myspace graphic
_
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS.98:5)

Blogger news

~ ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ اطَهُوْرً ~

Minggu, 29 Mei 2011

Mengapa "Buta" pada Kelebihan Orang Lain


Oleh: Ustadz Azmi Fajri Usman

Memandang sepele orang lain, bukanlah tanda kita lebih mulia dari orang itu. Merendahkan orang lain, justru menjadi cirri kekurangan dan kelemahan kita sendiri. Kelemahan itu terjadi karena kita tidak tahu menialai diri dan orang yang kita sepelekan. Sikap menyepelekan, ternyata bisa menjatuhkan dan mempermalukan kita, jika ternyata kondisi sebenarnya berbeda dengan penilaian kita.

Beberpa langkah berikut, akan membantu kita untuk lebih menghormati dan menilai orang lain dengan bijaksana.

  1. Bukalah ‘Mata’ terhadap kelebihan orang lain

Diatas langit ada langit. Istilah itu barangkali sering kita dengar, untuk menggambarkan bahwa tidak ada makhluk yang mengerti semua hal dimuka bumi ini. Sudah semestinya banyak orang orang baik yang kita tidak tahu. Sepintar dan sehebat apapun seseorang , pasti ada yang lebih bagus dan lebih baik. Meski biasanya, orang yang benar-benar baik dan istimewa, justru tidak akan merasa lebih tinggi dan lebih baik dari orang lain. Karena semakin dalam ilmu seseorang, semakin banyak amalnya, ia makin merendah di hadapan orang lain. Sebaliknya, justru orang yang merasa lebih hebat dan lebih baik dari orang lain adalah orang yang minim kualitas dan kuantitas amalnya. Orang-orang yang memiliki amal-amal lebih baik, memang kerap tidak suka bila amalnya diketahui orang. Itulah yang menjadi karakter para salafushalih dahulu.

Jika kita jeli, betapa sering kita mengalami keterkejutan saat keliru menilai sesuatu yang ternyata berbeda 180 derajat dari yang kita duga sebelumya. Betapa sering kita melihat kebaikan yang dilakukan orang yang “biasa-biasa saja”, sebuah nilai yang tidak kita prediksi sebelumnya. Simaklah bagaimana terkejutnya seorang yang sombong dihadapan Salman Al Farisi ra. Ketika Salman Al FArisi menjadi gubernur Madain, ia pernah dianggap kuli panggul oleh seorang kaya dan terkemuka di kota itu. “ Mari bawakan barang ini,” kata orang itu, yang belum mengenal Salman.

Barang-barang itu diangkat salaman di atas bahunya. Setiap bertemu penduduk, mereka menawarkan diri untuk membawakan barang itu. Tetapi Salaman terus membawanya dan menolak orang-orang yang akan menggantikan, hhingga ia sampai ke rumah si kaya. Setelah orang itu mengetahui bahwa yang disuruhnya adalah gubernur, ia sangat terkejut. Ia meminta maaf dan berkata, “Saya berjanji tidak akan menghina orang sesudah kejadian ini untuk selamanya.”

  1. Rahasiakanlah amal, Agar kita mengerti orang yang Merahasiakan Amalnya

Ada dua hal penting yang minimal bisa kita peroleh dengan merahasiakan amal. Pertama, merahasiakan amal adalah cara yang bisa labih memberi ketenangan hati pelakunya. Berbeda dengan ketika suatu amal dilakukan di depan dan diketahui banyak orang. Al Harits Al Muhasibi mengatakan, “ Orang yang shadiq adalah yang tidak suka jika mereka mengetahui kebaikan amalnya dan dia tidak benci jika mereka mengetahui keburukan amalnya. Jika dia benci karena orang mengetahui keburukannya, berarti dia menghendaki kehormatan di mata mereka, dan ini bukan tanda shiddiqin.”

Kedua, dengan melakukan amal tersembunyi kiya lebih bijak menilai orang lain. Kita akan mengerti, bahwa ada banyak amal orang lain yang sama sekali tidak kita ketahui, sebagaimana yang kita lakukan. Kita menyadari, bahwa ada banyak kemungkinan seseorang menyembunyikan amalnya, sebagaimana kita juga melakukannya. Kita tahu, tidak pada tempatnya menilai orang secara lahir. Seorang ahli hikmah mengatakan, “ Kebanggaan seorang mukmin hnya denan Tuhan, kemuliaan seorang mukmin hanya dengan agamanya. Sedangkan orang munafik bangga dengan kebanggaan dari orang lain dan merasa mulia dengan harta kekayaannya.”

  1. Pandanglah Diri kita Sebagai Orang Bodoh

Sikap seperti ini adalah kunci keberhasilan dan perubahan kea rah lebih baik. Memandang iri sebagai orang bodoh, bukan menjadikan kita merasa tidak percaya diri, tapi harus lebih melecut diri untuk banyak belajar dari banyak keadaan. Kenyataan hidup mengajarkan kita, selalu ada orang lain yang lebih pintar dalam satu atau beberapa bidang tertentu. Maka, perlu sikap mengalah, tak henti belajar dan menyempurnakan diri.

Kita biasanya lebih sering berbicara tentang kekurangan orang lain daripada kelebihan mereka. Kita memperhatikan kekurangan itu, lalu membicarakannya untuk lebih mengukuhkan kelebihan dan keutamaan kita dari orang lain. Padahal sikap seperti itulah yang menghalangi seseorang bisa berkembang dan tumbuh pada keadaan yang lebih baik. Cobalah bertanya, apakah kita sudah menjadi manusi ayang benar-benar dikatakan baik menurut Allah? Jika mengetahui bahwa kita masih memiliki banyak kekurangan, sebaiknya kita tidak cenderung mudah menilai kelemahan dan kesalahan orang lain. Apalagi, sebenarnya, tidak ada waktu sama sekali untuk mencari-cari kesalahan orang lain, karena kita mesti banyak menilai kelemahan dan kesalahan diri sendiri.

Waktu kita harus lebih dikhususkan untuk mencari kesalahan dan kekurangan diri. Kita mesti jujur pada diri sendiri, karena setiap melontarkan penilaian buruk ,lalu meremehkan dan mencaci orang lain, berarti memperlihatkan keadaan diri kita sebenarnya. Maka, perbaikilah diri dengan bercermin dari sikap orang lain. Yakinilah, semakin kita memperbaiki diri, maka Allah akan memberikan yang terbaik pula bagi kita.

Tumbuhkan rasa malu, karena ternyata banyak orang orang yang menyimpan kebaikan, apapun kebaikannya dan betapapun kondisi mereka. Tawadhu dan jangan sombong. Karena sebenarnya kerendahan hati justru mengunngkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati.

Simaklah apa yang dialami Al Muhallab bin Abi Shufrah, seorang komandan perang pada pemerintahan Al Hhijjaj. Suatu hari ia degan pakaian sutera berjalan kebeberapa sudut kota dengan angkuh. Secara kebetulan, ia berpaspasan dengan Mutharrif bin Abdullah, seorang ulama yang disegani. Mutharrif menegurnya, “ Hai hamba Allah, jalan yang seperti itu dimurkai Allah dan Rasul-Nya.” Al Muhallab terkejut dan mengatakan sinis, “ Apakah engkau belum kenal saya?” Mutharrif menjawab dengan tenang,” Saya sudah tahu tentang diri mu, engkau berasal dari sesuatu yang jijik dan akhirnya menjadi bangkai yang juga menjijikkan, dan engkau diantara dua keadaan itu selalu membawa kotoran.” Al Muhallab terkejut, lantas segera merubah cara jalannya.

  1. Berlatihlah Menemukan Inspirasi Baru dari Sikap orang Lain

Ini bagian dari pembelajaran kita pada sikap orang lain. Kita selayaknya bisa mendapatkan inspirasi kebaikan dari sikap dan kondisi orang lain, bagaimanapun keadaan mereka. Seluruh peristiwa dalam hidup ini sebenarnya guru yang bisa mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin saja jalan hidup yang kita lalui tidak sama dengan orang lain, tapi perilaku orang lain semestinya bisa melahirkan imbas semangat baru pada hidup kita.

Barang kali ini rahasianya bila Rasulullah saw membolehkan kita untuk memendam rasa iri terhadap dua perkara, sebagaimana hadits berikut,” Tidak boleh iri hari kecuali terhadap dua perkara. Yaitu terhadap seseorang yang dikarunikan oleh Allah harta kekayaan tapi dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran. Dan seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu memanfaatkan dan mengajarkannya pada orang lain.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengisyaratkan secara tidak langsung bahwa kita mesti bisa memetik pelajaran dari sesuatu yang baik milik orang lain. Segala keadaan harus bisa menghasilkan sesuatu yang posotif bagi diri kita. Di sini kearifan dan kebijakan kita diuji. Apakah kita tetap bisa memelihara sikap positif dan melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan terhadap situasi yang buruk sekalipun. Apakah kita lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam dan lain sebagainya.

  1. Dekatlah kepada Allah, Agar Bisa Menangkap Hikmah

Kedekatan kepada Allah, akan banyak mempengaruhi kita dalam menilai sesuatu. Orang yang dekat dengan Allah akan lebih menggunakan kaca mata hikmah, ketimbang kaca mata tuduhan, terhadap berbagai peristiwa yang ia lihat dan alami. Ia akan lebih kokoh dan tidak tergoda dengan fenomena lahir, pujian, pamgkat, kedudukan dan semua label kehormatandari manusia. Ia juga akan terhindar dari penialaian keliru terhadap orang lain, merasa lebih baik dari orang lain, dan lebih memperhatikan kekurangan diri daripada melihat kekurangan orang lain.

Bercerminlah pada pribadi sahabat RAsulullah, Abdullah bin Mas’ud ra. Ia seseorang yang lemah fisiknya. Tidak berharta dan bukan keturunan bangsawan. Pekerjaannya tidak lebih dari seorang penggembala kambing. Tapi ia telah mengubah semua kondisi itu menjadi ke agungan dan kemuliaan. Ia sahabat Rasulullah yang paling mengerti tentang Alquran dan pernah diminta oleh rasulullah untuk membacakan beberapa ayat dalam surat An Nisa, hingga kedua mata baginda Rasul berlinang.

Ia juga dipuji para sahabat. Umar ra mengatakan, “ Abdullah bin Mas’ud adalah orang yang sangat memahami.” Pemahaman dan penguasaannya terhadap Alquran pula yang menjadikan pribadinya tidak cenderung membanggakan diri. Ia tetap mengatakan, “Jika aku mengetahui seseorang yang lebih mengetahui daripadaku tentang kitab Allah, aku pasti mendatanginya.”

Banyak pelajaran yang besar yang kita petik dari Abdullah bin Mas’ud. Pertama, kondisi lahir ternyata sama sekali tidak mencerminkan kualitas dan keistimewaan seseorang. Kedua, Abdullah bin Mas’ud tetap jernih dalam memandang kelebihan dan keistimewaan orang lain. Tentu saja, sikap itu juga pengaruh interaksinya dengan Al-Quran, hingga dia tetap bisa menangkap hikmah dari manapun datingnya.

Sebagaimana juga kisah Umar bin Abdul Aziz, yang kedatangan tamu pada suatu malam. Seperti biasa sesudah isya, Umar menulis apa yang diperlukannya, sedang tamunya berada dekat dengannya, dan melihat lampu yang sudah berkedip-kedip hamper mati. Tamu itu berkata, “Ya Amirul Mukminin, saya akan bangun memperbaiki lampu.” Namun Umar menjawab, “ Tidak manusiawi bila seseorang menggunakan tenaga tamunya.”

Berkata lagi tamunya itu,”Apakah saya bangunkan pelayan?” jawab Umar, “Tidak, sebab ia baru tidur.” Lalu Umar sendiri mengisi gas lampunya. Tamu itu bertanya, “Ya Amirul Mukminin, engkau sendiri yang membetulkan?” Jawab Umar,” Ketika saya menjadi khalifah saya tetap Umar dan tetap menjadi Umar.”

Umar adalah pribadi yang malam-malamnya kerap diisi amal pendekatan diri kepada Allah. Itulah yang menyebabkannya tidak mudah terbuai kedudukan, pujian dan penghormatan orang. Ia tetap sebagai Umar yang mampu menilai diri dan orang lain secara arif. Itulah yang bisa kita simpulkan dari dua kalimat perkataan Umar, “Tidak manusiawi seseorang menggunakan tenaga tamunya,” dan “saya tetap Umar dan tetap menjadi Umar.”

Mushthala Hadist

Dakwatuna.com. Pada awalnya Rasulullah SAW melarang para sahabat menuliskan hadits, karena dikhawatirkan akan bercampur-baur penulisannya dengan Al-Qur’an. Perintah untuk menuliskan hadits yang pertama kali adalah oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menulis surat kepada gubernurnya di Madinah, yaitu Abu bakar bin Muhammad bin Amr Hazm untuk membukukan hadits.

Ulama yang pertama kali mengumpulkan hadits adalah Ar-Rabi bin Shabi dan Said bin Abi Arabah, namun pengumpulan hadits tersebut masih acak—tercampur antara yang shahih, dha’if, dan perkataan para sahabat.

Pada kurun kedua, Imam Malik menulis kitab Al-Muwatha di Madinah. Di Makkah hadits dikumpulkan oleh Abu Muhammad Abdul Malik bin Ibnu Juraiz, di Syam oleh Imam Al-Auza'i, di Kufah oleh Sufyan Ats-Tsauri, di Basrah oleh Hammad Bin Salamah.

Pada awal abad ke-3 Hijriyah, mulailah ditulis kitab-kitab musnad, seperti musnad Na’im ibnu Hammad. Pada pertengahan abad ke-3 Hijriyah, mulai ditulis kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

Ilmu hadits adalah ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak. Adapun hadits adalah apa saja yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat (lahiriyah dan batiniyah). Sedangkan sanad adalah mata rantai perawi yang menghubungkannya ke matan. Dan pengertian matan adalah perkataan-perkataan yang dinukil sampai ke akhir sanad.

Pembagian Hadits

Dilihat dari konsekuensi hukumnya, hadits terbagi dua; Hadits Maqbul (diterima) dan hadits Mardud (ditolak). Hadits Maqbul terdiri dari Hadits Shahih dan Hadits Hasan, sedangkan Hadits Mardud (ditolak) adalah Hadits Dha’if (lemah).

Hadits Shahih: yaitu hadits yang memenuhi lima syarat berikut ini:
• Sanadnya bersambung (telah mendengar/bertemu antara para perawi).
• Melalui penukilan dari perawi-perawi yang adil. Perawi yang adil adalah perawi yang Muslim, baligh, berakal, terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan rusaknya kehormatan.
• Tsiqah (yaitu hapalannya kuat).
• Tidak ada syadz. Syadz adalah seorang perawi yang tsiqah menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya.
• Tidak ada illat atau kecacatan dalam hadits.

Hadits Shahih dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.

Hadits Hasan: yaitu hadits yang apabila perawi-perawinya hanya sampai pada tingkatan shaduq (tingkatannya berada di bawah tsiqah). Shaduq berarti tingkat kesalahannya 50: 50 atau di bawah 60 persen tingkat ketsiqahannya. Shaduq bisa terjadi pada seorang perawi atau keseluruhan perawi pada rantai sanad.

Para ulama dahulu meneliti tingkat ketsiqahan seorang perawi adalah dengan memberikan ujian, yaitu disuruh membawakan 100 hadits berikut sanad-sanadnya. Jika sang perawi mampu menyebutkan lebih dari 60 hadits (60%) dengan benar maka sang perawi dianggap tsiqah. Hadits Hasan dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.

Selain Hadits Shahih dan Hadits Hasan, ada juga yang disebut Hadits Hasan Shahih. Penyebutan istilah ini sering disebutkan oleh Imam Tirmidzi. Hadits hasan shahih dapat dimaknai dengan dua pengertian: Imam Tirmidzi mengatakannya karena hadits tersebut memiliki dua rantai sanad/lebih. Sebagian sanad hasan dan sebagian lainnya shahih, maka jadilah dia hadits hasan shahih. Jika hanya ada satu sanad, maka hadits tersebut hasan menurut sebagian ulama dan shahih oleh ulama yang lainnya.

Hadits Muttafaqqun Alaihi adalah yang sepakat dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim pada kitab shahih mereka masing-masing.

Hadits Dha’if adalah hadits yang tidak memenuhi salah satu/lebih syarat Hadits Shahih dan Hadits Hasan.

Hadits Dha’if tidak dapat diamalkan dan tidak boleh meriwayatkan Hadits Dha’if kecuali dengan menyebutkan kedudukan hadits tersebut. Hadits dha’if berbeda dengan hadits palsu atau hadits maudhu`.

Hadits dha’if masih punya sanad kepada Rasulullah SAW, namun di beberapa rawi ada dha'f atau kelemahan. Kelemahan ini tidak terkait dengan pemalsuan hadits, tetapi lebih kepada sifat yang dimiliki seorang rawi dalam masalah dhabit atau al-'adalah. Mungkin sudah sering lupa atau ada akhlaknya yang kurang etis di tengah masyarakatnya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan upaya memalsukan atau mengarang hadits.

Yang harus dibuang jauh-jauh adalah hadits maudhu', hadits mungkar atau matruk. Dimana hadits itu sama sekali memang tidak punya sanad sama sekali kepada Rasulullah SAW.

Para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan hadits dha`if, di mana sebagian membolehkan untuk fadha'ilul a'mal (keutamaan amal). Dan sebagian lagi memang tidak menerimanya. Namun menurut Imam An-Nawawi dalam Mukaddimah-nya, bolehnya menggunakan hadits-hadits dha’if dalam fadha'ilul a’mal sudah merupakan kesepakatan para ulama.

Buat kita orang-orang yang awam dengan ulumul hadits, tentu untuk mengetahui derajat suatu hadits bisa dengan bertanya kepada para ulama ahli hadits. Sebab merekalah yang punya kemampuan dan kapasitas dalam melakukan penelusuran sanad dan perawi suatu hadits serta menentukan derajatnya.

Tokoh - Tokoh Terkemuka Israel Dukung Palestina Merdeka

Hidayatullah.com--Sejumlah tokoh terkemuka Israel ikut dukung pengakuan Negara Palestina. Ada sekitar 20 tokoh masyarakat Israel, termasuk mantan ketua parlemen dan pemenang Nobel. Mereka menandatangani surat pernyataan dukungan.

Mantan Ketua Parlemen Israel (Knesset) Avraham Burg dan pemenang Nobel ekonomi, Daniel Kahneman termasuk yang ikut mendukung kemerdekaan Palestina.

Sekelompok tokoh terkemuka warga Israel ini telah menanda-tangani sepucuk surat yang mendesak para pemimpin Eropa agar mendukung usaha negara Palestina untuk mendapat pengakuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Organisasi-organisasi berita Israel telah memberitakan isi surat itu hari Jumat. Surat tersebut ditanda-tangani oleh lebih dari 20 tokoh masyarakat yang terkenal di Israel, termasuk mantan Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Alon Leil dan pemenang hadiah Nobel dalam bidang ekonomi, Daniel Kahneman.

Mereka menilai, proklamasi kemerdekaan Palestina adalah langkah positif dan konstruktif mengingat rasa saling mencurigai dan mengulur-ulur waktu oleh kedua pihak.

Kelompok itu juga berjanji untuk mengakui negara Palestina yang didasarkan terutama pada garis perbatasan yang ada sebelum Perang Enam Hari tahun 1967, sebuah persyaratan yang ditentang oleh Perdana Menteri Zionis-Israel Benjamin Netanyahu.

Sebelumnya pekan ini, otoritas Palestina pimpinan Mahmud Abbas berjanji untuk mengusahakan pengakuan PBB akan negara Palestina, kalau tidak ada kemajuan dalam pembicaraan perdamaian dengan Israel yang diperantarai Amerika Serikat sebelum September.

Sabtu, 28 Mei 2011

Perjuangan Bertemu Qiyadah


Oleh : Cahyadi Takariawan*

Namanya Agung Nugroho. Seorang aktivis dakwah yang tinggal di Danurejan, Yogyakarta. Dia bukan pengurus teras PKS, dia hanya seorang kader biasa, sama seperti kader lainnya. Namun dia memiliki semangat yang luar biasa besarnya untuk terlibat dalam upaya mencerdaskan masyarakat Indonesia melalui membaca. Sejak tahun 2003 Agung mendirikan Pustaka Keliling Adil, yang dia jalankan sendiri dengan penuh dedikasi.

Dengan sepeda motor miliknya, ia membawa buku-buku dan hadir ke tengah masyarakat Jogja. Ia meminjamkan buku itu secara gratis kepada siapapun yang memerlukannya. Ya benar, gratis. Padahal ia mengeluarkan biaya untuk mengoleksi buku, merawat, dan membawanya dengan motor ke tengah masyarakat. Ternyata antusias masyarakat demikian besar. Ini yang menjadikan Agung bertambah semangat.

Ia ingin menambah jumlah buku dan sarana yang lebih memadai untuk membawa buku-bukunya agar bisa semakin menjangkau banyak kalangan masyarakat. Maka ia membuat brosur berisi profil Pustaka Keliling Adil, dan berharap akan bisa dibagikan kepada para anggota legislatif saat acara Mukernas PKS di Yogyakarta bulan Februari 2011 yang lalu. Lebih-lebih, ia berharap bisa bertemu dengan para qiyadah PKS yang akan hadir pada Mukernas tersebut. Tapi, mungkinkah ? Ia sadar siapa dirinya.

Ia tidak tahu bagaimana bertemu ustadz Hilmi, ustadz Luthfi atau ustadz Anis. Ia bukan orang senior, juga bukan pengurus teras, apa mungkin diberi waktu dan kesempatan bertemu para qiyadah tersebut ? Kalaupun para qiyadah membuka diri untuk bertemu semua kader, namun pasti ada protokoler tertentu yang membuatnya tidak akan mudah bertemu para qiyadah. Apalagi kalau alasannya karena akan mengajukan proposal, pasti tidak mudah. Tapi keinginannya sangat kuat untuk bertemu langsung dengan para qiyadah.

Ia berpikir keras, bagaimana cara bertemu para qiyadah tanpa merepotkan pihak protokoler? Lesehan di Malioboro, itu momentum yang mungkin bisa mempertemukan dirinya dengan para qiyadah. Ya, mungkin itu momentumnya.

Jumat 25 Februari 2011, para peserta Mukernas PKS beserta para qiyadah akan makan lesehan di Malioboro, sebagai salah satu acara ramah tamah dengan masyarakat Yogyakarta. Agung telah siap di Malioboro tempat digelar makan lesehan itu jam 16.30, padahal acara baru akan dimulai jam 19.30. Ia tidak mau kehilangan momentum itu. Ia datang awal untuk melihat seting tempat dan mengetahui dimana tempat duduk para qiyadah. Benar, ia menemukan satu tempat VVIP yang nantinya akan menjadi lokasi makan para qiyadah dan pejabat penting di lingkungan PKS, seperti para Menteri dari PKS.

Ia menunggu di sekitar lokasi VVIP, sambil membagi brosur Pustaka Keliling Adil kepada para peserta yang mulai berdatangan di lokasi acara. Sore menjelang maghrib, hujan turun dengan cukup deras. Agung tetap setia menanti hadirnya para qiyadah yang dijadwalkan tiba jam 19.30. Ia mengerjakan shalat maghrib di mushalla sekitar acara, dan bersegera kembali berjaga ke tempat semula. Namun betapa terkejut, ketika usai shalat maghrib ia menjumpai tempat VVIP tersebut sudah dijaga dengan ketat oleh Kepanduan.

Ia gelisah, bagaimana cara ia akan masuk ke sana ? Ia tidak peduli. Ia tetap saja berdiri di sekitar lokasi VVIP. Hingga waktu Isya tiba, ia segera ke mushalla untuk menunaikan shalat. Usai shalat Isya ia kembali ke lokasi acara, dan lebih terkejut lagi karena tempat VVIP sudah penuh diisi para qiyadah dan pejabat PKS, dengan pengawalan yang tampak sangat ketat. Bagaimana ia bisa masuk dan bergabung ? Mana mungkin akan diizinkan, sedang ia bukan panitia Mukernas, bukan pengurus teras PKS, bukan siapa-siapa di lokasi acara itu. Ia hanya seorang Agung, yang sangat ingin bertemu para qiyadah.

Ia menatap dari kejauhan. Tiba-tiba matanya tertuju kepada sekelompok pengamen yang diizinkan mengamen di lokasi VVIP. Segera ia menuju ke kerumunan pengamen Malioboro yang tengah menghibur tamu VVIP, dan berdiri di antara para pengamen. Subhanallah, ternyata tak ada yang mempermasalahkan. Pihak panitia mungkin mengira ia adalah bagian dari kelompok pengamen, pihak pengamen mungkin mengira ia panitia. Jadi ia aman saja ikut beraksi di tengah pengamen.

Acara ramah tamah di tempat VVIP berjalan lancar, hingga tiba saat makan malam lesehan. Agung masih saja berdiri bersama para pengamen, dan belum mengetahui bagaimana cara bertemu para qiyadah itu. Ia melihat ustadz Hilmi Aminudin, ustadz Luthfi Hasan Ishaq, ustadz Sukamta, ustadz Zuhrif Hudaya dan para ustadz lainnya tengah duduk bercengkerama dengan akrab dan santai, sembari menikmati sajian lesehan Malioboro. Namun ia tidak berani maju untuk menyapa. Ia “hanya” kelompok pengamen, saat itu.

Cukup lama ia berada di tengah para pegamen, sejak kedatangan para tamu VVIP, hingga kini acara makan malam sudah selesai dan para tamu bersiap hendak meninggalkan lokasi acara, kembali ke tempat Mukernas. Ia tetap tidak tahu bagaimana bisa menyapa ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi. Ia tetap saja berdiri di tengah para pengamen.


Tidak dinyana, ustadz Zuhrif Hudaya memanggilnya. Ya, tentu saja ustadz Zuhrif mengenalnya, karena ia kader Jogja. Ustadz Zuhrif berencana akan maju Pilkada Walikota Jogja. Ternyata ustadz Zuhrif meminta untuk memotret di tempat itu, bersama para qiyadah. Senang sekali Agung mendapat kesempatan ke depan. Segera ia maju dan menerima kamera ustadz Zuhrif untuk memotret. Jepret, jepret, jepret…… Ia memotret ustadz Hilmi, ustadz Luthfi, dan para qiyadah lainnya, termasuk para menteri dari PKS…. Luar biasa senang hatinya.

Hatinya berdegub kencang. Saat memotret itu, ia tepat berada di depan ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi ! Masyaallah, tak pernah terbayang ia akan berada dalam jarak sedekat ini dengan para qiyadah. Sungguh, ia tidak pernah membayangkan mendapat kesempatan istimewa seperti ini. Tanpa dipikir panjang, usai memotret ia mengeluarkan brosur Pustaka Keliling Adil, dan langsung ia serahkan kepada ustadz Hilmi, ustadz Luthfi, dan semua tamu VVIP yang ada di lokasi itu. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar ! Ternyata brosur itu diterima para qiyadah, dan langsung dibaca !

Ia tidak percaya. Sungguh, ia melihat sendiri ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi membaca brosur itu ! Masyaallah……

Lebih terkejut lagi, tidak berapa lama ustadz Sukamta, ketua DPW PKS DIY, melambaikan tangan kepadanya, isyarat agar ia mendekat. Segera ia datang di depan ustadz Sukamta, ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi. Inilah saat itu. Ya, inilah saat yang ditunggu-tunggu. Untuk pertama kalinya ia berjabat tangan dengan ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi. Senang sekali hatinya, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata….

Ustadz Sukamta mengenalkan dirinya dengan ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi, serta para ustadz lainnya. Kemudian ia diminta menceritakan Pustaka Keliling Adil yang dikelolanya. Sangat bersemangat ia mendapat kesempatan langka ini. Segera ia cerita segala yang dilakukan, membawa buku-buku dengan sepeda motor, dan mendatangi masyarakat untuk meminjamkan buku dengan gratis kepada mereka.

Ustadz Hilmi dan ustadz Luthfi mendengar dengan seksama.

“Jadi antum membawa buku itu dengan motor biasa ?” tanya ustadz Hilmi.

“Iya ustadz. Itu fasilitas yang saya punya”, jawab Agung.

“Insyaallah saya akan bantu antum dengan dua motor khusus seperti yang antum perlukan”, kata ustad Hilmi.

Setengah tidak percaya ia mendapat respon yang secepat itu. “Benar ustadz ?” tanya Agung seperti tidak percaya.

“Iya benar”, jawab ustad Hilmi.

“Masyaallah, terimakasih ustadz, jazakallah khairan katsira”, ungkap Agung sangat gembira.

Belum selesai terkejutnya, tiba-tiba ustadz Luthfi menyodorkan sejumlah uang kepadanya. “Ini untuk antum Agung”, kata ustadz Luthfi sembari menyerahkan dana lima juta rupiah.

“Ini untuk apa ustadz ?” tanya Agung.

“Untuk membeli buku, melengkapi koleksi buku antum”, jawab ustadz Luthfi.

“Masyaallah, terimakasih ustadz. Jazakallah khairan katsira”, jawab Agung.

Luar biasa gembira hatinya. Luar biasa gelora jiwanya. Tak mengira bisa bertemu, berjabat tangan dan berbicara langsung dengan para qiyadah. Ternyata bukan sekedar bisa bertamu, bahkan mendapatkan hadiah yang sangat diperlukan untuk mengembangkan perpustakaan kelilingnya. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar !

Singkat saja pertemuan di tempat VVIP itu, namun sangat berkesan baginya. Acara selesai, para tamu kembali ke acara Mukernas di Hotel Sheraton Yogyakarta. Agung pulang dengan hati yang sangat berbunga-bunga….. Tak pernah terbayang akan bertemu peristiwa seperti itu dalam hidupnya.

Terbayang ia akan segera bisa melengkapi buku-buku perpustakaannya, dan memiliki dua unit motor khusus untuk pustaka keliling. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar !

Ia seakan masih tidak percaya, ketika hari Ahad 27 Februari 2011, ia dipanggil ke Hotel Sheraton Yogyakarta, tempat berlangsungnya rangkaian acara Mukernas PKS. Tahukah antum, ke ruang apa ia dipanggil ? Ya, ia dipanggil ke ruangan ustadz Hilmi. Benar-benar tak pernah terbayang oleh benaknya. Bercita-cita saja tidak berani, untuk bertemu ustadz Hilmi di ruangan beliau saat acara Mukernas.

Saat ia masuk, di dalam ruang telah menunggu ustadz Hilmi, ustadz Luthfi, dan beberapa pengurus teras DPW PKS DIY. Untuk kedua kalinya, ia bertemu dan berjabat tangan dengan para qiyadah ini, setelah dua hari sebelumnya bertemu di lesehan Malioboro.

Dalam kesempatan itu ustadz Hilmi memberikan dana Rp. 42 juta rupiah untuk membeli dua motor untuk Pustaka Keliling Adil. Inilah mimpi yang cepat sekali terealisasikannya. Ia tidak mengira akan secepat ini proses bantuan yang dijanjikan saat bertemu di Malioboro. Dan ternyata diserahkan langsung oleh ustadz Hilmi, di ruang beliau saat Mukernas PKS di Yogyakarta.

Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar !

Namanya Agung Nugroho. Seorang kader dakwah yang tinggal di Danurejan, Yogyakarta. Dia bukan pengurus teras PKS, dia hanya seorang kader biasa, sama seperti kader lainnya. Namun dia memiliki semangat yang luar biasa besarnya untuk bertemu para qiyadah, dan Allah mengabulkan keinginannya.

Lewat kisah ini Agung Nugroho ingin kembali menyampaikan ucapan terima kasih kepada ustadz Hilmi Aminudin dan ustadz Luthfi Hasan Ishaq. Dana itu kini telah berujud dua Motor Pintar Pustaka Keliling Adil, dan menjadi tambahan koleksi buku. Jazakumullah khairal jaza’ para qiyadah, yang telah berkenan bertemu dan mendengarkan aktivitas seorang kader biasa, bahkan memberikan bantuan yang sangat diperlukan. Insyaallah sangat bermanfaat untuk program pencerdasan masyarakat Indonesia.

* * * * * *

Ini “pesan sponsor” titipan Agung Nugroho:

Pustaka Keliling Adil adalah salah satu Perpustakaan yang ada di wilayah Jogjakarta, yang melayani peminjaman buku secara gratis. Kini Pustaka Keliling Adil telah memiliki cabang dan 2 motor Pintar. Dalam rangka mensukseskan Gerakan Budaya Membaca, maka dengan ini Pustaka Keliling Adil mohon bantuan kepada para donatur berupa buku atau majalah layak baca anda, untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan. Kirimkan saja bantuan buku anda ke : Pustaka Keliling Adil di Ledok Tukangan DN 2 / 177 RT 005 RW 001 Yogyakarta 55212, telp. 0274 553911, HP 081578071460.

beritapks.com

Inspirasi dari Nazaruddin dan Gayus untuk Pemuda Indonesia !



Oleh : Hatta Syamsuddin, Lc

Jika kita sedikit menghayati ungkapan Ronggowarsito, bahwa jaman sekarang sudah jaman edan, maka yang tidak ikut ngedan tidak akan kebagian apa-apa, atau ditambah lagi dengan keluh kesah sebagian orang pada saat ini, dimana nyari yang haram saja susah, apalagi nyari yang halal. Gimana tidak, mau maling ayam saja takut digebuki massa, salah-salah bisa dibakar begitu saja oleh massa yang beringas. Nah, dengan pemahaman dan penghayatan terhadap ungkapan-ungkapan di atas, kita bisa menilai bahwa sejatinya Nazaruddin dan Gayus adalah sosok pemuda yang mempunyai prestasi jauh melebihi teman sebayanya.

Sengaja Nazaruddin dan Gayus Tambunan saya sandingkan, mengingat mereka berdua memiliki kemiripan yang sangat banyak. Dimulai dari usia muda yang tak terduga, bahwa mereka baru saja melewati kepala tiga. Gayus Tambunan dengan usia 30 tahun, dan Nazaruddin dengan usia 33 tahun bahkan telah menjajal posisi Bendahara Umum sebuah Partai pendulang suara terbesar di pemilu 2009 lalu. Kemiripan berikutnya tentu terletak pada aset mereka yang melaju dikisaran puluhan milyar rupiah. Angka milyaran rupiah dalam genggaman hampir-hampir tidak pernah diimpikan oleh pemuda lain yang seusia dengan mereka. Diimpikan saja tidak, bagaimana dipegang dengan sepenuh kendali ?. Kalau mau menyebut kemiripan mereka berdua tentu saja jelas, sama-sama tersandung perkara korupsi, bahkan juga sama-sama menikmati berwisata di luar negeri ke tempat favorit tersangka korupsi : Singapura !

Melihat judul di atas, mungkin banyak yang akan protes keras bahwa yang mereka berdua lakukan adalah hal yang tidak terpuji, yaitu perilaku korupsi dan sebagainya. Saya sepakat 100% dengan pandangan tersebut, tentang perbuatan korupsi dan kemaksiatan lainnya adalah sesuatu yang akal sehat kita pasti tidak akan pernah menyetujuinya, dan sekali-kali saya juga tidak menganggapnya sesuatu yang baik.

Namun, lihatlah lebih jauh bahwa sebenarnya Nazaruddin dan Gayus memberikan secarik inspirasi pemuda bagi Indonesia. Mereka berdua telah memainkan potensi yang semestinya ada pada setiap pemuda, lalu mengembangkannya dengan keberanian luar biasa, maka kemudian mencapai hasil yang luar biasa pula. Namun sayang seribu sayang, pengembangan potensi dan akselarasi yang luar biasa itu tidak pada jalur yang terpuji.

Sikap mental, keberanian dan kecerdikan lah yang mengantarkan keduanya ada pada tingkat ‘kesuksesan’ dan ‘prestasi’ yang melebihi teman sebayanya. Kekuatan fisik , mobilitas tinggi , kemampuan komunikasi, dikembangkan sepenuhnya untuk lobby-lobby dan bersinergi hingga keduanya diterima dalam jajaran orang-orang yang jauh lebih tinggi dari usia mereka yang masih senior. Anda bisa bayangkan bagaimana seorang Gayus Tambunan yang dengan pangkat golongan III bisa dengan gagah duduk berjajar dengan orang-orang terkenal di negeri ini seperti Adnan Buyung Nasution, bahkan kepulangannya di Indonesia pun harus dijemput petugas sekelas Kabareskim Ito Sumardi ? Pemuda itu terlihat lugu memang, tapi siapa sangka dia pun bisa keluar masuk penjara dengan santainya, bahkan berwisata keluar negeri dan membuat paspor seharga ratusan juta ?. Nazarudin juga tidak kalah hebatnya, pada tahun 2007 ia hanyalah seorang ‘kutu loncat’ dari PPP ke Partai Demokrat, namun kegesitannya yang luar biasa mampu mengantarkannya menjadi posisi Bendahara Umum partai penguasa. Hasil capaian keuangannya pun jauh melesat dibanding lima tahun lalu yang masih ‘biasa-biasa’ saja.

Saya tidak mengajak Anda pada kekaguman atas sebuah kemaksiatan. Tidak dan sekali-kali tidak. Tapi mari kita mengakui bahwa Nazaruddin dan Gayus adalah pemuda yang sukses melejitkan potensi kepemudaannya, pada jalur yang salah. Saya hanya membayangkan seandainya keberanian, kecerdikan, mobilitas, kemampuan komunikasi dari pemuda Indonesia bisa dikembangkan dan dilejitkan sebagaimana Gayus dan Nazaruddin, namun -tentu saja- pada jalur dan arah yang benar lagi terpuji, maka bisa dipastikan bangsa ini akan menuai sosok-sosok pemuda hebat dan berprestasi yang luar biasa, bahkan jika perlu menggoncangkan dunia sebagaimana digadang-gadang oleh Presiden RI yang pertama.

beritapks.com

Jumat, 27 Mei 2011

10 Hal yang Meningkatkan Motivasi

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sering kita menyaksikan orang yang tampak tidak bergairah dalam menjalani kehidupan. Ia melakoni hidup mengalir begitu saja bersama waktu, tanpa menunjukkan adanya sebuah semangat dan motivasi dalam menjalani kegiatan. Di berbagai tempat kita melihat orang-orang yang melaksanakan kegiatan dengan keterpaksaan, anak-anak sekolah yang datang tanpa kehadiran perasaan, para pegawai kantor yang masuk kerja tanpa semangat yang menyala. Ada apa dengan mereka ?

Indonesia harus dibangun dengan semangat menyala. Upaya perbaikan di berbagai bidang kehidupan harus dilaksanakan dengan sepenuh pikiran, tenaga, waktu, harta bahkan jiwa. Tidak bisa dikerjakan dengan semaunya, tanpa tenaga, tanpa jiwa, tanpa etika. Hidup harus kita nikmati dengan sepenuh motivasi, agar semua langkah kita menjadi berarti. Masuk sekolah dengan penuh motivasi, kuliah dengan penuh percaya diri, bekerja dengan sepenuh hati, melakukan kegiatan kemasyarakatan dengan penuh dedikasi.

Agar hidup ini bisa lebih kita nikmati, semestinya harus berangkat dari motivasi. Apakah yang membuat anda termotivasi dalam menjalani kegiatan sehari-hari ? Coba perhatikan sepuluh poin berikut ini.

1. Memiliki Visi Hidup yang Jelas

Apa visi hidup anda ? Ingin menjadi apa anda dalam kehidupan ini ? Bahagia dunia dan bahagia akhirat, itukah visi hidup anda ? Anda ingin masuk surga ? Alhamdulillah, semoga itu visi anda. Berjalanlah anda menuju visi yang telah anda tetapkan itu. Setiap kali anda bangun tidur, segera ingatkan diri, bahwa anda harus bekerja keras mencapai visi yang anda canangkan. Visi anda tidak mungkin terwujud dengan bermalas-malas dan tak mau kerja keras. Motivasi terus diri anda dengan visi yang telah anda tetapkan. Surga tidak datang dengan sendirinya, namun anda harus berjalan bahkan berlari menyambutnya.

Seorang pelajar SMA menetapkan visi ingin lulus Ujian Nasional dan bisa masuk Universitas Indonesia. Inilah visi “jangka pendek” yang ada dalam benaknya. Namun sangat jelas. Maka ia akan belajar keras dan melakukan berbagai aktivitas yang menunjang tercapainya keinginan tersebut. Ia akan rajin masuk sekolah, rajin mengerjakan tugas, rajin ke perpustakaan, rajin belajar, karena ingin lulus Ujian Nasional dan masuk Universitas Indonesia. Dengan itu ia akan termotivasi melakukan yang terbaik demi tercapainya visi yang ditetapkannya.

2. Ingin Menjadi Pemenang

Jika anda mengikuti perlombaan lari, yang membuat anda berusaha berlari dengan cepat meninggalkan semua peserta lainnya adalah keinginan untuk menjadi pemenang. Keinginan menjadi pemenang ini menjadi sebuah motivasi yang luar biasa dahsyat, karena anda bersedia mengeluarkan energi terhebat yang anda miliki. Hidup ini adalah bab mengambil kesempatan, karena Tuhan pergulirkan kesempatan itu kepada semua manusia. Siapa yang terjaga, waspada, dan siap siaga, akan bisa menang mengambil kesempatan yang Tuhan pergilirkan. Jadilah pemenang dalam kehidupan.

Seorang mahasiswa ingin mencapai indeks prestasi tertinggi dan lulus paling cepat dibanding teman-teman kuliahnya. Keinginan menjadi pemenang seperti ini membuat dia rajin kuliah, rajin ke kampus, rajin ke perpustakaan, rajin mengumpulkan tugas, rajin konsultasi, dan rajin belajar di rumah. Ia rela mengorbankan kesenangan dirinya demi meraih cita-cita besarnya. Ia tidak rela dirinya dikalahkan oleh teman-teman kuliahnya. Ia harus menjadi juara. Inilah motivasi yang luar biasa besarnya dalam hidup anda.

3. Ingin Sukses Menghadapi Tantangan Kehidupan

Tidak ada kehidupan yang tanpa tantangan. Semua orang memiliki tantangan dalam menjalani aktivitas keseharian. Keinginan anda untuk bisa sukses menghadapi tantangan kehidupan ini menjadi motivasi yang luar biasa besar bagi anda untuk menjalani kehidupan dengan tegar dan penuh energi. Anda tidak cepat dibuat putus asa jika menghadapi tantangan, karena anda ingin mengalahkannya. Seperti anak sekolah yang belajar keras karena ingin lulus ujian dengan baik. Begitulah hidup kita, harus berusaha serius untuk mengalahkan tantangan yang pasti datang.

Seorang pengusaha kecil yang memiliki usaha warung makan sederhana, merasa tertantang saat melihat ada usaha serupa yang baru saja buka di dekat tempat usahanya. Ia menjadi termotivasi mengelola warung makannya dengan lebih baik setelah ada tantangan di depan matanya. Semula ia berlaku santai saja, karena tidak ada tantangan yang ada di hadapannya. Begitu ada pesaing yang bisa mengancam usahanya, ia menjadi lebih bersemangat mengelola warung makannya. Tantangan memang membuat hidup lebih menarik dan lebih berwarna.

4. Ingin Membahagiakan

Jika anda seorang suami yang ingin membahagiakan isteri, anda harus berusaha sekuat kemampuan untuk bisa merealisasikannya. Jika anda orang tua, hal yang memotivasi aktivitas kehidupan adalah ketika anda ingin membahagiakan anak anda. Seorang lelaki tua telah berjalan jauh dari kampungnya, menuju rumah seseorang yang diyakini memiliki sepatu bekas untuk anaknya. Karena anaknya tidak memiliki sepatu sementara hari senin besok sudah harus masuk sekolah. Ia ingin membahagiakan anaknya. Ia tidak ingin mengecewakan anaknya yang masuk sekolah tanpa sepatu.

Seorang suami rela menyisihkan sebagian uang yang dimilikinya rutin setiap hari, demi membahagiakan isterinya. Ia berusaha menabung dengan uang yang tidak seberapa besar, namun itu ia lakukan secara rutin setiap hari. Ia ingin membelikan sepeda motor untuk isteri tercinta, karena isterinya harus antar jemput anak-anaknya yang sekolah sementara jaraknya cukup jauh. Selama ini isterinya naik sepeda kayuh. Ia ingin isterinya memiliki sepeda motor. Keinginan membahagiakan ini yang memotivasi dia melakukan penghematan belanja demi membelikan motor bagi isteri tercinta.

5. Memiliki Cinta Membara

Cinta membuat anda bersedia melakukan apa saja. Demi seseorang yang anda cintai, anda melakukan kegiatan dengan volume yang sangat padat. Siang dan malam anda tetap melakukan sesuatu, demi orang-orang yang anda cintai. Seorang isteri yang sangat mencintai suami, berusaha berdandan dan berpenampilan yang paling menarik agar selalu disayangi suami. Ia mengikuti klub senam aerobik, ia rutin merawat tubuhnya ke skincare ternama. Ia rela menghabiskan banyak uang untuk menyenangkan hati suami yang sangat dicintai.

Sebagai suami yang sangat mencintai isteri, anda akan rela bekerja mencari rejeki dengan mengeluarkan energi yang luar biasa besarnya. Demi menghidupi anak dan isteri, demi menuntaskan rasa cinta membara, anda rela mengerjakan berbagai aktivitas sejak pagi hingga malam hari. Rasa lelah seakan sudah tidak terasa lagi, semua demi orang-orang tercinta. Bahkan pasangan suami dan isteri yang berada di titik puncak persoalan rumah tangga, sampai ingin bercerai, bisa kembali berada dalam suasana normal karena cinta mereka kepada anak-anak yang sedemikian besarnya. Mereka tidak ingin melihat anak-anak bermasalah masa depannya akibat orang tuanya bercerai. Maka mereka memutuskan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga, demi cinta mereka kepada anak-anak hasil pernikahan mereka.

6. Ingin Memberikan yang Terbaik

Jika anda seorang pegawai di sebuah instansi, yang memotivasi anda datang ke kantor dan bekerja dengan serius adalah keinginan memberikan yang terbaik dalam dunia kerja anda. Jika anda aktivis kemasyarakatan, keinginan memberikan yang terbaik bagi masyarakat menyebabkan anda rela melakukan berbagai aktivitas tanpa mendapatkan upah atau imbalan. Anda kerjakan penuh dedikasi, karena ingin memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, walaupun untuk itu harus mengorbankan berbagai kepentingan anda. Misalnya, harus keluar dana dari saku anda sendiri, mengorbankan waktu anda, mengorbankan fasilitas yang anda miliki.

Jika anda aktif dalam dakwah, yang memotivasi anda adalah keinginan memberikan yang terbaik untuk tercapainya tujuan dakwah. Anda tidak ingin dakwah melemah, maka anda selalu berusaha melakukan tindakan yang terbaik, memberikan waktu, tenaga, harta dan semua fasilitas kehidupan yang anda miliki demi suksesnya kegiatan dakwah. Karena itulah anda tidak berhitung lagi tentang resources yang anda keluarkan untuk melancarkan dakwah. Semua anda keluarkan dengan sepenuh kesadaran tanpa ada penyesalan.

7. Ingin Memberi Teladan

Kadang anda melihat kenyataan betapa minimnya keteladanan dalam kehidupan. Untuk itu anda berusaha untuk selalu memberikan keteladanan bagi semua orang. Dimulai dari rumah tangga anda sendiri, anda ingin anak-anak tumbuh menjadi shalih dan tidak tercemar oleh perilaku menyimpang yang sangat banyak melanda generasi muda. Untuk itu anda selalu berusaha memberikan contoh kehidupan yang baik agar anak-anak anda mengerti dari teladan yang anda tampilkan setiap hari.

Jika anda menjadi tokoh masyarakat, sangat ingin anda memberikan keteladanan bagi seluruh warga. Berbagai kerusakan moral dengan sangat mudah disaksikan di tengah kehidupan masyarakat, sedih sekali anda melihat itu semua. Banyak kalangan masyarakat menghendaki anda memberikan contoh teladan karena telah sedemikian mewabah kerusakan moral yang ada. Anda merasa memiliki kewajiban memberikan contoh keteladanan, maka anda rela meninggalkan berbagai hal yang anda anggap tidak memberikan keteladanan. Semua anda kerjakan dengan penuh dedikasi demi bisa memberi keteladanan terbaik bagi keluarga dan masyarakat.

8. Ada Hasil yang Jelas Manfaatnya

Anda akan sangat bersemangat melaksanakan kegiatan apabila anda meyakini bahwa dari kegiatan tersebut mendatangkan kemanfaatan yang sangat jelas. Bisa jadi kemanfaatan tersebut berupa meningkatnya kepangkatan, meningkatnya penghasilan, meningkatnya jenjang keanggotaan, meningkatnya hasil usaha, meningkatnya jumlah anggota, meningkatnya omset, meningkatnya perolehan suara, dan lain sebagainya. Bisa pula kemanfaatan tersebut bercorak kualitatif, misalnya meningkatnya penghormatan, meningkatnya kasih sayang, meningkatnya pengetahuan dan lain sebagainya.

Apabila anda tidak melihat ada manfaat yang jelas, akan sangat berat bagi anda mengikuti suatu kegiatan. Maka sangat penting bagi anda untuk mencari dan menemukan kemanfaatan yang jelas dalam setiap aktivitas rutin yang anda lakukan. Misalnya, apa kemanfaatan shalat yang rutin anda lakukan ? Apa kemanfaatan puasa yang anda lakukan selama sebulan ? Apa kemanfaatan belajar dalam kehidupan anda ? Apa kemanfaatan silaturahim ? Apa kemanfaatan olah raga ? Coba cari dan temukan berbagai kemanfaatan dalam setiap aktivitas yang anda lakukan.

9. Ingin Menunaikan Kewajiban

Kewajiban harus ditunaikan, karena jika dilalaikan akan mendapatkan catatan pelanggaran. Misalnya seorang guru, ia memiliki kewajiban mengajar di kelas. Harusnya ia memiliki visi yang jelas untuk mencerdaskan bangsa Indonesia melalui pengajaran. Dengan visi besar ini, maka dia mengajar bukan semata-mata karena menunaikan kewajiban, namun karena penunaian visi besar. Seandainya tidak memiliki visi sebesar itu, minimalnya memiliki kemauan untuk menunaikan kewajiban.

Seandainya ada seorang suami yang tengah mengalami kelunturan cinta terhadap isterinya, ia masih bisa mendapatkan motivasi dari keinginan untuk menunaikan kewajiban menafkahi keluarga. Jika ia tidak bekerja mencari nafkah, berarti telah melalaikan kewajiban sebagai suami. Maka sang suami ini bekerja dengan bersungguh-sungguh agar bisa mendapatkan rejeki yang mencukupi untuk memberi makan anak dan isteri. Dengan cara itulah ia menunaikan kewajiban sebagai suami.

10. Ingin Mendapatkan Apresiasi Positif

Kadang orang termotivasi karena ingin mendapatkan apresiasi yang positif oleh orang lain. Misalnya seorang politisi melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan, salah satu motivasinya adalah ingin mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat dan media, bahwa dia adalah seorang yang memiliki kepedulian sosial yang nyata. Dia ingin mendapatkan simpati massa dengan aktivitasnya, di tengah kerusakan yang terjadi pada banyak pelaku politik dan aktivis partai politik. Dia ingin tunjukkan sisi-sisi kemanusiaan, bahwa politik tidak selalu bermakna penipuan dan pembunuhan karakter.

Namun keinginan yang harus paling kuat adalah agar mendapatkan apresiasi positif dari Tuhan Yang Maha Mengetahui segala perbuatan hamba. Bukan hanya keinginan mendapatkan apresiasi positif dari manusia, lebih dari itu harus termotivasi untuk mendapatkan apresiasi positif dari Tuhan. Ingin mendapatkan pahala dan balasan kebaikan dari Tuhan. Itulah motivasi yang sangat tinggi untuk berprestasi, motivasi yang tinggi untuk melakukan semua aktivitas dengan mencurahkan semua potensi yang dimiliki.

Senayan, 27 Mei 2011

Ruhiyah Yang Ringkih


Ada fenomena berbahaya yang menggejala pada sebagian kader dakwah. Fenomena tersebut dapat terbaca oleh mereka yang jeli memperhatikan tutur kata, pandangan mata serta gerak langkah kader tadi. Fenomena yang dimaksud berupa melemahnya aspek ibadah serta meringkihnya sisi ruhiyah. Bagi kalangan kader yang mengemban tugas menggerakkan roda dakwah (amilin), hal demikian sangat berbahaya dan berpotensi besar melemahkan kekuatan harakah, disamping sebagai bukti menjauhnya mereka dari manhaj yang mereka kenali.

Semua kita tahu bahwa aspek ruhiyah serta ibadah merupakan garapan terdepan manhaj tarbiyah. Penekanan terhadap kedua aspek tadi bukanlah suatu yang berlebihan sehingga mengesankan adanya upaya pembentukan arus tasawuf dalam harakah dakwah. Yang jelas kedua aspek tadi adalah amar (perintah) dari Allah yang harus ditegakkan di samping menjadi wasilah atau sarana yang akan menopang soliditas harakah.

Al-Quràn banyak sekali memberi penekanan terhadap aspek-aspek ruhiyah, ibadah, taqarrub, khasysyah, inabah, tsiqah serta tawakal kepada Allah. Begitupun sunnah nabawiyah memberikan perhatian besar terhadap semua aspek tadi seraya banyak sekali menuangkan permisalan agar dapat dipahami maknanya dengan baik. Aplikasi nilai-nilai tadi akan mampu mengokohkan ruhiyah dan memberikan peluang kepada diri untuk mengembangkan potensi yang selanjutnya mampu memikul amanah dakwah. Selain itu, setiap kader akan dapat merasakan manisnya iman, indahnya zuhud, mementingkan yang disediakan Allah di akhirat serta tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Apabila nilai-nilai tadi lepas dari genggaman setiap kader, maka akan meringkihkan ruhiyahnya, kemudian sakit dan berakhir dengan kematian ruhiyah tersebut, nau`dzubillah. Fenomena ruhiyah yang ringkih dan lemah tidak sedikit jumlahnya. Di sini disebutkan sebagian sambil menurunkan beberapa kasus dilapangan agar dapat menjadi peringatan bagi setiap kader agar ia dapat segera mengatasinya.

1. Merasakan keras dan kasarnya hati, sampai-sampai seseorang merasakan bahwa hatinya telah berubah menjadi batu keras. Di mana tidak ada sesuatupun yang dapat merembes kepadanya ataupun mempengaruhinya. Ungkapan ini tidaklah berlebihan, bukankah Al-Qur’an telah menerangkan bahwa hati dapat mengeras sekeras batu. Allah berfirman, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”. (Q.S. Al-Baqarah: 74).

2. Perangai yang tersumbat dan dada yang sempit. Sampai-sampai terasa ada beban berat menghimpit dan nyaris terengah-engah kelelahan, sering mengomel dan mengeluh terhadap sesuatu yang tidak jelas atau gelisah dan sempit dalam pergaulan sehingga tidak peduli terhadap derita orang lain, bahkan timbul ketidaksukaan kepada mereka.

3. Tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung ancaman, tuntutan, larangan atau tentang peristiwa kiamat. Dia mendengarkan Al-Qur’an seperti mendengar kalam-kalam lainnya. Lebih berbahaya lagi apabila dia merasa sempit ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an seperti sempitnya dia ketika mendengarkan omongan orang lain. Dia tidak menyediakan waktu sedikitpun untuk tilawah dan apabila mendengarnya dari orang lain dia tidak melakukannya dengan khusyu’ dan tenang.

4. Peristiwa kematian tidak memberikan bekas pada dirinya. Begitu juga ketika menyaksikan orang mati, mengusung jenazah atau menguburkannya di liang lahat, sedikitpun tidak ada pengaruh pada dirinya. Jika melewati pekuburan seakan hanya berpapasan dengan batu-batu bisu, dan tidak mengingatkannya akan kematian.

5. Kecintaanya terhadap kesenangan duniawi senantiasa bertambah. Kesukaannya memenuhi syahwat selalu berkobar. Fikirannya tidak jauh dari pelampiasan syahwat tadi sehingga dia merasa tentram bila sudah memperolehnya. Apabila melihat orang lain memperoleh kenikmatan dunia seperti; harta, kedudukan, pangkat, rumah atau pakaian yang bagus, dia merasa tersiksa dan menganggap dirinya gagal. Lebih tersiksa lagiapabila yang mendapatkan kenikmatan duniawi itu adalah saudaranya sendiri atausahabatnya. Terkadang timbul pada dirinya penyakit hasad atau dengki di mana dia tidak ingin kenikmatan itu tetap ada pada saudaranya.

6. Ada kegelapan dalam ruhiyah yang berbekas di wajahnya. Hal ini dapat diamati oleh mereka yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah. Setiap mu’min memiliki nur sesuai dengan kadar keimanannya, dia mampu melihat sesuatu yang tidak mampu dilakukan orang lain. Kegelapan ruhiyah tadi ada begitu pekat sampai begitu jelas tergambar di wajahnya dan dapat diamati oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah paling lemah sekalipun. Tetapi kegelapan yang remang-remang hanya dapat diamati oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang kuat.

7. Bermalas-malasan dalam melakukan kebaikan dan ibadah. Hal tersebut terlihat dengan kurangnya perhatian dan semangat. Shalat yang dilakukan hanya sekedar gerakan, bacaan, berdiri dan duduk yang tidak memiliki atsar atau pengaruh sedikitpun. Bahkan tampak dia merasa terganggu oleh shalat seakan dia berada dalam penjara yang dia ingin berlepas darinya secepat mungkin.

8. Lupa yang keterlaluan kepada Allah. Sedikitpun dia tidak berdzikir dengan lisannya dan tidak juga ingat kepada-Nya. Padahal dia selalu menyaksikan ciptaan Allah SWT. Bahkan terkadang dia merasa keberatan untuk sekedar berdzikir atau berdo’a kepadanya. Jika dia mengangkat tangannya, cepat sekali dia turunkan kembali untuk segera pergi.

by. ustadz mahfudz sidik

Bangga Sebagai Seorang Muslim












Di antara nikmat yang tidak terhitung bagi kita semua adalah ni’matul wujud atau nikmat kehidupan. Bahwa kita dijadikan salah satu makhluk-Nya yang dimuliakan yang hidup di alam raya ini. Kehidupan ini memberikan kepada kita hak-hak yang luar biasa banyaknya setelah Allah swt memberikan eksistensi/keberadaan diri kita dalam kehidupan.

Karunia kedua, ni’matul insan, fakta bahwa kita adalah manusia yang ditetapkan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan, keunggulan dalam struktur jasmani dan ruhani dibanding makhluk-makhluk lainnya.

Karunia ketiga, ni’matul ‘aql atau karunia akal. Allah swt memberi kepada kita kemampuan membaca dan menulis, kemampuan untuk menjelaskan, kekuatan untuk memahami ayat-ayat-Nya yang tersurat dan tersirat, diantara ayat-ayat-Nya yang tidak tertulis adalah fenomena di alam raya ini.

Lebih dari pada itu, ada karunia yang jauh lebih besar. Yakni, ni’matul hidayah ilal Islam (karunia petunjuk menjadi seorang Muslim). Inilah nikmat yang paling mulia dan paling berharga.

Dan ini tidak Allah berikan kepada semua manusia, melainkan hanya kepada kita.

"Sesungguhnya kenikmatan beragama hanya Aku berikan kepada hamba yang Aku pilih dari hamba-hamba-KU yang shalih."(al Hadits).

Karena itu nikmat ini haruslah kita syukuri. Inilah jalan satu-satunya yang Allah berikan kepada kita agar kita mendapat kebaikan/kemuliaan di dunia dan di akhirat.

“Jika kamu mensyukuri nikmat-Ku, pasti akan Aku tambah. Tapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, ketahuilah bahwa adzab-Ku pasti pedih .” (QS. Ibrahim (14) : 7)

Mensyukuri nikmat hidayah Islam itu dengan beberapa cara.

Pertama, syukuri nikmat ini dengan menumbuhkan perasaan bahwa kita bangga dan mulia dengan beragama Islam.Kita harus merasa bangga, percaya diri bahwa kita adalah orang Islam. Katakan kepada semua orang dengan penuh kebanggaan, ”Saya adalah orang Islam. Saya adalah umat tauhid. Saya adalah umat al-Qur’an. Saya adalah umat Muhammad saw.”


Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi Muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam. Tiada lagi selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku, bangsa, kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabkuadalah Islam.

Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami, bagian dari keluarga Muhammad saw.”

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Katakanlah, Hai Ahli kitab marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan suatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Ali Imran (3) : 64).

Maka tatkala ia merasakan keingkaran dari mereka (Bani Israil) berkatalah dia, Siapakah yang menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. "Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri." (QS. Ali Imran (3) : 52).

Kita harus bangga bahwa kita adalah Muslim. Karena faktanya bahwa Islam itu diturunkan sebagai misi di mana Muhammad saw sebagai Rasulnya, juga diturunkan ke muka bumi dengan tujuan menyebarkan kasih sayang. Karena itu kita haruslah bangga, karena kitalah yang dinanti-nanti/dirindukan oleh umat manusia. Kita rahmat bagi alam semesta ini. Kita bagaikan air yang dirindukan oleh orang yang haus dahaga. Kita adalah makanan yang sedang dimimpikan oleh orang yang lapar. Kita adalah thabib yang ditunggu-tunggu para pasien.

Fakta lain, kita harus bangga menjadi Muslim, adalah bahwa kita mempunyai kitab suci. Al-Qur’an sendiri telah menjamin bahwa kitab ini tidak mungkin ternodai. Tidak satu huruf atau titik pun yang akan merubah kesucian al-Qur’an yang sudah pasti di pelihara oleh Allah. Karena itu kebenaran al-Qur’an akan tetap abadi. Al-Qur’an yang ada di Indonesia adalah al-Qur’an yang ada dan dibaca oleh saudara-saudara kita di muka bumi lain. Al-Qur’an yang dicetak di Indonesia, Arab Saudi, Mesir adalah al-Qur’an yang dicetak di seluruh dunia. Oleh karena itu, kita mempunyai alasan yang sangat kuat bahwa kitalah pihak yang paling berhak menyampaikan kebenaran dari Allah kepada seluruh umat manusia.

Menjadi rahmat

Kita adalah rahmat untuk seluruh umat manusia. Rahmat bagi yang jauh dan dekat. Rahmat dalam keadaan damai dan keadaan perang. Rahmat untuk Muslimin dan Muslimat. Rahmat untuk manusia dan binatang. Rahmat untuk Muslim dan non-Muslim. Rahmat untuk lingkungan sosial kita. Al-Quran sendiri yang terdiri dari 114 surat, semuanya diawali dengan bismillahirrahmanirrahim kecuali surat at Taubah. Ini menunjukkan bahwa sifat yang menonjol, dan melekat pada diri Allah SWT adalah Ar Rahman dan Ar Rahim. Rahmat-Nya agung, Rahmat-Nya selalu mengalir, membasahi seluruh alam. Panutan kita Rasulullah saw dalam peri hidupnya memiliki sikap kasih sayang. Demikianlah Allah swt memuliakan kita dengan Al-Qur’an dan Rasul-Nya.

Cobalah perhatikan, pernah dalam suatu pertempuran Rasulullah saw menyaksikan ada seorang perempuan yang ikut terbunuh. Lalu beliau mengatakan kepada para sahabatnya, ”Tidak mungkin perempuan ini ikut berperang sehingga ia tidak layak di bunuh.” Demikian rahmat Islam dalam peperangan. Rasulullah saw melarang umatnya untuk membunuh perempuan, anak-anak, orang tua, para pendeta, merusak tempat ibadah, memotong pohon. Perang adalah perkara yang sangat dibenci dalam Islam meskipun perang itu sebagai kenyataan yang dipaksakan dalam kehidupan. Itulah sebabnya Islam menjelaskan bahwa kita adalah rahmat untuk manusia sekalipun kita berperang.

Tidak ada manusia yang mencintai perang. Tidak ada manusia yang senang dengan pertumpahan darah. Oleh karena itu, ketika Rasulullah saw ada kesempatan untuk membunuh lawan-lawannya dalam peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), tapi itu tidak pernah dilakukan oleh beliau. Ketika seluruh orang Quraisy berkumpul di sekeliling masjidil Haram sebagai pihak yang kalah, Rasulullah saw bertanya kepada mereka, ”Apa yang kalian duga yang akan saya lakukan kepada kalian?” orang-orang Quraisy itu tertunduk dengan mengatakan, ”Kami menduga engkau pasti akan melakukan sesuatu yang baik bagi kami karena engkau adalah saudara kami yang mulia (akhun karim),” Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka, ”idzhabu faantum thulaqa’. laa yatsriba ‘alaikumul yaum. (Hari ini tidak ada dendam. Hari ini kalian bebas semuanya. Pergilah semuanya, kalian bebas.

Lihatlah bagaimana Rasulullah memperlihatkan kasih sayang, ketulusan dan kecintaannya. Bandingkan dengan karikatur yang digambarkan oleh orang-orang Denmark tentang Rasulullah dengan kartun yang menggambarkan Rasulullah dikelilingi perempuan sambil menghunus pedang. Itu sangat berlawanan (kontradiktif) dengan kemuliaan dan kasih sayang Rasulullah saw. Karena ternyata fakta sejarah menunjukkan Rasulullah saw justru mampu memunculkan rasa kasih sayang hingga dalam situasi beliau mampu melakukan apa saja terhadap musuh-musuhnya.

Bila kewajiban kita adalah mensyukuri nikmat Islam, maka kita harus bangga dengan Islam, dan itu artinya kita harusistiqamah dan konsisten serta konsekwen dengan ajaran Islam. Tidak cukup dengan kata-kata bahwa kita adalah Muslim, tapi kita harus mengamalkan apa yang diajarkan oleh Islam. Islam harus mewarnai kehidupan kita, dalam cara berpikir, bersikap, merasa, dan dalam seluruh gaya hidup kita semuanya. Islam sebagai pengarah tunggal dalam segala aspek kehidupan kita. Aspek ideologi, politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan pertahanan keamanan.

Jika kehidupan ini tidak ditemani oleh Islam akan membuat pemburunya kecewa dan akan terjadi penyesalan sepanjang hayat.

Marilah kita jadikan Islam sebagai darah daging kita dan jati diri kita. Di sinilah rahasia kemuliaan, kejayaan dan kemenangan kita secara mikro dan makro. Tunjukkan keislaman kita dengan bentuk apa saja; kepribadian, perilaku, pekerjaan dan hubungan. Di mana saja dan kapan saja. Sebab, jika orang Islam tak bangga dengan Islam-nya, di situlah salah satu indikasi awal kemunduran Islam terjadi. Wallahu a’lam.

Shalih Hasyim. Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Kamis, 26 Mei 2011

Dari Politisi Dunia Menuju Politisi Akhirat


Oleh : Erwyn Kurniawan
Izinkan saya mengambil sudut pandang berbeda dalam melihat wafatnya Ustadzah Yoyoh Yusroh. Beberapa jam setelah mendapat kabar duka tersebut, tiba-tiba saja saya teringat dengan kasus yang membelit M. Nazaruddin. Sederet pertanyaan berkecamuk di benak saya: mengapa kedua peristiwa ini terjadi secara bersamaan? Adakah keduanya berkelindan? Hikmah apa yang bisa diambil dari kedua peristiwa yang saling bertolak belakang tersebut?
Dalam kacamata sebagai seorang muslim, kita yakin tak ada secuilpun kejadian di dunia ini yang luput dari desain Allah. Bahkan daun-daun yang berguguran sekalipun. Begitu juga kedua kejadian tersebut di atas. Setelah beberapa saat merenung, akhirnya saya menemukan kaitannya. Saya teramat yakin, kedua kejadian itu terjadi secara bersamaan karena Allah memberikan hikmah didalamnya.
Masih ingatkah kita dengan kematian tak terduga beberapa anggota DPR masa bakti 2009-2014? Dimulai dari pucuk pimpinan dewan, yakni Wakil Ketua DPR Marwoto Mitrohardjono. Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu meninggal dunia pada 3 Januari 2010. Lalu politikus Partai Golkar, Burhanuddin Napitupulu yang meninggal saat bermain golf di Senayan pada 21 Maret 2010. Kemudian ada Mustokoweni Murdi, juga dari Partai Golkar yang wafat pada Jumat, 18 Juni 2010 ketika kunjungan kerja Komisi II ke Jawa Tengah.
Tak berhenti disitu. Masih ada Setia Permana, dari PDIP yang meninggal dunia karena perahu yang ditumpanginya terbalik saat kunjungan kerja ke Bunaken, Sabtu, 7 Agustus 2010. Disusul Cecep Syarifuddin dari PKB yang wafat pada 28 Oktober 2010. Dan yang paling mengejutkan ialah wafatnya Adjie Massaid dari Partai Demokrat. Suami Angelina Sondaakh itu meninggal dunia setelah bermain bola pada Jumat 4 Februari 2011 malam. Wafatnya salah satu kader terbaik dakwah, Ustadzah Yoyoh Yusroh, menambah daftar panjang di atas.
Dan yang sangat menarik, meninggalnya Ustadzah Yoyoh terjadi saat nama anggota DPR, M. Nazaruddin menjadi headline di berbagai media massa karena kasus suap. Ada apa?
Inilah puncak teguran Allah kepada anggota DPR yang kebanyakan diantara mereka lebih mementingkan dunia. Ada yang korupsi untuk memperbanyak harta, bergaya hidup mewah, saling intrik untuk mencapai kekuasaan, saling ejek di media, dan perbuatan tak pantas lainnya. Mereka berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan semu dunia. Mereka lupa bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan sangat singkat. Tapi ditilik dari kelakuan mereka, seolah sangat yakin jika mereka akan hidup selamanya. Karena itu, tak masalah melakukan korupsi dan suap, asal dapat menambah pundi-pundi kekayaan dunia.
Mengapa saya mengatakan puncak teguran?
Pertama, wafatnya Ustadzah Yoyoh menjadi kisah kematian tak terduga yang kesekian kalinya yang dialami anggota DPR periode sekarang. Tapi, ternyata semua itu belum bisa menyadarkan anggota dewan yang terhormat.
Kedua, Allah menjadikan Ustadzah Yoyoh sebagai salah satu contoh terbaik yang sepatutnya ditiru oleh anggota DPR. Sepanjang menjadi legislator, tak ada kisah buruk yang menyertainya. Selain sibuk sebagai anggota dewan, almarhumah juga tak melupakan identitasnya sebagai muslimah dan kader dakwah. Beliau tetap mengaji, memberikan pengajian. Dan bahkan masih bisa membaca al-Qur’an sebanyak 3 juz per hari, seperti kesaksian Ustadz Salim Fillah. Berbagai kesaksian setelah beliau wafat kian menegaskan bahwa beliau tetap sosok seorang ustadzah yang militant, istiqomah, dan bersahaja.
Allah seolah ingin berkata kepada anggota DPR khususnya, kita pada umumnya, bahwa untuk menghadapi kematian, lakukanlah persiapan seperti yang dilakukan Ustadzah Yoyoh: berbuat baiklah setiap saat dan dimanapun; jangan tergoda dunia; jangan kotori politik; jangan cemari gedung dewan dengan kelakuan tak bermoral.
Dan ingat, kematian tak bisa diprediksi. Bisa datang kapan saja dan dimanapun. Tak peduli kita sehat; tak peduli kita sakit; tak peduli kita anggota DPR; tak peduli kita kader partai yang berkuasa. Inilah menurut saya, hikmah tersembunyi mengapa dua peristiwa yang paradoks: wafatnya Ustadzah Yoyoh dan dugaan kasus suap M Nazaruddin, terjadi secara bersamaan.
Kini, semuanya berpulang pada para anggota DPR yang masih hidup, dan tentu juga kita. Masihkah kita terjebak rayuan dunia? Masihkah kita berlomba-lomba menumpuk harta? Masihkah kita memperebutkan kekuasaan dengan cara-cara kotor? Jika itu yang kita pilih, yakinlah, usai kita meninggal, sangat sedikit orang yang menangis, atau bahkan tak ada sama sekali. Karena kita hanya mewarisi keburukan; bukan kebaikan.
Tapi jika kita mengikuti jejak almarhumah Ustadzah Yoyoh, yakinlah, jutaan orang akan menangisi kepergian kita. Ribuan orang akan berebut menshalati kita. Orang-orang berebut mengusung keranda kita. Dan warisan kebaikan yang kita tinggalkan, akan terus dibincangkan umat manusia.
Persis seperti yang dikatakan oleh Ustadz Rahmat Abdullah. Kata beliau, betapa banyak manusia berumur panjang namun nisannya hanya bertuliskan: nama, tempat/tgl lahir, dan tgl wafatnya. Tapi, lanjut beliau lagi, usia Nabi Muhammad saw hanya 63 tahun, namun nisannya tak cuma berisikan tiga hal di atas. Hingga hari ini dan masa nanti, umat manusia akan terus membicarakan jejak-jejak luhur kebaikan yang telah ditorehkannya.
Karena itu, ijinkan saya untuk berkata kepada wakil rakyat: sudah saatnya berubah dari politisi dunia menjadi politisi akhirat mengingat telah terlalu banyak Allah memberikan teguran. Wallahua’lam bishshowab.

Pilar-Pilar yang Mengokohkan Dakwah

Oleh : Ustadz Muhammad Ridwan
Ikhwah fillah..Didalam kisah perjalanan dakwah Rasululloh SAW betapa banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Terutama adalah kiat Rasululloh SAW mengokohkan dakwahnya hingga akhirnya berhasil menguasai dunia,menaklukkan kekaisaran Bizantium dan Persia,hingga fathuh Mekkah.

Terukir didalam Al-Qur,an gambaran saat Alloh memberikan pertolongan dan kemenangan nya kepada Rasululloh dan kaum muslimin dikala itu :
Artinya “,Apabila telah datang Pertolongan Alloh dan kemenangan,kamu lihat manusia masuk islam secaraberbondong bondong ,”(Al-Qur,an Surat An-nasr 1-2)
Gerangan apakah yang dilakukan Rasululloh dalam rangka mengokohkan dan memenangkan dakwah?
Tiga Pilar Pengokoh Dakwah
1.UMUUMUD DA,WAH : MENJADIKAN DAKWAH SEBAGAI ISSU CENTRAL
Dalam bahasa lainnya disebut SOSIALISASI. Tidak ada satu pintupun yang tidak didatangi oleh rasululloh dikala itu(mungkin 1 juta pintu-pen),bahkan disetiap orang berkumpul disitulah rasululloh selalu mensosialisasikan dakwah tanpa takut akan ditolak, diintrogasi, diintimidasi Dll.
Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Quran Surat Al-A’raaf ayat 158:
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.(Q-S :7 : 158)
Pertemuan pertama antara Nabi dan kaum kerabatnya berlangsung di bukit Shafa, yang kemudian dikacaukan oleh Abdul Uzza (Abu Lahab). Pertemuan kedua pun dikacaukan juga oleh Abu Lahab. Pada saat itu Nabi menyampaikan kepada kerabatnya bahwa beliau tidak mungkin berdusta dan menipu kerabatnya itu, lalu beliau memperkenalkan diri sebagai utusan Allah untuk seluruh umat manusia,
Selain itu beliau pun menyeru agar setiap orang menyelamatkan dirinya sendiri dari siksa neraka yakni dengan mau tunduk pada Allah semata. Beliau menegaskan saat itu bahwa beliau menyeru kepada Allah dan bertanya kepada kaum kerabatnya, siapakah diantara mereka yang akan mendukung perjuangn dakwahnya. Saat itu diantara yang hadir adalah Bani Ka’ab bin Luay, Bani Murrah bin Ka’ab, Bani Hasyim, Bani Abdu Manaf, Bani Abdu Syamsin, Bani Zuhro, Bani Abdul Muthallib.
Abu Lahab mengacaukan pertemuan itu dan memprovokasi semua yang hadir untuk segera menangkap Muhammad dengan alasan: Dakwah Nabi adalah dakwah yang berbahaya yang akan menyebabkan beliau sendiri celaka karena akan dimusuhi manusia, orang-orang yang mendukungnya pun akan celaka karena pasti akan diperangi bangsa-bangsa lain, Muhammad hanyalah pemuda yang sedang mengalami gangguan psikologis, dlsb.
Saat itu Shafiyyah bibi Rasullah membela dan mengatakan kepada Abu Lahab bahwa bukankah memang ada berita dari orang-orang terdahulu bahwa salah seorang keturunan Abdul Muthallib akan menjadi Nabi? Tapi, pembelaan ini malah semakin membuat Abu Lahab kalap, kata-katanya semakin keji, dia mengatakan bahwa orang Quraisy tidak akan tinggal diam, kepala Muhammad pasti akan dilumat orang Quraisy. Hal ini menyebabkan Abu Thalib tampil dan menegaskan bahwa selama dia masih hidup Muhammad akan selalu dilindunginya.
Rasululloh terus melakukan sosialisasi hingga dikota mekah tiada issu yang paling update saat itu selain satu nama yaitu “MUHAMMAD” umuumudda,wah (sosialisasi) mulai dilakukan oleh rasululloh pasca teguran Alloh atas beliau ketika beliau berselimut setelah mendapatkan wahyu, Alloh berfirman surat Al-Mudatsir Ayat 1-2:
Hai orang yang berkemul (berselimut),(1) bangunlah, lalu berilah peringatan!(2) (QS:74:1-2)
2.KATSROTUL ANSOOR : MEMPERBANYAK PENDUKUNG .
Setelah dakwah disosialisasikan dimana saja,kapan saja,tanpa mengenal lelah dan tanpa mengenal Tak PeDe,barulah adanya orang-orang yang bergabung mendukung perjuangan , saat itu muncullah pendukung –pendukung dakwah assabiunal awwalun yang terdiri dari : Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abu Thalib, Abu bakar, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Waraqah bin Naufal, Zubair bin Al-Awwam, Abu Dzar Al-Ghifari, Umar bin Anbasah, Sa’id bin Al-Ash, Abdurrahman bin Auf, Ummu Aiman, Arqam bin Abi Arqam, Abdullah bin Mas’ud, Amr bin Yassir, Yassir, Sa’ad bin Zaid, Amir bin Abdullah, Ja’far bin Abu Thalib, Khabbab, Bilal bin Rabah, Ummu Fadhl, Shafiyyah, Asma, Fatimah bin Khattab.dari merekalah cikal bakal pertumbuhan kader pendukung perjuangan dakwah rasululloh SAW,setiap mereka yang telah mendapatkan hidayah,mereka mulai menyebarkan dakwah islam kepada siapa saja untuk memperbanyak pendukung . Firman Alloh dalam surat Yusuf ayat 108 ,Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.
3.MATAANATUTTAKWIIN : KOKOHKAN PEMBINAAN
Kokohnya pembinaan yang dilakukn oleh rasululloh digambarkan oleh Al-quran termasuk keberhasilan rasul membentuk karate orang-orang yang dibinanya.dalam surat Alfath ayat 29 Alloh berfirman “’, Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Setiap orang yang sudah berhasil direkrut dibina dengan baik,intensif an berkesinambungan,bahkan rasululloh menanyakan laporan ibadah yaumiyah para binaannya disetiap kesempatan :’,Siapa yang hari ini bersadaqoh?, Siapa yang hari ini shaum, siapa yang semalam Qiyamullail? dan seterusnya, ini dilakukan beliau untuk mengokohan pembinaan,setelah itu beliau menugaskan para sahabat yang sdh memiliki kafaah (kemampuan) membina untuk segera membina,seperti yang dilakukan oleh Abu Dzar yang berhasil mengislamkan dan menjadi shohibul wilayah suku ghifar,seperti yang dilakukan oleh Mushab bin Umair yang ditugasi Rasul untuk membina diMadinah dan akhirnya dari pembinaan yang berantai (Talaqqi) akhirnya islam dan dakwahpun tersampaikan kepada kita semua…
Wallohu A’lam bishowab

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons