku Penduduk Irian Barat(hal 105) sebagian besar tentara dan orang Belanda yang ditempatkan di Papua adalah rohaniawan Gereja (misionaris Katolik dan Zending Protestan).

…Hal ini semakin menambah bukti bahwa Kristen disebarkan melalui jalan penjajahan dan pertumpahan darah…

Hal ini semakin menambah bukti bahwa Kristen disebarkan melalui jalan penjajahan dan pertumpahan darah. Sementara itu Kata ‘Maluku’ diambil dari bahasa Arab muluk (Raja-Raja), wilayah Maluku saat ini dan Papua awalnya dikuasai dan diperintah oleh para Raja Islam (Sultan) sebelum akhirnya datang misionaris-misionaris Kristen yang mempertahankan adat dan tradisi jahiliyyah di wilayah tersebut. Sehingga upacara-upacara kemusyrikan dan pakaian yang tidak syar’i dipertahankan dengan dalih pelestarian budaya. Tragisnya, ternyata hal itu dilanjutkan secara legal oleh pemerintah kita hingga detik ini.

Padahal, menurut para dai yang bertugas di sana, termasuk Ustadz Fadhlan Garamatan, seorang Da’i putra asli daerah, warga Papua sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap mantap dalam pembodohan struktural terhadap rakyatnya tersebut. Ustadz Fadhlan menggambarkan betapa warga pedalaman Papua begitu senang bisa mandi menggunakan sabun sebelum mereka disyahadatkan. Sebelumnya mereka mandi dengan melumuri badannya dengan minyak babi atas petunjuk para misionaris Kristen.

...Warga Papua sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap pada pembodohan struktural terhadap rakyatnya...

Raja Sisinga Mangaraja juga adalah muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja adalah penganut agama leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri.

Konsekuensinya umat-umat yang lain khususnya umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Umat Kristiani tidak mungkin akan bangkit berjuang melawan penjajah. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi sementara agama yang dianutnya dengan agama para penjajahnya sama? Akankah mereka akan membunuh saudara seimannya? Lebih-lebih kita tahu Kristen disebarkan melalui penjajahan. Menurut keterangan Ahmad Mansur Suryanegara, orang Kristen pada waktu itu, bukan lagi tidak punya andil dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan mereka membantu kaum penjajah!”(hal tersebut beliau sampaikan langsung kepada penulis, saat penulis panel bersama beliau dalam Studium General Milad Pemuda Muhammadiyah ke-99 di Subang 22 November 2008). Bagi yang mengerti sejarah hal ini adalah fakta yang teramat jelas. Jadi sungguh mengherankan ketika mereka menuntut lebih. Bahkan sedikitpun sebenarnya mereka tidak berhak, ketika faktanya mereka tidak punya saham apapun dalam perjuangan kemerdekaan.

...umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka tidak mungkin bangkit berjuang melawan penjajah dan membunuh saudara seimannya...

Katakan dulu di BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, tercantum nama Maramis dan Latuharhary dua orang perwakilan umat Kristiani. Namun sungguh keberadaan dua orang tersebut faktanya masih buram. Jika benar mereka ada (bukan fiktif), apakah mereka tidak malu mengaku-ngaku tapi tidak ikut memperjuangkan kemerdekaan, atau menurut beberapa sumber mereka sengaja mendompleng ataudidomplengkan oleh Soekarno agar terlihat bahwa umat Kristiani juga punya peran dalam kemerdekaan Republik ini. Selain mereka juga termasuk yang habis-habisan menolak Piagam Jakarta. Hingga saat ini, umat Kristiani senantiasa menolak habis-habisan bila ada perundang-undangan yang mengatur ibadah dan muamalah umat Islam. Aneh, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu, sehingga engkau mengikuti millah mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Begitu besarnya peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dalam bukunya ‘Menemukan Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan beberapa data di antaranya:

1. Pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis (Nationalism and revolution Indonesia) bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjamaah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya.

…Pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara...

2. Bahwa pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara, anggotanya beragam dan terbuka. Sementara Budi Utomo; menolak persatuan Indonesia, memakai bahasa Jawa dan Belanda dalam pergaulannya, bersikap ekslusif di luar pergerakan Nasional dan keanggotaannya hanya untuk kalangan Priyayi (Bangsawan/ningrat) saja.

3. Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari Taman Siswa (1922). Muhammadiyah sudah memakai bahasa Melayu sementara Taman Siswa berbahasa Jawa dan Belanda. Hal paling mengerikan adalah pendiri Taman Siswa Ki Hajar Dewantara ternyata sangat membenci Islam.

4. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dipelopori oleh para pemuda Islam atas prakarsa para ulama dalam rapat Nasional PSII di Kediri pada 27-30 September 1928. Dan masih banyak lagi-lagi fakta-fakta lain yang belum terungkap.

Pada hakikatnya dan seharusnya negeri ini adalah negeri Islam. Karena salah satu sumber hukum positif di negeri ini adalah Syariat Islam. Dicantumkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai menjiwai UUD 1945 oleh Soekarno menjadi dasar sahih keharusan negeri ini diatur oleh syari’at Islam selain faktor historis yang sudah dikemukakan di atas. Maka sebelumnya, saat ini dan seterusnya seluruh produk perundang-undangan yang lahir harus mengandung nilai-nilai syariat.

…Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari Taman Siswa (1922)…

Dengan dasar tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan yang menggugat perda-perda bernuansa Syariah. Termasuk UU Pornografi yang juga sebenarnya belum murni syariah. Tanpa malu-malu mereka mengancam akan berpisah dari NKRI, seolah-olah NKRI membutuhkan mereka. Sesungguhnya, mereka harus berpisah diri-diri mereka saja dari bumi Indonesia, karena wilayah timur atau wilayah manapun di negeri ini adalah milik umat Islam.

Negeri ini lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas Berkat Rahmat Allah SWT. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas Berkat Rahmat Allah SWT….” Karena jika tidak atas Berkat Rahmat Allah SWT tidak mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata modern penjajah kafir.

Para muarrikhin (sejarawan) mengatakan “sejarah milik penguasa”. Perjuangan seorang Mohammad Natsir dan kawan-kawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempersatukan Indonesia dalam NKRI banyak tidak diketahui oleh para pewarisnya (rakyat Indonesia), karena Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara sementara para penguasa tidak menginginkannya.

Sebagian besar dari kita atau anak-anak kita di sekolah tidak mengenal sosok para mujahid tersebut. Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional maka sudah menjadi keharusan materi sejarah diluruskan di buku-buku sejarah anak-anak kita. Hal yang sebenarnya paling ditakuti oleh penguasa. Di mana pemikiran dan perjuangan sosok-sosok itu akan dibaca yang kemudian membangkitkan ruh jihad di dada-dada generasi Islam. Sehingga gelar pahlawan yang secara otomatis pengakuan konstitusional itu, senantiasa diulur-ulur.

Mereka khawatir jika setiap kali keluar dari kelas, para siswa akan memekikkan takbir Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar !!!

voa-islam.com

Senin, 15 Agustus 2011

Tak Perlu Menjadi Yang Paling Tinggi



Sungguh diri ini malu kepada sosok-sosok rendah hati yang ikhlas bekerja tanpa berharap ada balasan bagi mereka. Mereka tidak peduli pada akhirnya akan mendapat apa. Yang mereka pedulikan adalah bagaimana diri mereka bisa berjuang bersama kawan-kawan tercinta, menghadapi masalah dan bergerak menghidupkan dakwah ini.

Merekalah sosok yang tidak pernah berhenti, walaupun beratus masalah datang menghampiri. Merekalah sosok yang tidak akan mengeluh walaupun seribu kegagalan tak juga terlampaui. Merekalah sosok yang tidak mengenal kata putus asa, walau cacimaki dan cemoohan datang menghantui.

Merekalah sosok yang tidak pernah meminta amanah, walaupun amanah itu terlihat sangat menggiurkan. Karena mereka tahu bahwa amanah itu amat berat dan harus dipertanggung-jawabkan. Sangat berat! Sampai-sampai langit, bumi, dan gunung-gunung enggan memikul amanah itu karena khawatir akan mengkhianatinya.

Namun, mereka adalah sosok ksatria yang ketika diberi amanah, tidak akan menerimanya kecuali dengan lapang dada. Ini adalah wujud ketaatan mereka kepada Allah, Rasulullah, dan para pemimpin. Sehingga tidak keluar dari mulut mereka ketika amanah datang, kecuali sami’na wa atho’na. Kami mendengar dan kami taat!

Ada kalanya juga mereka memperoleh bagian sebagai seorang bawahan. Dibebani berbagai macam amanah, dituntut kerja ikhlas, serta diberi arahan terkait kerja yang jelas-jelas sudah mereka pahami. Coba kita tanya pendapat mereka tentang hal itu. “Kenapa kamu mau menerima amanah itu? Pemimpinmu lho bisanya cuma menyuruh!”

Mereka pun tersenyum. Mereka berpikir sejenak, lalu membuka mulut. “Akhi, ada kalanya seorang pemimpin itu membutuhkan pendamping. Siapa lagi kalau bukan kita, yang akan mendampingi para pemimpin menggapai puncak kejayaannya?” Ah, mereka juga ingin melibatkan kita! Maukah kita, untuk sekedar menjadi bawahan? Jundi!?

Kita pun bertanya kepada mereka, “Apa yang bisa kudapatkan?”

Mereka menjawab, “Bukan jabatan, bukan harta, bukan wanita, bukan pula popularitas. Sesungguhnya balasan dari sisi Allah lah yang terbaik.”

Barangkali kita tidak puas kawan. Karena mungkin yang kita inginkan ada pada deretan terdepan dari yang mereka sebutkan. Padahal sungguh, andai kita dengan cerdas memilih yang terakhir, maka mudah bagi-Nya untuk memberi kita yang lebih baik daripada itu. Itupun kalau kita mau! Kalau tidak mau, jangan harap mereka mau berhenti demi kita. Karena tanpa kita, dakwah ini tetap akan diperjuangkan. Dan tentunya DIMENANGKAN!

Atau, kita perlu memanggil mereka lagi? Dan bertanya, apa yang harus kita perbuat dalam menapaki jalan perjuangan ini sebagai seorang jundi!? Setujukah?

“Ya akhi..” Itu sapaan hangat mereka! Sebelum kita bertanya tampaknya mereka sudah paham dengan maksud kita. Ah, bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda “Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin. Sesungguhnya dia melihat dengan nur Allah.”!

“Ya akhi..apakah engkau pikir menjadi seorang bawahan adalah pekerjaan yang tidak mulia?” Mereka bertanya, dan kita menjawab. “Mungkin!”

Padahal, sesungguhnya hati kita berkata, “iya!”

“Ya akhi..apakah engkau merasa kalau seorang raja atau pemimpin adalah orang yang memberi kemanfaatan paling banyak bagi rakyatnya?” Mereka bertanya, dan kita menjawab. “Mungkin!”

Padahal, sesungguhnya hati kita berkata, “iya!”

“Ya akhi..kuharap apa-apa yang engkau pikirkan berubah.” Mereka begitu ingin mengajak kita kepada jalan perjuangan ini. Mata mereka menyiratkan itu. Tapi dengan apa kita bisa yakin!?

“Tahukah engkau, ya akhi.. Permainan catur, memuat hikmah bagi kita. Sangat akrab, tetapi sering tidak kita sadari. Barangkali engkau bersedia menunjukkan bidak mana yang paling menjadi andalan di setiap permainan?”

Pertanyaan mudah. Bidak mana lagi yang paling menjadi andalan selain queen!? Setiap orang yang pernah bermain catur pasti tahu itu.

“Ya akhi… untuk berkontribusi, tak perlu menjadi yang paling tinggi. Cukuplah menjadi yang paling berdaya. Seperti QUEEN. Dia bukan raja, sehingga bisa bebas berkelana. Dia bukan raja, sehingga bebas menunjukkan kontribusinya. Namun dia pendamping raja, meraih kejayaan adalah sebagian besar tanggung jawabnya!”

Lalu, siapkah kita menjadi seperti dirinya?

sumber : fimadani.com

Menunda Kebaikan



Setiap jiwa akan sangat paham, bahwa kebaikan adalah modal utama menuju sebuah kenikmatan hidup. Dengannya kita memperoleh kedamaian duniawi dan terjauh dari kegalauan hari. Kebaikan juga menumbuhkan harapan yang berarti menambah rasa betah hidup didunia walaupun kadang kala keadaan tak selalunya enak. Tapi bagi sebagian orang, kepahaman itu tak sejalan dengan perealisasian dari sikap mereka. Tuntutan kebaikan yang ingin didapatkannya, tidak diwujudkan kecuali hanya dengan sedikit sikap. Beberapa contoh dibawah ini adalah sikap yang sering kali akrab atau kita akrabi yang sayangnya Hal inilah yang akhirnya menghambat jalan kebaikan itu untuk cepat mendatangi dan memulyakan kita.

Malas berarti menunda percepatan sukses atas keberhasilan hidup kita. Seperti halnya sebuah kesuksesan yang butuh sebuah proses, pengkreasian sebuah kegagalan pun membutuhkan proses. Dan proses tercepat untuk mencapainya adalah dengan berlaku malas. Tanpa usaha apapun, dengan malas orang sudah cukup dinilai sebagai lemah. Dengan malas, orang sudah cukup berusaha maksimal untuk merendahkan diri mereka sendiri dihadapan orang lain dan pada jiwa mereka sendiri.

Marah adalah menunda proses kelembutan melingkupi hati dan jiwa kita. Marah menjauhkan rahmat kasih sayang sesama atas kita. apakah marah itu dilarang? Rasa marah itu tidak bisa dihapus dari seorang manusia, karena Allah yang mengilhamkannya kepada kita. Tapi kemudian Yang tidak disukai oleh Allah adalah ketika kita memutuskan bahwa rasa marah itu kemudian yang mengkerdilkan hidup dan kualitas diri kita dan orang lain disekitar kita. Hal itu dengan kata lain adalah semakin merentangkan jarak kita dengan buah kesuksesan.

Ketidaksabaran menunda perbaikan diri dan masa depan kita. Banyak orang merasa telah berdoa tapi banyak diantara mereka juga memaki tuhan atas ketidaksabaran tentang terealisasinya doa tersebut. Padahal mereka tidak sadar, secara tidak langsung, tingkah polah mereka telah membatalkan rahmat dari sebuah doa yang telah terpanjat. Ketidaksabaran adalah downpaymen dari sebuah kegagalan. Betapapun seseorang menganggunkan dirinya tentang tingkah laku dan masa depannya, namun jika dia tidak mendidik diri untuk sabar, maka akan sia- sialah semua usaha, karena kekacauan pasti tidak pernah absen dari dirinya.

Tidak damai menjauhkan kita dari kesyukuran hidup. Orang yang senantiasa meliarkan batinnya dan atau membiarkan batinnya begitu liar dan terus terinspirasi dengan sebuah kekurangan, lambat laun dia akan menghentikan kecepatan dirinya untuk tumbuh menjadi lebih baik. Damainya jiwa adalah kekayaan kita yang pertama. Jiwa yang damai adalah kekayaan yang utuh,
yang menjadi sandaran bagi semua kekayaan. Kedamaian jiwa menempatkan kita untuk tidak harus memenuhi semua aturan kekayaan yang dipantaskan oleh orang lain untuk diri mereka. Kedamaian jiwa menjadikan diri kita cukup untuk diri sendiri,dan apa pun yang akan dilakukan setelahnya adalah untuk kebaikan orang lain. Jika kita telah berjasa membaikkan kehidupan orang lain, maka dengan sendirinya kebaikan akan terpelihara atas kita. Maka rugilah jiwa- jiwa yang gelisah, tidak bersyukur, dan selalu merasa kurang. Hidup yang sudah sulit akan terasa lebih berat bagi siapapun pelakunya.

Kita tidak akan memiliki kepintaran yang cukup untuk mengerti apapun skenario Allah tentang masa depan dan kebaikan apa yang akan ditakdirkan untuk kita. Tapi Allah telah telah memberi kewenangan dan energi kepada para hambanya untuk berupaya mengusahakan nasib mereka sendiri demi kebaikan mereka sendiri. jika kita percaya bahwa takdir bisa dirubah dengan sebuah usaha, lalu mengapa kita tidak mengusahakan yang terbaik yang kita bisa. Hadiah dari kita melakukan kebaikan adalah kebaikan, dan Keburukan yang menjadikan kita baik adalah kebaikan. Maka tidak akan ada celah lagi bagi kita, jika kita ingin memperbaiki hidup, maka berlakulah baik, jadilah pribadi yang baik, dan kebaikan itu akan senantiasa memulyakan anda.

sumber : voa-islam.com

Minggu, 14 Agustus 2011

Taqwa dan Bahagia



Oleh: Dr. Adian Husaini

Allah SWT menyeru kepada kita semua – orang-orang mukmin -- untuk melaksanakan shaum (puasa) Ramadhan, agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. (QS 2: 183). Ya, menjadi orang yang taqwa, adalah tujuan utama ibadah Ramadhan. Mungkin tidak mudah bagi banyak orang untuk membayangkan apa nikmat dan enaknya menjadi orang yang bertaqwa?

Berbeda halnya, misalnya, dengan menjadi presiden, anggota DPR, menjadi direktur, menjadi selebritis. Tergambarlah dengan mudah, enaknya jadi seorang Presiden. Kemana-mana dikawal, masuk keluar mobil pintu dibukakan. Tas dibawakan. Jika lewat di jalan raya, bisa dengan leluasa, karena semua harus menyingkir dari laluannya. Banyak anak muda membayangkan enaknya menjadi selebritis. Kemana-mana dikerubuti penggemar. Selain terkenal, uang pun mudah dia dapatkan. Cukup modal tampang cantik atau jelek sekalian; buka suara sebentar, dan berlenggak-lenggok beberapa saat, sudah bisa masuk TV dan dipuja-puji di sana sini. Sebagian lagi, cukup jual keberanian buka-bukaan, sudah langsung menjadi pujaan.

Lalu, al-Quran memerintahkan kita berpuasa, bersusah payah beribadah, pagi, siang dan malam, supaya menjadi orang yang taqwa! Seruan ini memang khusus bagi orang yang beriman. Orang kafir-materialis-sekularis-liberalis jelas tidak terkena seruan ini. Sebab, tatapan mata dan pikiran mereka hanya terhenti pada aspek materi dan dunia ini saja. Mereka merasa hebat dan merasa berhak mengatur Tuhan, sehingga hukum dan aturan Tuhan dicerca, karena – kata mereka -- tidak sesuai dengan konsep Hak Asasi Manusia.

Orang mukmin tentu berbeda dalam melihat realitas wujud yang ada. Tatapan mata dan pikirannya menembus batas-batas benda yang kasat mata. Ramadhan dilihatnya bukan sekedar bulan-bulan biasa yang datang silih berganti setiap tahun. Ramadhan dilihatnya sebagai bulan mulia, dimana pintu-pintu rahmat, ampunan, dan barokah Allah dibuka seluas-luasnya. Orang mukmin-muttaqin beriman kepada hal yang ghaib, meskipun tidak tertangkap panca indera.

Maka, memang sudah seharusnya, orang mukmin merindukan status taqwa. Sebab, status taqwa adalah posisi yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Allah sudah memberitahukan kepada kita semua:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang taqwa.” (QS 49:13).
Bukan presiden, bukan menteri, bukan gubernur, dan bukan anggota DPR, yang pasti mulia. Tapi,siapa pun, dan apa pun status dan profesinya, -- jika dia bertaqwa – maka pastilah dia menjadi yang termulia di mata Allah SWT.

Menjadi orang yang taqwa memang luarrrr biasa tinggi derajatnya. Dan orang taqwa pastilah orang yang bahagia. Allah SWT sudah memerintahkan kita: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.” (QS 3:102). “Maka, bertaqwalah kepada Allah semampu kamu.” (QS 64:16). “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS 33:70). “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tidak dia perhitungkan.” (QS 65:2-3).

Itulah beberapa perintah Allah agar kita semua benar-benar berusaha menjadi orang yang taqwa. Dijanjikan kepada kita dan bangsa kita, jika kita bertaqwa, maka kita akan mendapatkan berbagai kucuran barokah dari langit dan bumi. (QS 7:96). Maka, jika begitu mulia dan nikmatnya menjadi orang yang taqwa, tentu rugilah kiranya, jika puasa dan ibadah kita tidak mampu mengantarkan kita pada suatu derajat taqwa. Rasulullah saw mengajari kita untuk berdoa, agar kita menjadi orang yang taqwa: “Allahumma inni as-aluka al-huda, wat-tuqa, wal-‘afafa, wal-ghina.” (Ya, Allah aku memohon kepadamu akan petunjuk, ketaqwaan, kesucian dan kemuliaan diri, serta perasaan cukup). (HR Muslim).

Jadi, taqwa adalah suatu kondisi pikiran dan jiwa orang mukmin yang merasakan kehadiran Allah SWT di mana saja dia berada. Dia ridho dengan segala kondisi yang merupakan anugerah Allah. Dia takut untuk bermaksiat kepada Allah. Tapi sekaligus dia juga cinta dan penuh harap – tidak putus asa – dari rahmat Allah. Takwa itu indah. Taqwa itu nikmat. Dan taqwa itu suatu kebahagiaan. Karena itulah, kita diperintahkan untuk berjuang keras mencapai derajat yang mulia tersebut.

Manusia yang bertaqwa pasti manusia yang bahagia. Hidupnya jauh dari perasaan takut, resah, dan sedih. Tatkala kenikmatan dikucurkan kepadanya, dia bersyukur; dia tidak lupa diri; tidak gembira yang berlebihan. Tatkala musibah melanda, dia sabar; dia yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi tanpa izin dan ketentuan Allah SWT. Dia tidak resah dengan nikmat yang diraih oleh saudara-saudara, tetangga, kawan kerja, atau rival politiknya.

Manusia akan sampai kepada derajat taqwa jika dirinya dipenuhi kecintaan dan keridhaan kepada Allah SWT. Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Mahabbah, menulis: “Tiap-tiap yang indah itu dicinta. Tetapi yang indah mutlak hanyalah Satu. Maha Esa. Bahagialah orang yang telah sempurna mahabbahnya akan Dia. Kesempurnaan mahabbah-nya itu adalah karena dia menginsafi tanasub (persesuaian) batin antara dirinya dan Dia.” (Dikutip oleh KH Abdullah bin Nuh dalam terjemah dan pengantarnya atas karya Imam al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, (Bogor: Yayasan Islamic Center al-Ghazaly, 2010:v).

Tetapi, Imam al-Ghazali mengingatkan, bahwa semua bentuk ketaqwaan dan kecintaan kepada Allah adalah buah dari ilmu. Kata al-Ghazali: “Ketahuilah saudara-saudaraku – semoga Allah membahagiakan kita semua dengan keridhaan-Nya – bahwa ibadah itu adalah buah ilmu.Faedah umur. Hasil usaha hamba-hamba Allah yang kuat-kuat. Barang berharga para aulia. Jalan yang ditempuh oleh mereka yang bertaqwa. Bagian untuk mereka yang mulia. Tujuan orang yang berhimmah. Syiar dari golongan terhormat. Pekerjaan orang-orang yang berani berkata jujur. Pilihan mereka yang waspada. Dan jalan kebahagiaan menuju sorga.” (al-Ghazali, Minhajul Abidin (Terj. KH Abdullah bin Nuh), 2010:3).

Jadi, kata al-Ghazali, keindahan cinta kepada Allah itu hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang bertaqwa. Itulah bahagia (sa’adah). Di dunia ini pun kita sudah dapat meraih bahagia, dengan cara mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Bahagia bukan sesuatu yang sifatnya temporal, kondisional, dan tergantung pada faktor-faktor eksternal kebendaan sebagaimana dipahami oleh kaum sekular. Kamus The Oxford English Dictionary (1963) mendefinisikan bahagia (happiness) sebagai: ”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.”
Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia.
Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat-sekular sebagai berikut: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.”

Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus. Seorang yang pekerjaannya setiap hari mengangkat batu ke atas bukit. Sesampai di atas, dia gelindingkan lagi batu itu ke bawah. Sesampai di bawah, dia angkat lagi ke atas bukit. Begitu seterusnya. Katanya, dia mencari dan terus mencari. Kebenaran dan kebahagiaan tidak pernah dia temukan secara permanen. Bahkan, dia sendiri tidak percaya, dirinya bisa meyakini sesuatu.

Cobalah simak fenomena Sisyphus itu di era modern saat ini. Ada cendekiawan yang bangga bahwa setelah dia belajar Islam sampai ke manca negara, akhirnya dia mengaku, bahwa dia tidak tahu kebenaran. Kata dia, hanya Tuhan yang tahu kebenaran. Dia mengajak manusia untuk meragukan kemampuan akalnya sendiri dalam memahami dan menemukan kebenaran. Kata dia lagi, semua hasil pikiran manusia itu relatif. Yang mutlak hanya Tuhan.

Anehnya, manusia seperti ini bangga dengan pendapatnya. Mengaku tidak tahu kebenaran justru bangga! Itu sangat aneh dan merugi tentunya. Betapa tidak! Dengan doktrinnya sendiri, dia sudah mengunci dirinya sendiri dari kebenaran. Bahkan, sesungguhnya, dia telah menghina Nabi Muhammad saw. Jika dia mengatakan, bahwa hanya Allah yang tahu kebenaran, sama saja dengan dia mengatakan, bahwa Nabi Muhammad saw juga tidak tahu kebenaran, sebab beliau juga manusia. Bahkan, tanpa sadar, dia pun sebenarnya telah menghina Tuhan. Sebab, itu berarti, sama saja menuduh Tuhan telah menurunkan Kitab-Nya yang tidak bisa dipahami oleh manusia.

Dalam tataran nilai-nilai moral, pengikut jalan Sisyphus ini juga tidak percaya adanya suatu nilai moral yang mutlak benar. Semua dipandang temporal dan kondisional. Yang baik di satu tempat dan waktu tertentu, belum tentu baik di tempat dan waktu yang lain. Begitu juga dalam soal “bahagia”. Golongan ini menganut asas bahagia yang kondisional dan temporal. Mereka mendefinisikan bahagia sebagai perolehan atas suatu kenikmatan. Menurut mereka, orang akan meraih bahagia jika dia bisa makan enak, mendengar suara indah, melihat pemandangan yang indah, maraih posisi jabatan yang tinggi. Jadi, bahagia, bagi mereka, identik dengan pemenuhan syahwat keduniaan. Kata mereka: anda bahagia jika anda berhasil melampiaskan seluruh syahwat-syahwat keduniaan!

Islam bukanlah agama yang mengharamkan pemenuhan syahwat dunia, sebagaimana diajarkan sejumlah agama. Islam bukan agama ekstrim yang melarang manusia menikmati syahwat-syahwat dunia. Tapi, Islam juga tidak memerintahkan umatnya untuk melampiaskan syahwatnya semaunya sendiri. Islam memerintahkan umatnya untuk bertindak adil, mengendalikan diri dalam pemenuhan syahwat, sesuai dengan aturan Allah SWT. Syahwat mata, telinga, perut, seksual, boleh dipenuhi dalam batas dan aturan-aturan tertentu. Rasululllah saw pernah menegur sebagian sahabatnya yang mereka hendak puasa terus-menerus atau tidak mau menikah dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Itulah hakekat pengendalian diri. Di sinilah shaum Ramadhan memiliki arti yang sangat penting, yakni sebagai upaya latihan pengendalian diri atau mengendalikan hawa nafsu. Sabda Rasululullah saw: “al-Mujaahid man jaahada nafsahu” (HR Tirmidzi, shahih menurut al-Iraqi). Jadi, menahan berbagai syahwat dunia di bulan Ramadhan adalah salah satu bentuk jihad fi-sabilillah. Dengan latihan yang serius dan terus-menerus sebulan penuh, maka diharapkan naiklah derajat ketaqwaan kita. Maka, seharusnya, buah orang yang puasa adalah taqwa, takut untuk bermaksiat kepada Allah. Pejabat yang taqwa harusnya semakin takut menzalimi rakyatnya, atau membiarkan rakyatnya sengsara, sementara dia bergelimang kekayaan dari hasil uang negara yang bukan menjadi haknya.

Para pejabat seperti ini tidak mungkin meraih maqam taqwa dan bahagia. Orang-orang yang hidupnya bergantung pada pujian orang – baik ustad, kyai, ulama atau selebritis – tentulah tidak mungkin akan meraih bahagia. Sebab, pujian itu hanya sesaat saja. Pujian itu suatu ketika akan sirna. Jika dia dipuji karena kecantikannya, maka suatu ketika akan muncul manusia lain yang lebih cantik; atau kecantikannya pun semakin memudar. Seorang pejabat tidak akan selamanya diberi hormat.

Apalagi pejabat yang berakhlak bejat. Dia dihormat karena pangkat; bukan karena harkat dan akhlak. Saat menjabat dia dihormati; dan saat kedudukannya hilang, dia bukan siapa-siapa lagi!

Itu semua adalah syahwat dunia. Sifatnya sesaat, kondisional dan temporal. Itu bukan bahagia, dalam makna yang hakiki. Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (sa’adah/happiness) sebagai berikut:

”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah r.a. merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Orang-orang kaya akan merasa bahagia jika kekayaannya diraih dengan halal dan hartanya diserahkan untuk perjuangan menegakkan kebenaran. Sebab, dia sangat yakin dengan kehidupan akhirat. Dia bahagia saat menjalankan ibadah. Dia tenang, karena siap bertemu dengan Allah – Sang Khaliq – dan mempertanggungjawabkan seluruh harta yang dimilikinya: dari mana dia peroleh dan untuk apa digunakan!
Seorang muslimah, dia merasa bahagia saat mentaati suaminya – selama tidak bertentangan dengan aturan Allah SWT. Dia tidak merasa tertekan atau menderita.

Beda halnya dengan aktivis kesetaraan gender yang memandang bentuk ketaatan pada suami sebagai suatu diskriminasi dan penindasan perempuan. Seorang suami merasa bahagia tatkala bepergian membelanjakan hartanya untuk anak dan istrinya.

Meskipun dia harus bekerja siang malam membanting tulang. Perasaan bahagia yang kekal akan terjaga selama dilandasi suatu keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT.

Jalan terjal dan mendaki

Tentu saja, untuk meraih kebahagiaan tersebut, perlu jalan terjal dan mendaki. Imam al-Ghazali menggambarkan kesukaran jalan menuju bahagia tersebut: “Ternyata ini jalan yang amat sukar. Banyak tanjakan dan pendakiannya. Sangat payah dan jauh perjalanannya. Besar bahayanya. Tidak sedikit pula halangan dan rintangannya. Samar dimana tempat celaka dan akan binasanya. Banyak lawan dan penyamunnya. Sedikit teman dan penolongnya.”

Memang sudah begitu adanya! Sebab, kata al-Ghazali, Rasulullah saw sudah bersabda:

“Ingatlah, sorga itu dikepung oleh segala macam kesukaran atau hal-hal yang tidak disukai (al-makaarih); dan neraka itu dikepung oleh hal-hal yang disukai manusia (al-syahawaat).” (HR Thabrani, shahih).

Jadi, memang tidak mudah untuk meraih derajat taqwa dan bahagia. Perlu perjuangan berat. Jalan menuju ke sana mendaki dan tajam. Tapi, tidak ada pilihan lain. Mau sorga atau neraka. Waktu terus bergulir. Tidak memberikan pilihan lain. Kata Imam Al-Ghazali:

“Namun waktu telah berlalu, tak dapat dipanggil kembali. Pendeknya siapa yang sigap, dialah yang beruntung. Bahagia selama-lamanya dan sekekal-kekalnya. Tetapi siapa yang terlewat, maka rugi dan celakalah dia. Kalau begitu, Demi Allah, perkara ini sulit dan bahayanya besar. Karena itu makin jarang saja yang memilih jalan ini. Di antara yang telah memilihnya pun jarang sekali yang benar-benar menempuhnya. Dan diantara yang menempuhnya juga makin jarang pula yang sampai kepada tujuannya serta berhasil mencapai apa yang dikejarnya. Mereka yang berhasil itulah yang merupakan orang-orang yang dipilih Allah ‘Azza wa Jalla untuk ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Diberi-Nya taufiq dan peliharaan terhadap mereka. Dan disampaikan-Nya dengan penuh karunia kepada keridhaan dan sorga-Nya. Kita mohon semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan yang beruntung memperoleh rahmat-Nya.” (Ibid, hal. 4-5).

Ya! Semoga kita semua termasuk orang-orang yang terus berusaha dan berusaha serta tidak berputus asa untuk menjadi orang yang taqwa, sehingga kita mampu mendaki ke puncak tangga “bahagia” – di dunia dan akhirat. Semoga Ramadhan 1432 Hijriah ini benar-benar menjadi Ramadhan terindah dalam sejarah kehidupan yang sudah kita lalui dan kita diberi kesempatan maraih berkah Ramadhan kembali di masa yang akan datang. Amin.*/Depok, 10 Ramadhan 2011/10 Agustus 2011).

Penulis adalah Ka-prodi Pendidikan Islam-Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM

sumber : www.hidayatullah.com


Wajah Kita Ada Dalam Praktek Berzakat



Oleh: M. Anwar Djaelani

PADA 2010, potensi zakat di Indonesia diungkapkan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Didin Hafidudin. Bahwa berdasarkan kajian Asian Development Bank (ADB) potensi zakat di Indonesia mencapai Rp100 triliun.

Bagaimana di 2011? Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Naharus Surur, mengatakan potensi zakat di Indonesia sangat luar biasa. Hal ini dia katakan saat memberi sambutan pada Pelatihan Da’i Baznas-MUI, 21/7/2011, di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta. “Potensi zakat di Indonesia bisa menandingi APBN,” jelas Naharus Surur.

Dia menjelaskan, berdasarkan hasil riset Islamic Development Bank (IDB) pada 2010 disebutkan potensi zakat di Indonesia mencapai Rp. 100 triliun. Sementara di 2011, jumlahnya semakin meningkat, potensi zakat mencapai Rp. 217 triliun, dengan perincian Rp. 117 triliun dari rumah tangga dan Rp. 100 triliun dari perusahaan-perusahaan milik Muslim (www.hidayatullah.com 21/7/2011).

Lalu, bagaimana potensi zakat dunia? “Fantastis, Potensi Zakat Dunia Rp 6.000 Triliun” (www.republika.co.id 19/7/2011). Dikabarkan, bahwa potensi zakat dunia mencapai Rp6.000 triliun. Potensi sebesar itu didasarkan dari hitungan potensi zakat dari masing-masing negara Muslim yang tersebar di seluruh dunia.

Angka potensi zakat itu –level nasional ataupun dunia- jelas luar biasa. Bila potensi tersebut dapat dikembangkan secara optimal, maka zakat diyakini dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dunia Islam seperti tingginya angka pengangguran, kebodohan, dan kemiskinan. Tapi, faktanya, sampai kini masih banyak negara Muslim yang menghadapi masalah tersebut yaitu pengangguran, kebodohan, dan kemiskinan.

Lalu, ingatlah kita dengan suruhan Allah, Tuhan yang Maha Kaya ini: “Dan, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Rasul supaya kamu diberi rahmat” (QS An-Nuur [24]: 56).

Memerhatikan ayat di atas, maka terlihat bahwa posisi zakat setara dengan shalat. Bahwa dalam kesigapan mengamalkan zakat seharusnya sama dengan saat kita bersungguh-sungguh menegakkan shalat. Mestinya segenap kaum beriman bersegera untuk menunaikan zakat persis sama dengan saat mereka mendengar muadzin berseru “hayya alash-shalah” (marilah shalat).

Zakat didesain untuk turut memerkukuh “bangunan masyarakat Islam”, sehingga sangat bisa kita mengerti jika Rasulullah SAW sangat serius mengurus masalah zakat. Kitapun mudah memahami jika Abu Bakar RA –Khalifah pertama- sangat ketat (untuk tak menyebut keras) saat menangani masalah zakat.

Maka, akan terus relevan jika kita tiada henti menelaah ilmu-ilmu di seputar zakat. Kita sangat ingin bahwa praktik kita dalam berzakat bisa turut memercepat terwujudnya kejayaan Islam dan umatnya sebagaimana dulu di zaman awal Islam pernah terjadi. Dan, sebaliknya, apa yang pernah secara getir ditulis oleh Muhammad Rasyid Ridha lebih dari seabad lalu menjadi tak berlaku lagi.

‘Nasib’ Zakat

Kita renungkan sebentar tentang ‘perlakuan’ umat Islam terhadap zakat dan akibat yang ditimbulkannya, lewat kesaksian ulama terkemuka Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar Jilid 20. Cendekiawan Muslim dari Universiras Al-Azhar Mesir itu, memberikan analisis yang menarik:

“Islam mempunyai kelebihan atas seluruh agama-agama dan syariat-syariat yang ada, dengan adanya kewajiban yaitu kewajiban zakat, seperti yang diakui oleh para cerdik-pandai pada seluruh bangsa-bangsa di dunia ini. Jika seandainya kaum Muslimin melaksanakan kewajiban zakat sebagai rukun agama, tentu di kalangan mereka tidak akan ditemukan lagi orang-orang yang hidupnya sengsara, padahal Allah memberikan kepada mereka rizki yang berlimpah-limpah, akan tetapi kebanyakan mereka melalaikan kewajiban ini. Mereka mengkhianati agama dan umatnya, akibatnya nasib mereka sekarang ini lebih buruk dalam kehidupan ekonomi dan politiknya dari seluruh bangsa-bangsa lain di dunia ini (Yusuf Qardawi, 1993: 1122). Kesaksian yang ditulis lebih dari seabad lalu itu ternyata masih kita alami sekarang ini.

Padahal –sekali lagi- berdasarkan QS An-Nuur [24]: 56 yang telah dikutip di atas, tampak bahwa posisi shalat setara dengan zakat. Dengan demikian, sikap kita harus sama yaitu bersungguh-sungguh dalam menunaikan zakat sebagaimana kita bersungguh-sungguh pula saat menegakkan shalat. Kita harus bersegera menunaikan zakat sebagaimana kita bersegera menegakkan shalat kala mendengar muadzin berseru “hayya alash-shalah” (marilah shalat).

Sayang, fakta tentang pengamalan zakat belum menggembirakan. Meski potensinya besar, tetapi zakat yang terealisasi di Indonesia hanya Rp. 1,2 triliun. Artinya, kesadaran umat untuk berzakat masih tergolong rendah (www.hidayatullah.com 21/7/2011).

Jika zakat yang tergali tak sampai 1%, maka –rasanya- wajah keberislaman kita belum ‘cerah’. Artinya, sebagian (besar?) dari kita tak cukup taat mengamalkan perintah berzakat. Maka, dalam konteks ini Muhammad Rasyid Ridha benar saat menulis: “Jika seandainya kaum Muslimin melaksanakan kewajiban zakat sebagai rukun agama, tentu di kalangan mereka tidak akan ditemukan lagi orang-orang yang hidupnya sengsara, padahal Allah memberikan kepada mereka rizki yang berlimpah-limpah, akan tetapi kebanyakan mereka melalaikan kewajiban ini”.

Agar Cerah

Ayo bekerja keras dan tetap jujur, sehingga kita bisa mendapat rizki yang banyak dan halal. Setelah berstatus muzakki, mari segera kita tunaikan zakat. Semoga, dengan bergegas membereskan kewajiban berzakat, kita akan segera merasakan berbagai janji Allah tentang pelipat-gandaan balasan-Nya. InsyaAllah, balasan Allah yang membuat kita bahagia akan datang secara cepat. Dan, wajah kitapun –muzakki dan mustahik- insyaAllah akan sama-sama cerah. []

Dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya

www.hidayatullah.com


Jumat, 12 Agustus 2011

Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan



oleh: Wildan Hasan

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Qs Al-Baqarah 183).

Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.

Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput di pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…

Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa ke mana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita jumpai saat ini.”

Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap, akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat bahkan bisa jauh lebih besar daripada itu. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.

Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.

Lihatlah para shahabat Rasulullah SAW, manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-ruah secara langsung.

Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhaiberbahagialah orang yang beriman kepada Allah karena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…

Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca Al-Qur’an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Idul Fitri, padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.

Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah SAW, mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasik, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafik atau bahkan kufur.

Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia!

Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa,” kata Allah. Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa.

....Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa...

Takwa adalah konsistensi iman dan amal shaleh. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah: “Nasihatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah takwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat takwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.

Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.

Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagaicharger untuk on-nya ibadah di sebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar (ihtisaban) dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?

Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.

Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumnya.

Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutup pintunya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus mengulurkan telapak tangan.

Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.

Marilah kita maksimalkan seluruh kemampuan kita; mental, fisik, ilmu dan harta untuk ibadah di bulan Ramadhan yang mungkin kita tidak akan menjumpainya lagi di tahun depan.

Allahumma sallimnaa Ramadhan, wa sallim Ramadhana lanaa mutaqabbalan

Sumber : Voa-islam.com

Kamis, 11 Agustus 2011

Jangan Bersedih ! Yakinlah, Allah Lebih Tahu Tentang Kebutuhan Kita



Kadang kita memaki keadaan karena tidaklah sesuai dengan selera kita.Kadang kita menyalahkan Allah atas sesuatu hal buruk yang menimpa kita.

Seperti ketika sepasang suami istri yang sedang berkonflik. Mereka akan dengan mudah menyalahkan satu- sama lain. Si suami mungkin tidak menyenangi salah satu sifat istri, pun demikian halnya dengan sang istri. Rasanya hati sudah penuh sesak dengan amarah, kesedihan dan kesempitan. Ingin rasanya memaki, atau paling tidak mengeluarkan uneg- uneg yang ada. Namun sering kali kemauan itu masih tertahan dengan masih adanya iman.

Sejenak mari kita renungkan. Di dunia ini ada bermilyar manusia yang mungkin bisa menjadi pasangan kita. Namun, Allah akhirnya mempertemukan kita dengan pasangan kita saat ini, dan bukan dengan yang lain. Pastilah semua itu bukan hanya karena kebetulan belaka. Ada skenario dan pelajaran takdir yang bisa sama- sama kita pelajari. Hal tersebut tidak lain adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik dari pada sekarang ini.

Kekurangan yang dimiliki istri ataupun suami, adalah pelengkap bagi kelebihan yang lain. Namun sering kali batin manusia menyeru untuk melirik kelebihan manusia lain selain istri atau suami mereka. Hal itu karena mereka mungkin sejenak ingin meredakan diri dan mendamaikan hati atas sebuah kekesalan. Maka ada istilah, "Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri".

Pernahkah kita membaca, padahal jika hati kita telah ikhlas menerima ketetapan Allah, "Rumput sendiri" yang mungkin tidaklah lagi hijau, justru yang telah berjasa "menghijaukan" kita. Betapa tidak, dari kekurangan pasangan kita, kita belajar lebih bijaksana, kita belajar sebuah pemakluman dan belajar sebuah kesabaran. Dan dari kelemahan diri kita sendiri, kitapun belajar sebuah perbaikan, kita belajar meminta maaf dan belajar menghindari kesombongan.

Dan Allah lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini.Dan kebijaksanaan Allah tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas,hati- hati yang lembut, dan para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.

Cerita lain yang seringkali menghinggapi batin kita dengan kegelisahan adalah ketika kehidupan disudutkan pada sebuah kekurangan terutama dalam hal materi. Terkadang, karena hal itu pula, aturan halal dan haram pun menjadi sangat susah sekali untuk tetap digenggam erat. Tak jarang, segala cara kita lakukan demi sebuah kelebihan dan keluasan untuk memerdekakan hati yang sedih.

Saudaraku, percayalah kesempitan atau keluasan itu, bukan terletak dari seberapa banyak atau sedikit materi yang kita punya, tapi hanyalah masalah tentang penyikapan hati kita. Banyak dari saudara kita yang sekarang dalam keluasan rejeki, namun mereka pun masih gusar tentang bagaimana cara bahagia untuk sesuatu sangat simple. Berkumpul dengan keluarga misalnya. Mungkin mereka menilai bahwa kita yang biasa- biasa sekarang ini adalah lebih beruntung dan bahagia. Sadarkah kita jika saja saat ini kita diberi kelebihan dan keluasan dalam hal apapun oleh Nya, apakah masih akan ada waktu tersisa untuk sekedar menyapa Allah sang Maha Rahman, apakah masih ada sejenak akses untuk mengingatnya seperti dalamnya kemohonan kita saat kita memanjatkan doa saat sempitnya kehidupan?. Sungguh Allah lah pencipta kita, dan Dia lebih tahu detail pastinya tentang apapun dari kemampuan kita, melebihi diri kita sendiri.

Subhanallah, dalam berbagai hal, yang negatif dalam pandangan kita sekalipun, ternyata disana tersimpan kasih sayang dari Sang Maha Mencintai.

Jangan pernah sesali apa yang telah kita dapatkan atau yang telah lepas dari genggaman. Jika sebelumnya kita telah melakukan usaha yang terbaik, maka hasil akhir yang Allah beri itulah, upah yang terbaik untuk kita.

Tidak semua keinginan di dunia ini terpenuhi atau dipenuhi secara sempurna oleh Allah sang maha rahman. Semua tentu bukan berdasar tidak adanya kasih sayang dari Nya. Namun semua adalah pasti dan tentu saja yang terbaik untuk kita. Allah yang memegang ukuran atas kita. Dan hal itu hanya dapat dipahami oleh batin yang percaya dan tetap percaya pada Allah dalam keadaan apapun.

Saudaraku yang dirahmati Allah, sungguh, Allah lah yang maha penyayang atas hamba- hambaNya.

Dan Allah lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini.Dan kebijaksanaan Allah tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas,hati- hati yang lembut, dan para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.

(Syahidah/Voa-islam.com)

Rabu, 10 Agustus 2011

Beruntung Atau Merugi-kah Kita di Hadapan Allah



Oleh: Dr A Riawan Amin MSc

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS al-Ashr: 1-3).

Ayat di atas adalah peringatan Allah kepada kita semua bahwa manusia dapat menjadi makhluk yang sangat merugi akibat tidak saksama dalam memanfaatkan waktu. Mereka yang beruntung adalah mereka yang beriman, meyakini sepenuh hati, dan tanpa keraguan sedikit pun dalam dadanya. Dengan tekad bulat serta keteguhan hati yang mantap bahwa satu-satunya Tuhan yang wajib disembah adalah Allah SWT.

Namun, tidak cukup hanya dengan menyatakan beriman. Nilai-nilai keimanan itu harus senantiasa mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, di tempat kerja, maupun di mana saja. Nilai-nilai keimanan itu menjelma dalam bentuk amalan-amalan saleh yang dua di antaranya adalah senantiasa saling menasihati dalam menaati kebenaran dan menasihati supaya menetapi kesabaran.

Ramadhan adalah wahana evaluasi diri apakah kita termasuk golongan orang-orang yang merugi ataukah sebaliknya. Sebab, dalam bulan ini, Allah SWT memotivasi kita bahwa kebaikan kita akan dilipatgandakan. Begitupun sebaliknya, jika kita berbuat buruk, nilai keburukan itu pun akan berlipat ganda. Ditambah lagi, dalam bulan ini terdapat malam kemuliaan (lailatul qadar), di mana malam itu lebih baik dari seribu bulan. Subhanallah!

Setiap orang diberikan waktu yang sama, 168 jam per minggu, 86.400 detik per hari. Namun kenyataannya, setiap kita menghasilkan output yang berbeda-beda dari waktu sama yang kita miliki. Pada umur 20 tahun, misalnya, ada yang sudah menjadi direktur, ada yang mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan buku, ada yang sudah mencapai gelar ini dan itu, ada yang sudah mampu hafal dan paham 30 juz Alquran, dan seterusnya.

Dan sebaliknya, ada pula yang tidak menghasilkan apa pun. Ini adalah kenyataan. Ada yang menghasilkan kebaikan-kebaikan dari waktu yang ada dan ada yang justru menghasilkan keburukan dan kemunduran.

Kita harus sadar bahwa 168 jam tersebut di atas ternyata tidak seluruhnya dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif. Setelah dikurangi waktu tidur yang rata-rata mengambil 1/3 waktu hidup kita, tinggal 112 jam. Lalu, dikurangi jam kerja rata-rata 40 jam per minggu, maka tinggal 72 jam per minggu. Pun, dikurangi waktu berkendaraan menuju dan kembali dari pekerjaan (5 hari x 2 jam = 10 jam). Maka, tinggal tersisa 62 jam per minggu yang benar-benar menjadi waktu milik kita yang bebas kita isi sesuai dengan tujuan-tujuan penting kita: untuk beribadah (hubungan vertikal kepada Allah SWT), untuk keluarga, untuk urusan sosial, dan sebagainya. Kecerdasan dalam alokasi waktu ini yang kemudian akan menentukan seberapa beruntungkah kita dalam hidup ini. Wallahu a'lam.

sumber: republika.co.id

Selasa, 09 Agustus 2011

Kampanye Boikot Israel Efektif, Perusahaan Prancis Umumkan Kerugian Finansial



Perusahaan multinasional Prancis mengumumkan bahwa perusahaan mereka mengalami kerugian besar akibat kampanye global boikot produk zionis Israel yang dilakukan oleh kelompok Boycott, Divestment and Sanctions (BDS).

Gerakan kelompok itu menargetkan perusahaan-perusahaan internasional yang memiliki hubungan dagang dan bisnis dengan pemukiman-pemukiman ilegal Israel di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

"Perusahaan Prancis Veolia membayar mahal atas keterlibatannya dalam kebijakan penjajahan dan apartheid yang diterapkan zionis Israel terhadap rakyat Palestina," kata Kordinator Kampanye Stop the Wall, Jamal Jumaa.

"Veolia telah kehilangan kontrak senilai miliaran dollar. Betapapun besarnya, tak perusahaan yang bisa menanggung kerugian finansial semacam itu. Kerugian memicu rasa ketidakpuasaan di kalangan pemegang saham Veolia dan akhirnya berujung pada tuntutan agar perusahaan itu segera mengakhiri keterlibatan perusahaan itu dengan proyek-proyek ilegal Israel," jelas Jumaa.

Veolia pada Kamis pekan lalu mengumumkan bahwa perusahaan itu akan meninjau kembali operasional mereka di sejumlah negara setelah mengalami kerugian yang mengejutkan di semester pertama tahun ini. The Wall Street Journal menyebutkan kerugian yang dialami Veolia mencapai 67,2 juta euro.

Perusahaan itu juga mengalami kerugian setelah sebuah dewan lokal di London membatalkan kontrak yang sebelumnya sudah disepakati dengan Veolia. Kontrak itu senilai 300 juta poundsterling untuk jangka waktu lebih dari 15 tahun.

Pembatalan kontrak dilakukan setelah para aktivis gerakat boikot Israel menyampakan pesan tertulis dan melakukan pertemuan dengan anggota dewan tersebut, untuk memberikan data detil tentang keterlibatan Veolia di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

"Veolia kehilangan kontrak ini, dan kontrak-kontrak bisnis lainnya yang di Inggris dan negara-negara lainnya, jelas menjadi sinyal bahwa perusahaan itu sedang membayar harga mahal atas keterlibatan mereka dalam penjajahan zionis Israel di Palestina dan pelanggaran-pelanggaran hukum internasional," tandas Sarah Colbone, direktur Palestine Solidarity Campaign.

Veolia sejak lama menjadi target kelompok kampanye BDS. Selain Veolia, belum lama ini perusahaan eksportir Israel Agrexco--yang juga jadi target kampanye BDS--mengumumkan bahwa perusahaan itu terancam bangkrut akibat kampanye boikot Israel. (aisyah/Mn)

sumber : knrp.co.id

Keajaiban Puasa Ramadhan : Pembaruan Struktur Otak & Relaksasi Saraf



Selama sebulan puasa selama Ramadhan, umat Islam jalani runititas sahur, menahan diri dari makan, minum & seks, serta amalan ibadah. Penelitian menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Subhanallah, puasa Ramadhan terbukti bermanfaat untuk membentuk struktur otak baru dan merelaksasi sistem saraf.

Otak merekam kegiatan yang dilakukan secara simultan. Begitu juga dengan aktivitas puasa. Selama satu bulan, tubuh diajak menjalani rutinitas sahur, menahan diri dari makan, minum, dan seks, kemudian berbuka di petang hari serta menjalankan ibadah Ramadan lainnya.

Berpuasa menjadi bagian dari perintah agama. Sementara itu agama dan spiritualitas merupakan bentuk perilaku manusia yang dikontrol otak. Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.

Bahasa awamnya, kata dia, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, seks).

...Apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah...

Selain membentuk struktur otak baru, Taufik menjelaskan bahwa puasa merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Tetapi ada perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat selama sekitar 14 jam, sementara di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang banyak.

Contohnya, kata dia, otak dapat mengingat dengan baik di saat tenang dan rileks. Ketika tidur, biasanya orang bermimpi. Kenapa? Karena di waktu ini otak hanya menerima dan mengelola informasi yang berasal dari dalam dirinya. Di dalam Al-Quran, menurut Taufik, ada istilah an-nafsul-muthmainah(jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. “Ketenangan membuat kita tidak reaktif menghadapi permasalahan,” katanya.

Luqman Al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila perut dipenuhi makanan, maka gelaplah pikiran, bisulah lidah dari menuturkan hikmah (kebijaksanaan), dan malaslah segala anggota badan untuk beribadah.”

Otak terdiri atas triliunan sel yang terhubung satu dengan lainnya. Di dalamnya bisa disimpan 1 miliar bit memori atau ingatan. Ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedia lengkap.

Di dalam otak, ada sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Fungsinya sebagai pembersih otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit akan ‘dimakan’ oleh sel-sel neuroglial ini. Fisikawan Albert Einstein dikenal sebagai orang yang suka berpuasa. Ketika mendonasikan tubuhnya, para ilmuwan menemukan sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein 73 persen lebih banyak ketimbang orang kebanyakan.

….Penelitian Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak...

Sebuah penelitian yang dilakukan John Rately, seorang psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak mereka yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang shaum memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Taufik mengatakan bahwa puasa adalah salah satu bentuktazkiyatun nafs (menumbuhkan nafsu) dan tarbiyatun iradah(mendidik kehendak). Karena itu, sejak niat puasa, perilaku selama berpuasa dan ritual-ritualnya berada dalam konteks memperbaiki nafsu, menumbuhkan, kemudian mengelola kemauan-kemauan manusia. [taz/tin]

sumber:www.voa-islam.com

Senin, 08 Agustus 2011

Ramadhan Adalah Momen Untuk Merekonstruksi Iman



"Ijlis bina nu’min sa’ah"

Itulah kalimat yang pernah diucapkan oleh seorang sahabat nabi bernama Muadz bin Jabal yang maksudnya kurang lebih bisa diartikan, ”Mari kita duduk sejenak untuk merekonstruksi iman kita”.


Ini merupakan kalimat ajakan yang ditujukan kepada sahabat-sahabat yang lain pada waktu itu, yang bisa jadi waktu-waktu mereka banyak tersita oleh aktivitas-aktivitas yang tidak berkaitan dengan rekonstruksi iman. Inipun menjadi pertanda bahwa urusan rekonstruksi iman tidak berbanding lurus terhadap kedekatan mereka dengan Nabi Muhammad SAW pada kurun zaman yang bersamaan. Oleh karenanya, kita selaku umat Muhammad yang hidup berjarak 14 abad dengan masa hidup beliau SAW, tentunya harus lebih proaktif merekonstruksi iman kita masing-masing.

Ikhwah fiLlah, perbarui iman Anda secara rutin. Rekonstruksi iman ini urgen bagi setiap orang Muslim secara umum dan aktivis Islam secara khusus. Sebab, kadang, karena sibuk mengerjakan tugas-tugas dakwah, atau mempelajari masalah-masalah dakwah, atau memikirkannya, atau mencurahkan segenap tenaga untuk aktivitas Islam, itu membuat aktivis Islam tidak sempat mengurusi hatinya dan memberi perhatian penuh kepadanya. Padahal, orang Muslim berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya, bukan dengan organ tubuhnya. Kalaupun organ tubuh mengerjakan kebaikan, maka itu karena kebaikan hati dan semangatnya kepada kebaikan.

Jika aspek ini dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan serius, maka aktivis Islam kehilangan ibadah-ibadah batin, misalnya ikhlas. Bahkan, bisa jadi, aktivis Islam tidak punya keikhlasan sejak awal iltizamnya. Ibadah-ibadah batin lainnya, seperti jujur, yakin, zuhud, tawakkal, takut, taubat, menyerahkan diri, dan cinta Allah Ta’ala, juga hilang dari dirinya. Beberapa saat kemudian, sang aktivis ingin kondisi hatinya pulih seperti kondisi semula saat ia awal bergabung ke kafilah dakwah. Itu semua akibat ia tidak memperhatikan hatinya. Jika itu terus terjadi, bisa jadi, Anda melihat sang aktivis banyak membicarakan hal-hal yang tidak berguna, makan secara berlebihan, atau berinteraksi dengan orang lain bukan karena pertimbangan agama, atau banyak tidur, atau bermalas-malasan, atau tidak berusaha mengatur waktunya, atau menghabiskan waktunya padahal-hal haram atau makruh. Kalaupun waktunya digunakan pada hal-hal mubah, maka itu secara berlebihan dan tanpa memperhatikan aspek agama atau dunia. Ia tidak menggubris perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk merekonstruksi iman, tanpa melihat kualitas iman, amal, dan posisinya di gerakan dakwah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jaddiduu imanakum" Perbaruilah iman kalian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ahmad).

Rasulullah Shalllallahu Alaihi wa Sallam sering bersumpah dengan kalimat, “Tidak, demi Dzat yang membolak-balik hati.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Saya lihat ada kemerosotan pada sebagian aktivis dakwah, atau terjerumus ke dalam lautan syahwat dan syubhat. Kadang, hal ini betul-betul terjadi pada sebagian dari mereka. Penyebabnya tidak lain karena kurang memperhatikan aspek ini, memperbarui iman. Ini tanggung jawab bersama antara individu, level qiyadah (pemimpin), dan gerakan dakwah secara umum.

Saya seringkali melihat beberapa aktivis mencapai jenjang tertentu di gerakan dakwah dan menghabiskan sebagian umurnya dengan manis bersama dakwah. Setelah itu, ia berbalik dan keluar dari barisan aktivis. Penyebabnya ialah karena ia tidak memperhatikan hatinya. Bagaimana ia berjalan, kehabisan bekal, dan tidak berbekal dengan bekal apa-apa lagi?

Bekal hatinya telah ia gunakan untuk mengarungi salah satu tahapan usianya dan habis di perjalanan. Akibatnya, ia tewas di tempat bahaya, yaitu kesesatan syubhat dan kehinaan syahwat. Beragam penyakit yang menyerang sebagian aktivis Islam di separoh perjalanan dakwah, misalnya cinta dunia, egois padahal dulunya itsar (lebih mementingkan orang lain atas kepentingan pribadi), rakus padahal sebelumnya zuhud dan wara’, bersikap kasar kepada kaum Mukminin padahal sebelumnya bersikap lembut kepada mereka, ujub, sombong terhadap orang lain padahal sebelumnya rendah hati, congkak, dan menjadikan dirinya sosok penting padahal dulunya ikhlas; itu semua sebabnya karena hati tidak diberi porsi perhatian yang ideal dan iman tidak diperbarui individu, level qiyadah, dan gerakan dakwah itu sendiri. Semuanya bertanggung jawab dalam masalah ini.

Saya tertarik dengan penafsiran seorang syaikh tentang firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (An-Nisa’: 136).

Di kajian, yang ia berikan kepada aktivis, saat didera cobaan, ia berkata, “Kok Al-Qur’an minta mereka beriman, padahal mereka sudah beriman? Bahkan, ayat berbunyi, ‘Hai orang-orang beriman, berimanlah.’ Apa makna iman yang dimintakan pada mereka?”

Syaikh itu berkata lagi, “Ayat di atas meminta mereka selalu memperbaharui iman, karena iman perlu diperbaharui secara rutin.”

www.dakwatuna.com

Minggu, 07 Agustus 2011

Dakwah Itu Berbuat



Apakah Anda telah menyeru kepada sekalian manusia untuk kembali kepada kemurnian Islam, tetapi tidak banyak di antara mereka yang memenuhi panggilan suci ini? Apakah begitu banyak seruan kita ini seolah tidak didengar oleh mereka?

Jangan-jangan kita terlalu banyak menyeru, sementara kita sendiri tidak banyak berbuat, dan jarang belajar tentang apa yang kita perbuat.

Mari kita kembali menata pemahaman dakwah ini. Secara bahasa, da’wah berarti menyeru, memanggil, atau mengajak. Secara istilah, da’wah artinya mengajak atau membimbing manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, memberi contoh berbuat kebaikan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

Dakwah adalah membangkitkan kesadaran manusia agar mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dakwah juga bermakna usaha penyebaran risalah Islam di secara menyeluruh.

Terpenting, dakwah adalah melakukan amar ma’ruf, dan menghindari sesuatu yang munkar. Mari kita cermati kutipan ayat-ayat ini:

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (terjemah QS Ali Imran : 104)

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (Terjemah QS. Ali Imran: 110).

Kata amar ma’ruf dan nahi munkar seperti itui banyak diulang kembali dalam ayat lain, QS. At Taubah: 71, Al Hajj: 41, Al-A’raf: 165, Al Maidah: 78-79 serta masih banyak lagi dalam surat dan ayat yang lain.

Tentu saja, amar ma’ruf maupun nahi munkar bukanlah materi diskusi. Ia adalah perbuatan, yang menghendaki penyerunya menjadi model untuk dapat dilihat diduplikasi tindak tanduknya. Maka, lakukanlah terlebih dahulu apa pernah diperintahkan kepada Anda, sambil terus menyeru kepada orang-orang yang anda seru menuju kebaikan.

Kualitas kita tergantung dari hasil pembelajaran yang kita lakukan. Vernon A. Magnesen mengatakan bahwa manusia mendapat manfaat belajar dari:

10% dari apa yang dibacanya

20% dari apa yang ia dengar

30% dari apa yang ia lihat

50% dari apa yang ia lihat dan dengar

70% dari apa yang ia katakan, dan

90% dari apa yang ia katakan dan lakukan.

Bila Anda mendapatkan pelajaran 90 % dari apa yang anda katakan dan lakukan, maka benarlah teguran Allah dalam surat As-shoff ayat 2:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah engkau mengatakan sesuatu yang engkau tidak melakukannya ?”

Allah mengingatkan agar kita tidak hanya berwacana dan berteori. Allah memurkai orang yang hanya pandai berbicara tanpa pandai beramal, sekaligus mengandung hikmah bahwa mengatakan sesuatu sambil mengamalkannya adalah pembelajaran terbaik bagi kualitas diri manusia.

Untuk mempelajari sesusatu, praktekkanlah! Belajarlah komputer langsung dengan mengetik langsung di komputer, bukan menunggu diselenggarakannya kursus gratis. Anda belajar menyelenggarakan event dengan menjadi panitia beneran. Semakin sering, semakin mahir. Untuk belajar berbisnis, bawa langsung dagangan Anda, dan mulailah menawarkannya.

Anda dapat belajar memimpin rapat dengan cara mencoba memimpinnya. Anda dapat belajar mengarang dengan langsung menulis dan mengirimkannya ke media. Anda belajar berdakwah dengan langsung mengajak kebaikan kepada masyarakat. Meski hanya menyampaikan satu ayat.

Tetapi, bukankah amalan itu tertolak jika kita tidak memahami ilmunya terlebih dahulu? Kita mengawalinya dengan hukum dan tata cara, itupun sambil dipraktekkan. Selanjutnya, kita akan terus menggali ilmunya sambil terus meningkatkan kualitas ibadah kita. Jangan berdebat dengan keharusan kita paham ilmu sampai kafaah, baru berbuat.

Allah memberi batas waktu untuk hidup di luar yang kita pahami. Mengisyaratkan bahwa memang kita harus banyak berbuat.

www,fimadani.com

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons