Perdalam Samudra Keikhlasanmu
Realitas lapangan dakwah mengajarkan hal penting kepada kita, bahwa daya tahan di dalam mengarungi perjuangan sangat ditentukan oleh sebesar apa penjagaan keikhlasan.
Luaskan Cakrawala Kefahamanmu
Tak ada keberhasilan dakwah, jika tidak diawali ilmu dan kepahaman. Tidak akan ada keteguhan di jalan dakwah, jika tidak memiliki cakrawala pengetahuan yang memadai.
Blogger news
Rabu, 25 Mei 2011
PKS Pilih Husnudzon Patuhi Kontrak Baru Koalisi
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melunak dan menyetujui kontrak baru partai koalisi. PKS memilih husnudzon, memandang positif poin-poin kontrak baru koalisi.
“Kalau kami sih husnudzon saja. Melihat dari semangatnya saja seperti yang disampaikan Pak SBY untuk mengkonsolidasi koalisi sehingga pemerintahan efektif,” ujar Wasekjen DPP PKS, Mahfudz Siddik, kepada detikcom, Selasa (24/5/2011).
Mahfudz membenarkan adanya sanksi terhadap anggota yang kerap berbeda pendapat. Namun sanksi tersebut tidak membuat PKS takut kalau dalam beberapa hal harus berbeda pendapat.
“Soal sanksi memang diatur kalau sudah ada kesepakatan lalu ada yang berbeda pendapat maka keluar koalisi. Tapi PKS bisa menerima itu, karena kebijakan pemerintah kami yakini akan objektif dan berpihak kepada kepentingan nasional, jadi tidak ada yang perlu ditakuti,” tutur Mahfudz.
Tapi tidak menutup kemungkinan PKS akan pada posisi yang frontal lagi, seperti pada saat mengusung angket mafia pajak. Utamanya jika menyangkut kepentingan rakyat yang lebih besar.
“Kalau prinsip, koalisi itu sama dengan kita bekerjasama dalam hal baik dan kita bekerjasama dengan baik. Sepanjang menyangkut kepentingan rakyat dan menegakkan prinsip keadilan ya PKS akan tetap bersuara dan berani berbeda,” tandasnya.
Berikut empat butir pokok kontrak koalisi baru :
1. Proses komunikasi politik, antara ketua partai dengan presiden, wakil presiden dan para pembantunya.
Di dalam kesepakatan lama belum diakomodir dengan baik sehingga di kesepakatan baru itu diperkuat bagaimana komunikasi itu. Penjadwalan waktunya, periodesasi, agendanya, nanti di dalam periode-periode tertentu agenda itu disusun dijadwalkan oleh sekretaris sekretariat gabungan. Hal ini tidak diatur dalam kesepakatan yang lama tidak diatur dengan spesifik, tapi yang baru diatur.
2. Intensifikasi komunikasi politik antara para ketua umum partai yang diimplementasikan kepada para ketua fraksi di parlemen maupun jajaran partai di bawahnya.
3. Tidak menutup ruang demokrasi, seolah ada partai koalisi menutup demokrasi.
Ruang demokrasi tetap diakomodir dalam bidang pengawasan dan anggaran. Itu fungsi tetap parlemen. Pembahasan APBN maupun lesgislasi dan pengawasan yang dilaksanakan dalam rapat kerja dan RDP. Maupun rapat lain mekanisme baku antara pemerintah dan parlemen, itu harus tetap dijaga, check and balances tetap dipelihara.
4. Penjelasan lebih konkrit tentang penguatan sistem presidensial.
Contoh kewenangan atau otoritas presiden tentang jumlah menteri sesuai UU dan kebutuhan, karena jumlah menteri sesuai UU. Tolak ukur menjadi pembantu beliau sebagai menteri pasti kinerja, kemudian apakah yang bersangkutan memenuhi kontrak kinerja yang disepakati presiden dan kebutuhan organisasi akan selalu berubah tergantung kebutuhan.
Beritapks.com
Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah
Oleh Fathi Yakan
Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan da’i utk menarik objek dakwah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dsb.
Da’i yg sukses adalah da’i yg mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan dakwahnya, sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mereka beragam. Di samping mampu menarik sejumlah besar manusia dan mampu menampung mereka baik dalam tataran pemikiran ataupun pergerakan.
Jadi isti’ab merupakan kemampuan individu, kelayakan akhlak, sifat keimanan, dan karunia Ilahiyah, yg membantu para da’i dan menjadikan mereka poros bagi masyarakat, sehingga mereka senantiasa berputar dan berkerumun di sekitarnya.
Jadi isti’ab merupakan kemampuan individu, kelayakan akhlak, sifat keimanan, dan karunia Ilahiyah, yg membantu para da’i dan menjadikan mereka poros bagi masyarakat, sehingga mereka senantiasa berputar dan berkerumun di sekitarnya.
Tingkat Kemampuan dalam Isti’ab
Tingkatan isti’ab seorang da’i berbeda-beda, namun seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan isti’ab, agar bisa produktif dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat, bukan mendatangkan kemudhoratan dan tidak mendatangkan manfaat sama sekali, bahkan menjadikan orang-orang di sekelilingnya lari.
Tingkatan-tingkatan kemampuan dalam isti’ab diilustrasikan dalam sebuah hadits:
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah
mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yg baik, ia menerima air hujan itu dgn baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah
memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang disimpannya, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tidak menumbuhkan apa pun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yg aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengajarkan apa yg ia pahami. Dan perumpamaan orang yg sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah
yg aku sampaikan”. (HR Bukhari Muslim)
Isti’ab dan Keberhasilan Dakwah
Tidak akan ada keberhasilan dakwah tanpa kemampuan isti’ab karena keberhasilan ditandai dengan kemampuan da’i utk menarik sebanyak-banyaknya masyarakat kepada Islam dan pergerakan yg ada, sehingga mampu merealisasikan sasaran-sasarannya. Jika dai tidak mempunyai isti’ab maka dakwah akan mandul dan pergerakannya akan terbatas, hingga Allah
mendatangkan para da’i dan kader yang sangat berpengaruh dan mampu menarik masyarakat. Atau Allah
akan menggantikannya dengan “dakwah” yang lain yang tidak sama dengannya. Inilah sunnatullah yang akan terus berlaku:
“… dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah
”. (QS Al-Ahzab : 62)
“… Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah
, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemuui penyimpangan bagi sunnah Allah
itu”.. (QS Fathir : 43)
Isti’ab Eksternal dan Internal
Isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada di luar dakwah, di luar pergerakan dan di luar organisasi, atau orang-orang yg belum bergabung dalam barisan dakwah. Isti’ab internal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada di dalam organisasi, yakni mereka yang telah bergabung ke dalam jama’ah dakwah dan pergerakan.
Keberhasilan seorang da’i sangat terkait dengan kemampuan untuk menguasai keduanya, karena tidak ada gunanya pengguasaan terhadap masyarakat di luar tanzhim (jama'ah) tanpa dibarengi dengan penguasaan terhadap masyarakat yang ada dalam tanzhim.
ISTI’AB EKSTERNAL
Sesuai Al-Qur’an & Sunnah tuntutan yang harus dipenuhi para da’i dalam proses isti’ab dan rekrutment di antaranya adalah:
1. Kepahaman tentang agama
“Katakanlah:’adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (Az-Zumar : 9)
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Rabb Yang Maha perkasa lagi Maha Terpuji”. (Saba’ : 6)
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orangg yang tidak mengetahui”. (Al-Jatsiyah : 28)
“Wahai manusia sesungguhnya ilmu hanya didapat dengan belajar, sedang pemahaman hanya akan didapat melalui pendalaman (tafaquh), dan barang siapa yg dikehendaki Allah
baik maka akan diberi kepahaman dalam agama, sesungguhnya yang takut kepada Allah
dari hamba-hamba-Nya adalah ulama” (HR Bukhori)
“Apabila Allah
menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka Allah
memberinya kepahaman tentang agama dan memberinya ilham kelurusan (HR Thabrani)
“Sesungguhnya perumpamaan para ulama di muka bumi adalah bagaikan bintang-bintang yang dijadikan petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan. Jika bintang-bintang itu padam, maka para penunjuk jalan akan tersesat” (HR Ahmad).
2. Teladan yg baik
Seorang da’i harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat, agar ia memiliki pengaruh dalam masyarakat, sehingga mereka bisa direkrut. Karena pengaruh ucapan tidak seefektif pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan, perbutan zhahir harus sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Ash-Shaf: 2-3)
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Al-Baqarah :44)
“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain dan melupakan dirinya, bagaikan lilin yang menerangi manusia dan membakar dirinya sendiri.” (HR Thabrani)
3. Sabar
Kesabaran dibutuhkan karena manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam-macam, memiliki kelebihan dan kekurangan yang beragam, memiliki tabiat yang berbeda-beda, dan memiliki kepentingan yang berlainan.
“Dan mintalah pertolongan kepada Allah
dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu (Al-Baqarah:45)
“Tidak ada rezeki Allah
yang lebih baik dan lebih luas bagi seorang hamba selain dari kesabaran.” (HR Hakim)
“Siapa yang berusaha untuk bersabar maka Allah
akan mengaruniai kesabaran, dan tidak ada karunia yg lebih baik dan lebih luas bagi seseorang selain dari kesabaran (HR. Bukhori -Muslim)
4. Lemah lembut
Dibutuhkan karena masyarakat membenci kekerasan dan menjauhi pelakunya.
Rasulullah bersabda “sesungguhnya Allah
mencintai kelembutan dalam segala hal” (HR Bukhori-Muslim)
“Sesungguhnya Allah
Maha Lembut dan menyukai kelembutan, memberi kepada orang yang lemah lembut apa yang tidak diberikan kepada orang yang kasar dan juga apa yang tidak diberikan kepadn yang lain.” (HR Muslim)
5. Memudahkan tidak mempersulit
Manusia memiliki karakter, kemampuan dan daya tahan yang berbeda-beda. Apa yang bisa dilakukan seseorang belum tentu bisa dilakukan oleh orang yang lain, karena itu Rasulullah bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah mereka dan jangan membuat mereka lari.” (HR. Bukhori -Muslim)
“Berjalanlah dengan menenggang perjalanan yang paling lemah di antara kalian”
6. Tawadhu’ dan merendahkan sayap
Dai yang tawadhu bisa hidup dan bergaul dengan siapa saja, bisa menerima siapa saja, bisa berbicara kepada setiap orang, menziarahi bahkan mencintai semua manusia. Dialah yang melayani masyarakat bukan masyarakat yang melayaninya.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR Muslim)
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang merendahkan sayap, yang mau menghimpun dan mau dihimpun..”. (HR Thabrani)
Fenomena kesombongan ini tampak dalam berbagai hal:
- Lebih senang bergaul dengan orang-orang kaya dan berpangkat daripada dengan orang miskin/orang awam
- Lebih memperhatikan pakaian dan penampilan, dan suka meremehkan orang yang terlihat kumal
- Memilih-milih audien
- Lebih mementingkan ungkapan yang dibuat-buat
- Merasa takjub dengan ilmu yang dimiliki.
7. Murah senyum dan perkataan yang baik
Wajah merupakan cermin yang merefleksikan kejiwaan. Jika wajah seseorang seram maka hal itu merupakan cerminan dari kekasarannya dan jika wajah seseorang berseri-seri dan murah senyum, maka ini adalah pertanda kebaikannya.
Mengenai ucapan yang baik banyak terdapat dalam nash-nash Al-Qur’an di antaranya QS. Al-Isra’: 53, QS. Al-Baqarah:83, 263, QS. Al-Ahzab:70, QS. Al-Hajj:24, QS. An-Nahl:125, QS.Thaha:44.
“Janganlah kalian memandang remeh kebaikan sedikit pun, meski kebaikan itu hanyalah berupa wajah yg berseri ketika bertemu dengan saudara kalian”. (HR Muslim)
8. Dermawan dan berinfaq kepada orang lain
Kedermawanan dengan materi menunjukkan kelapangan jiwa, sebaliknya orang yang kikir menunjukkan kekerdilan jiwanya.
Seorang dai harus menggunakan hartanya sebagai sarana agar masyarakat yang didakwahi mendapat hidayah, misalnya dengan:
- Islam mewajibkan memuliakan tamu
- Memberi hadiah kepada orang lain termasuk akhlaq Islam yang dianjurkan Nabi
- Berbagai perbuatan mulia yang diperintahkan Allah
seperti berinfak kepada fakir miskin, menanggung anak yatim, memperhatikan hak tetangga dan seterusnya yang bertentangan dengan kebakhilan.
Dalam Al-Qur’an dan hadits banyak nash yang mengecam kebakhilan, di antaranya QS. Ali-’Imran:180,17, QS. Al-Hasyr:9, QS. Al-Isra:29,100, QS. Adz-Dzariyat:19, QS. An-Nisa:11.
“Tidak ada sesuatu yang dapat menghapus keislaman seperti halnya kekikiran” (HR. Thabrani)
9. Melayani orang lain dan membantu keperluan mereka
Seorang dai wajib menerjemahkan pemikiran dan konsepnya dalam bentuk tindakan konkret, yaitu dengan turut merasakan problematika umat, dan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menyelesaikannya.
“Barang siapa yang tidur tanpa peduli terhadap masalah kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka”.
“Amalan yang paling utama adalah menyenangkan seorang mukmin, dengan cara memberi pakaian, makanan, minuman dan memenuhi kebutuhannya (HR Thabrani)
ISTI’AB INTERNAL
Isti’ab Dakhili (daya tampung internal) adalah kemampuan dan keahlian utk menampung objek dakwah yang telah berada di tengah-tengah shaf dakwah. Baik oleh para pemimpin maupun para anggotanya. Tujuannya untuk mendayagunakan potensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah dan pergerakannya.
Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
I. Isti’ab ‘aqidi dan tarbawi
- Dalam tahap ini para kader harus dibersihkan dari berbagai problem masa lalu, meluruskan aqidah, perilaku, akhlaq, mengarahkan kecenderungannya, menentukan, menjelaskan arah sasaran dan tujuan mereka.
- Isti’ab tarbawi tidak boleh didikte oleh suatu fase atau situasi, tetapi mutlak diperlukan baik bagi para pemula ataupun para senior.
- Isti’ab tarbawi harus memperhatikan berbagai perkembangan kehidupan tahapan-tahapan alami dan khusus yang dilalui oleh para individu.
- Isti’ab tarbawi harus memenuhi semua bidang tarbiyah, baik pemikiran, spiritual dan kebutuhan fitrah manusia.
- Isti’ab tarbawi harus terukur dan menggunakan parameter syari’at dengan mengambil semua ‘azimah (hukum asal)-nya dan berbagai keringananya bukan produk emosi dan keinginan pribadi semata.
Aspek penting dan mendasar yang harus dimiliki dalam pembentukan pribadi muslim :
- Sunnah Rasul dalam pembentukan pribadi muslim.Rasulullah saw menggunakan metode yang unik sesuai dengan kesempurnaan manhaj Islam dan fitrah yg ditetapkan Allah
SWT, memandang manusia apa adanya layaknya manusia dengan memperhatikan kecenderungan dan kebutuhan manusia.
- Beberapa kaidah asasi dalam sunnah
- Menonjolkan sisi positif atas sisi negatif
- Menonjolkan sikap proporsional atas sikap berlebih-lebihanDalam kaitannya dengan komitmen pribadi kepada Islam, Rasulullah bersabda:
“Ingatlah akan hancur orang yang berlebih-lebihan, akan hancur orang yang berlebih-lebihan” (HR Muslim, Abu Dawud dan Ahmad)
“Sesungguhnya agama ini sangatlah keras, maka masuklah ke dalamnya dengan lembut (HR Ahmad)
Dalam kaitannya dengan dakwah dan menarik orang kepada Islam, terdapat nash-nash Al-Qur’an dan sabda Rasulullah, di antaranya QS. Ali-’Imran:159, QS. An Nahl:125. - “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah dan jangan membuat mereka lari”. (HR Bukhari-Muslim)
- Sedikit dan kontinyu lebih baik daripada banyak tapi terputus
- Mendahulukan prioritas dalam pembentukan
- Pembentukan melalui keteladanan
- Pembentukan yang menyeluruh dan tidak parsial
- Keshalihan lingkungan dan pengaruhnya dalam pembentukan
- Dampak pahala dan hukuman dalam pembentukan
II. Isti’ab haraki
Maksudnya adalah kemampuan sebuah pergerakan dalam menampung para anggotanya, pendukungnya, simpatisannya dan juga kemampuan gerakan dan para anggotanya dalam menampung berbagai persoalan, prinsip dan kaidah-kaidah pergerakan.
Permasalahan pokok yang berhubungan dengan isti’ab haroki:
1. Hal yang berkaitan dengan daya tampung gerakan terhadap para anggotanya
Syarat yg harus dipenuhi untuk dapat menampung anggota dan dinamikanya adalah:
- Proses tarbiyah yang matang
- Tersedianya berbagai potensi dan kapabilitas serta faktor pendukung lainnya dalam sebuah pergerakan, misalnya manajerial yang handal, perencanaan yg matang, konsep yang jelas dalam pendidikan, pemikiran, politik, dan seterusnya
- Memahami semua anggotanya dengan benar, mengetahui potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya, dan lain-lain. Sehingga akan sangat membantu untuk menentukan tugas dan tanggungjawab masing-masing individi dan menempatkan pada posisi yang tepat, dan akhirnya akan membuahkan hasil yang memuaskan
- Mengerahkan seluruh anggota dan bukan sebagian saja atau hanya orang-orang yang berprestasi saja krn bgmnpun akan pelipatgandakan hasil dan menghindari fitnah yang ditimbulkan oleh para penganggur/orang-orang yang tidak memiliki tugas dan peran dakwah.
2. Terkait dengan isti’ab haraki
Beberapa masalah penting yang terkait dengan pergerakan yang harus dikuasai oleh para da’i di antaranya adalah:
- Pemahaman yang benar dan sempurna tentang sasaran dan sarana yang digunakan
- Memahami tanzhim dan tabiatnya dengan benar
- Pemahaman yang benar dan menyeluruh terhadap tabiat teman dan lawan berikut konsekuensinya
- Pemahaman yang baik tentang berbagai aspek, tabiat dan kebutuhan amal
- Menjauhi fenomena istiknaf (keengganan) utk bergabung dalam masyarakat/instansi/berbagai organisasi yang ada.
pks-arabsaudi.org
Posted in:
Tarbiyah
Selasa, 24 Mei 2011
Artikel Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh
dakwatuna.com - Kami sajikan artikel Ustadzah Yoyoh Yusroh yang dikirimkan kepada Kami. Tulisan ini mungkin merupakan satu dari beberapa tulisan terakhir beliau yang belum dipublikasikan atau diterbitkan. Semoga tulisan ini mengingatkan kita kepada kebaikan dan ketulusan beliau dalam berjuang dan menyiapkan kematiannya, kapan dan di mana pun berada.
Kematian adalah Sebuah Misteri
Siapa pun manusia di dunia ini, baik ulama, cendikiawan, dokter, psikolog, para normal atau apapun statusnya tidak akan tahu kapan hari, jam, dan tanggal kematiannya. Karena kematian seseorang merupakan hak prerogative Allah SWT yang tidak pernah diumumkan kepada manusia.
Untuk para hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga untuk menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain. Misalnya saat ini banyak orang melakukan siaga bencana, siaga perang, siaga banjir dan siaga-siaga lainnya tapi luput programnya dari siaga kematian. Padahal kematian adalah sebuah misteri, ia akan merenggut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Bukan hanya orang tua, tetapi anak muda, remaja bahkan bayi sekalipun dapat meninggal tanpa diprediksi. Kematian juga tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat, karena terbukti orang yang sehat, segar dan bugar juga bisa mengalami mati mendadak.
Kematian juga tidak selalu dialami seseorang secara sendirian, karena bila Allah SWT menghendaki kematian bisa dialami oleh sebuah komunitas, atau suatu bangsa di suatu daerah , atau suatu wilayah atau suatu negara dalam jumlah yang sangat menakjubkan. Contoh peristiwa gempa bumi di Padang Sumatera Barat atau Tsunami di Aceh dan yang terakhir di Jepang.
Sebagai seorang muslim kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela agama Allah SWT, mempertahankan hak seperti yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina saat ini dalam melawan Israel yang mengambil tanah mereka, menguasai masjid Al Aqsa dan berbagai hak hidup mereka. Namun karena kematian sebuah misteri tidak semua mereka yang berjuang mendapat karunia syahadah seperti yang di harapkan.
Ada juga yang mengharapkan kematian setelah melakukan ibadah seperti setelah selesai sholat, setelah berbuka puasa atau setelah selesai melaksanakan ibadah haji, atau ibadah-ibadah lainnya. Banyak harapan mereka yang dikabulkan Allah SWT. Rita seorang aktivis dakwah di kota Tangerang teman saya menceritakan bahwa pada bulan Ramadhan tahun 2009 seorang bapak bernama Ahmad ikut shalat tarawih. Setelah selesai shalat dan sedang berdzikir, ia terjatuh dan kemudian meninggal dunia. Cerita lain tentang seorang ibu yang baru selesai berbuka kemudian terjatuh dan segera dilarikan ke rumah sakit. Tak lama kemudian ia meninggal di rumah sakit.
Ada lagi peristiwa yang sangat memilukan. Seorang ibu yang baru selesai menunaikan ibadah haji meninggal di pesawat GA 981. Ketika ia menaiki tangga, pas di anak tangga yang terakhir dekat pintu ia terjatuh dalam posisi duduk. Kebetulan penulis duduk di dekat pintu sehingga terlihat jelas bagaimana ia terjatuh dan dibantu suaminya untuk duduk. Ia terlihat sangat lemah , sehingga dibaringkan dan di gotong oleh teman-temannya sesama jamaah haji dari Solo. Saat digotong dan lewat di hadapan penulis, penulis berdiri dan sempat memegang kakinya yang terasa sangat dingin. Kemudian pramugari melalui pengeras suara menanyakan siapa penumpang yang dokter. Ia mohon bantuannya untuk menolong pasien yang sedang sakit. Ternyata ada dua dokter laki-laki dan perempuan yang siap menolong, kemudian agak ramai mereka mondar mandir karena posisi duduk ibu Hartati-nama ibu itu- di kelas ekonomi agak rumit untuk mendapat bantuan. Akhirnya kebijakan crew pesawat ibu Hartati dipindahkan ke kelas bisnis untuk memudahkan pengurusannya.
Setelah pesawat take-off beberapa menit dan suasana agak tenang, masing-masing petugas duduk kembali ke kursi masing-masing. Penulis mencoba melihat ibu Hartati di tempatnya, ternyata beliau tidur mendengkur di sebelah suaminya. Tidak lama kemudian terlihat suasana yang agak ribut. Ternyata ibu Hartati sudah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk. Terpikir oleh penulis tidak mungkin selama 9 jam mayat bisa bertahan duduk di kursi. Akhirnya setelah musyawarah dengan crew pesawat jenazah ibu Hartati diletakkan di belakang barisan kursi bisnis terakhir dengan beralaskan plastik. Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk memberi masukan kepada pihak penerbangan. Ketika rapat kerja bulan Mei 2010 dengan pengelola maskapai Garuda di komisi VIII yang membincang masalah biaya penerbangan haji, penulis sampaikan kepada Dirut Garuda pak Emir Sattar bahwa penerbangan harus selalu mempersiapkan KIT untuk jenazah berupa kantong mayat, karena sangat mungkin dalam penerbangan jauh atau dekat ada seseorang yang tiba ajalnya. Saat itu beliau mengaminkan, dan mudah-mudahan sekarang sudah direalisasikan.
Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah SWT, yang tidak bisa di duga oleh siapa pun. Ia adalah لا يستاءخرون ساعة ولايستقدمون Tidak bisa ditunda sedikit pun atau di percepat. Wallahu a’lam bish shawwab.
Madinah Al-Munawwarah, 23 April 2011
Yoyoh Yusroh
Posted in:
Liputan
Wagub Aceh : Hukum Cambuk Tetap diterapkan
REPUBLIKA.CO.ID,BANDA ACEH--Pemerintah Aceh tetap akan menjalankan hukuman cambuk bagi masyarakat muslim di dareah itu yang terbukti melanggar qanun syariat Islam. "Kami akan tetap menjalankan peraturan tentang hukuman cambuk bagi pelanggar syariat Islam di Aceh sesuai dengan qanun yang telah ditetapkan," kata Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar di Banda Aceh, Senin.
Hal itu disampaikannya terkait pernyataan Direktur Asia Fasifik Amnesti Internasional Sam Zarifi yang meminta Indonesia menghentikan penggunaan cambuk sebagai bentuk hukuman bagi pelaku zina, penjudi, pemabuk, dan khalwat. Wagub mengatakan, hukuman cambuk yang diberlakukan bagi pelanggar syariat Islam tersebut merupakan sebuah hukuman untuk mempermalukan dan memberi jera bagi para setiap pelaku dan pelajaran untuk masyarakat lainnya.
"Jika ada yang menafsirkan hukuman cambuk di Aceh melanggar Hak Azasi Manusia (HAM) itu tidak tepat karena hukuman yang diterima tidak mengakibatkan yang bersangkutan meninggal selain memberi efek jera bagi pelaku," katanya. Nazar mengatakan hukum yang diberlakukan di provinsi paling ujung barat Indonesia itu merupakan bagian dari HAM, karena setiap bangsa dan negara memiliki keyakinan dan agama yang dianutnya.
"Asia Fasifik Amnesti internasional harus bisa memamahi posisi rakyat Aceh, sebab hukuman cambuk itu diberlakukan bagi warga muslim dengan menggunakan azas personalitas dan teretorial," katanya.
Sementara itu, tokoh ulama Aceh Tgk H. Imam Suja' menegaskan, hukuman cambuk yang diterapkan di Provinsi Aceh tidak melanggar hak azasi manusia (HAM), karena peraturan tersebut sudah diatur dalam syariat Islam. "Hukuman cambuk itu sudah diatur dalam syariat Islam yang kini sudah diterapkan di Aceh. Jadi, tidak melanggar HAM," katanya.
Berbicara HAM, menurut Imam Suja' yang pernah menjadi anggota MPR RI dan DPR RI itu sebenarnya Islam merupakan agama yang pertama kali menegakkan HAM, ketika pada zaman jahiliyah perempuan-perempuan dikubur hidup-hidup. "Pada saat Islam datang, maka perempuan yang sebelumnya dikubur hidup-hidup, tidak ada lagi. Oleh karenanya, tidak benar bila Islam melanggar HAM, justru menegakkan HAM," katanya.
Imam Suja' menilai bahwa pernyataan organisasi internasional tersebut sebagai upaya untuk menjelek-jelekkan Islam dan itu akan terus dilakukan. Hukum cambuk telah menjadi hukum positif yang diatur lewat sebuah qanun dimana pada saat pembuatannya semua unsur telah dilibatkan, termasuk Mahkamah Agung di dalamnya dan kalangan aktivis masyarakat sipil.
Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UU-PA), sebagian kewenangan soal Syariat Islam juga sudah dilimpahkan oleh Mahkamah Agung ke Mahkamah Syariat di Aceh.
Posted in:
Nasional
Senin, 23 Mei 2011
Logika Pesawat & Bekerja Untuk Indonesia
Barangkali bagi kita yang sangat familiar dunia penerbangan, sesekali pernah mengalami peristiwa ini –turbolance – yaitu situasi dimana pesawat memasuki daerah hampa udara, sehingga pesawat kehilangan daya mengambang lantas mendadak terjun bebas, dan sesungguhnya situasi ini merupakan sunnah qauniyah dalam dunia penerbangan.
Yang menarik untuk disimak bukanlah mengenai turbolance ini, melainkan situasi didalam cabin, reaksi para penumpang dan kru pesawat. Bagi mereka yang familiar dengan penerbangan tentu reaksinya berbeda dengan mereka yang baru mengenal penerbangan, mereka yang familiar akan tetap tenang sembari berdoa dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan dengan kenyakinan bahwa situasi ini tidak akan lama dan akhirnya pesawat, cepat atau lambat akan sampai juga pada bandara tujuan, tetapi bagi mereka yang tidak familiar tentu berbeda reaksinya, ada yang panik, ketakutan, marah kepada pilot karena menganggap pilat tidak becus, ada yang menginginkan pesawat balik belakang karena takut dengan realitas dan bermacam reaksi lainya.
Tetapi yang lebih menarik adalah reaksi dari para kru pesawat, betapapun bermacam reaksi passenger mereka tetap menjalankan pesawat lurus kedepan menuju titik ordinat yang dituju, betapaun banyaknya cacian, umpatan, bahkan keinginan – keinginan untuk membalikkan arah tujuan. Ini karena keyakinan mereka atas dasar pengalaman, pengetahuan serta kemampuan mereka.
Demikianlah analaogi akan perjalanan dakwah ini, yang belakangan sedang mengalami sedikit – turbolance- dengan banyaknya fitnah – fitnah yang menghampiri. Tetapi pemahaman yang harus terbangun dalam diri setiap kader dakwah bahwa sesungguhnya hal ini merupakan sunnatuddakwah, sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan Albanna ” bahwa sesungguhnya dakwah ini bukanlah jalan yang mudah, sesunggunya jalan ini adalah jalan yang sukar yang penuh dengan duri dan rintangan, dan waktu tempuhnya yang sangat panjang ”, sehingga kitapun mampu memberikan sikap terbaik kita pada situasi ini.
Pertama
Beristgfar (evaluasi) kepada Alloh, bisa jadi dalam amal kita selama ini ada orientasi – orientasi selain kepada Alloh, sehingga dengan ini Alloh ingatkan kita untuk senantiasa menjaga niat kita semata – mata hanya Lillahi ta’allahu.
Kedua
Tetap tenang (berdoa), memasrahkan segalanya kepada Alloh, karena pada hakikatnya segala sesuatu milik Alloh.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar Rad :28)
Situasi apapun, aman atau bahaya, nyaman atau resah, hidup atau mati semuanya berada dalam kekuasaan Alloh, sehingga mampu menciptakan situasi yang kondusif.
Ketiga
Tetap fokus pada tujuan (terus bekerja).
Qiyadah telah menetapkan - titik ordinat - bagi kita yaitu 3 besar, maka tak ada pilihan bagi kita selain untuk terus bekerja, bekerja dan bekerja. Tak boleh ada kata untuk berbalik arah hanya karena adanya fitnah-fitnah. Ibarat situasi penerbangan diatas, bagaimanapun dahsyatnya turbolance yang menghadang pesawat akan tetap menuju ordinat landing-nya.
Keempat
Tetap menjaga ketsiqohan (kepercayaan) kepada qiyadah
Wallahu A’lam Bishowwab
Dikutip dari Taujih Ust.H. Hadi Mulyadi, M.Si – Ketua DPP Wilayah Dakwah Kalimantan pada acara pembukaan Mukerwil DPW PKS Kalimantan Timur.
Posted in:
Taujihat
Sabtu, 21 Mei 2011
Tentara Israel Tembaki Demonstran Gaza
Ratusan warga Palestina dan aktivis pro-Palestina melakukan pawai anti-Israel di dekat pagar perbatasan ketika penembakan brutal pasukan Israel itu terjadi.
Sedikitnya tiga demonstran terluka oleh tembakan itu dan banyak lainnya menderita gangguan pernafasan akibat gas air mata, demikian menurut seorang koresponden Press TV, Jumat (20/5).
Pawai itu sendiri dinamakan "Maret Kemarahan dan Kembali ke Palestina"sebagai bagian dari peringatan Nakba Day (Hari Malapetaka), yaitu menandai ulang tahun ke-63 pendudukan Israel atas Palestina.
Sebuah kelompok Facebook bernama " Intifadah Ketiga Palestina" sebelumnya meminta warga Palestina dan para aktivis di semua negara di sekitar tanah Palestina yang diduduki untuk bergabung dengan pawai protes setelah Shalat Jumat tersebut. Kelompk itu juga meminta kepala Otoritas Palestina Mahmoud Abbas untuk bergabung.
Pada hari Minggu lalu, ribuan warga Palestina berkumpul di Tepi Barat yang diduduki dan di Jalur Gaza serta di perbatasan Israel dengan Lebanon dan Suriah untuk menandai Hari Nakba.
Sedikitnya 10 orang tewas dan lebih dari 110 lainnya luka-luka setelah tentara Israel menembaki ribuan pengungsi Palestina yang menggelar pawai simbolik demi tanah air mereka di sisi perbatasan Lebanon.
Di Dataran Tinggi Golan Suriah, setidaknya 12 pengunjuk rasa tewas dan 30 lainnya luka-luka akibat timah panas militer Israel. Pasukan Israel juga menembak banyak orang Palestina sampai tewas dan terluka di Tepi Barat dan Gaza.
Pada tahun 1948, pasukan Israel menjadikansekitar 700.000 orang Palestina sebagai pengungsi dan memaksa mereka untuk mengungsi ke negara-negara tetangga yang berbeda. Israel juga menghapus hampir 500 desa Palestina dan kota-kota dari peta.(milyas/presstv)
Posted in:
Alamy
Misteri Itu Sedikit Demi Sedikit Mulai Terkuak
Kasus suap yang menimpa mantan gubernur BI Miranda S Goeltom, yang menyeret beberapa politikus dari partai-partai besar. Kasus tersebut terus bergulir sampai sekarang dan melibatkan partai yang selama ini dikenal bersih dari hal-hal berbau korupsi tersebut yaitu PKS (Partai Keadilan Sejahtera), kenapa pasalnya? apa ada kader PKS yang menerima? check perjalanan tersebut yang dibagikan untuk meloloskan mantan deputi senior BI tersebut menjadi Gubernur BI. Jawabannya ternyata Tidak.
Tapi mengapa partai tersebut dikait-kaitkan? pasalnya Isteri salah seorang aleg PKS (Adang Darajatun) mempunyai peranan sebagai penghubung antara Miranda dan para anggota dewan yang menerima cek tersebut.
Dilihat dari kasat mata orang awampun, melihat kasus tersebut adalah kasus perseorangan bukan melibatkan institusi partai, tapi kenapa seolah-olah PKS sebagai institusi bermain dibelakangnya, kemungkinan karena kasus ini tidak ujung selesai atau terang benderang membuat masyarakat menjadi tidak sabar dan mengeluarkan teori tersendiri tanpa ada fakta yang mendasari cuma prasangka atau asumsi belaka. Apalagi sampai sekarang KPK belum mampu menghadirkan saksi kunci yang diduga sebagai perantara kasus suap tersebut yaitu Nunun Nurbaeti.
Kalau dilihat secara mudah, tanpa mau menggunakan daya nalar yang panjang, apalagi ditambah blow up media yang menggaris bawahi Nunun sebagai “istri” kader PKS, bukan sebagai pribadi sendiri. Logika tersebut 100% benar.
Apalagi ditambah “kicauan” dari “dalam” tubuh PKS sendiri yang seolah-olah semakin menguatkan “tesis” tersebut.
Dari Potongan berita tersebut menjadikan kita haqqul yakin, kalau PKS sengaja melindungi Nunun-sebagai balas budi kepada Adang Darajatun yang banyak berkontribusi pada partai.-yang terduga melakukan suap.
Meskipun penjelasan dari PKS yang mengatakan tidak akan melindungi seorang yang terlibat masalah hukum.
Dari Potongan berita tersebut menjadikan kita haqqul yakin, kalau PKS sengaja melindungi Nunun-sebagai balas budi kepada Adang Darajatun yang banyak berkontribusi pada partai.-yang terduga melakukan suap.
Meskipun penjelasan dari PKS yang mengatakan tidak akan melindungi seorang yang terlibat masalah hukum.
Tetapi tetap saja penjelasan tersebut tidak mampu menghindarkan masyarakat menghina, mencela, menghujat dan sampai ada yang menuntut membubarkan partai yang dulunya sangat getol berda’wah sekarang getol melindungi kegiatan tercela…. dan menganggap Partai da’wah ini sekarang tidak ada bedanya dengan partai-partai yang lain, yang haus kekuasaan, harta dan lain sebagainya.
Kalaupun masyarakat menganggap demikian itu juga tidak bisa disalahkan seratus persen, memang tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat berbeda-beda dan motif dibalik pemikirannya tersebut, dan mudah-mudahan orang-orang semacam itu tidak duduk dalam pembuat kebijakan atau terlibat dibidang hukum, tentu produknya atau hasil dari pemikirannya tidak akan bisa dipertanggungjawabkan.
Seharusnya bila logikanya demikian, ada penyuap ada yang disuap trus ada perantara tentunya perantara ini yang dicari hubungannya dengan penyuap atau yang disuap, bukan dicari “hubungan” ditempat tidur saja. Tentu tidak ada sangkut pautnya.
Misteri itu sedikit demi Sedikit mulai terkuak
Saya tiap pagi biasanya setelah sarapan nasi, terus sarapan koran kebetulan kantor sebelah toko saya, berlangganan Jawa Pos.
Saya melihat judul artikel (Jawa Pos edisi cetak 19 Mei 2011) yang menarik mata ini untuk melihatnya disitu tertulis “Nunun Anggota Tim Sukses Mega-Hasyim” dengan tagline “Tjahjo Kumolo Terpojok dalam Sidang Kasus Cek Perjalanan” dari judul tersebut akan bisa dilihat “hubungan” antara “penghubung” kasus suap tersebut, mengapa banyak kader PDIP terseret kasus tersebut.
Saya tiap pagi biasanya setelah sarapan nasi, terus sarapan koran kebetulan kantor sebelah toko saya, berlangganan Jawa Pos.
Saya melihat judul artikel (Jawa Pos edisi cetak 19 Mei 2011) yang menarik mata ini untuk melihatnya disitu tertulis “Nunun Anggota Tim Sukses Mega-Hasyim” dengan tagline “Tjahjo Kumolo Terpojok dalam Sidang Kasus Cek Perjalanan” dari judul tersebut akan bisa dilihat “hubungan” antara “penghubung” kasus suap tersebut, mengapa banyak kader PDIP terseret kasus tersebut.
Tidak puas dengan maroji’ dari Jawa Pos kemudian browsing di Internet terdapat judul-judul yang sedikit banyak sama. Dengan sidang tersebut jelaslah bahwa kedekatan hubungan Nunun Nuerbaeti kepada institusi PDIP -karena Nunun adalah kader PDIP- bukan dengan PKS. Semoga kasus ini segera terungkap siapa dibalik ini semua agar masyarakat dapat melihat dengan jelas, siapa yang terlibat didalamnya…., Apa masih menganggap PKS sama saja dengan partai yang lain?…. (bukan dari kader mata gelap/ISM)…..
Posted in:
Siyasi
Kamis, 19 Mei 2011
( Tidak selalu ) Salah Demokrasi
Oleh : akmal.multiply.com
Seseorang membagi-bagikan sebuah komik ringkas menarik dengan penuh semangat. Katanya, komik tersebut akan menjelaskan dengan sangat sederhana mengapa demokrasi telah merusak kehidupan kita dan niscaya akan membawa kita pada kehancuran. Sebuah kata-kata yang sangat kuat yang tidak mungkin bersumber selain dari keyakinan penuh. Tapi marilah kita simak ceritanya.
Seseorang membagi-bagikan sebuah komik ringkas menarik dengan penuh semangat. Katanya, komik tersebut akan menjelaskan dengan sangat sederhana mengapa demokrasi telah merusak kehidupan kita dan niscaya akan membawa kita pada kehancuran. Sebuah kata-kata yang sangat kuat yang tidak mungkin bersumber selain dari keyakinan penuh. Tapi marilah kita simak ceritanya.
Alkisah, ada suatu percabangan rel kereta api. Cabang yang pertama adalah yang sudah lama tak digunakan lagi, sehingga tak ada kereta yang melewati jalur itu. Cabang kedua adalah jalur yang kini sering digunakan. Sudah barang tentu, jalur pertama adalah tempat yang aman bagi siapa pun, sedangkan jalur kedua harus dijaga baik-baik agar tidak ada jatuh korban.
Di dekat percabangan itu, ada dua kelompok anak yang sedang bermain dengan asyiknya. Kelompok pertama, yang hanya terdiri dari dua orang anak, bermain di jalur pertama, karena mereka memang tahu bahwa jalur tersebut aman untuk siapa pun. Kelompok kedua yang terdiri dari enam orang anak justru asyik bermain di jalur kedua. Dua anak di jalur pertama sudah memperingatkan kepada keenam temannya bahwa jalur itu berbahaya, tapi tidak mereka malah mengabaikan peringatan itu.
Tibalah waktunya kereta datang melintas. Anak-anak itu tidak menyadari kedatangan kereta, demikian juga sang masinis baru mengetahui keberadaan anak-anak itu setelah jaraknya terlalu dekat untuk melakukan pengereman. Karena terkejut, insting sang masinis langsung mengambil alih kerja tubuhnya. Ia ‘banting stir’ sehingga kereta berbelok ke jalur yang biasanya tak dipakai.
Akhir cerita tidak pernah dibahas dalam komik tersebut, mungkin karena terlalu menyedihkan. Bisa dibayangkan, kedua anak yang seharusnya aman bermain di jalur yang tak pernah lagi dilalui kereta kemudian menjadi korban mengenaskan karena insting sang masinis yang memindahkan kereta ke jalur yang lebih sepi demi mengurangi jumlah korban yang mungkin jatuh. Namun meski akhir cerita tak pernah tuntas diuraikan, ibrah pun ditarik: demokrasi, yang senantiasa mementingkan mayoritas, telah mengakibatkan jatuhnya korban tak bersalah.
Hanya karena anak-anak yang bermain di jalur kedua lebih banyak, sang masinis memilih untuk menggilas tanpa ampun dua anak di jalur pertama. Padahal, yang benar adalah yang di jalur pertama itu, karena mereka bermain di jalur yang tak terpakai lagi. Adapun keenam temannya itulah yang bersalah, karena bermain-main di jalur yang masih digunakan. Kisahnya semakin ironis jika kita ingat bahwa kedua anak di jalur pertama sebelumnya telah memperingatkan teman-temannya di jalur kedua tentang bahaya bermain di sana, namun pada akhirnya justru merekalah yang (mungkin) menjadi korban. Dengan analogi tersebut, ditariklah kesimpulan bahwa mementingkan pendapat mayoritas seringkali tidak membawa keselamatan, karena yang banyak belum tentu benar. Dalam iklim demokrasi, yang minoritas selalu ditindas, meskipun dalam banyak hal justru yang minoritas itulah yang benar. Beginilah akibatnya jika pengambilan keputusan tidak didahului dengan pembedaan antara yang benar dan yang salah, yang haq dan yang bathil, yang berdalil dan yang ngira-ngira, yang fakta dan yang mengarang bebas, dan seterusnya. Dalam demokrasi, mayoritas harus menang. Sebodoh apa pun mayoritas itu.
Baiklah, kita kesampingkan dahulu perdebatan apakah memang seorang masinis bisa membelokkan keretanya begitu saja tanpa bantuan pergeseran bagian apa pun dari rel tersebut. Anggaplah hal itu memang dimungkinkan.
Tinggalkanlah demokrasi yang memang dibenci setengah mati itu, dan mari bertanya sejenak pada alternatif yang hendak diajukan sebagai lawan dari demokrasi itu. Sebutlah ia syari’at Islam. Anggaplah Anda menjadi sang masinis, dan asumsikanlah bahwa Anda bisa membelokkannya di percabangan jalur tersebut. Bagaimanakah Anda harus menyikapi masalah di depan mata Anda, dari kaca mata syari’at Islam?
Dari sekian banyak orang yang menerima pertanyaan seperti ini, ternyata jawabannya hanya dua: diam seribu bahasa, atau memilih untuk banting stir, sebagaimana masinis dalam komik tersebut. Mereka yang memilih untuk banting stir pun ternyata menggunakan alasan yang sama persis seperti dalam cerita, yaitu karena ingin menghindari korban yang lebih banyak. Ada pula yang menambahkan suatu pertimbangan, yaitu bahwa jika kereta dibelokkan ke jalur pertama, diharapkan kedua anak di jalur itu sempat melompat ke sisi-sisi rel agar selamat. Adapun di jalur kedua, karena jumlah anaknya lebih banyak, maka lebih sulit bagi mereka untuk menghindar. Bayangkan saja enam orang anak lompat bersamaan tanpa diatur mesti loncat ke arah mana. Jalur pertama memberikan kemungkinan yang lebih baik daripada jalur kedua, baik dari ‘kaca mata demokrasi’ atau ‘kacamata syari’at’. Di sisi lain, ada yang malah melontarkan celaan kepada sang pembuat cerita, karena menurutnya cerita itu sama sekali tidak simpatik. Dengan mengambil contoh anak-anak, apakah sang penulis cerita hendak mengatakan bahwa enam orang anak yang bermain di jalur yang masih aktif tersebut pantas untuk mati terbunuh? Kalau kita tarik pada kasus-kasus lain, boleh pula kita mempertanyakan, pantaskah kita mengatakan bahwa anak-anak yang kabur dari rumah itu pantas dibiarkan hidup menggelandang, karena salah mereka sendiri? Pantaskah kita mengatakan bahwa anak-anak yang terlibat tawuran itu pantasnya mati saja, karena salah mereka sendiri? Adapun dari pihak yang hanya diam seribu bahasa tadi, maka diamnya itu adalah jawabannya.
Kita tidak perlu memperpanjang perdebatan tentang demokrasi ini, namun perlu memperhatikan sebuah gejala yang merebak di antara sebagian saudara kita, yaitu sikap ‘mudah menyalahkan demokrasi’. Setiap masalah muncul, yang bersalah selalu demokrasi. Jika ada yang tak beres di negara ini, yang salah adalah demokrasi. Jika pegawai kelurahan lambat, itu karena demokrasi. Jika urusan memperpanjang KTP jadi ribet, itu salah demokrasi. Jika kemiskinan merebak, itu salah demokrasi. Jika ada yang korupsi, itu karena demokrasi. Jika syari’at Islam ditolak melulu, itu salah demokrasi. Jika sampah dibuang tidak pada tempatnya, jangan-jangan juga karena demokrasi.
Seperti analogi kereta tadi, banyak yang menolak demokrasi namun gagal mengajukan alternatif yang lebih baik darinya. Parahnya lagi, kegagalan dirinya hendak ditutupi atau dilimpahkan kepada demokrasi. Ini adalah gejala yang sangat memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa tradisi ilmiah umat Islam telah begitu terpuruknya sehingga yang dicari hanya pelarian dan kambing hitam.
Dalam hal ini, perlu kita mendengarkan argumen yang diajukan oleh ust. Adian Husaini. Menurut beliau, tanpa perlu membenarkan seluruh konsep demokrasi yang dianut oleh masyarakat Barat, pada kenyataannya tidak semua keterpurukan umat Islam terjadi karena demokrasi. Justru keterpurukan itu diawali pada masa-masa di mana belum ada demokrasi di negeri-negeri Islam. Jika kita ingin menganalisis keterpurukan kita pada masa kini, maka kita seharusnya juga menelitinya secara makro sebelum menarik kesimpulan besar bahwa sumber permasalahannya adalah demokrasi.
Dalam iklim demokrasi saat ini, umat Islam nyaris tidak dilarang untuk melakukan apa pun. Mau mendirikan bank syariah diperbolehkan, jual-beli dinar dan dirham pun silakan. Mau bikin TK Islam, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam, pesantren, madrasah, atau perguruan tinggi Islam pun tidak dilarang. Pakai jilbab tidak dilarang (walaupun ada saja oknum-oknum dan instansi-instansi ‘nakal’ yang melarangnya), pakai sorban dan jubah pun tidak dilarang. Mau shalat tidak sulit, karena di mana-mana ada Masjid dan Mushola. Mau tilawah di rumah, di masjid, di kereta pun tak masalah. Mau membuat majalah, surat kabar, stasiun radio, stasiun televisi, lembaga amil zakat, ormas, parpol, tidak ada yang melarang.
Dengan kesempatan yang terbuka lebar seperti itu, apa masalah yang kita hadapi dalam dakwah? Ternyata masalahnya ada dalam diri kita sendiri. Kita boleh membuat rumah sakit Islam, tapi salah siapa kalau rumah sakit Islam kalah lengkap peralatannya dan kalah bagus pelayanannya dibanding rumah sakit Kristen? Kita bisa mendirikan sekolah-sekolah Islam, tapi salah siapa kalau sekolah-sekolah itu kalah bersaing dengan sekolah-sekolah negeri? Kita boleh membuat majalah dan surat kabar, tapi bagaimana kalau oplahnya jauh di bawah media-media massa sekuler? Umat Islam sudah punya stasiun-stasiun radio dan boleh mengusahakan stasiun televisi, tapi siapa yang salah kalau pengelolaannya kurang profesional? Orang boleh mengutuk sejuta topan badai karena film bermuatan pluralisme terus-menerus bermunculan, padahal umat Islam punya kesempatan seluas-luasnya untuk membuat film bermuatan Islam.
Janganlah memelihara mentalitas orang kalah yang hanya bisa menyalahkan keadaan tanpa pernah menaklukkan keadaan. Masih banyak yang perlu dibenahi di tubuh umat Islam, tanpa harus buru-buru menyalahkan sistem. Bolehlah berkhayal bahwa pemerintahan sekuler akan ambruk tanpa sebab yang jelas, kemudian hak memerintah diberikan kepada umat Islam, dengan para da’i sebagai kekuatan utamanya. Apakah umat Islam – khususnya para da’i – sudah mengerti cara mengelola sistem perbankan di seluruh negeri, atau membangun kurikulum yang sesuai untuk sekolah-sekolah di seluruh pelosok Indonesia, atau membuat sebuah sistem jaminan sosial untuk seluruh anak negeri, atau mendistribusikan pelayanan kesehatan secara merata, dan setumpuk permasalahan lainnya? Apakah kita sudah mampu menjawab tantangan-tantangan ‘mikro’ tersebut?
Posted in:
Analisa
Admin





